Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 201 - Otewe Rumah Sakit


__ADS_3

"Pinter banget kamu masaknya. Bumbunya meresap hingga ke daging bagian dalamnya," puji Arash saat menikmati kepiting saus padang masakan Sifa.


"Ah, kamu bisa aja."


Arash pun kembali menikmati kepiting tersebut dan mencoba memisahkan daging dari cangkangnya.


"Aww," ringis Arash sambil memegangi bahunya.


"Kenapa?" tanya Putri dengan khawatir.


"Gak tau, tiba-tiba kayak ada yang pukul gitu, nyeri banget jadinya."


"Hah? Gimana bisa?" Putri pun menghisap jari-jarinya hingga bersih, kemudian mencuci tangannya di tempat kobokan yang ada di atas meja.


Putri pun menghampiri Arash yang masih menahan sakit pada bahunya.


"Coba di luruskan tangannya," titah Putri yang di turuti oleh Arash. Gadis itu pun menyusap-usap lembut bahu Arash, mencoba menghilangkan rasa nyeri pada bahu pria itu.


"Masih sakit?" tanya Putri.


"Sudah lumayan, mungkin darahnya yang gak lancar kali ya?" lirih Arash yang masih merasakan sedikit rasa sakit pada bahunya.


Putri pun menghela napasnya lega. "Syukurlah kalau begitu."


Putri pun kembali duduk di tempatnya semula.


"Eh, kamu mau apa?" tanya Putri yang melihat Arash kembali mengambil kepiting yang ada di piringnya.


"Mau makan lagi, lah. Udah di masakin yang enak kok gak di habisin. Kan rugi," ujar Arash sambil terkekeh pelan.


"Sini, biar aku aja." Putri pun mengambil kepiting yang ada di tangan Arash, kemudian dia mengupasi kulit cangkang kepiting dan memberikan isinya kepada Arash.


"Nih."


"Kamu seriusan kasih ke aku?" tanya Arash dengan tersenyum.


"Iya, kenapa?"


"Kamu udah susah payah loh kupasin cangkangnya, masa kasih ke aku?"


"Gak papa, lagi pula bahu kamu sakit kan karena aku," ujar Putri merasa bersalah.


"Bukan karena kamu," jawab Arash yang melihat jika ada kesedihan dari tatapan mata Putri.


"Tidak, itu kare---."


"Kalau saja aku langsung menegur kamu waktu di rumah sakit, pasti kamu gak akan terkejut dan membanting tubuh aku," kekeh Arash. "Jadi, sebenarnya ini semua karena salah aku sendiri."


"Tapi kan----"


"Gak pake tapi. Gini aja, kalau kamu merasa bersalah, kupasin aja lagi cangkang kepitingnya," pinta Arash dengan mengulum senyumnya.


Putri pun ikut tersenyum dan mengaggukkan kepalanya.


"Baiklah."


Arash pun memperhatikan Putri yang sedang serius mengupas cangkang kepiting dengan senyum yang mengukir di bibirnya.


"Ini," ujar Putri sambil memberikan daging kepiting kepada Arash.


"Aaaa," ujar Arash sambil membuka mulutnya, yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.


"Katanya merasa bersalaaah? Bahu aku masih sakit loh kalau di gerakin. Jadi, aaaa." Arash pun kembali membuka mulutnya.


"Dasar manja," cibir Putri dengan tersenyum dan menyuapi pria yang beberapa hari ini ada di dalam pikirannya dan berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


"Euumm, makan dari tangan orang lain ternyata lebih nikmat," ujar Arash dengan tersenyum sangat manis sekali sambil menatap dalam ke mata Putri.


Deg ...


Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arash, membuat jantung Putri kembali berdetak dengan cepat.


"Hmm, aku kok jadi kepikiran Abash, ya?" ujar Arash tiba-tiba yang mana membuat Putri kembali tersadar dari perasaannya.


"Apa? Kenapa? Gimana?" tanya Putri memastikan pendengarannya.


"Aku tiba-tiba memikirkan Abash," ulang Arash dengan masih menatap lurus ke arah Putri.


"Kenapa dengan Pak Abash?" tanya Putri penasaran.


"Dia juga suka kepiting," ujar Arash dengan tersenyum.


"Oh," lirih Putri merasa lega.


Tadi, Putri sempat berpikir jika Arash akan membahas soal Abash dan Sifa, ternyata tidak. Memikirkan tentang Sifa dan Abash, membuat Putri menjadi tersenyum-senyum. Kira-kira bagaimana acara lamaran mereka? Apa berlangsung romantis?

