Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 297 -


__ADS_3

Arash baru saja menutup matanya, setelah berusaha keras memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan maaf dari Putri. Akan tetapi, pria itu harus kembali membuka matanya, di saat mendengar suara erangan dari sang kembaran.


"Bash? Lo kenapa?" tanya Arash sambil menoleh ke arah Abash.


Terlihat wajah Abash yang sudah bercucuran keringat dingin, bahkan wajah pria itu pun sudah terlihat memucat.


"Bash ..." panggil Arash sambil menggoyangkan tubuh sang kembaran.


Merasa ada yang tidak beres dengan tubuh Abash, Arash pun menghubungi Lucas yang kebetulan akhir-akhir ini tinggal bersama Kakek Farel.


"Kak, tolong periksa Abash, sekarang," titah Arash saat panggilan telepon telah terhubung.


Mama Kesya yang memang sudah menjadi kebiasaan wanita paruh baya itu untuk membangunkan setiap anaknya yang masih belum muncul di musholah pun, terkejut di saat melihat kedatangan Lucas.


"Lucas? Ada apa? Kenapa kamu ke sini?" tanya Mama Kesya, mata indah wanita paruh baya itu pun melirik ke arah tas yang berisi peralatan dokter milik Lucas.


"Ada apa? Apa yang terjadi dengan Abash?" tanya Mama Lucas dengan panik.


"Lucas juga gak tau, Ma. Sebaiknya kita periksa dulu keadaan Abash."


Lucas pun menekan handle pintu kamar Abash. Pria itu pun masuk ke dalam kamar dengan di ikuti oleh Mama Kesya.


"Arash? Kamu di sini? Apa yang terjadi dengan Abash?" tanya Mama Kesya dengan perasaan khawatir yang luar biasa.


"Arash juga gak tau, Ma. Tiba-tiba saja Abash mengerang saat tidur," jawab Arash memberitahu.


Lucas pun memeriksa keadaan Abash, sehingga timbul rasa curiga mengenai tulang kakinya yang retak. Lucas membuka perban penutup kaki Abash, terlihat jika kulit kaki Abash memerah dan membengkak.


"Siapkan mobil, kita harus melakukan Rontgen," titah Lucas yang langsung di turuti oleh Arash.


*


Sifa terbangun dari tidurnya, gadis itu pun terkejut di saat mendapati dirinya berada di atas kasur.


"Kenapa aku bisa di sini? Perasaan semalam?"


Sifa mengingat kejadian malam tadi, di mana dia menyandarkan kepala di dada bidang Abash sambil mendengarkan cerita tentang masa kecil pria itu. Tanpa sadar, Sifa pun tertidur dengan lelap di dalam pelukan sang kekasih, sehingga membuat dirinya tidak menyadari jika Abash memindahkannya ke dalam kamar.


"Pasti Mas Abash yang gendong aku ke kamar," seru Sifa sambil tersenyum malu.

__ADS_1


Gadis itu pun bangkit dari tidurnya, kemudian dia melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


"Mas Abash memang pria yang dingin, tapi bisa bersikap sangat romantis," lirih Sifa masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


"Kalau Mas Abash bersikap seperti ini terus, bisa-bisa aku akan selalu bergantungan dengannya."


Sifa pun menghidupkan air shower, kemudian gadis itu membasahi seluruh tubuhnya dengan mata yang tertutup sambil membayangkan wajah Abash yang terus saja tersenyum karena dirinya.


"Mas Abash gendong aku ke dalam kamar?" kejutnya sambil membuka mata.


"Kaki Mas Abash kan sakit? Bagaimana bisa dia menggendongku?"


Sifa akhirnya tersadar akan kondisi Abash saat ini. Gadis itu pun mempersingkat mandinya dan bergegas untuk bersiap menemui sang kekasih.


*


Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat empat puluh delapan menit. Sifa telah tiba di kediaman Papa Arka untuk melihat keadaan sang kekasih, karena sedari tadi Abash tidak mengangkat panggilannya.


