Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 260 - Es Krim


__ADS_3

"Arght!"


"Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa aku merasa seolah Putri sengaja tak ingin bertemu aku," keluh Arash.


Arash pun mencoba kembali mencoba untuk menemui Putri. Apa pun yang terjadi, maka dia akan tetap menghadapi gadis itu.


"Permisi, Mbak. Ibu Putri nya ada?" tanya Arash pada salah satu resepsionis di sana.


"Maaf, Pak. Untuk saat ini Ibu Putri sedang tidak berada di kantor," balas resepsionis tersebut sambil tersenyum ke arah Arash seakan begitu terpesona dengan ketampanan seorang pria yang ada di depannya itu.


Bagaimana tidak, saat ini semua orang yang ada di kantro firma hukum itu sudah mengenali siapa Arash sebenarnya.


Arash memang pemuda yang tampan dan banyak digilai kaum wanita. Bahkan wanita dari kalangan atas pun rela bersusah payah agar mendapat sedikit perhatian Arash. Akan tetapi, pilihan Arash pun akhirnya jatuh kepada Putri. Gadis yang terlihat manja, tetapi nyatanya sangat mandiri sekali. Bahkan gadis itu pandai bermain casino dan membuatnya mendesah.


"Kalau boleh tahu kapan dia kembali ke kantor?" tanya Arash yang penasaran dengan ketidak beradaan Putri di tempatnya bekerja.


Ini bukan yang pertama semenjak kejadian ungkapan cinta yang luar biasa Arash lakukan, tetapi ini sudah yang kesekian kalinya jika Putri tak berada di kantornya.


"Sepertinya Ibu Putri tidak kembali ke kantor, Pak. Soalnya beliau sedang dinas diluar kota," jawab receptionist tersebut.


"Luar kota? Sejak kapan?" tanya Arash merasa penasaran.


"Dua hari yang lalu," jawab reseptinos tersebut.


"Kenapa baru bilang sekarang? Kenapa kemarin saat saya ke sini gak bilang?" tanya Arash dengan kesal.


"Bapak kan gak tanya?" jawab reseptionis itu yang mana membuat Arash menjadi kesal.


"Kira-kira berapa lama Ibu Putri dinas di luar kota?" tanya Arash merasa penasaran.


"Wah, kalau itu saya kurang tau, Pak. Coba saja Bapak tanya sendiri kepada Buk Putri," jawab reseptionis itu yang mana membuat Arash lagi-lagi merasa kesal.


"Kalau pesan saya di baca, gak mungkin saya cariin dia, Mbak," ketus Arash yang mana membuat reseptinonis itu pun terkejut mendengarnya.


Raut wajah kecewa tampak jelas di wajah Arash kala mendengar penuturan resepsionis tersebut. Kenapa saat ini dirinya merasa begitu susah bertemu Putri. Karena tak mendapatkan hasil yang memuaskan, akhirnya Arash pergi meninggalkan kantor Putri.


Helaan nafas penuh rasa kecewa terdengar jelas kala dirinya sudah berada di dalam mobil. Ingatannya kembali berputar tentang kejadian beberapa hari yang lalu saat Bara mengajaknya bicara empat mata dengannya.


"Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian hari itu? Makanya Putri sengaja menghindariku,” gumam Arash sambil menyalakan mobilnya.


"Tapi kenapa? Aku kan sudah menyatakan perasaan aku di depan umum. Apa itu tidak membuat Putri berkesan?" lirih Arash dengan perasaan yang sangat merindui gadis itu.


Perlahan mobil yang di kendarai oleh Arash pun melaju meninggalkan halaman kantor firma hukum tempat Putri bekerja. Selama mengemudi, Arash terus menghela napas sepenuh dada.


“Terus aku harus bagaimana sekarang agar Putri mau menemuiku lagi?" tanyanya lirih. "Andai saja aku tahu di mana tempat tinggal Putri saat ini, mungkin aku sudah mendatangi rumahnya," cicit Arash sambil memfokuskan pikirannya sambil mengemudi.


