
Hai... maaf ya atas double bab nya. Silahkan baca ulang.
"Iya, tapi saya mau minta tolong sama Mbak nih," ujar Mama Kesya.
"Tolong apa?" tanya Mama Kesya.
"Tolong bantu saya buat kasih pelajaran ke Arash."
*
Putri tak berani menatap mata Arash, sedari tadi pria itu terus melihat ke arahnya tanpa berkedip.
"Kamu mau yang mana?" tanya Arash dengan nada suara yang menggoda.
Di hadapan Putri saat ini sudah ada lima cincin yang sangat indah sekali. Cincin-cincin itu akan di jadikan sebagai cincin pertunangan mereka nanti.
"Put," tegur Arash.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Putri.
Arash mengernyitkan keningnya, menebak-nebak apa yang di maksud oleh perkataan Putri.
"Kamu tau maksud aku, kenapa kamu melakukan itu?" tanya Putri lagi sambil mencebikkan bibirnya kesal.
__ADS_1
Arash tersenyum. Ya, Putri benar dengan apa yang dia curigai, bahwa Arash sengaja mencium dirinya di depan Mama Kesya.
Saat Arash membawa Putri keluar dari hotel ke parkiran khusus pejabat tinggi, maka saat itu dia melihat mobil Mama Kesya yang mendekat ke arahnya. Saat itulah, Arash punya ide yang cemerlang dan terbilang cukup licik agar perjodohan mereka di percepat.
Ingat, Arash tak suka dengan waktu yang di undur-undur. Semakin cepat, maka akan semakin lebih baik.
"Huum, aku sengaja melakukannya," jujur Arash.
"Kamu?" Putri rasanya ingin sekali memukul pria yang ada di hadapannya saat ini, tetapi dia merasa tak tega jika harus melihat wajah tampan Arash terluka akibat pukulannya.
"Cara aku berhasilkan?" tanya Arash sambil menaik turunkan alisnya.
"Dasar licik," ketus Putri.
Arash hanya mengendikkan bahunya, seolah cuek dengan apa yang Putri katakan untuknya.
Seketika wajah Putri pun merona, gadis itu kembali memfokuskan pandangan matanya ke arah lima cincin yang ada di atas meja.
"Aku pilih yang ini." Putri mengambil satu cincin yang terlihat cantik dengan bentuk yang simple dan elegan. Arash tersenyum, karena apa yang Putri pilih sama dengan apa yang Arash pilih dalam hati.
"Pilihan yang indah," ujar Arash dan menyuruh pelayan untuk mencocokkan ukuran cincin tersebut dengan jari Putri dan dirinya.
*
__ADS_1
Bara mengernyitkan kening, di saat melihat Putri datang bersama dengan Arash.
"Loh, ada siapa ini?" tanya Mama Nayna pura-pura tidak tahu, siapa yang datang bersama dengan Putri saat ini.
"Saya Arash, Tante." Arash pun mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Mama Nayna dengan sopan.
"Oh, jadi kamu Arash. Yang polisi?" tanya Mama Nayna lagi.
"Iya Tante."
"Waah, wajah kamu sangat mirip ya dengan yang pengusaha itu. Siapa namanya? Ah, Abash. Yaa .. Abash. Dia anak yang baik," puji Mama Nayna sambil tersenyum.
Arash pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kikuk. Sesuka itukah Mama Nayna dengan Abash?
Ah, ya. Abash kan pernah mengantarkan Putri ke Bandung, jadi wajar saja jika Mama Nayna terlihat lebih tertarik dengan Abash. Tapi itu bukan masalah, karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Putri.
"Ayo masuk," titah Mama Nayna yang di turuti oleh Arash.
"Oh ya, Nay. Mama sudah menyiapkan gaun tunangan kamu dengan Soni di kamar," ujar Mama Nayna saat Putri sedang berjalan menuju kamarnya.
Gadis itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang mama.
"Ma-mama bilang apa?"
__ADS_1
Tidak hanya Putri, tetapi Arash juga sama terkejutnya dengan Putri.
"Kamu jangan lupa datang ya, Arash, ke pertunangannya Putri dan juga Soni."