
“Siapa kau?”
Abash berjalan dan menghampiri pria bertato yang sudah terduduk di lantai. Abash pun menarik kerah baju pria itu, sehingga membuat pria bertato itu mencondongkan tubuhnya ke arah Abash.
“Kamu gak perlu tau siapa aku, ini hanya peringatan kecil buat kamu untuk menjaga setiap ucapan kamu dengan orang lain. Jangan pernah memandang remeh orang yang baru kamu temui, karena kamu gak pernah tau, siapa dia sebenarnya,” desis Abash dan melepaskan tangannya dari kerah pria bertato itu dengan kasar.
Abash meraih dompetnya yang ada di dalam jas, pria itu langsung mengambil sepuluh lembar uang merah di dalam dompetnya.
Sraaak ..
Abash meletakkan uang itu ke atas pangkuan pria bertato dengan kasar.
“Ambil uang itu dan jangan pernah menginjakkan kaki kamu lagi di gedung ini. Jika sekali saja aku melihat kamu datang ke sini, maka kamu akan benar-benar berurusan dengan aku,” desis Abash dan menarik tangan Sifa untuk pergi dari sana.
“Eh, Pak,” lirih Sifa dengan mata berkaca-kaca memandang wajah Abash yang saat ini masih mengeraskan
rahangnya.
“Brengsek,” maki pria bertato itu, dia bergegas berdiri dan menarik jas yang di kenakan oleh Abash, kemudian melayangkan tinjunya di wajah Abash.
Bugg ..
__ADS_1
“Pak Abash ..” pekik Sifa sambil menutup mulutnya.
“Kau pikir aku takut, hah?” bentak pria bertato itu dan kembali melayangkan tinjunya di wajah Abash.
Bugg ...
Abash pun tersungkur di lantai dengan sudut bibir yang koyak dan mengeluarkan darah segar. Dia pun tertawa kecil dan meludahkan darah tersebut ke lantai.
“Bangun jika kau benar-benar merasa jagoan,” tantang pria bertato itu.
“Tolong, hentikan,” pekik Sifa memohon kepada pria bertato untuk menghentikan perkelahian ini.
“Aww ...” ringis Sifa sambil memegangi lengannya.
“Bangsat, beraninya kau sama perempuan,” maki Abash dan melayangkan tendangannya ke perut pria bertato.
“Akkh ...”
Satpam yang ada di sana pun merasa bingung harus melakukan apa. Dia pun segera memanggil bantuan melalu
handy talky (HT) untuk melapor ke piha berwajib dan menghentikan perkelahian yang terjadi saat ini.
__ADS_1
“Cepat, panggil polisi,” ujarnya kepada teman satpamnya yang lain melalu handly talky.
Satpam tersebut pun mencoba ingin memisahkan Abash dan pria bertato yang sedang berkelahi, tetapi malah dirinya yang menjadi sasaran pukul dari pria bertato hingga tersungkur di lantai dengan wajah lebam dan perut yang sakit karena di tendang.
“Ternyata besar juga nyali kau,” ujar pria bertato itu dan kembali mendaratkan pukulannya ke arah Abash.
Ilmu bela diri yang Abash pelajari pun, mampu membuat pria itu melawan lawannya yang berbadan besar. Bahkan pukulan Abash pun tak kalah menyakitkannya dari pukulan pria bertato itu. Buktinya, pria bertato itu lebih banyak mendapatkan pukulan dari pada Abash. Ini semua berkat Bunda Sasa yang mengajarkan untuk tidak melawan
musuh, melainkan lebih baik mengelak pukulan musuh dan memberikannya pelajaran di saat yang tepat.
“Pak Abash, awas ...” pekik Sifa dan menutup mulutnya karena takut di saat Abash hampir saja terkena pukulan.
Satpam yang terkena pukulan tadi pun, bergegas memanggil beberapa temannya yang lain untuk meminta
bantuan merelai perkelahian yang terjadi saat ini di basemen. Tak butuh waktu lama, tiga orang satpam pun datang dan langsung memisahkan Abash dan pria bertato itu.
“Lepas, biar mampus aku buat pria itu,” pekik pria bertato itu dengan geram karena dua satpam berbadan besar telah menahan tubuhnya untuk tidak memukul Abash lagi.
Satu satpam yang badannya lebih kecil dari Abash pun, memegangi pria itu. Untungnya Abash tak melawan minta di lepaskan seperti pria bertato itu.
“Bapak gak papa?” tanya Sifa yang saat ini wajahnya sudah basah dengan air mata.
__ADS_1