Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 259 - Aku Mencintai Kamu


__ADS_3

Usai makan siang bersama Bara dan Putri, Arash pun mencoba untuk memohon kepada Putri agar gadis itu mau berbicara berdua saja dengannya, akan tetapi Bara menghalangi pria itu untuk membiarkan sang kakak pergi saat ini juga. Mau tak mau, Arash pun membiarkan Putri untuk pergi dari hadapannya saat ini.


"Baiklah, mungkin saat ini aku masih belum berhasil. Tapi aku akan mencobanya lagi, Put. Aku akan berusaha untuk mendekati kamu lagi," lirih Arash sambil menatap kepergian mobil Bara yang membawa Putri di dalamnya.


Saat di perjalanan balik ke kantor firma hukum di mana Putri mengais rezekinya, Bara pun mencoba membuka obrolan yang seharusnya sejak mereka makan tadi, pria itu sudah menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan kepada sang kakak.


"Mbak?" panggil Bara yang mana memuat Putri menoleh ke arahnya.


"Ya?"


"Apa kamu mencintainya?" tanya Bara yang mana membuat Putri menoleh ke arah luar jendela.


"Tidak," jawab Putri sambil menahan ari matanya yang sudah berusaha menerobos untuk keluar dari sela-sela selaput matanya.


Bahkan saat ini, genangan air mata itu pun sudah menganak di pelupuk mata Putri dan siapa untuk membasahi pipi mulusnya itu.


"Mbak, jangan bohong. Aku dapat melihat jika kamu mencintainya, Mbak," ujar Bara yang mana membuat Putri tidak sanggup lagi menahan tangisnya.


"Hiks, Bara--" tangis Putri tertahan, yang mana membuat sang adik terkejut di saat mendengar tangisan Putri.


Bara pun langsung menepikan mobil dengan segera, pria itu pun menangkup wajah sang kakak dan melihat apa yang tengah terjadi Putri saat ini.


"Mbak, kenapa kamu menangis?" tanya Bara yang sudah menangkup pipi Putri.


"Hiks .. a-aku .. hiks .. aku .."


Bara pun melepaskan seat bellnya, pria itu menarik tubuh Putri ke dalam pelukan hangat seorang abang.


"Menangislah. Menangislah sampai perasaan kamu merasa lega," bisik Bara yang mana membuat Putri melepaskan tangisannya di dalam pelukan sang adik yang saat ini sedang berperan sebagai seorang abang baginya.


Sudah hampir satu jam Putri menangis, hingga akhirnya gadis itu pun terdiam dengan sendirinya, walaupun masih terdengar sesenggukan dari bibirnya.


"Sudah tenang?" tanya Bara yang di angguki oleh Putri.


Bara pun mengusap pipi Putri dengan lembut, menghapus air mata yang sudah membasahi pipi kakaknya itu.


"Mau cerita sekarang atau nanti?" tanya Bara dengan lembut, yang di jawab gelengan pelan oleh Putri.


Bara pun memahami perasaan Putri saat ini, di mana sang kakak pasti belum siap untuk menceritakan apa yang sedang dia rasakan sekarang. Bara akan menunggu hingga Putri siap menceritakan apa yang sudah mengganjal di dalam hatinya selama ini.


"Kita berangkat sekarang?" ajak Bara yang di angguki oleh Putri.


Bara pun kembali memasang seat bellnya, yang mana detik selanjutnya membuat gadis itu menahan lengan sang adik.


Bara menoleh ke arah Putri yang sudah menatapnya dengan tatapan penuh permohonan.


"Ya?" jawab Bara yang sangat yakin, jika sang kakak sudah siap untk menceritakan apa yang dia rasakan saat ini.


"Aku mencintai Arash, sejak awal aku sudah mencintai pria itu. Tapi, dia—"


Putri pun menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya, Arash, Sifa, dan juga Abash. Yang mana menurut Bara adalah kisah yang di alami oleh sang kakak adalah cinta segi empat. Tidak, bukan cinta segi empat, hanya saja terlihat seperti cinta segi empat. Semua ini terjadi karena kebodohan Arash yang tidak menyadari perasaannya kepada Putri.


