Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 179 - Om Martin


__ADS_3

Putri sedang menyuapi Zia sarapan, gadis remaja itu sangat senang sekali saat mendengar jika sang kakak berada di Bandung.


"Udah, Kak, kenyang," tolak Zia.


"Lagi ya, dua suap lagi," bujuk Putri.


"Satu suap lagi," tawar Zia yang akhirnya di angguki oleh Putri.


Setelah selesai makan, Mama Nayna pun mengambil piring yang ada di tangan Putri.


"Kak, itu siapa?" tanya Putri saat melihat Abash datang bersama Putri tadi.


Sebenarnya gadis remaja itu ingin bertanya sedari tadi, tapi dia tidak memiliki kesempatan, karena Putri langsung mengambil alih piring yang ada di tangan Mama Nayna dan menyuapinya makanan.


Mungkin, jika bukan karena Putri, saat ini Zia belum juga selesai makan.


"Rekan kerja, Kakak," jawab Putri.


"Rekan kerja apa rekan kerja?" goda Zia, masa iya rekan kerja sampai rela temani sampai ke Bandung? Nginep lagi," kekeh Zia yang mana membuat Putri mendelikkan matanya.


"Sst, udah, minum obatnya dulu," titah Putri.


"Gak mau, obatnya pahit," tolak Zia.


"Yang manis itu namanya coklat. Ayo, buka mulutnya," titah Putri lagi.


"Gak mau," tolak Zia.


Gadis remaja itu memang sangat sulit sekali untuk minum obat, sama persis seperti Mama Nayna.


"Ayo, buka mulutnya," bujuk Putri sambil menunjukkan satu batang coki-coki di tangannya.


"Oke, Kak Inces memang the best," puji Zia yang mana membuat Putri mendelikkan lagi matanya.


Ya, Princess adalah nama panggilan kesayangan Putri saat sewaktu kecil. Akan tetapi, dengan seiring berjalannya waktu, panggilan kesayangan itu membuat Putri merasa malu dan tidak ingin di panggil dengan panggilan princess lagi.


Putri hanya memberikan izin kepada Mama, Papa, Opa dan Omanya yang hanya boleh memanggilnya dengan panggilan Princess. Tetapi dengan syarat, tidak di depan orang lain.


Zia menelan obatnya dengan susah payah, kemudian gadis itu langsung menyambar coki-coki yang ada di tangan Putri.


"Dasar manja," gumam Putri sambil membelai rambut sang adik dengan sayang.

__ADS_1


Setelah menunggui Zia tidur, Abash dan Putri pun pamit dengan Mama Nayna untuk mencari makan.


"Kenapa?" tanya Abash yang melihat Putri menatap layar ponselnya dengan tatapan penuh amarah.


Tak ada jawaban dari Putri, gadis itu masih menggenggam ponselnya dengan erat, bahkan satu tangannya lagi yang berada di atas meja sudah terkepal dengan erat.


Tak perlu menunggu jawaban dari Putri, karena sepertinya gadis itu tidak akan menjawab apa yang Abash tanyakan. Langsung saja pria itu merebut ponsel yang ada di tangan Putri dan membaca pesan yang tertulis di sana.


"Dasar bajingan!" gerem Putri dengan penuh emosi.


Abash menghela napasnya dengan pelan, pria itu mencoba tenang walaupun rasa takut mulai menghantuinya. Abash taktut jika mereka juga akan melukai Sifa dan keluarganya yang lain.


Ya, Putri baru saja mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal. Di sana tertulis jika ini adalah pembalasan yang telah membuat Josi masuk ke dalam penjara.


"Apa rencana Anda sekarang?" tanya Abash kepada Putri.


Putri masih diam dengan kedua tangan yang terkepal kuat.


Abash yang melihat itu pun tahu, apa yang saat ini sedang Putri rasakan. Tangan Abash terulur dan menggenggam kedua tangan gadis itu yang terkepal di atas meja.


"Hei, tenanglah. Kontrol emosi Anda, kita harus berpikir dengan tenang dan jangan gegabah dalam mengambil langkah dan keputusan," ujar Abash dengan lembut.


Satu tetes air mata Putri pun jatuh membasahi pipi mulus gadis itu. Abash bangkit dari duduknya dan mendekati Putri, di tariknya gadis itu kedalam pelukannya.