Tak lama kemudian Arash tersenyum seolah mendapatkan ide agar bisa menaklukkan wanita yang selama ini mengganggu pikirannya. Seorang perempuan yang bisa mengalihkan dunianya sampai membuat dirinya tak bisa berkonsentrasi dalam menjalankan pekerjaannya.


Dengan penuh semangat Arash kembali menjalankan mobilnya untuk menemui Desi, teman dekat Putri akhir-akhir ini.


Mobil yang dikemudikan oleh Arash tampak berbelok menuju kediaman Desi. Hanya Desi lah yang menjadi harapan Arash kali ini.


"Kamu! Ngapain ke mari, Rash?" Desi mengernyit heran begitu membuka pintu rumahnya ketika melihat Arash datang menemuinya.


"Baru juga nyampe, Des. Paling gak, biarkan aku duduk dulu setelah itu ditawarin minum apa kek. Kamu gak lihat aku kelelahan seperti ini," gerutu Arash yang langsung nyelonong masuk kemudian mendudukkan badannya di sofa. Membuat si empunya rumah menggeleng melihat kelakuan Arash tersebut, tapi tak urung melangkahkan kakinya menghampiri Arash berada.


Jika saja Arash bukan anak dari majikan orang tuanya, mungkin saat ini pria itu sudah Desi tendang keluar dari rumahnya.


"Kenapa nih wajah kok di tekuk terus?" tanya Desi yang sudah mendaratkan bokongnya di sofa, tepatnya di depan di mana Arash duduk.


Bukannya menanggapi pertanyaan Desi, Arash malah menghela nafasnya sejenak, kemudian menatap wajah Desi dengan tatapan yang membuat si empunya mencebik ke arahnya. Desi sudah tahu kalau tujuan Arash menemuinya pasti berkaitan dengan Putri.


"Jangan bilang kedatanganmu kemari ada hubungannya dengan Putri," tebak Desi penuh curiga yang lagi-lagi membuat Arash kembali menghela nafasnya. Tak lama kemudian Arash mengangguk lesu seolah membenarkan ucapan Desi.


"Akhir-akhir ini aku begitu kesulitan menemui Putri. Ponselnya juga nggak bisa aku hubungi, seolah dia sengaja menghindar dariku," aku Arash yang masih memasang wajah sendu, sementara Desi masih setia menanti lanjutan ceritanya.


“Kapan?” tanya Desi tanpa melihat ke arah Arash.


"Barusan aku dari kantornya, tapi sayangnya dia sedang tidak ada di tempat." Arash kembali merasa lesu.


"Memangnya Putri ke mana?" tanya Desi setelah Arash terdiam cukup lama.


"Dia dinas di luar kota, dan entah kapan pulangnya. Des, aku boleh minta tolong nggak?" wajah Arash kembali menampakan wajah penuh pengharapan.


"Minta tolong apa?" tanya Desi dengan kening berkerut walaupun dalam benaknya dia yakin jika Arash akan memintanya untuk menghubungi Putri, dan terbukti benar kala Arash mengutarakan hal tersebut padanya.

__ADS_1


Desi menggeleng keras, menolak permintaan Arash tersebut sambil berucap, "Aku tidak bisa, Arash."


"Tolong, Des. Bantuin aku untuk kali ini saja. Aku sangat ingin bertemu dengan Putri," harap Arash yang lagi-lagi membuat Desi menggelengkan kepalanya.


"Bukan aku nggak mau bantu kamu, Rash. Tapi kali ini aku nggak mau ikut campur urusanmu dengan Putri lagi. Cukup sekali aku membuat Putri kecewa saat ingin menyatukan perasaan kalian. Dan, kali ini aku tak ingin kejadian itu terulang kembali. Lebih baik kamu cari cara lain, supaya Putri mau menemuimu."