"Jadi, Mbak mau aku menjauhkan Mbak dari Arash?" tanya Bara yang mana di jawab anggukan oleh Putri.


Bara pun menghela napasnya dengan pelan. Untuk pertama kalinya dia tidak bisa membaca pikiran sang kakak. Ternyata kata orang benar, jika pemikiran seorang wanita itu sangatlah susah di tebak. Telihat A tetapi nyatanya B. Dan setelah di pikir B, ternyata kembali ke A dan berlari ke C.


Oh ya ampun, seribet itu ternyata pemikiran seorang wanita di mata Bara.


*


Sudah tiga hari semenjak kejadian di rumah makan padang itu berlalu. Sejak saat itu Putri terlihat mulai menghindari Arash.


“Kamu langsung pulang, Put?” tanya Sonia, rekan kerja sesama pengacara di firma hukum tersebut.


Selain dengan Sonia, bisa di katakan Putri tidak terlalu akrab dengan yang lainnya. Bukan berarti Putri tidak saling menyapa dengan yang lain, akan tetapi semenjak kejadian dirinya yang berselisih dengan Yosi, membuat Arash terlalu over protektif menjaga. Hal itu pun membuat ruang lingkup gerak Putri menjadi lebih kecil, dan juga gadis itu sudah merasa nyaman dengan keberadaan Arash.


Seperti kata Sonia, jika cinta sudah tak ada, maka semuanya akan menjadi lebih mudah.


“Iya. Lebih cepat tiba di rumah itu bisa jauh lebih baik karena aku bisa langsung istirahat,” ujar Putri yang kini terlihat sudah selesai membereskan barang-barang di atas meja miliknya dan bersiap pulang.


“Oke, kalau begitu hati-hati di jalan ya,” Sonia pun menepuk bahu pelan Putri terlihat memberikan petuah yang cukup bijak pada gadis itu.


“Loh? Kamu sendiri tidak langsung pulang?" Tanya Putri yang heran melihat rekannya masih duduk santai di kursi kerjanya.


“Tidak, Put. Aku masih memiliki sedikit pekerjaan yang harus selesai besok. Lagi pula, aku juga sudah punya janji dengan kekasihku, dan kebetulan dia akan menjemputku sedikit telat, mungkin sekitar dua puluh menitan lagi, maka dari itu aku putuskan untuk menunggu sambil menyelesaikan pekerjaanku yang tinggal sedikit lagi saja di sini,” jawab Sonia yang mana membuat Putri menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, kalau begitu aku duluan ya,” ucap Putri sambil beranjak dari tempat duduknya.


“Oke,” Sonia pun melambaikan tangannya ke arrah Putri, yang mana gadis itu juga membalas lambaian tangan dari rekan kerjanya itu.

__ADS_1


Putri terlihat melangkah meninggalkan ruangan yang biasa digunakan untuk bekerja. Selama berjalan menuju ke pintu keluar, Putri yang memang terkenal ramah kerap bertegur sapa dengan rekan sesama pengacara yang kebetulan masih ada di sekitar bangunan hukum tersebut. Ya, walaupun mereka jarang duduk bersama untuk sekedar minum kopi, tetap saja gadis itu harus bersikap ramah dengan rekan kerjanya, kan?


Baru saja Putri tiba di pintu keluar, langkah gadis itu pun tiba-tiba terhenti sebab dia melihat pemandangan yang tidak mengenakkan di depan matanya.


Putri melihat ke arah adiknya yang terlihat tengah saling berhadapan dengan sosok laki-laki yang menurut keterangan dari sahabat barunya itu ternyata sangat mencintai dirinya. Putri pun memicit pangkal keningnya yang terasa sedikit berdenyut. Kenapa di saat dia ingin menghindar dari Arash, pria itu terus saja muncul di dalam kehidupannya.


