
"Apa kamu menyukai Arash?" tanya Abash
"Hah?" Sifa mengerjapkan matanya, wanita itu bingung harus menjawab seperti apa.
Jika di tanya apa Sifa menyukai Arash? Maka jawabannya adalah iya. Sifa menyukai Arash karena pria itu sangat baik dan juga lebih ramah dari pada Abash.
Tapi, jika di tanya apa Sifa mencintai Arash? Maka jawabannya adalah tidak.
"Kamu menyukai Arash?" tanya Abash lagi.
"Saya-----"
Tiba-tiba saja Abash menarik tubuh Sifa dan bersembunyi di sisi yang berbeda, karena sang kembaran saat ini baru saja turun dari mobilnya.
Abash masih memantau ke mana arah Arash pergi, hingga tubuh pria itu pun menghilang memasuki gedung apartemen.
"Sekarang kamu jawab saya, saya paling tidak suka menunggu jawaban dari seseorang," ujar Abash yang mulai kesal dengan Sifa.
Sifa menghela napasnya pelan. "Saya menyukai Pak Arash, hanya sebatas teman. tidak lebih," jawab Sifa yang mana seolah memberikan angin segar pada diri Abash.
"Maksud kamu?" tanya Abash yang ingin jawaban lebih jelas dari Sifa.
"Kenapa Bapak tiba-tiba menanyakan hal itu? Sebenarnya saya memiliki hak untuk tidak menjawab pertanyaan Bapak. Karena itu urusan pribadi saya," ujar Sifa dengan sedikit ketus.
Abash mengerjapkan matanya, pria itu juga bingung kenapa dia ingin sekali tahu perasaan Sifa terhadap kembarannya itu.
"Pak, bisa lepasin saya?" lirih Sifa.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu gak suka di peluk sama saya?" tanya Abash.
Bluss....
"Buk-bukan begitu. Tapi---"
"Kamu mau bilang kalau kita bukan muhrim?" tebak Abash.
Sifa hanya menyengir mendengar jawaban Arash.
"Ya, gak gitu juga maksud saya, Pak. Tapi---"
"Kamu gak nyaman sama saya?" tanya Abash lagi yang mana membuat Sifa terdiam sesaat dan menatap mata sang bos.
"Ka-kalau Bapak sudah tau, kenapa masih tanya?" jawab Sifa yang mana saat ini sudah sangat takut jika Abash benar-benar mendengar detak jantungnya.
Abash kembali mengerjapkan matanya, pria itu benar-benar kesal dengan mendengar jawaban Sifa. Tanpa kata, pria itu pun melepaskan kungkungannya dan meninggalkan Sifa begitu saja.
Sifa menghela napasnya pelan, gadis itu pun menatap sepedanya yang masih terparkir di tengah baseman. Wanita itu pun berjalan menghampiri sepedanya untuk di pindahkan ke tempat parkirnya yang biasa.
Baru beberapa langkah Sifa berjalan, tiba-tiba wanita itu terkejut saat ada seseorang yang menaring tangannya.
"Pak Abash.." lirih Sifa dengan mata melotot.
"Kalau kamu gak nyaman sama saya, mulai saat ini saya akan menjauh dari kamu. Tapi, saya harap tidak meninggalkan apartemen ini," ujar Abash yang kembali kepada Sifa, karena takut jika wanita yang telah menggoyangkan perasaannya itu pergi tanpa tau arah dan tempat tinggal.
Sifa mengerjapkan matanya. "Saya cuma---" Sifa ingin mengatakan jika dirinya hanya ingin memindahkan sepeda, namun Abash malah memotong ucapannya dengan cepat.
__ADS_1
"Saya gak mau dengar alasan apapun. Sebaiknya kamu kembali ke dalam. Ayo," ajak Abash sambil menarik tangan Sifa dengan sedikit kasar.
Sifa meringis pelan dan mengikuti sang bos. Wanita itu dapat merasakan jika saat ini bos nya itu sedang tidak berada dalam mood yang baik-baik saja.
Abash benar-benar mengabaikan ponselnya yang sedari tadi berdering di dalam kantongnya.
"Pak, ponsel Bapak berbunyi. Angkat saja dulu panggilannya," ujar Sifa yang merasa risih dengan bunyi ponsel milik Abash.
"Biarin saja," jawab Abash sambil menekan tombol lift.
Sifa melirik ke arah sekitarnya. Berharap tidak ada seorang pun yang melihatnya bersama Abash. Terutama dua wanita yang sedang mengincar bosnya itu.
"Pak," panggil Sifa lagi.
"Kenapa? Kamu gak suka saya pegang tangannya? ujar Abash dengan kesal.
"Bukan gitu, tapi---"
"Kamu gak nyaman dekat dengan saya? Karena saya bau? Karena saya gak sebaik Arash?" tanya Abash.
Sifa menghela napasnya dengan sedikit kasar.
"Iih, Bapak kok nyebelin sih? Emangnya saya ada bilang kalau gak nyaman dekat smaa Bapak? Saya itu gak nyaman aja kalau Bapak kurung kaya tadi. Kalau seandainya ada yang lihat bagaimana? Bisa-bisa--- Pak," Sifa terkejut saat Abash mengikis jarak di antara mereka.
"Jadi kamu takut jika ada yang melihat kita berpelukan?" bisik Abash tepat di depan wajah Sifa.
"Hah? Mak-maksud Bapak?"
__ADS_1
Ting ...
Pintu lift terbuka, Sifa mendorong dengan sedikit kuat tubuh Abash sehingga membuat dirinya terbebas dari Kungkungan sang bos. Sifa pun bergegas keluar lift dan menuju apartemen.