Arash terdiam setelah mendapatkan jawaban Desi yang sangat tidak membantu. Pria itu benar-benar hampir putus ada di buat Putri. Sesulit inikah memperjuangkan cinta?


Arash pulang dengan perasaan hampa, setelah Desi menolak membantunya. Dirinya tak tahu lagi bagaimana cara untuk bisa menemui Putri, agar dirinya bisa menyatakan perasaannya terhadap Putri. Ya, setidaknya berbicara empat mata dari hati ke hati kepada gadis yang telah memporak porandakan perasaannya.


Di sisi lain Putri yang berada di kamar hotel pun terlihat berkali-kali menghela nafasnya lelah saat melihat begitu banyaknya panggilan telepon, dan juga pesan yang dikirim oleh Arash.


Putri yang merasa lelah dengan kegigihan Arash yang setiap hari terus berusaha untuk menemuinya pun, akhirnya mengambil keputusan untuk dinas ke luar kota. Namun, di sisi lain Putri juga merasa rindu dengan sosok yang saat ini sedang dia hindari.


"Maafin aku, Rash, aku mohon kasih aku waktu untuk menjernihkan pikiranku," lirih Putri sambil menatap nama Arash yang kembali menghubungi ponselnya.


*******


Dua Minggu berlalu, Arash terlihat uring-uringan di ruangan kantornya. Awalnya dia sengaja mengambil izin dua hari untuk fokus ke perusahaannya. Tapi yang ada di pikirannya saat ini malah terbelah menjadi dua, antara kantor dan juga Putri yang tak kunjung menanggapi panggilan telepon atau pun pesan singkat yang dia kirimkan sehari sepuluh kali, bahkkan lebih.


Arash pun beranjak keluar dari kantornya untuk mencari udara segar agar bisa menghilangkan sedikit penat yang saat ini sedang mengganggu pikirannya. Dia pun berencana untuk mengunjungi sang kakek yang sudah di perbolehkan pulang, begitu dengan sang kembaran yang tengah mempersiapkan acara pertunangannya dengan Sifa. Saat mobilnya melintas di kedai es krim, matanya tak sengaja melihat seseorang yang selama ini dia rindu.


Jelas sekali kalau Arash melihat keberadaan Putri bersama teman dan saudaranya yang sedang tertawa di kedai tersebut, yang mana membuat senyum Arash pun ikut merekah.


Tunggu, sejak kapan Putri dekat dengan Naya?


Arash pun membelokkan mobilnya ke arah kedai es krim itu. Kemudian segera turun begitu selesai memarkirkan mobilnya di tempat parkiran. Dengan langkah pasti Arash bergegas berjalan ke arah Putri, Naya, Desi, dan Luna.


"Putri, Desi, Luna, Naya! Kalian disini?" sapa Arash dengan senyum tersungging di bibirnya yang seketika membuat Putri terkejut dan menegang di saat melihat kedatangan Arash yang begitu tiba-tiba.


Bagaimana bisa Arash menemukan keberadaan mereka? Padahal Putri sengaja membuat janji dengan teman-temannya di tempat yang sepertinya tak akan di jangkau oleh Arash. Tapi nyatanya.


"Hei, Rash. Apa kabar?" tanya Naya berbasa-basi sambil menyikut lengan Putri yang masih terlihat terkejut dengan kemunculan Arash tersebut.


Naya sudah mengetahui tentang hubungan Arash dan Putri. Hal itu dia ketahui dari temannya yang ternyata juga bekerja di firma hukum yang sama dengan Putri. Perihal tentang Arash yang menyatakan cintanya dan terus mendatangi kantor firma hukum hanya untuk mencari keberadaaan gadis itu, sudah sangat terkenal se antero kantor. Sayangnya, tidak ada yang merekam kejadian di mana Arash menyatakan perasaannya kepada Putri. Pria itu sungguh terlihat sangat keren sekali.


"Lumayan, baik. Kalian sedang ngapain di sini? Kok bikin acara ketemuan di tempat yang jauh dari rumah, sih," ucap Arash mengalihkan pembicaraan yang membuat Desi mencebik kesal.