__ADS_1


Putri masih tidak menyadari jika saat ini dia sedang tersenyum di kala mengingat jika acara lamaran yang di lakukan oleh Abash kepada Sifa berjalan dengan lancar.


"Kok kamu malah tersenyum? Hayooo ... Mikiran siapa? Mikiran Abash ya?" goda Arash yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.


"Hah?"


*


Ambulan dan polisi telah tiba di lokasi kejadian kecelakaan.Di duga pengendara supir truk dalam keadaan mabuk saat mengendarai truknya. Untuk itu, pria itu tidak bisa mengontrol laju truknya karena mengalami pusing berat.


Pihak kepolisian pun sudah mengamankan supir trus tersebut dan membantu para korban kecelakaan untuk di larikan ke rumah sakit.


Salah satu polisi yang saat itu sedang bertugas pun, mengernyitkan keningnya di saat melihat korban yang baru saja di keluarkan dari dalam mobil dengan keadaan wajah yang hampir di penuhi oleh darah.


"Itu kok gak asing wajahnya? Mirip Pak Arash?" lirihnya pelan dan mendekati korban kecelakaan tersebut.


"Pak Arash?" lirihnya lagi saat melihat wajah si korban.


Polisi itu pun tiba-tiba merasa ragu di saat melihat model rambut yang berbeda dari atasannya itu, hingga dia mengambil ponselnya dan mencoba memastikkan dengan menghubungi ponsel atasannya itu.


*


Arash menoleh ka arah ponselnya yang berdering, pria itu pun meraih ponselnya dan melihat nama si pemanggil.


"Joko?" lirihnya pelan.


Merasa jika ada hal yang penting, Arash pun menggeser tombol hijau.


"Halo, Ko?"


"Pak Arash?" tanyanya memastikan dari seberang panggilan telepon.


"Iya, ini saya. Kenapa?"


"Alhamdulillah, syukurlah. Begini, Pak, telah terjadi kecelakaan lalu lintas di simpang jalan, dan salah satu korbannya itu sangat mirip sekali dengan Bapak, saya pikir mungkin itu kembaran Bapak?" ujarnya yang mana membuat jantung Arash berdetak lebih cepat tak karuan.


"Apa?"


Mendengar pekikan dari Arash, membuat Putri yang sedang mengupasi cangkang kepiting pun menatap pria itu dengan kening mengkerut.


"Sekarang di bawa ke rumah sakit mana?" tanya Arash.


"Rumah sakit HH moza, Pak."


"Siap, Pak," jawab Joko dengan sikap siapnya.


Arash pun memutuskan panggilan, kemudian dia langsung menghubungi Lucas.


"Halo, kak?" sapanya saat panggilan sudah terhubung.


"Ya, Rash, ada apa?"


"Kakak di mana?" tanya Arash mencoba untuk tenang.


"Ini di rumah sakit, Mama Key masuk rumah sakit, beliau tiba-tiba sesak napas.Kamu ke sini, ya?" titah Lucas.


"Apa?" pekik Arash terkejut. Kenapa musibah ini bisa datang bersamaan seperti ini?


"Kamu tenang aja, Mama sudah di tangani kok. Sekarang kondisinya sudah membaik. Mungkin Mama sedang banyak pikiran, maka dari itu asam lambungnya kumat dan membuat Mama jadi sesak napas," terang Lucas.


"Alhamdulillah, syukurlah."


"Oh ya, kamu hubungi Kakak ada apa?" tanya Lucas yang mengingat tujuan sang adik sepupu menghubunginya.


"Begini kak, tolong kakak siapkan dokter terbaik kita, karena Abash mengalami kecelakaan lalu lintas. "


"Apa?" pekik Lucas terkejut.


"Kakak dengarin Arash. Tetap tidak terlihat panik agar Mama tak khawatir. Arash tidak tahu bagaimana kondisi Abash saat ini, tapi Kakak cepat siapkan dokter terbaik yang kita punya. Sekarang Abash sedang di bawa menuju ke rumah sakit," ujar Arash dengan cepat.


"Baiklah."


"Kakak jangan kasih tahu Mama dulu. Cukup kita aja yang tahu. dan pelan-pelan jika ingin kasih tahu ke papa. Ini aku otewe ke sana," ujar Arash memberi tahu.


"Iya, oke."


Panggilan pun terputus, Arash kembali menyimpan ponselnya.


"Ada apa?" tanya Putri yang juga merasakan atmosfir tak baik.


"Abash kecelakaan dan Mama masuk rumah sakit. Aku harus bergegas menyusul ke rumah sakit," jawab Arash dan berdiri dari duduknya.