Berapa hari ini Putri memang meminta Bara menjemputnya sedikit terlambat, gadis itu juga sudah mengatakan kepada satpam untuk mengatakan kepada Arash jika dirinya sudah pulang sejak lima menit yang lalu setiap pria itu datang untuk menjemutnya.


Tiga hari yang lalu rencana Putri memang berhasil, tetapi ternyata tidak untuk hari ini. Di mana ternyata Arash menunggui dirinya atas nama kecurigaan. Padahal Putri sudah tidak lagi memakai kalung yang di berikan oleh Abash.


Dari kejauhan Putri bisa melihat kalau sang adik yang bernama Bara dan juga laki-laki yang berada depannya yang tak lain adalah Arash justru terlihat seperti sedang adu mulut dan hampir terjadi pertengkaran.


Tak ingin melihat kondisi yang tengah memanas itu semakin memburuk, Putri pun gegas melangkah mendekat ke arah dua orang itu.


“Ada apa ini? Kenapa kalian malah ribut-ribut di sini?" tanya Putri dengan wajahnya yang kesal.


"Putri," lirih Arash.


"Mbak," lirih Bara yang hampir bersamaan dengan Arash.


“Put, aku ke sini berniat ingin menemuimu. Tapi adikmu melarangku untuk menemuimu, dia bilang percuma meski sekalipun aku ingin menemuimu, Put. Apa kamu memang tidak ingin bertemu dengan aku, put?” tanya Arash dengan tatapan sendunya.


Putri terlihat menghela nafasnya sebab dia sendiri bingung harus mengatakan apa saat ini kepada Arash.


“Maafkan aku, Arash. Lagi pula aku tidak ada waktu untuk bicara denganmu,” ujar Putri tanpa berani menatap ke arah Arash yang tengah menatapnya dengan lekat.


“Aku mohon, berikan aku waktu dan kesempatan untuk bisa bicara dari ke hati ke hati denganmu," pinta Arash setengah memohon pada Putri.


“Apa tadi kamu tidak mendengar Mbakku bilang apa? Dia tidak ada waktu untuk bicara dengan kamu. Itu artinya dia tidak ingin bertemu kamu, mengerti?" Bara langsung menyela ucapan Arash.


“Put, aku mohon, beri aku kesempatan kali ini aja, Put,” ujar Arash tanpa menatap sedikit pun ke arah Bara.


Bara hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan Arash yang terkesan tak menganggapnya ada. Tampak beberapa kali Bara mengepalkan kedua tangannya untuk menahan amarah dan tidak melayangkan pukulannya di wajah pria itu.


Putri sudah memicit kembali keningnya yang terasa berdenyut. Tak bisakah Arash mengerti dan memahami dirinya? Jika dia tidak ingin bertemu dengan pria itu untuk saat ini? Setidaknya dalam waktu dekat ini.


“Sebaiknya kita pulang saja, Mbak. Kita tidak perlu berurusan apapun dengan laki-laki ini,” ucap Bara yang memang merasa marah kepada Arash, karena pria itu sudah berani membuat sang kakak menangis hingga sesenggukan seperti hari itu.


“Baiklah, aku benar-benar lelah hari ini karena pekerjaanku sangat banyak dan aku juga butuh beristirahat,” jawab Putri sambil menggandeng tangan Bara.


Akan tetapi gegas Arash segera menghentikan langkah Putri dengan memegang lengan gadis itu, hingga membuat langkah Putri kembali terhenti.


“Aku mohon, Put. Izinkan Aku berbicara denganmu sekali saja. Aku selalu mencari kesempatan untuk bicara denganmu tapi kamu terus saja menghindar dariku,” ucap Arash dengan tatapan memohon dan bersungguh-sungguh.


Kali ini Putri yang terlihat mendengus kesal dan buang nafas sebab kesal pada Arash, sebelumnya Putri sudah memberinya kesempatan hanya saja kesempatan itu disia-siakan begitu saja oleh Arash dan hal itulah yang membuat Putri merasa kecewa dan tidak ingin berbicara apapun lagi dengan Arash.


