
Abash sudah menyiapkan semuanya secara sempurna dengan waktu yang cukup singkat. Tidak sulit bagi Abash untuk memberikan kejutan makan malam untuk sang istri yang sangat dia cintai. Yang terpenting dari semua itu membutuhkan uang yang banyak. Dia hanya perlu menghubungi seseorang dan memintanya untuk mempersiapkan semua ini.
Mereka telah sampai di sebuah restoran yang akan menjadi tempat makan malam mereka. Seseorang membukakan pintu untuk kedua orang tersebut. Sifa dan Abash turun pergantian, dan Sifa menarik tangan Abash untuk menggandengnya.
Abash tersenyum dan membawa wanita itu masuk ke dalam restoran. Seorang pelayan mempersilahkan mereka untuk mengikutinya. Akan tetapi, ternyata mereka melewati ruangan dan Syifa maira jika mereka tidak akan makan di dalam restoran tersebut. Pelayan itu terus berjalan dan keduanya mengikuti dari belakang. Hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah meja yang ada di dekat pantai.
Sifa terpana melihat apa yang ada di hadapannya.
"Ini? kapan kamu siapkan semua ini, Mas?" tanya Sifa dengan takjub menatap tempat di mana mereka akan makan malam. Romantis sekali menurut ukuran Sifa.
Makan malam di pinggir pantai, dengan semilir angin yang berhembus. Di hiasi lampu-lampu kerlap-kerlip yang terus menyala, di tambah setiap helaian kain yang menari-nari saat terkena hembusan angin. Api unggun yang ada di samping meja mereka bertujuan untuk menghangatkan badan pun juga ikut menghiasi dan semakin memperlengkap makan malam romantis ini.
Sifa benar-benar merasa takjub dengan apa yang sang suami berikan untuknya.
"Kamu suka?" tanya Abash yang langsung di jawab anggukan oleh Abash.
"Tentu, Mas, aku sangat menyukainya," ujar Sifa yang sudah ingin meneteskan air matanya karena merasa sangat terharu dan bahagia. Siapa yang tidak suka dengan hal romantis semacam ini. Semua wanita juga pasti akan menyukainya apalagi jika sang suami yang mempersiapkan ini semua. Dia benar-benar tidak percaya jika suaminya bisa romantis seperti ini.
"Ayo," Abash merangkul pinggang Sifa dan mengajaknya duduk di bawah tenda yang hanya di hiasi oleh lampu-lampu kecil dan helaian-jelaian kain satin berwarna putih yang bergoyang menari di saat terkena hembusan angin. Tidak lupa pria itu menarik kursi untuk Sifa duduk.
"Terima kasih, Mas."
Benar-benar sikap yang romantis, Sifa tersenyum senang akan perlakuan suaminya ini.
"Mas, aku seperti merasa sedang berada di dalam film tau gak, siih?" ujar Sifa yang masih menatap takjub dengan tenda tempat mereka berteduh. Abash tersenyum antara senang dan geli menatap wajah istrinya yang masih takjub menatap tempat ini.
Ya, memang sih tidak untuk berteduh dari hujan. Tapi, setidaknya tenda itu menambah kesan yang romantis yang Abash ciptakan untuk memberikan kejutan kepada sang istri.
"Benarkah?" tanya Abash yang diangguki oleh Sifa.
"Iya, Mas. Ini sungguh luar biasa."
"Akan lebih semakin luar biasa jika makan malam romantis kita ini di temani dengan alunan musik yang indah," bisik Abash yang mana membuat Sifa semakin penasaran.
"Benarkah?"
Abash menganggukkan kepalanya, pria itu pun mengambil sebuah piringan hitam besar dan mulai menghidupkan sebuah alat musik gramofon antik yang ada di sudut tenda, kemudian mulai memutar sebuah lagu romantis yang akan menemani makan malam mereka kali ini. Suara alunan lagu romantis keluar, terdengar dari horn dan membuat suasana malam ini semakin indah. Sifa pun sampai terhanyut dan terkesima ketika melihat piringan hitam itu bekerja dengan semestinya.
"Waah, aku tidak menyangka, Mas, jika kamu bisa seromantis ini," puji Sifa dengan tersenyum malu. Telinganya masih dimanjakan dengan lagu romantis yang mengalir indah di malam ini.
"Setiap orang pasti bisa berubah, sayang." Abash tersenyum dan menggenggam tangan istrinya.
Ya, setiap orang pasti bisa berubah. Ada yang berubah karena menyerah dengan keadaan, ada yang berubah karena merasa selalu dikecewakan, ada yang berubah karena cinta, dan ada juga yang berubah karena merasa takut kehilangan. Setiap orang pasti bisa berubah. Termasuk Abash yang tak peduli dengan sekitarnya, tetapi perlahan pria itu membuka diri untuk menerima orang yang ada di sekelilingnya.
Ya walaupun tidak semuanya, tapi Abash mencoba menjadi manusia yang normal. Tersenyum dan menyapa, serta mencoba berbaur dengan orang yang ada di sekitarnya. Semua itu berkat seseorang.
