
Abash sudah di interogasi dengan Papa Arka perihal kejadian yang menimpa dirinya dan juga Putri. Abash sudah menjelaskan semuanya, dia meminta agar Papa Arka tidak turun tangan selagi dia dan Putri mencari bukti untuk menjatuhkan Yosi.
“Bash, Papa sudah cukup memberi kamu waktu. Tapi kenyataannya apa? Apa kamu ingin ada korban lagi?” kesal Papa Arka.
“Tidak, Pa. Abash tidak bermaksud begitu. Hanya saja—-,”
“Cukup, Bash. Papa tidak ingin kehilangan anak-anak Papa,” lirih Papa Arka. “Melihat kamu terluka seperti ini saja, sudah membuat hati Papa sedih.”
“Pa, Abash janji, Abash akan mengungkap semua kejahatan Yosi secepatnya. Kasih Abash waktu sedikit lagi, Pa,” mohon Abash.
Papa Arka pun menghela napasnya pelan. Berat memang, tetapi Papa Arka tetap harus memberikan kesempatan kepada Abash kan?
“Baiklah, ini untuk yang terakhir kalinya. Jika dalam sebulan ini kamu belum bisa memecahkan masalah ini, maka Papa yang akan turun tangan.”
“Iya, Pa.”
Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok wanita cantik yang sedang tersenyum kepada Abash dan juga Papa Arka.
“Kenapa serius gitu wajahnya? Apa ada masalah serius terjadi?” tanya Mama Kesya yang baru saja masuk dengan membawa makanan kesukaan Abash.
Ah, kekasih Sifa itu kalau sedang sakit ternyata sungguh sangat menggemaskan dan manja sekali.
“Mama sudah bawain aku bubur jagungnya?” tanya Abash saat melihat sang mama sudah masuk ke dalam ruangannya.
“Tentu saja, ini buatan Mami Vina, loh!” ujar Mama Kesya sambil meletakkan tempat wadah di atas meja makan.
“Papa dan Abash tadi lagi ngomongin apa?” tanya Mama Kesya merasa penasaran.
Abash melirik ke arah sang papa, kemudian memberikan kode untuk tak mengatakan apa pun kepada sang mama. Tanpa Abash minta pun, Papa Arka tidak akan memberitahu kepada Mama kesya, apa lagi saat ini keadaan Mama Kesya masih terlihat lemah.
“Pa?” tegur Mama Kesya dengan mencipitkan matanya.
“Abash merencanakan untuk mengundur lamarannya kepada Sifa,” ujar Papa Arka yang mana membuat Abash terkejut dan mengernyitkan keningnya.
Pria itu pun langsung menoleh ke arah sang mama yang terlihat sedikit terkejut dan juga merasa kecewa.
“Yang bener, Bash?” tanya Mama Kesya.
Abash menghela napasnya pelan. “Iya, Ma. Setidaknya sampai keadaan Abash benar-benar pulih. Untuk itu, Mama jangan bicara apa-apa dulu ya ke Sifa?” pinta Abash.
“Hmm, kamu ini. Padahal gak masalah lagi kalau kamu mau lamar dia sekarang dalam keadaan seperti ini,” ujar Mama Kesya sambil mencebikkan bibirnya.
“Namanya juga anak Mama ini ingin terlihat sempurna di depan Sifa. Jadi, wajar saja, Ma, kalau Abash masih membutuhkan waktu untuk melamar Sifa,” ujar Papa Arka yang langsung di angguki oleh Abash.
“Hah, kalian ini para pria benar–benar aneh, ya. Perempuan itu gak butuh waktu dan juga penampilan yang sempurna untuk di lamarr, tau. Perempuan itu hanya memerlukan kepastian yang tepat,” ujar Mama Kesya dengan menatap serius kepada sang anak.
“Iya, Ma.”
“Jangan iya-iya aja, tapi kamu harus—.”
“Ma?” tegur Papa Arka agar tidak memarahi sang anak saat keadaannya seperti ini.