Bara terlihat menghentakkan tangan Arash, sehingga terlepas dari lengan sang kakak, akhirnya Putri pun ada di belakang tubuh Bara saat ini. Tampak pria itu menatap tajam ke arah Arash, sementara Putri berusaha bersembunyi dibalik tubuh tegap sang adik.


“Dengar ya. Aku tidak suka melihat kamu terus-menerus mengganggu Putri, dan ini untuk yang terakhir kalinya aku peringatkan, jangan pernah kamu datang lagi ke kantor ini untuk mencari Putri,” Bara terlihat menunjuk di depan wajah Arash dengan wajah geramnya.


“Aku mohon untuk sekali ini saja. Aku mohon biarkan aku berbicara dengan Putri. Ada hal penting yang harus aku sampaikan kepadanya,” ujar Arash yang tetap dengan pendiriannya meskipun Putri masih menolak.


“Sebagai seorang adik, aku berhak melarang kamu dan melindungi Putri. Aku tegaskan untuk terakhir kalinya, kalau aku melarangmu menemui Putri.” telunjuk Bara masih belum juga turun dari depan wajah Arash.


"Put, sekali ini saja, aku mohon. Dengarkan dulu apa yang ingin aku sampaikan,” mohon Arash yang lagi-lagi kembali mengabaikan ucapan Bara.


"Kau—"


"Cukup." pekik Putri yang mana membuat Bara dan Arash pun kembali terdiam.


Putri menoleh ke arah Arash dengan tatapan mata yang penuh rasa kecewa.


"Rash, aku mohon sama kamu untuk tidak menemui aku lagi. Aku harap ini pertemuan kita yang terakhir," ujar Putri dan langsung masuk ke dalam mobil.


“Kamu dengar sendiri kan apa yang di katakan oleh Putri? Dia tidak ingin bertemu dengan kamu. Dan satu hal lagi, aku tidak ingin kamu terus memaksa Putri agar mau bicara denganmu. Jadi, biarkan dia memilih siapa yang akan jadi pilihan terakhirnya,” ujar Bara yang mana membuat Arash kali ini tidak menjawab ucapannya.


“Pilihan terakhir? Apa itu maksudnya Soni?” tanya Arash dengan wajahnya yang terlihat sendu dan putus asa.


"Aku rasa aku tidak perlu menjawab apa yang kamu tanyakan. Cukup percaya saja dengan apa yang kamu lihat," ujar Bara dan berlalu meninggalkan Arash yang masih mematung di tempatnya.


"Ah ya, sebaiknya kamu juga pulang, jangan permalukan diri kamu sendiri di sini," titah Bara sebelum pria itu benar-benar berlalu meninggalkan Arash.


Bara menghidupkan mesin mobil dan membunyikan klakson, memberi tanda agar Arash segera menepi dari jalannya. Arash yang memang sangat keras kepada pun, menatap ke arah mobil yang di tumpangi oleh Putri. Bukannya menepi, pria itu malah berdiri di depan mobil itu dengan tangan yang terentang lebar.


Di tatapnya lekat-lekat kaca hitam yang membuat dia tidak bisa melihat siapa orang yang ada di dalam mobil tersebut. Tetapi dia sangat yakin sekali, jika Putri sedang melihatnya saat ini.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Bara dengan kening mengkerut dan kembali menekan klakson agar pria tu menyingkir dari hadapannya.


“Putri, kamu harus mendengarkan apa yang ingin aku katakan. Jika kamu tidak ingin berbicara empat mata bersama aku, maka aku akan mengatakannya di depan semua orang. Kalau aku mencintai Putri. Aku mencintai kamu. Dan kamu hanya milik aku seorang,” pekik Arash yang mana membuat Putri membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Apa kamu senang, Mbak?" tanya Bara yang menganggumi keberanian Arash dalam menyatakan perasaanya.


