Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 430


__ADS_3

Sudah dua minggu berlalu, dari Abash yang membicarakan tentang pengunduran diri Sifa dari perusahaan Kak Farhan. Bahkan, Abash juga menawarkan karyawan terbaiknya untuk menggantikan Sifa, sebagai rasa bersalahnya karena Sifa tidak bisa bekerja sesuai dengan kontrak yang tertulis.


Kak Farhan Pun menimbang-nimbang dan menilai kinerja Bimo dalam beberapa minggu ini. Pria itu sebenarnya sudah mendapatkan calonnya sendiri, akan tetapi dia juga tidak ingin melewatkan tawaran Abash kepadanya. Kak Farhan harus memiliki perbandingan antara Bimo dan calon karyawan yang melamar di perusahaannya.


"Bagaimana, Kak?" tanya Abash di saat Kak Farhan sedang berkunjung ke perusahaannya.


Kak Farhan memperhatikan Bimo, sebagai pertimbangan apakah pria itu berhak untuk mengikuti tes ujian sebagai pengganti Sifa.


"Kinerja kerjanya cukup baik dan cekatan," sahut Kak Farhan. "Aku rasa gak ada salahnya kembali memasukkan dia ke daftar calon tim cobra," sambung Kak Farhan yang mana membuat Abash tersenyum kecil.


"Baiklah Kak, aku akan mengatakan kepada Bimo untuk mempersiapkan dirinya mengikuti tes ujian agar bisa bergabung dengan tim cobra," sahut Abash yang diangguki oleh Kak Farhan.


"Oh ya, aku dengar di dekat sini ada rumah makan yang enak? Bagaimana kalau siang ini kita makan bersama di sana?" ajak Kak Farhan yang langsung di setujui oleh Abash.


"Baiklah, Kak."


*


Kabar tentang Sifa yang ingin mengundurkan diri pun langsung tersebar di telinga Mama Kesya. Tentu saja awal kabar itu di sampaikan oleh Mbak Tissa kepada Raysa. Dan selanjutnya kabar tersebut langsung tersebar luas.


"Serius ini Sifa mau mengundurkan diri?" tanya Mama Kesya kepada Raysa.


"Iya, Ma. Kata Mbak Tissa sih begitu."


"Tapi kenapa, ya? Sebelumnya Sifa kan sangat ingin sekali mempertahankan karirnya? Dan juga, Mama tidak keberatan kok jika dia menunda kehamilan dulu. Lagi pula, Sifa masih muda dan pastinya karir yang baru saja naik adalah hal yang paling di idam-idamkan olehnya. Mama paham dengan apa yang dia rasakan," ujar Mama Kesya dengan kening mengkerut.


"Apa Sifa merasa jika Mama pilih kasih? Karena lebih dominan perhatian dengan Putri?" gumam Mama Kesya yang terdengar seperti sebuah pertanyaan.


"Bisa jadi sih, Ma. Tapi, menurut yang Ica perhatikan sih, Sifa gak kayak gitu, Ma. Tapi, setiap melihat wajah Rayan, Sifa terlihat sedih. Mungkin saja dia ingin memiliki bayi juga, Ma," ujar Raysa mengutarakan pendapatnya.


"Hmm, bisa jadi sih." Mama Kesya mengangguk-anggukan kepalanya, menyetujui apa yang dikatakan oleh sang keponakan.


"Atau, Mama tanya aja langsung dengan Sifa, ya. Kenapa dia ingin mengundurkan diri?" tanya Mama Kesya kepada ICa.


"Jangan, Ma. Lagi pula pengunduran diri Sifa masih sebulan lagi, kok. Kita tunggu saja sampai Sifa dan Abash sendiri yang mengatakannya," usul Raysa.

__ADS_1


"Tapi Mama penasaran banget, kenapa Sifa sampai memutuskan untuk mengakhiri karirnya? Padahal, Mama senang banget loh bisa punya menantu cerdas yang bergabung ke tim hebat dan spesial," puji Mama Kesya. "Karena gak semua orang bisa bergabung ke tim cobra."


"Iya sih, Ma. Ica juga bangga dengan Sifa. Perjuangannya itu benar-benar berat tapi menunjukkan hasil yang memuaskan. Sifa patut dijadikan contoh sebagai wanita yang kuat dan pantang menyerah."


"Kamu benar." Mama Kesya menghela napasnya dengan pelan. "Duh, Mama benar-benar merasa penasaran ini, kenapa Sifa sampai mau mengundurkan diri segala. Apa ada perkataan Mama yang menyinggung perasaan dia? Atau gimana ya?" lirih Mama Kesya dengan perasaan gundah.