Mama Kesya pun menghela napasnya pelan dan memilih untuk diam. Wania paruh baya itu pun menuangkan bubur jagung ke dalam mangkok dan memberikannya kepada Abash.
“Nih, di habisin, ya,” ujar Mama Kesya sambil mengusap kepala sang anak dengan sayang dan mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.
“Terima kasih, Ma.” Abash pun mulai menikmati bubur jagung yang di berikan oleh Mama Kesya.
“Untuk Papa mana, Ma?” tanya Papa Arka dengan manja.
“Iih, ambil sendiri dong,” jawab Mama Kesya dengan ketus.
__ADS_1
Papa Arka tahu, jika saat ini sang istri tengah merajuk kepadanya. Pria paruh baya itu pun bangkit dari duduknya dan menghampir Mama Kesya yang sedang menuangkan jagung ke dalam mangkok.
“Jangan ngambek dong, Ma,” bisik Papa Arka yang sudah memeluk Mama Kesya dari belakang.
“Ih, apaan sihi? Dasar mesum,” cibir Mama Kesya yang masih kesal dengan sang suami. “Gak malu apa di lihatin Abash?”
“Abash udah dewasa, jadi kalau ngiri suruh aja dia nikah cepat sama Sifa,” kekeh Papa Arka.
“Tadi katanya suruh Mama bersabar dan tidak mengatakan apa pun kepada Sifa?” sindir Mama Kesya.
“Papa gak bilang gitu, yang bilang begitu kan Abash, bukan Papa,” bisik Papa Arka lagi.
“Jangan ngambek lagi ya, sayang,” bujuk Papa Arka.
Mama Kesya pun menghela napasnya pelan dan menganggukkan kepalanya.
“Hmm, ya,” jawabnya dengan terpaksa.
“Bubur untuk Papa mana?” tanya Papa Arka dengan manja.
“Nih,” ujar Mama Kesya sambil memberikan semangkuk bubur jagung yang baru saja di tuangnya.
“Makasih sayang.” Sebuah kecupan pun mendarat di pipi Mama Kesya.
“Dasar bayi tua,” cibir Mama Kesya dengan tersenyum malu.
Abash yang sudah terbiasa melihat pemandangan yang romantis itu pun, memilih menghidupkan ponselnya dan melihat berita apa hari ini yang tersiar di televisi.
Abash menarik sudut bibirnya, di saat kecelakaan tentang dirinya tak tersebar luas. Bisa di katakan jika ini pasti campur tangan sang papa yang tak ingin para rival Abash mencari kesempatan untuk menjatuhkannya.
“Pa, suapin Mama,” ujar Mama Kesya dengan manja.
“Baiklah istriku, sini duduk.” Papa Arka pun menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
“Emm, masakan Mbak Vina selalu terasa nikmat,” puji Mama Kesya.
“Iya, tapi walau bagaimana mana pun, Masakan Mama masih yang paling nomor satu di dalam hati Papa,” ujar Papa Arka.
“Setuju,” sambar Abash yang mendengar percakapan orang tuanya.
“Bukan berarti masakan Mami gak enak, atau pun masakan bunda gak enak. Tapi, yang namanya masakan Mama itu punya tempat tersendiri di hati anak-anaknya,” sambung Abash.
“Gak cuma anak, tetapi suaminya juga, loh,” tambah Papa Arka.
“Iya .. iya …”
“Duh, ini kalian muji gini gak lagi mau bujuk Mami untuk minta di beliikan sesuatu, kan?” tanya Mama Kesya dengan terkekeh pelan.
“Abash sih, enggak, Ma,” jawab Abash.
“Kalau Papa mau minta adik buat Shaka, boleh?” tanya Papa Arka dengan menunjukkan senyuman mautnya.
“Dasar mesum,” cibir Mama Kesya yang mana membuat Papa Arka tertawa terbahak-bahak.
“Bash, kamu masih mau punya adik lagi, gak?” tanya Papa Arka yang sedang mencari sekutu.
“Ntar kisah Raja Arkana Putra Moza mmalah terulang kembali, lagi?” kekeh Abash.