"Dasar pria gila, cepat pergi dari sini," ujar Putri dengan wajah yang merona.


"Kamu gak mau turun dan berlari ke dalam pelukannya?" goda Bara yang mana membuat Putri mencebikkan bibirnya.


"Pergi sekarang atau aku akan merajuk," ancam Putri yang mana membuat Bara terkekeh pelan.


"Baiklah, princesss," ujar Bara dan memundurkan mobilnya, kemudian dia mengambil arah lain untuk melewati Arash.


***


Sebuah mobil mewah terlihat memasuki pelataran perkarangan rumah. Kemudian mobil tersebut segera berhenti sambil memastikan mesin mobil.


Dari dalam mobil tersebut tampak keluar seorang wanita muda dan juga seorang laki-laki yang usianya jauh lebih muda lagi dari wanita yang lebih dulu keluar dari dalam mobil itu.


Mereka adalah pasangan adik kakak, Putri dan juga Bara.


“Mbak, sebaiknya Mbak segera istirahat karena wajah Mbak terlihat lelah setelah seharian bekerja," Bara tampak tak tega melihat wajah lelah kakaknya tersebut. Di tambah lagi kejadian di mana Arash menyatakan perasaannya kepada Putri, membuat gadis itu semakin kepikiran.


Sebenarnya hal yang membuat Putri merasa sangat lelah adalah sikap Arash yang keras kepala dan terus memaksa ingin bertemu dengannya akan tetapi Putri masih belum bisa bertemu dengan Arash sebab dia masih butuh waktu untuk meyakinkan hatinya kalau Arash memang bersungguh-sungguh padanya.


“Iya, Bara. Mbak duluan ya?" ujar Putri dan berlalu masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Bara masih tetap berdiri di depan mobil. Pria itu sudah membuat janji untuk bertemu dengan seseorang.


Tadi saat masih di perjalanan tiba-tiba ponsel milik Bara bergetar dan memunculkan bunyi notifikasi pesan chatting, gegas Bara pun meraih ponselnya kebetulan saat itu sedang ada di pertigaan di mana lampu merah tengah menyala.


Dia melihat pesan singkat yang berasal dari Arash yang mana isinya tersebut tertulis kalau Arash ingin bertemu dengan Bara dan bicara empat mata denganya.


Akan tetapi Bara tidak memberitahukan hal itu kepada Putri, dia hanya membalas dengan emoticon jempol sebagai tanda kalau memang dirinya bersedia untuk bertemu dengan Arash secara empat mata.


Menyadari jika Bara tidak berada di belakangnya, membuat Putri pun kembali keluar untuk mencari keberadaan adiknya itu.


"Bar, kamu mau ke mana?" tanya Putri yang mana membuat Bara mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil lagi.


“Oh … Aku ada urusan sebentar dengan teman di luar, Mbak. Jadi Mbak tidak perlu mengkhawatirkanku dan sbaiknya Mbak masuk saja ke dalam biar bisa langsung beristirahat seperti keinginan mbak tadi,” ujar Bara.


“Siapa juga yang mengkhawatirkan kamu? Ya sudah kalau gitu, hati-hati di jalan.”


Putri terlihat melangkah masuk ke dalam rumah milik adiknya itu, sementara Bara kembali masuk ke dalam mobil. Tujuannya tentu saja adalah cafe di mana Arash memintanya untuk bicara empat mata berdua saja tentang perihal perasaannya kepada Putri.


Sementara saat ini di sebuah café, terlihat seorang laki-laki tengah duduk di meja yang sudah di reservasi sebelumnya dengan kopi latte yang ada di depannya yang masih mengepulkan asap pertanda minuman itu masih cukup panas dan baru saja di hidangkan.


Tatapan matanya yang awalnya mengarah ke arah kopi latte panas miliknya kini berpindah ke arah sosok laki-laki yang kini sudah berdiri di hadapannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Bara.


“Akhirnya kamu datang juga, Bara. Silahkan duduk,” titah Arash yang kini tampak berdiri sambil mempersilahkan Bara untuk duduk.