"Aakh ...," ringis Arash saat kembali merasakan nyeri pada bahunya.


"Kamu gak papa?" tanya Putri khawatir.

__ADS_1


"Ya, aku gak papa. Kamu sebaiknya tunggu di rumah, aku akan menyu---."


"Aku ikut," jawab Putri dengan cepat.


"Tidak, kamu sebaiknya di rumah saja."


"Aku ikut, " ujar Putri dengan tegas dan tidak ingin di bantah.


"Kamu yakin?" tanya Arash memastikan.


"Ya, lagi pula aku tidak bisa membiarkan kamu membawa mobil di saat seperti ini. Apa lagi bahu kamu masih sakit," ujar Putri merasa khawatir dengan kondisi Arash, bukan kondisi Abash. Tapi, hal itu tidak di ketahui oleh pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Tunggu, aku cuci tangan sebentar," ujar Putri dan bergegas berlari menuju wastafel.


"Aku juga harus mencuci tangan," lirh Arash yang melihat jika tangannya masih kotor.


Putri berbalik dan terkejut saat mendapati Arash sudah berada di belakangnya.


"Aah, kamu ini mengagetkan aku saja," lirih Putri sambil mengusap dadanya.


"Maaf." Putri pun menggeser langkahnya dan membiarkan Arash untuk mencuci tangannya.


"Ayo," ajak Arash yang sudah menyelesaikan mencuci tangannya.


"Aku ambil cardigan dulu," ujar Putri dan berlari menuju kamarnya.


Putri pun keluar dari kamar dan sudah berpakaian sedikit tertutup.


"Ayo," ajak Putri yang sudah memakai cardigannya dan tak lupa membawa dompet serta ponselnya.


Arash dan Putri pun bergegas keluar dari apartemen menuju di mana mobil Arash berada.


"Mana kuncinya, biar aku yang bawa," pinta Putri.


"Tidak, biar aku aja," tolak Arash.


"Tidak, kamu tidak bisa bawa mobil dalam keadaan seperti ini. Biarkan aku yang mengemudi," pinta Putri yang akhirnya di angguki oleh Arash.


Putri pun masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya, kemudian gadis itu mulai melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Di rumah sakit mana mereka?" tanya Putri.


"Rumah sakit HH moza."


"Oke." Putri pun menekan pedal gas dengan kecepatan sedang.


"Put, bisakah kamu melajukan sedikit lebih kencang lagi?" pinta Arash yang ingin segera tiba di rumah sakit.


"Oke," jawab Putri dan menekan pedal gas semakin dalam, sehingga membuat kecepatan mobil itu pun semakin melaju dengan kencang.


Arash pun refleks memegang pegangan yang ada di atas pintu, kemudian pria itu menoleh ke arah Putri yang terlihat santai tetapi juga serius dalam mengemudi mobil.


"Pu-put, hati-hati," cicit Arash dengan gugup.


"Santai saja," jawab Putri dan semakin mempercepat laju mobilnya.


Mobil yang di kendarai oleh Putri pun melesat dengan cepat dan menyelip mobil-mobil yang lainnya. Tak sedikit kendaraan lain memberikan klakson panjang untuk mereka.


"Pelan- pelan saja," pinta Arash dengan wajah yang sudah pucat.


"Tenang saja, sebentar lagi kita akan sampai," ujar Putri dengan tersenyum kecil.


Arash menelan ludahnya dengan kasar, pria itu pun langsung berdoa di dalam hati agar selamat hingga sampai tujuan. Tak lupa pria itu juga berzikir dan berharap semoga dosa-dosanya terampuni.


Sreeet .... ciiit ...


Putri pun memarkirkan mobil di parkiran dengan sempurna.


"Ayo turun," ajak Putri yang di angguki oleh Arash.


Arash pun menurunkan kakinya dengan gemetar, kemudian pria itu bergegas berlari ke rumput dan mengeluarkan semua isi perutnya.


uweeek ...


"Arash, kamu gak papa?" tanya Putri merasa khawatir dan bergegas menghampiri Arash.


"Ya," jawab Arash setelah puas mengeluarkan isi perutnya.


"Syukurlah."


"Hum, tapi mubazir banget kepiting yang sudah aku makan," lirih Arash dengan pelan.


Maaf," sesal Putri.


"Gak papa, lain kali kamu bisa memasakkannya lagi untuk aku. Ayo, sekarang kita masuk ke dalam," ajak Arash yang di angguki oleh Putri.

__ADS_1


__ADS_2