“Terulang kembali gimana maksudnya?” tanya Mama Kesya dengan bingung.
“Mbak Quin dan Mas Veer punya anak, dan anaknya sebaya dengan adik mereka,” ujar Abash dengan terkekeh pelan.
__ADS_1
“Iya juga, ya?” pecahlah tawa Papa Arka dan Mama Kesya.
“Om mesum,” bisik Mama Kesya kepada sang suami.
Pintu ruangan Abash pun kembali terbuka, menampilkan Mami Vina yang masuk bersama Naya.
“Assalamualaikum?” ujar Mami Vina dan Naya yang baru saja masuk ke dalam ruang inap Abash.
“Walaikumsalam,” jawab Mama Kesya, Papa Arka, dan Abash hampir bersasmaan.
“Waah, lagi nikmati bubur nih, ya,” goda Mami Vina.
“Iya, Mi.”
“Gimana? Enak?” tanya Mami Vina dengan mata yang berbinar.
“Masakan Mami Vina mah gak ada lawan,” uji Abash sambil melirik sang mama.
“Oh ya? Yang bener?” tanya Mami Vina penuh selidik.
“Bener, Mi. Ntar kalau Abash bilang gak enak, besok gak di buatin bubur jagungnya,” kekeh Abash.
“Dasar kamu ini.”
Naya pun langsung mengambil bubur jagung dan ikut menikmatinya.
“Gimana, Nay? Enak?” tanya Mami Vina.
“Masakan Mami kan selalu nomor satu di hati Naya,” ujar Naya sambil memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya.
Mama Kesya dan Mami Vina pun saling melirik dengan tersenyum. Mereka paham betul dengan anak-anaknya.
Setidaknya, kebersamaan dan kehangatan yang di berikan oleh Mama Kesya, Papa Arka, Mami Vina, dan Naya pun, membuat hati Abash siang ini menghangat, walaupun sedari tadi pria itu menunggu pesan masuk yang biasa di kirimkan oleh Sifa.
*
Sifa menatap ponselnya, gadis itu merasa enggan dan lelah untuk mengirimkan pesan kepada sang kekasih. Beberapa hari ini, dia selalu mengirimkan pesan untuk Abash, tetapi kekasihnya itu sekali pun tidak membalas pesannya. Bahkan, saat kondisi pria itu sedang tidak baik-baik saja, sang kekasih masih tidak mengirimkannya pesan untuk menyuruhnya datang ke rumah sakit.
“Sebenarnya mau kamu apa sih, Mas? Kamu anggap aku ini apa?” lirih Sifa sambil menatap layar ponselnya.
“Apa sebegitu sulit, untuk mengirimkan satu pesan aja ke aku?” Sifa pun menghela napasnya sediit kasar.
“Jika kamu memang tak ingin aku mengganggu kamu untuk saat ini, maka aku tidak akan mengganggu kamu, Mas. Sampai kamu yang menghubungi aku duluan.”
Didi yang melihat Sifa sedang menunggu jemputannya, menghampiri gadis itu.
“Sifa,” tegur Didi yang mana membuat Sifa menoleh ke arah sumber suara.
“Pak?” sapa Sifa dengan tersenyum kecil.
“Gak pulang sama Amel?” tanya Didi.
“Enggak, Pak. Amel lagi lembur,” jawab Sifa.
Tak berapa lama, jemputan Sifa pun tiba.
“Kalau begitu saya duluan ya, Pak?” pamit Sifa.
“Kamu gak ke rumah sakit, Sifa?” tanya Didi yang di jawab gelengan dengan Sifa.
“Permisi, Pak,” pamit Sifa lagi saat motor yang dia naikin sudah ingin mulai melaju meninggalkan kantor.
__ADS_1
Didi hanya bisa menghela napasnya pelan. Pria itu merasa iba dengan gadis yang baru saja pergi dari hadapannya.
“Kasihan kamu, Sifa,” lirih Didi menatap jauh pada siluet gadis itu.