“Aku tidak ingin banyak basa-basi disini, jadi Langsung saja. Apa yang ingin kamu bicara denganku?" Tanya Bara sambil menatap dingin ke arah Arash.


“Duduklah dulu. dan silahkan minuman terlebih dahulu agar percakapan kita bisa jauh lebih rileks?” tawar Arash yang mana membuat Bara menaikkan sebelah alis nya.


“Kamu tahu sendiri kalau aku bukan orang yang mudah diajak bicara berbasa-basi. Jadi sekali lagi aku bertanya, Apa tujuan kamu mengundangku datang kemari? Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan, maka aku akan segera pergi dari sini,” ancam Bara yang mana membuat Arash terkekeh pelan.


“Baiklah kalau kamu memang ingin pertemuan ini langsung menuju ke topik pembicaraan. Tentu saja aku memintamu datang karena aku ingin membicarakan masalah Putri, ucapanmu yang mengatakan kalau Putri memiliki pilihan lain sungguh sangat mengusik perasaanku." ujar Arash.


“Bukankah semuanya sudah jelas, Arash? Putri tidak ingin lagi bicara denganmu dan aku pun tidak punya hal untuk memberikan izin kepda kamu untuk bertemu dengannya. Kamu sudah kehabisan waktu untuk mengungkapkan perasaan kamu, Rash. Karena Putri sudah memilih seseorang yang lebih pantas mendampinginya,” ujar Bara yang mana membuat Arash mengepalkan tangannya.


“Untuk itulah aku memintamu datang kesini. Aku ingin meminta tolong padamu agar mau membujuk kakakmu itu agar ia mau memberiku kesempatan satu kali lagi." wajah Arash tampak memelas kali ini.


“Tentu saja aku tidak mungkin melakukan hal itu, sekali lagi keputusan ada di tangan kakakku dan aku tidak ingin ikut campur sedikitpun. hanya saja aku pasang badan untuk melindungi kakakku sebab dia jelas-jelas mengatakan kalau dia tidak ingin bertemu denganmu.” ujar Bara


Arash terlihat memejamkan kedua matanya sambil menghela nafas sepenuh dada yang kemudian dia hembuskan demi mengeluarkan jutaan kekesalan dalam hatinya. Kemudian ia Kembali menatap ke arah Bara yang masih berdiri di hadapannya.


Arash yakin kalau dia akan memperjuangkan perasaannya pada Putri bagaimanapun caranya.


“Andaikan aku boleh memohon maka aku akan memohon bantuanmu, Bara.” Arash Kembali menunjukan sikap memelas.


“Kamu tidak perlu sampai merendahkan dirimu seperti itu hanya demi kakakku, sekali lagi kalau kamu memang ingin memperjuangkan perasaanmu untuk kakakku maka buktikanlah jangan hanya ucapan omong kosong saja." tantang Bara.


"Satu hal lagi, jangan membiasakan dirimu dengan meminta tolong pada orang lain jika kamu memang memiliki perasaan pada kakakku, maka jadilah laki-laki yang terus memperjuangkan dan menunjukkan tekad kalau kamu mencintainya,”


“Bukan begitu maksudku, Bara…“


“Sudahlah, pembicaraan ini hanya membuang-buang waktuku. Sebaiknya aku pulang saja, sekali lagi aku ingatkan kalau kamu memang benar-benar menginginkan kakakku, bersabarlah dan terus perjuangkan perasaannya yang sudah sempat kecewa oleh perbuatanmu," ujar Bara yang mana membuat Arash merasa bersalah.


"Baiklah calon adik ipar, aku anggap ucapan kamu itu adalah sebuah dukungan untuk aku bersatu dengan Putri," ujar Arash yang mana membuat Bara melongo mendengarnya.


"Sejak kapan aku jadi adik ipar kamu?" tanya Bara tak suka.

__ADS_1


"Sejak satu menit yang lalu," jawab Arash dengan pedenya.


__ADS_2