"Makan es krim lah, masa ke gerai es krim makan nasi Padang," sungut Desi yang mana malah membuat Arash terkekeh geli mendengarnya, begitu juga dengan Luna dan Naya yang terlihat cekikikan mendengar kata-kata Desi barusan.


"Permisi para pelanggan sekalian, saat ini kami akan mengadakan sebuah tantangan untuk memakan eskrim yang ada di dalam box ini. Jika kalian beruntung, maka kalian akan mendapatkan tiket makan es krim gratis selama sebulan. Syaratnya cuma satu, yaitu kalian para pelanggan setia harus menghabiskan es krim yang ada di balik kotak ini. Siapa yang ingin mencobanya, ayo silahkan mendaftar sekarang juga," ujar pelayan yang baru saja mengumumkan berita tentan perlombaan tersebut.


"Waah, makan ek krim selama sebulan, lumayan nih," kekeh Desi yang mana di setujui oleh Putri.


"Iya, aku juga pingin memenangkan perlombaan ini. Hanya memakan es krim, apa susahnya, kan?" sambung Putri yang di angguki oleh Naya dan juga Desi.


"Yuk, kita ikutan," ajak Desi penuh semangat.


"Yuk, lah." jawab Naya. "Eh, Rash, kamu mau ikutan, gak?" ajak Naya yang baru menyadari jika sepupunya itu sedang menatap Putri dengan tatapan memuja.


"Ikut apa?" tanya Arash yang baru saja sadar dari lamunannya, di saat lengan pria itu di senggol oleh Desi.


"Bagaimana mau dengar, kalau mata dan pikirannya saat ini hanya tertuju pada Putri seorang," ujar Luna yang akhirnya menggoda Arash, yang di sambut tawa lagi oleh Naya dan juga Desi. Yang membuat Arash tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena memang itulah kenyataannya.


"Kamu bisa saja, Lun tapi emang bener sih," ungkap Arash sambil menatap wajah Putri yang terlihat salah tingkah kala melihat tatapan mata Arash padanya.


"Sudah ku duga," tukas Naya sambil melipat kedua tangannya di depan dada yang kembali membuat Luna dan Desi tak bisa menahan tawanya lagi mendengar ucapan temannya itu.


"Sudah … Sudah … Aku sakit perut nih," keluh Desi sambil memegang perutnya.


"Saat ini gerai yang kita datangi sedang mengadakan tantangan, Rash. Siapa yang bisa menghabiskan es krim yang ada di box, maka akan mendapatkan es krim gratis selama sebulan," terang Desi yang membuat Arash menganggukkan kepalanya seolah mengerti dengan apa yang di katakan oleh Desi tersebut.


"Jadi, apa kalian juga akan mengikuti tantangan yang di berikan oleh pihak gerai es krim ini?" tanya Arash yang di angguki oleh Desi dan Naya. Sedangkan Putri sama seperti tadi masih setia dengan diamnya.


"Yups, lumayan ‘kan kalau dapat es krim gratis. Tapi ada syaratnya, Rash." ujar Naya lagi memberi tahu.


"Syarat? Syarat apa?" Kening Arash berkerut seolah tak paham dengan kata-kata yang di lontarkan Naya itu.


"Iya, syaratnya kita tidak bisa memilih sendiri rasa es krimnya. Jadi, kalau kita ikutan lombanya, maka kita harus siap-siap menghabiskan es krimnya yang sudah diberikan oleh karyawan gerai," terang Naya kemudian.


"Sepertinya cukup menarik, boleh aku ikutan?" ucap Arash dengan wajah antusias yang langsung diangguki oleh Desi, Naya, dan Luna dengan kompak.


"Tentu saja boleh. Lomba ini ‘kan untuk umum. Jadi siapa pun boleh ikutan, termasuk kamu," lontar Desi.


"Oke, aku ikut kalau begitu," ujar Arash yang mana di angguki oleh Desi.

