Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 177 - Hewan Alpaka


__ADS_3

Abash dan Putri langsung menuju rumah sakit, di mana Zia di rawat. Gadis itu langsung bergegas menuju ruang inap sang adik setibanya di rumah sakit.


"Assalamuallaikum, Ma, Pa," sapa Putri saat sudah memasuki ruang inap Zia.


"Walaikumsalam, loh, Putri?" kejut Papa Satria saat melihat sang anak berada di rumah sakit.


Putri pun masuk ke dalam kamar dan langsung mencium punggung tangan Papa Satria dan Mama Nayna.


"Apa yang terjadi dengan Zia?" tanya Putri saat melihat kepala sang adik di perban.


"Kamu sama siapa ke sini? Sudah makan malam?" tanya Mama Nayna.


"Sama---,"


Putri pun menoleh ke arah pintu kamar, di mana di sana sudah berdiri Abash yang sedari tadi keberadaannya tidak di sadari oleh Mama Nayna dan Papa Satria.


"Ini?" tanya Mama Nayna.


Abash pun mendekat dan mencium punggung tangan Mama Nayna.


"Saya Abash, Tante," ujar Abash memberi tahu.


"Abash? Yang polisi atau yang kerja kantoran?" tanya Mama Nayna dengan wajah polosnya.


Abash tersenyum kecil mendengar pertanyaan Mama Nayna. Pertanyaan yang sangat umum namun sedikit berbeda dari orang lain.


"Saya yang kerja kantoran, Tante," jawab Abash.


"Ohh, iya .. Iya .. Duh, habisnya kalian mirip banget, makanya Tante sulit membedakannya," ujar Mama Nayna dengan tersenyum lembut.


"Kalian sudah makan malam?" tanya Mama Nayna lagi kepada Abash.


"Sudah, Tante, saat di jalan menuju ke sini tadi," jawab Abash.


Ya, mereka memang sudah makan malam tadi saat di jalan menuju rumah sakit. Awalnya Putri menolak dan ingin langsung menuju rumah sakit, karena khawatir dengan keadaan sang adik. Akan tetapi, Abash mengatakan lebih baik mereka menjaga kesehatan agar tidak membuat yang lainnya khawatir.


Putri pun menurut dengan apa yang Abash katakan, hingga mereka pun akhirnya memutuskan untuk mengisi perut mereka dulu.


"Zia kenapa, Ma? Pa?" tanya Putri kepada orang tuanya.


"Hmm, tadi ada mobil yang remnya blong, sehingga menabrak mobil yang di tumpangi Zia," jelas Papa Satria.


"Tulang kakinya retak, kepalanya terbentur kaca jendela," sambung Papa Satria.


"Astaghfirullah," lirih Putri sambil menutup mulutnya.


Putri pun mengusap lengan sang adik yang sedang tertidur lelap di atas brankar.

__ADS_1


"Terus, yang nabrak gimana? Sudah di tangkap?" tanya Putri.


"Sudah, yang nabrak katanya sedang di pengaruhi minuman keras, di tambah rem mobilnya blong, sehingga membuat supir sulit untuk mengendalikan laju mobilnya.


Putri mengepalkan tangannya, gadis itu merasa geram dengan si pelaku.


"Papa sudah menyuruh Om Martin untuk mengurus semuanya. Kamu tenang aja ya," ujar Papa Satria menenangkan perasaan sang anak.


"Hm, iya, Pa."


"Kalian pasti capek, pulang saja ke rumah, beristirahat. Mama akan suruh Bik Sri untuk menyiapkan kamar tamu untuk Abash," ujar Mama Nayna.


"Jangan, Tante. Gak papa. Saya menginap di hotel saja," tolak Abash.


"Tidak ... tidak ... Kamu tidak boleh menginap di hotel. Tante tidak terima penolakan, ya," ujar Mama Nayna yang mana membuat Abash akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Tapi, Ma, Putri mau menginap di sini," lirih Putri.


"Besok kembali lagi ke sini, sayang. Lagi pula, ada Mama dan Papa yang menginap di sini. Kamu tenang aja, ya," ujar Mama Nayna dan kembali menyuruh sang anak untuk pulang.


Setelah puas melihat keadaan sang adik, Putri dan Abash pun pamit pulang ke rumah gadis itu.


"Maaf ya, sudah merepotkan Pak Abash sebanyak ini," sesal Putri.