Emak pernah mendengar dari salah satu potongan dialog sebuah film. Di mana dikatakan jika seseorang bisa berubah karena orang lain. Dan ternyata itu benar. Abash berubah karena seseorang. Seseorang yang sangat dia cintai dan memberikan warna di dalam kehidupannya yang awalnya hanya hitam, putih, dan abu-abu. Gadis yatim piatu dan pekerja keras. Tak kenal kata menyerah dan terus berjuang untuk mewujudkan semua mimpinya. Bahkan, gadis itu mengabaikan semua hinaan dan ejekan yang diberikan oleh sekitarnya. Gadis itu juga tidak perduli, apakah dia memiliki teman atau tidak. Yang terpenting bagi gadis itu adalah mewujudkan semua mimpi dan akan membuktikan kepada dunia jika dirinya mampu berjuang di kerasnya setiap ujian hidup yang dia rasakan.
Sifa, gadis yatim piatu yang tinggal di rumaha kumuh. Bahkan, rumah itu terbilang tak layak untuk di tinggali. Beberapa atap yang sudah bocor, pastinya akan membuat gadis itu merasa kedinginan di setiap malamnya. Tapi, Sifa tetap bertahan, karena dia yakin, jika di setiap ujian yang dia lewati, maka akan ada nilai yang sempurna. Dan saat ini, Sifa mencapai kesempurnaan itu. Dan karena Abash, Sifa bahkan merasa mendapatkan nilai yang lebih bagus dari kata sempurna.
__ADS_1
Nilai yang begitu sangat … sangat … sangat sempurna, kan?
Sifa yang bukanlah siapa-siapa, sekarang menjadi seseorang yang ingin dikenal oleh siapa saja. Bahkan, orang-orang yang dulunya telah menghina, mengejek, dan merendahkan Sifa pun, sampai melakukan segala cara agar mereka dapat di akui oleh Sifa sebagai saudara, kerabat, sahabat, dan teman. Untungnya Sifa bukanlah gadis yang pendendam. Sifa pun memaafkan semua kesalahan orang-orang yang telah menghina, mengejek, mencaci, merendahkan, dan menghina dirinya. Tapi, memaafkan bukan berarti melupakan, kan?
Ya, memang Sifa sudah memaafkan mereka, tapi tidak untuk menjalin hubungan. Bukan berarti Sifa mendendam, tidak. Sifa tidak dendam, di hanya ingin menjaga harga dirinya agar tidak mudah di injak-injak oleh orang yang telah menghinanya dulu. Dan keputusan Sifa itu, di dukung penuh oleh Abash. Laki-laki itu akan melakukan apapun yang akan membuat istrinya bahagia. Dia pasti akan mendukung semua yang Sifa lakukan selama itu dalam artian yang positif.
Beberapa orang pelayan membawa hidangan ke meja mereka. Sifa tersenyum senang saat melihat makanan enak itu tersaji di sana. Dia tidak sabar untuk melahapnya, tapi dia sadar jika malam ini dia tidak boleh merusak momen indah mereka.
Sifa menahan dirinya untuk tetap bisa anggun di hadapan sang suami.
Hal itu disadari oleh Abash.
"Kamu kenapa?"
Sifa segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan malu.
"Nggak apa-apa."
Wanita itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, dan Abash pun melakukan hal yang sama.
"Aku cuma nggak mau barbar malam ini."
Abash tertawa kecil mendengar ucapan dari istrinya itu. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kamu tidak perlu elegan kalau kamu memang tidak nyaman."
Sifa menggelengkan kepalanya sekali lagi. "Aku memang nggak nyaman, tapi aku nggak mau merusak momen di malam ini. Percuma aku pakai baju bagus kalau sikap aku nggak bagus kan?"
Lagi lagi Abash tertawa mendengar keinginan istrinya.
Mereka memulai makan malam, dan Sifa mencoba untuk tetap menjadi wanita yang elegan. Abash menahan tawanya. Dia tidak ingin membuat suasana malam ini menjadi kacau. Dia kagum dengan Sifa yang ingin berubah sikap demi dirinya.
"Gimana makanannya? Enak nggak?" tanya Abash kepada sang istri.
"Ini enak sekali, Mas. Aku suka sekali."
"Kalau begitu kamu habiskan makanan ini."
Sifa menganggukan kepalanya. Tanpa diminta pun dia pasti akan menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja ini, tapi tentu saja masih dengan sikap yang slay.
Dan makan malam yang begitu indah ini, tidak akan pernah Sifa lupakan di dalam hidupnya.
"Alhamdulillah, kenyang, Mas," lirih Sifa dan merebahkan tubuhnya di atas karpet yang terbentang di atas pasir laut. Karpet tersebut memang tersedia di sana untuk mereka menikmati malam ini. Menikmati malam di pinggir pantai dengan angin yang bersemilir pelan.
"Sudah makan kok tidur siih, sayang?" tegur Abash mendekati tubuh istrinya.
"Aku hanya ingin melihat bintang, Mas," ujar Sifa sambil menunjuk ke arah langit.