"Bagaimana jika kita tanyakan kepada Mbak Tissa. Mungkin saja Mbak Tisa tahu jawabannya, Ma," usul Raysa yang langsung di setujui oleh Mama Kesya.


"Ya udah cepetan, kamu hubungi Tissa. Ajak ketemuan di mana gitu. Biar lebih enak ngobrolnya," titah Mama Kesya.


"Oke, Siap, Ma." Raysa pun langsung menghubungi Mbak Tissa dan mengajaknya bertemu. Untungnya Mbak Tissa sedang tidak banyak pekerjaan, sehingga membuat wanita itu langsung menyetujui permintaan Raysa dan Mama Kesya.


"Oke, Ma. Mbak Tissa setuju buat bertemu," ujar Raysa memberitahu.


"Ya udah kalau gitu, Mama siap-siap dulu, ya." Mama Kesya pun bangkit dari duduknya, kemudian bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaiannya. Tak lupa, Mama Kesya menghubungi sang suami yang sedang bekerja dan meminta izin kepada pria tampan yang sudah berumur itu, jika dirinya ingin keluar bersama Raysa.


Alasan Mama Kesya pamit dengan Papa Arka adalah sudah lama beliau tidak jalan-jalan dengan keponakannya. Mumpung Raysa sedang libur kerjaan.


"Ayo," ajak Mama Kesya kepada Raysa.


"Kalau di ingat-ingat, udah lama juga kita gak pergi bersama ya, Ma!" bisik Raysa yang diangguki oleh Mama Kesya.


"Iya. Siapa yang menyangka, jika kamu dengan cepat bisa sedewasa ini."


"Mama mau ke mana?" tanya Shaka  yang baru saja pulang dari sekolah.


"Oh, Mama mau jalan-jalan dengan Mbak Ica."


"Shaka ikut, boleh?" pinta Shaka.


"Eh? Tapii---"


"Shaka gak lama. Tunggu sebentar ya, jangan tinggalin Shaka," ujarnya dan berlari masuk ke dalam rumah.


"Tumben si kulkas sepuluh pintu minta ikut?" tanya Raysa yang mana membuat Mama Kesya mengendikkan bahunya.

__ADS_1


"Ya udah, kita tungguin Shaka dulu, ya. Tau sendiri kan kalau dia ngambek gimana?" ujar Mama Kesya yang mana membuat Raysa terkekeh pelan.


"Iya, Ma."


Di dalam kamar.


Putri yang sekilas mendengar pembicaraan Mama Kesya dan Raysa pun jadi memikirkan tentang Sifa. Benarkah wanita itu ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya? Tapi kenapa?


Putri pun mencoba berpikir keras, apakah dirinya tanpa sengaja menyinggung perasaan Sifa? Sehingga membuat wanita itu ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya? Atauu---


"Apa jangan-jangan perkataan Mama waktu itu membuat Sifa tertekan?" gumam Putri yang seketika merasa bersalah atas apa yang dikatakan oleh sang mama kepada Sifa.


"Semoga saja tidak. Kalau pun iya, aku benar-benar merasa bersalah. Tak seharusnya Sifa menyerah dengan mimpinya selama ini."


*


Mama Kesya, Shaka, dan Raysa pun berjalan ke dalam cafe, di mana tempat mereka sudah membuat janji dengan Mbak Tissa.


"Kirain Mama mau ke Mall," cibir Shaka yang tiba-tiba merasa menyesal karena sudah meminta ikut dengan sang mama.


"Loh, tadi kamu gak tanya Mama mau ke mana. Dan Mama juga gak sempat bilang mau ke mana sama kamu, karena kamu main kabur-kabur aja tadi," kekeh Mama Kesya.


"Ya mana Shaka tau, Ma. Biasanya kan Mama kalau jalan-jalan selalu ke Mall."


"Memangnya kenapa kalau Mama ke mall?" tanya Mama Kesya penasaran.


"Itu, Ma. Shaka mau minta beliin ****** ***** yang baru," bisik Shaka yang mana membuat Raysa tertawa terbahak-bahak.


"Astaghfirullah, Shaka … Masa mau beli ****** aja harus mesti dengan mama, sih? Kan kamu bisa beli sendiri, Shaka?" kekeh Raysa dengan terbahak-bahak.


"Berisik," cibir Shaka dengan wajah dinginnya.


"Duh, ngambek dia," goda Raysa sambil mencubit pipi Shaka.


"Mbaak …" tegur Shaka dengan tatapan matanya yang tajam.

__ADS_1


"Uuh, takut," ujar Raysa malah semakin senang meledek sang adik sepupu.


__ADS_2