"Tuan Muda Abash sudah di bawa ke rumah sakit," ujar pengawal yang berjaga di pintu gerbang.


"Apa?"


Sifa pun kembali menaiki ojek yang mengantarnya tadi, untungnya ojek itu belum pergi karena harus membalas pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


Sesampainya di rumah sakit, Sifa berlari menuju ruangan khusus keluarga Moza. Saat sedang berlari di koridor, Sifa bertemu dengan Lucas.


"Kak Lucas, bagaimana keadaan Abash?" tanya Sifa dengan napas yang ngos-ngosan.


"Abash sudah baik-baik saja. Hanya saja, tulang kakinya kembali retak."


Sifa merasa bersalah, andai saja dia tidak tertidur, mungkin kaki Abash tidak akan kembali terluka.


"Pergilah, dia pasti senang jika melihat kamu datang," titah Kak Lucas.


Sifa langsung berlari kencang menuju ruangan Abash. Gadis itu tidak peduli jika saat ini matanya sudah banjir dengan air mata.


"Hiks, Mas Abash," lirih Sifa saat sudah berada di depan pintu ruangan inap Abash.


"Sifa?" tegur Mama Kesya yang terkejut melihat keberadaan calon menantunya itu.

__ADS_1


*


"Udah dong, jangan nangis lagi," bujuk Abash.


"Mas juga, hiks .. ngapain pakai gendong aku ke dalam kamar segala?" rajuk Sifa.


"Aku juga gak mungkin tega tinggalin kamu tidur di sofa, sayang."


"Ck, itu namanya cari penyakit tau," kesal Sifa yang hanya di jawab kekehan tawa oleh Abash.


"Ah ya, hari ini pengumuman kelulusan bergabung di tim cobra, kan?" tanya Abash. "Sebaiknya kamu segera ke kantor," titah Abash.


"Tapi, bagaimana dengan Mas?" tanya Sifa balik. "Aku gak peduli dengan pengumuman itu, yang terpenting saat ini adalah kesehatan, Mas."


"Sayang, kalau kamu tidak datang di hari kelulusan. Maka kamu akan di anggap tidak profesional. Semua usaha kamu akan sia-sia, sayang," tegur Abash.


"Aku mau, kamu hadir dalam acara pengumuman itu."


"Tapi, Mas?"


"Sifa, aku baik-baik saja. Sebaiknya kamu ke kantor, ya. Tunjukkan kepada semua orang yang telah meremehkan kamu, kalau kamu mampu meraih ke tahap yang lebih tinggi."


"Mas berkata seperti itu, seakan-akan aku lulus seleksi aja," cicit Sifa sambil sesenggukan pelan.


"Aku sangat yakin, kalau kamu pasti lulus ke tim cobra."


*


Sifa tidak menyangka, jika dirinya berhasil lulus dan bergabung ke tim cobra. Apa yang di katakan oleh Abash tadi pagi ternyata. Atau, semua ini ada campur tangan sang kekasih?


"Selamat ya, Sifa. Kamu berhasil bergabung ke tim cobra," ujar Bimo memberikan selamat dan di susul oleh rekan kerjanya yang lain.


"Iya, Sifa. selamat ya."


"Terima kasih banyak."


Sifa menghela napasnya pelan. Dia tidak tahu apa yang di rasakan saat ini. Seharusnya dia senang kan karena telah berhasil bergabung ke tim cobra? Seperti apa yang dia inginkan.


Tapi, kenapa dia merasa sedih?

__ADS_1


Hmm, membayangkan akan berpisah dengan Abash dalam waktu yang lama, membuat Sifa rasanya ingin mundur dari apa yang telah dia capai saat ini. Tapi, jika dia mundur, maka semua yang sudah dia raih akan menjadi sia-sia saja kan?


"Hah, apa yang harus aku lakukan?"


__ADS_2