__ADS_1


"Jadi, siapa-siapa aja yang ikut tantangan, nih?" tanya Desi yang sudah siap untuk mendaftarkan nama mereka.


"Aku ikut," ujar Naya.


"Aku juga," ujar Putri yang akhirnya kembali bersuara setelah diam beberapa saat sejak Arash tiba dan bergabung bersama mereka.


Akhirnya mereka segera mendaftarkan diri untuk mengikuti perlombaan tersebut, kecuali Luna yang tak bisa tahan dengan dinginnya es krim.


Setelah mendaftarkan diri, Desi, Naya, Putri dan Arash pun di suruh memilih salah satu di antara lima box yang mana di dalamnya terdapat es krim dengan rasa yang berbeda-beda. Di mana nantinya es krim yang ada di dalam box itu pun menjadi pilihan mereka dan di wajibkan harus menghabiskan satu cup es krim dalam waktu yang sudah di tentukan.


Arash memilih nomor lima, sedangkan Desi dan Naya memilih nomor dua, karena mereka terlahir sebagai anak kedua. Sedangkan Putri sendiri, dia memilih nomor satu, karena dirinya adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Pilihan mereka pun di kunci oleh pelayan gerai es krim, kemudian detik selanjutnya kotak-kotak itu di buka, sehingga membuat Arash, Putri, Desi, dan juga Naya dapat melihat rasa es krim apa yang harus mereka habiskan.


Putri membuka mulutnya, di saat melihat rasa es krim apa yang harus dia habiskan dalam waktu lima belas menit.


"Mengkudu?" gumam Putri tak percaya.


"Gilaa, rasa pedas cabai?" gumam Desi yang mana membuat dirinya dan juga Naya dapat merasakan bagaimana rasa pedas yang tercipta dari es tersebut.


"Bagaimana para peserta? Apa ada yang mau mundur?" tawar managr gerai es krim tersebut.


"Gimana, Put, Des?" tanya Naya yang mulai ragu untuk mendapatkan hadiahnya.


Jangankan sebulan, setahun pun makan es krim gratis Naya dan Putri sanggup untuk membayarnya, bahkan untuk membeli gerai es krim tersebut pun bukanlah hal yang sulit bagi mereka.


"Kami akan memberikan hadiah tambahan bagi siapa saja yang bisa menghabiskan es krim dalam waktu lima belas menit. Yaitu sebuah satu set cincin dan kalung yang sangat indah sekali," ujar pelayan tersebut.


"Dah lah, menang Arash aja," kesal Desi karena es krim pria itu berasa vanila. Tentu saja tidak ada tantangan seidkit pun untuk menghabiskan es krim tersebut bagi Arash.


"Eits, jangan salah, satu set perhiasan ini di tujukan untuk es krim yang memiliki rasa selain vanila," ujar manager gerai esk krim tersebut.


"Jadi gimana? tertarik untuk ikut lomba?"


Desi, Putri dan Naya pun berbisik, kemudian mereka setuju untuk ikut perlombaan tersebut.


"Pokoknya aku harus mendapatkan kalung itu," seru Putri dengan penuh semangat.


"Aku juga mau," ujar Desi tak mau kalah.


Arash yang melihat betapa menggebunya semangat ketiga wanita yang ada di sampingnya saat ini pun, membuat pria itu tersenyum di kala melihat ekspresi Putri yanga terlihat sangat bersemangat untuk memenangkan lomba tersebut.


"Dasar kalian ini, padahal kalian bisa membeli yang lebih mahal dari itu," ujar Arash yang mana membuat Putri, Desi, dan Naya menatapnya dengan tajam.


"Kamu gak tau sih gimana rasanya mendapatkan sesuatu dari hasil yang di menangkan," ujar Putri yang mana membuat Arash tersenyum. AKkhhirnya gadis itu mau berbicara dengannya.