Abash pun menengadahkan kepalanya dan ikut melihat langit gelap yang dihiasi oleh penuh bintang.
"Hmm, indah," lirih Abash.
__ADS_1
"Ya, kan. Indah, kan?"
Perlahan Abash merebahkan tubuhnya di dekat tubuh istrinya, ikut melihat bintang yang ada di langit bersama sang istri.
"Bintang itu terlihat sangat kecil sekali kan, Mas? Tapi, sinarnya mampu menyinari langit yang gelap. Bahkan, setiap orang yang memandangnya, pasti akan terlena dengan kerlap-kerlipnya yang begitu indah dan sederhana. Walaupun bintang itu kecil dan indah, tetapi dia sangat sulit untuk diraih. Iya kan, Mas?" tanya Sifa kepada sang suami meminta persetujuan.
"Ya, dan bintang itu sungguh sangat mirip sekali dengan kamu, sayang," bisik Abash.
"Mirip dengan aku? Di mana letak miripnya, Mas?" tanya Sifa sambil menatap sang suami dan terkekeh pelan.
"Bagi aku, kamu dan bintang itu sama. Sama-sama memukau dengan daya tariknya sendiri. Bintang di langit itu terlihat begitu kecil, tapi sinarnya begitu mampu menerangi langit yang begitu luas. Kalau kamu, kamu itu memiliki tubuh yang kecil, tetapi semangat kamu begitu besar, sehingga mampu mengambil perhatian orang yang ada di sekitar kamu. Aku sungguh beruntung memiliki kamu, sayang, Kamu kamu adalah bintang dalam hidupku." Abash merasa beruntung mendapatkan Sifa sebagai istrinya. Terutama Karena kegigihan wanita itu yang membuatnya bisa jatuh cinta kepadanya.
"Kamu juga, Mas, kamu adalah bintang dalam hidupku. Penerang di dalam kegelapan yang selama ini aku jalani. Kamu memberikan cahaya mu yang begitu indah dan mampu merubah hidupku, Mas."
"Begitu pun dengan aku, sayang. Kamu juga penerang di dalam hidupku," balas Abash.
"Tapi, satu hal yang kamu harus tau. Jika bintang di langit itu mampu membuat semua orang terpukau, tapi tak ada satu orang pun yang dapat meraihnya dan menjadikan bintang itu miliknya. Tapi, kalau kamu adalah bintang yang tidak dapat di raih oleh siapapun, karena kamu hanya milik aku seorang, sayang."
Sifa tersipu malu mendengar pujian dari sang suami. Semakin hari gombalan Abash semakin membuatnya tidak berdaya. Hatinya meleleh seperti keju yang terkena panas.
"Ya, Mas, aku hanya milik kamu seorang."
Abash semakin mendekat dan menarik pipi istrinya, menempelkan kening mereka satu sama lain. Dia menatap istrinya dan mengunci tatapan dari wanita itu.
"Jadi, jangan pernah berikan cahaya mu yang paling indah kepada orang lain, karena aku takut, jika ada orang lain yang akan mencuri kamu dari aku, sayang. Aku tidak mau hal itu terjadi."
Sifa tersenyum dan menatap sang suami. "Tidak, Mas. Aku tidak akan membiarkan orang lain menggantikan tempatmu di dalam hatiku. Karena bagiku, kamu adalah satu-satunya penerang di dalam hidup. Aku mencintaimu, Mas, sangat mencintaimu."
Senyuman Abash pun seketika mengembang. "Terima kasih, sayang. Terima kasih banyak. Karena kamu sudah mencintai pria yang banyak kekurangan ini."
"Begitu pun dengan aku, Mas. Yang lebih banyak kekurangannya dari pada kamu."
"Untuk itu, kita diciptakan untuk bersama, agar kita bisa menutupi kekurangan masing-masing," sambung Abash.
"Ya, Mas. Kita diciptakan untuk melengkapi satu sama lainnya."
Abash pun mengulurkan tangannya, meminta Sifa untuk masuk ke dalam pelukannya. Tanpa menunggu lama, wanita itu menggeser tubuhnya ke dekat sang suami, di peluknya tubuh Abash dengan penuh kehangatan mengalahkan angin dingin yang sedari tadi ada di antara mereka.
"Aku mencintamu, Mas, sangat mencintaimu," Sifa mengungkapkan perasaannya yang terdalam.
"Aku juga, sayang. Aku juga sangat mencintai kamu. Maukah kamu menemaniku sampai aku tua nanti?"
Sifa menganggukkan kepalanya.
"Iya, Mas. Aku mau. Aku mau dampingi kamu sampai tua nanti."
Dua orang itu tersenyum, saling menumpahkan rasa sayang satu sama lain. Mereka bahkan tidak segan untuk saling mendekat dan menempelkan bibir mereka satu sama lain. Mengabaikan tempat dimana mereka kini berada.
Dunia bagai milik berdua, mereka seakan tidak peduli andai ada orang yang melihat apa yang mereka lakukan sekarang ini.
__ADS_1
Cinta sudah membutakan mereka berdua. Bertumbuh rasa cinta yang semakin dalam di hati keduanya.