
Permainan dansa hampir berakhir. Arash sudah bersiap untuk tidak menerima uluran tangan Elsa. Setelah pria itu memutar tubuh Raysa dari tangannya dan berpindah ke Bang Fatih, Arash pun mengangkat kedua tangan dan memundurkan langkahnya.
"Maaf, Kakak berhenti di sini. Karena Kakak hanya ingin berakhir dengan pasangan Kakak," ujar Arash sambil menunjuk ke arah Putri yang sedang melambai ke arahnya.
"Iihh, Kak Arash nyebelin," cibir Elsa dengan bibir yang di manyunkan.
Arash pun berjalan melalu Elsa menuju ke arah sang istri. Karena terlalu fokus melihat ke arah Putri, pria itu pun tidak menyadari jika ada seseorang yang menabraknya hingga terjatuh.
Di sisi lain.
Zia sudah tersenyum dan melirik ke arah Ibra, satu putaran lagi dia akan berakhir berdansa dengan pria itu. Gadis itu pun meyakinkan kepada dirinya, jika dia akan mencoba menerima Ibra untuk masuk ke dalam hatinya.
Ya, Zia sangat mengingat apa yang dikatakan oleh Mbak Putri, di mana kata-kata itu di sampaikan oleh wanita yang telah melahirkan mbak-nya itu ke dunia. Kata-kata itu adalah 'lebih baik menerima orang yang mencintai kita dengan tulus, dari pada harus mengejar dan berharap orang yang tidak mencintai kita. Perihal cinta, perasaan itu perlahan akan tumbuh dengan sendirinya, karena ketulusan hati seseorang.'
Ya, Zia pasti bisa melupakan David dan menggantikan posisi pria itu di dalam hatinya dengan Ibra. Tidak perlu terburu-buru, lagi pula umur Zia masih terbilang sangatlah muda.
"Apa kamu sedang dekat dengan adiknya Mbak Raysa?" tanya Bara yang saat ini sedang berdansa dengan Zia.
"Apa boleh?" tanya Zia kepada sang abang.
Jika Bara mengizinkannya, maka Zia akan melangkahkan kakinya tanpa ragu.
"Tentu, dia pria yang baik. Mas yakin, jika Ibra pasti akan membuat kamu bahagia," bisik Bara. "Dan Mas akan menyiapkan pernikahan yang sangat indah untuk kamu."
__ADS_1
Zia terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak akan menikah," ujar Zia yang mana membuat Bara mengernyitkan keningnya. "Aku akan menikah setelah Mas menikah. Jadi, cepatlah menikah," sambung Zia sambil mengedipkan matanya sebelah kepada sang abang, kemudian melirik ke arah gadis cantik yang sedang tersenyum malu ke arah mereka saat ini.
"Jika waktunya sudah tiba, maka Mas akan menikah."
"Kapan Mas akan mengenalkannya denganku?"
"Secepatnya. Untuk saat ini, Mas masih pedekate. Doain Mas ya, agar bisa menaklukkan hati calon kakak ipar kamu."
"Mas pasti bisa. Semangat, Mas."
"Sekarang, pergilah ke calon suami kamu," ujar Bara sambil memutar tubuh Zia agar berpindah ke tangan Ibra.
"Haahhhh?" Zia terkejut dan memekik pelan, di saat seseorang menarik lengannya dengan erat agar menjauh dari Ibra, kemudian tubuh gadis itu di dorong dengan kuat sehingga membuat Zia kehilangan keseimbangannya.
Cup ...
Zia membulatkan matanya, di saat menyadari siapa orang yang dia tubruk tubuhnya. Bahkan saat ini tubuh Zia telah berada di atas tubuh pria itu dengan bibir mereka yang saling menempel. Kejadian itu pun membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arah Arash dan Zia.
Ya, pria yang Zia tabrak tubuhnya adalah Arash.
"Zia ..." lirih Ibra, jantung pria itu pun berdegup dengan kencang.
__ADS_1
Di sisi lain, Putri juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Ibra rasakan. Ya, Putri merasa jantungnya saat ini berdetak dengan cepat sehingga ingin keluar dari tempatnya.
Zia langsung berdiri dari atas tubuh Arash, gadis itu melihat kesekelilingnya yang saat ini sedang menatap ke arahnya.
Bara menghela napasnya dengan kasar, pria itu melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang adik. Namun, saat melihat Ibra sudah berjalan mendekati Zia, pria itu pun menghentikan langkahnya.
"Ibra," panggil gadis yang mendorong tubuh Zia tadi hingga sampai menubruk tubuh Arash.
Ibra menepis tangan gadis itu dan terus berlalu berjalan mendekati Zia.
"Kamu gak papa?" tanya Ibra.
Zia mengangukkan kepalanya pelan. Ibra tahu, jika Zia ingin menangis dan meluapkan kekesalannya saat ini. Ibra membuka jasnya, kemudian menyelimuti tubuh Zia dengan jas yang dia sandarkan ke bahu gadis itu.
"Ayo," ajak Ibra.
Zia dan Ibra pun berlalu meninggalkan lantai dansa itu.
Arash mendudukkan tubuhnya, mengusap bibirnya yang lembab dengan kasar dan menatap ke arah Zia penuh dengan kebencian.
"Arash, kamu gak papa?" tanya Veer yang memang berada di dekat Arash.
"Ya, Mas, aku gak papa."
__ADS_1
Arash menoleh ke arah Putri, dapat dia lihat jika sang istri menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Aku harap kamu gak salah paham, Put."