"Gak masalah," jawab Abash yang mana pria itu sudah merasa tenang karena baru saja menghubungi sang kekasih.


"Belok kanan, nanti kita masuk ke dalam gerbang perumahan yang ada di sana," ujar Putri memberi tahu.


Abash pun mengikuti arahan gadis yang duduk di sebelahnya, sehingga tak berapa lama mereka pun tiba di depan rumah yang gerbangnya menjulang tinggi.


Putri membuka jendela mobil, sehingga satpam dapat mengenali gadis itu.


"Non Putri?"


"Iya, Pak. Tolong bukain pintunya ya," pinta Putri dengan sopan.


Pintu gerbang yang menjulang tinggi itu pun akhirnya terbuka, sehingga mobil yang di kendarai oleh Abash masuk ke dalam perkarangan rumah yang terlihat besar itu.


"Rumah yang indah," puji Abash yang mana membuat Putri menarik sudut bibirnya.


"Terima kasih."


Sesampainya di rumah, kedatangan Putri pun langsung di sambut oleh Oma Lia dan Opa Dimas.


"Sayang," ujar Oma Lia dan memeluk cucu pertamanya itu.


"Oma," lirih Putri di dalam pelukan sang oma.

__ADS_1


"Nak Abash?" tegur Papa Dimas yang mana membuat pria itu mengerutkan keningnya.


"Iya, Pak," jawab Abash dengan bingung harus memanggil apa. Pria itu juga bingung, dari mana pria yang sudah memiliki cucu itu tahu jika dirinya bernama Abash.


"Ayo masuk, tadi Mamanya Putri sudah memberi tahu kalau Putri pulang dengan Nak Abash," jelas Opa Dimas yang mana membuat Abash menganggukkan kepalanya.


"Oh, iya, Pak," jawab Abash yang mana akhirnya rasa penasaran pria itu terjawabkan.


"Jangan panggil Pak, tapi panggil Opa aja, ya," titah Opa Dimas yang di angguki oleh Abash.


"Ayo kita masuk," ajak Oma Lia yang di angguki oleh Putri.


"Caca mana, Oma?" tanya Putri.


"Kamu ini, baru juga sampai malah tanyain caca," kekeh Oma Lia sambil menggelengkan kepalanya.


Abash menaikkan satu alisnya, setau dia Putri hanya memiliki dua adik, Bara dan Zia. Lalu, siapa caca?


Terdengar suara krincing yang mana membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Caca, mama pulang sayang," ujar Putri sambil membuka tangannya lebar-lebar.


Hewan berbulu putih, dengan leher yang sedikit panjang, dan wajah yang lucu pun menghampiri Putri dan mengendus-endus wajah gadis itu.


"Mama kangen, caca," ujar Putri sambil mengusap-usap hewan menggemaskan itu.


Abash yang melilhat hewan peliharaan Putri pun hanya tercengang, ternyata gadis yang ada di hadapannya ini tidak beda jauh dari sang kakak.


"Ini Alpaka, kan?" tanya Abash dengan takjub.


Pasalnya Quin sempat ingin memelihara hewan tersebut, akan tetapi sang papa tidak memberikan izin karena wanita itu sudah memelihara empus di rumah.


Untuk itu, Quin harus menelan ludahnya untuk tidak memelihara hewan menggemaskan itu.


"Iya, ini alpaka," jawab Putri. "Lucu kan? sama kayak empus," kekehnya.


"Beda dong, Put, Empus itu hewan buas, kalau ini menggemaskan," jawab Abash yang sudah ikut membelai hewan lucu itu.


Jangan di tanya lagi berapa harga hewan alpaka, karena harganya cukup menguras kantong dan tidak sembarangan orang yang bisa memelihara hewan tersebut.


"Aku izin buat selfi, ya," pinta Abash yang di angguki oleh Putri.


Abash pun berselfi ria dan mengirim foto tersebut kepada sang kakak, hingga tak butuh waktu lama ponsel pria itu berdering, menandakan ada panggilan yang masuk.


Abash terkekeh pelan saat melihat sang kakak langsung membuat panggilan video call. Bergegas pria itu menggeser tombol hijau untuk menyambungkan panggilan tersebut.


"Mbak, cantikkan?" ujar Abash yang mana membuat Quin berteriak histeris saat melihat hewan menggemaskan tersebut.

__ADS_1


"Abaaash, bawa pulang yaaa ...," pekiknya yang mana membuat Abash dan Putri tertawa.


__ADS_2