Putri, Desi, dan Naya pun menelan ludahnya di saat melihat es krim yang sudah di sajikan di hadapan mereka. Memang ini inovasi baru karena pada hakikatnya es krim itu biasanya selalu terasa manis dan bikin sejuk di lidah dan tenggorokan.


Sementara Arash terlihat begitu santai, bahkan begitu yakin dirinya bisa menghabiskan es krimnya. Itu karena dirinya mendapatkan es krim rasa vanilla. Sedangkan untuk Putri sendiri, terlihat meringis ngilu bahkan menelan ludahnya beberapa kali kala melihat es krim apa yang dia dapat.


Es krim rasa mengkudu, iya Putri mendapatkan es krim mengkudu yang bisa dibayangkan bagaimana rasanya es krim tersebut. Namun, dirinya harus bisa menghabiskan es krim itu, jika ingin memenangkan perlombaan tersebut demi mendapatkan satu set kalung yang terlihat sangat cantik.


Saat manager gerai es krim mengatakan jika mereka akan memberikan hadia tambahan, pelanggan lain yang ingin ikut berpartisispasi pun mulai mendaftarkan dirinya. Sayangnya tidak ada satu pun di antara merkea yang berhasil mendapatkan rasa es krim yang sama seperti Arash.


Kini perlombaan pun dimulai. Para peserta lomba terlihat begitu antusias melakukan perlombaan itu. Berbagai macam raut wajah kini tampak di sana. Mulai dari yang santai seperti Arash hingga yang nampak kepedasan sebab kebagian es krim pedas.


Arash yang tak sengaja melihat kesungguhan Putri untuk menghabiskan es krim rasa mengkudu pun merasa iba. Dan, berniat menggantikan es krimnya dengan es krim punya Putri. Mungkin dengan cara ini dia bisa menaklukkan hati Putri agar bisa menerima perasaannya.


Sebenarnya Arash sendiri bingung dengan sikap putri yang menghindarinya terus menerus. Padahal jelas kalau Arash ingin memperjuangkan perasaannya pada Putri.


Atau jangan-jangan putri memang sudah tak memiliki perasaan apa-apa lagi padanya?


Melihat Putri yang sudah mau muntah berkali-kali pun, membuat Arash tak tega, pria itu pun menghampiri Putri dan duduk di hadapan gadis itu.


"Sini biar aku saja yang habiskan, kamu makan es krim punyaku saja," titah Arash yang sudah menukar es krim diri nya dengan milik Putri.


"Kamu!"


"Sudah lebih baik kamu habiskan saja punyaku. Tenang saja ini belum aku cicipi kok," ujar Arash yang lagi-lagi membuat Putri terkejut ketika es krim rasa mengkudunya sudah beralih ke tangan Arash.


Di sisi lain Arash merasa senang ketika melihat Putri sudah memakan es krim pemberiannya. Dia pun menikmati es krim mengkudu dengan cuek tanpa merasakan bagaimana pahitnya es krim tersebut. Mungkin karena saat ini pikirannya tertuju pada Putri sampai dirinya tak bisa membedakan mana manis dan maupun pahit lagi. Bahkan, saat ini Arash merasa yakin jika setelah acara lomba ini, Putri akan membuka hati untuknya.


Begitulah harapannya terbesarnya saat ini.


Desi, Naya, dan Luna terlihat terbengong tapi tak lama meringis sambil beberapa kali menelan ludahnya masing-masing, kala melihat Arash yang dengan santainya menikmati es krim rasa mengkudu milik Putri. Tapi di sisi lain ketiganya tersenyum senang ketika melihat Arash yang rela mengganti es krimnya dengan es krim milik Putri. Dari situ mereka bisa melihat keseriusan Arash yang ingin mendapatkan cinta Putri.


Putri merasa takjub melihat begitu menikmati es krim rasa mengkudu tersebut, seolah es krim mengkudu berubah rasa semanis madu.

__ADS_1


Akankah hal ini bisa membuat hati Putri luluh?


__ADS_2