
Sifa terkejut, di saat melihat siapa yang datang ke rumah kos-kosan yang barunya. Saat kejadian di mana Abash mengatakan jika pria itu telah menodai Putri dan akan bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan, maka Sifa berpikir jika dia tidak lagi punya hak ataupun alasan yang tepat untuk tinggal di apartemen yang Abash berikan.
Lagi pula, Sifa juga berharap jika Abash bertanggung jawab atas apa yang telah pria itu lakukan terhadap Putri. Sakit sih memang perasaan Sifa. Tapi, sebagai seorang wanita, dia tidak bisa membiarkan jika ada wanita lain yang terluka karena orang yang dia sayang. Lebih baik Sifa memilih untuk mundur, karena memang sudah begitulah seharusnya yang terjadi.
Dan juga, mana mungkin seorang Sifa yang berasal dari keluarga kurang lengkap, serta kasta yang sangat jauh sekali dari Abash, bisa bersanding dengan pria itu. Baginya, ini bukan kisah cinderella, di mana seorang upik abu bisa menjadi seorang putri bangsawan.
Hei, kalian harus ingat, ada Cinderella sebenarnya bukanlah seorang upik abu, melainkan seorang gadis yang di manfaatkan dan dianiaya oleh ibu dan kakak tirinya. Jelas sekali bukan, kalau Sifa dan Cinderella itu sangat berbeda?
"Sayang .." sapa suara lembut, di mana matanya sudah terlihat tergenang air mata.
"Ta-tante ..." lirih Sifa dengan jantung yang berdebar-debar.
"Boleh Tante masuk, Sayanga?" pinta Mama Kesya.
"I-iya, Tante. Silahkan."
Sifa pun mempersilahkan Mama Kesya untuk masukke kos-kosannya yang kecil. Di mana tidak ada ruang tamu dan hanya kamar tidur saja. Sat lagi, kamar itu hanya seluas 4x3 meter saja. Sungguh sangat kecil sekali. Bahkan, pos satpam yang ada di rumah Mama Kesya pun, lebih besar dari pada kamar Sifa saat ini.
"Silahkan duduk, Tante." Sifa mempersilahkan Mama Kesya untuk duduk di atas tempat tidur, karena tidak ada kursi di dalam kamar gadis itu. Hanya ada tikar yang berukuran kecil saja.
Mama Kesya pun mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur, mata sayu wanita paruh baya itu pun tidak lepas memandang wajah Sifa yang terlihat kurus.
"Tante mau minum apa? Teh atau jus?" tawar Sifa.
Kebiasaan saat tinggal di apartemen Abash dan menjadi kekasih pria itu, membuat Sifa terbiasa untuk membeli minuman yang sudah dalam bungkusannya.
"Apa aja, Sayang," ujar Mama Kesya.
Mama Kesya pun mencium aroma yang sangat sedap, bisa Mama Kesya pastikan jika aroma tersebut berasal dari masakan Sifa.
"Kamu masak apa?" tanya Mama Kesya.
Sifa yang sedang menuang jus ke dalam gelas pun menoleh.
"Cuma tumis brokoli aja, Tante," jawab Sifa sambil tersenyum.
"Boleh Tante cicipi? Tante kangen masakan kamu, Sayang."
Sifa tertegun mendengar permintaan Mama Kesya. Tentu saja gadis itu menganggukkan kepalanya dan bergegas mengambil tumis brokoli yang di masak bersama dengan udang dan juga jagung muda.
"Ini, Tante."
__ADS_1
Mama Kesya tersenyum dan mengambil piring yang disodori oleh Sifa.
"Maaf, Tante, kalau gak ada nasinya," kekeh Sifa pelan.
"Gak papa." Mama Kesya pun mencium aroma yang menguar dari masakan Sifa. "Wanginya enak banget, Tante makan ya?" izin Mama Kesya.
"Iya, Tante. Silahkan."
Mama Kesya pun memasukkan satu sendok brokoli ke dalam mulutnya.
"Emm, masakan kamu memang enak banget, Fa," puji Mama Kesya.
"Alhamdulillah, terima kasih, Tante."
"Kamu udah makan?" tanya Mama Kesya yang di jawab gelengan oleh Sifa.
"Eh, aduh, Tante jadi gak enak deh makan sendiri. Kamu masaknya gak sedikit, kan? Masih ada lagi, kan?" tanya Mama Kesya.
"Iya, Tante. Masih ada kok."
"Ayo, makan sama-sama," ajak Mama Kesya yang diangguki oleh Sifa.
Sifa pun bergegas mengambil sisa sayuran yang ada di mangkok.
"Enggak, ini aja udah cukup. Untuk kamu aja semua itu."
Sifa mengangguk, kedua wanita itu pun menikmati sayuran yang di masak oleh Sifa.