Merka berdua tidak peduli, jika saat ini sudah menjadi pusat perhatian dari pengunjung restoran lain. Untungnya, saat ini restoran tersebut tidak terlalu ramai.


Cekreek ..


Entah berapa foto yang sudah di ambil, hingga foto tersebut terkirim ke seseorang.


*


Abash sudah menghubungi Arash dan mengatakan jika kecelakaan yang di alami oleh Zia--adiknya Putri adalah ulah dari Yosi.


Tak lupa juga, Abash menghubungi Martin untuk meminta tolong kepada pria itu untuk menyelidiki tentang Yosi.


Ya, Martin cukup bisa diandalkan untuk mencari tahu tentang mafia yang ada di luar negeri dan juga dalam negeri. Informan pria itu sangat bisa diandalkan dan akurat.


"Saya sudah menghubungi Arash dan mengatakan jika semua ini adalah ulah Yosi. Saya juga sudah menyuruh anak buah saya untuk melacak nomor telepon tersebut, juga Saya sudah menghubungi Martin untuk mencari tahu tentang Yosi lebih banyak," ujar Abash kepada Putri.


"Martin? Siapa?" tanya Putri dengan kening mengkerut.

__ADS_1


"Anda akan segera mengenalnya," jawab Abash yang diangguki oleh Putri.


"Saya sudah menghubungi seorang pengacara untuk menangani kasus ini," ujar Putri memberi tahu.


Sebenarnya Putri merasa penasaran, apakah Martin yang di sebutkan oleh Abash adalah orang yang sama dengan dia maksudkan?


"Siapa?" tanya Abash yang bersamaan dengan itu ponsel Putri pun berdering.


Putri menerima panggilan telepon dan menyetujui apa yang dikatakan oleh orang yang ada di seberang panggilan.


"Ayo, kita temui pengacara yang akan menangani kasus ini," ajak Putri yang membuat Abash mengernyitkan keningnya.


*


Abash menatap pria yang ada di hadapannya saat ini. Dia tidak menyangka jika Putri mengenal pria yang terkenal misterius dan juga sangat terkenal di kalangan pejabat, pengusaha dan juga mafia.


"Martin," ujar Pengacara yang akan menangani kasus Putri.


"Abash." pria itu menyambut uluran tangan pria yang ada di hadapannya saat ini.


Putri yang melihat reaksi Abash tidak seperti apa yang dia duga, membuat gadis itu berpikir jika Martin yang dia kenal bukan Martin yang di kenal oleh Abash.


"Ayo, silahkan duduk," titah Om Martin.


Setelah berbasa basi sebentar, mereka pun mulai memasuki topik utama dalam pembahasan inti.


"Yosi Kamogi?" lirih Om Martin sambil mengusap dagunya.


"Iya, Om. Putri gak sengaja berurusan dengan adik Yosi dan menjebloskan adiknya ke dalam penjara," ujar Putri.


"Hmm, baiklah. Om sudah mengerti dan paham dengan apa yang terjadi sama kamu. Saran Om saat ini, kalian harus mencabut tuntutan atas Josi, adiknya Yosi," saran Om Martin.


"Apa? Tapi, Om---,"


"Putri, Yosi itu akan membalas perbuatan orang yang sudah membuat masalah denganya. Kamu membuat adiknya di penjara, maka dia akan melakukan hal yang sama dengan kamu. Dia sengaja mencelakai Zia agar kamu merasakan sakit dan sedih secara bersamaan," ujar Om Martin.


"Ini baru permulaan, sayang. Sebaiknya cabut tuntutan itu sebelum masalahnya semakin memburuk," saran om Martin.


Putri pun melirik ke arah Abash, yang mana pria itu menganggukkan kepalanya secara perlahan untuk menyetujui apa yang dikatakan oleh pengacara gadis itu.


Ya, Om Martin adalah pengacara hebat dan handal. Dia selalu memegang kasus tentang penyelundupan dan juga mafia. Jadi, pria paruh baya itu sangat tahu siapa Yosi sebenarnya dan bagaimana cara kerja pria itu untuk membalaskan dendamnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan kasus ini secepatnya. Ingat, keselamatan keluarga kamu ada di tangan kamu saat ini," ujar Om Martin memperingati Putri.


Tanpa Abash dan Putri ketahui, jika ada sebuah rahasia yang disembunyikan oleh Om Martin.


__ADS_2