"Ini kamu masaknya dari mana?" tanya Mama Kesya saat sudah suapan yang ke empat.
"Di panci listrik, Tante," jawab Sifa sambil tersenyum malu.
"Panci lilstrik?" tanya Mama Kesya penasaran.
"Iya, Tante. Jaman sekarang udah canggih, jadi ada panci yang bisa untuk masak nasi, masak sayur, serta goreng ikan atau telur, Tante. Jadi gak perlu pakai kompor lagi," kekeh SIfa.
"Hah? Yang bener?" tanya Mama Kesya merasa penasaran. "Mana? Coba lihat?"
Sifa pun meletakkan mangkuknya dan mengambil panci listrik serba guna miliknya yang dia beli secara online.
"Masya Allah, semungil ini bisa masak serba macem masakan?" tanya Mama Kesya.
__ADS_1
"Iya, Tante."
"Wah, benar-benar jaman serba canggih ya. Enak hidup anak kos jaman sekarang, gak susah-susah beli makanan di luar. Dalam kamar aja sudah bisa masak sesuai apa yang di inginkan," ujar Mama Kesya.
"Iya Tante."
Mama Kesya pun memasukkan suapan terakhirnya, begitu pun dengan Sifa. Gadis itu mengambil piring Mama Kesya dan meletakkannya di ember khusus piring kotor.
"Sifa, boleh Tante bicara serius sama kamu?"
Ya, sebenarnya Sifa sudah menduga, jika kedatangan Mama Kesya ke sini bukan karena merindukan masakannya. Tapi, ada sesuatu yang ingin di sampaikan.
Tapi apa itu? Apa Mama Kesya meminta kepada Sifa untuk pergi jauh dari kehidupan Abash?
Tapi kan Sifa udah pergi jauh dari kehidupan kekasihnya itu. Bahkan, Sifa sampai memblokir nomor Abash.
Walaupun Sifa tahu, jika selama ini Abash masih mengikutinya saat pulang kerja, maka dari itu Sifa tidak heran, jika Mama Kesya mengetahui di mana dia tinggal saat ini. Lagian, apa sih yang tidak bisa orang kaya lakukan? Mereka punya banyak uang dan bisa menyuruh siapa saja untuk mencari keberadaan Sifa kan?
Bahkan, jika Sifa bersembunyi di kolong tikus sekalipu, gadis itu sangat yakin sekali, jika keluar Moza pasti masih bisa menemukannya.
Sifa jadi teringat saat beberapa hari lalu, di mana Abash untuk kesekian kalinya mengikuti Sifa tanpa menegur dirinya. Sifa sengaja keluar dari rumah dan menghampiri mobil Abash yang terparkir di seberang kos-kosannya.
"Mas, saya mohon, Mas jangan pernah ke sini lagi. Saya tidak enak dengan penghuni kos-kosan yang lain. Mereka juga merasa tidak nyaman karena keberadaan Mas," ujar Sifa mengusir Abash dari kos-kosannya.
"Saya juga masih baru beberapa hari di sini, Mas. Jadi, tolong jangan persulit hidup saya. Jangan datang ke sini lagi, saya mohon, Mas."
"Sifa, kenapa kamu pergi? Kenapa kamu tidak tinggal di apartemen aja, Fa?" lirih Abash mengabaikan permintaan Sifa.
"Mas, kamu tahu alasan aku apa, tanpa perlu aku jelaskan," tegas Sifa. "Kalau Mas masih juga mengikuti dan memata-matai aku seperti ini. Maka aku akan benar-benar pergi jauh, Mas. Bahkan aku akan mengundurkan diri dari perusahaan," ancam Sifa.
"Sifa, kenapa kamu---"
"Mas, aku mohon, pergilah. Jangan ganggu aku lagi, Mas. Aku mohon. Biarkan aku sendiri."
Sifa kembali mengingat semua obrolannya dengan Abash. Di mana wajah pria itu terlihat sangat pucat dengan bawah mata yang menghitam. Ada rasa iba sebenarnya, akan tetap Sifa tidak boleh terpengaruh dengan penampilan Abash, agar pria itu tidak merubah keputusan karena dirinya.
"Sifa, apa kamu marah dengan Tante?"
Pertanyaan yang di lontarkan oleh Mama Kesya, membuat Sifa merasa bersalah. Mata gadis itu pun sontak saja langsung berkaca-kaca, di saat mengingat jika dirinya telah memblokir semua nomor keluar Moza, termasuk Mama Kesya.
"Kenapa kamu memblokir nomor Tante? Apa kamu marah juga sama Tante?"
__ADS_1
"Hiks ..." Air mata pun tidak bisa lagi Sifa bendung, gadis itu langsung berlutut dan merebahkan wajahnya di atas pangkuan Mama Kesya.
"Maafin Sifa, Tante. Maafin Sifa ..."