Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 202 - Ancaman Lagi


__ADS_3

Arash dan Putri pun bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruang IGD di mana para korban kecelakaan sudah berada di sana.


"Kak Lucas," panggil Arash yang melihat sepupunya itu baru saja selesai menangani pasien.


"Rash, syukurlah kamu sudah datang?" lirih Kak Lucas bernapas dengan lega.


"Bagaimana Abash?" tanya Arash dengan khawatir.


"Tulang kakinya terdapat sedikit retakan, sedangkan kepalanya terbentur dengan kuat sehingga mengeluarkan darah yang cukup banyak. Untungnya golongan darah Abash masih tersedia di rumah sakit, jadi dia segera mendapatkan transfusi darah. Tim medis sedang memerika apa ada kerusakan pada sarafnya atau tidak," ujar Kak Lucas memberi tahu.


"Sekarang Abash di mana?" tanya Arash.


"Masih dalam penanganan dokter. Dia sedag melakukan MRI dan CT Scan. Sebaiknya kamu melihat keadaan Mama Key dulu. Sepertinya beliau memiliki firasat buruk kepada Abash. Dari tadi mama terus saja mengigau dan menyebut nama Abash, Mungkin ini yang di sebut kontak batin seorang ibu kepada anaknya," ujar Kak Lucas yang mana di angguki oleh Arash.


"Baik, Kak. Arash lihat mama dulu. Kalau Abash sudah selesai pemeriksaan, hubungi Arash segera."


"Iya."


"Ah ya, apa papa sudah tau keadaan Abash?" tanya Arash.


"Belum, nanti kamu saja yang kasih tau saat waktunya pas," ujar Kak Lucas.


"Baik, Kak." Arash pun berlari menuju ruangan sang mama.


Ruangan pengobatan yang memang di khususkan untuk keluarga Moza.


Putri yang menatap kepergian Arash tanpa mengajak dirinya pun, hanya bisa berdiri di tempatnya saat ini.


"Sebaiknya kamu duduk dulu. Sebentar lagi Abash selesai pemeriksaan," ujar Kak Lucas yang diangguki oleh Putri.


Putri pun mendudukkan dirinya di kursi tunggu, hingga lima belas menit kemudian Abash pun keluar dengan di dorong di atas brankar. Kepala pria itu sudah di balut dengan perban, juga kakinya yang sudah di gips.


Putri berdiri dari duduknya dan menghampiri Abash.


"Pak Abash," tegur Putri yang sudah ikut mendorong brankar pria itu.


Abash pun menoleh ke arah Putri dengan perlahan, pria itu mengernyitkan keningnya di saat merasakan sedikit denyutan. Abash langsung di masukkan ke dalam kamar inapnya, agar tidak mendengar keributan yang sedang terjadi di IGD saat ini.


Setelah berada di dalam kamar inap, Dokter Lucas pun kembali mengetes Abash. Takut jika pria itu mengalami geger otak atau hilang ingatan.


"Hmm, baiklah, berarti ingatan kamu bagus dan tidak ada cidera yang serius. Tapi tetap saja, kamu tetap harus hati-hati dan menjaga kesehatan kamu, Bash," tegur Kak Lucas.


"Iya, Kak."


"Kalau begitu Kak keluar dulu. Kamu beristirahatlah," titah Kak Lucas.


"Put, Kakak titip Abash, ya, sebentar. Kakak mau keluar dulu untuk memanggil Arash." pamit Kak Lucas.


"Iya, Kak, eh, Dok," ralat Putri gugup.


"Panggil Kakak saja. Lagi pula saya bukan dokter kamu," kekeh Kak Lucas dan berlalu keluar.


"Iya, Kak," jawab Putri dengan tersenyum malu.


Putri pun menghela napasnya pelan dan menghampiri brankar Abash.


"Hai, gimana keadaan Anda?" tanya Putri yang sudah berada di samping brankar Abash.


"Seperti yang Anda lihat," jawab Abash sambil menunjuk ke arah kakinya.


"Hmm, saya harap kamu cepat sembuh," ucap Putri dengan tulus.


"Terima kasih."


"Ah, bagaimana dengan Sifa? Apa anda sudah bertemu dengannya dan memberitahu dia tentang cincin itu?" tanya Putri penasaran.


Abash pun tersenyum miring, kemudian pria itu terlihat seakan sedang menahan sesuatu.

__ADS_1


"Maaf, jika saya membuat Anda menajdi kepikiran dan kesakitan. Saya tidak---."


"Tidak, bukan salah anda. Ini memang sudah di takdirkan untuk saya dan Sifa yang tidak bisa bersama," lirih Abash menahan air matanya agar tak jatuh, sehingga membuat kepala pria itu pun kembali berdenyut.


"Hei, jangan menangis, nanti kepala Anda akan semakin sakit," lirih Putri dengan iba dan menahan tangan Abash untuk tidak menekan kepalanya dengan kuat.


"Saya tidak bisa membahayakan dia, Put. Saya tidak bisa," tangis Abash yang akhirnya pecah.


"Saya tidak bisa, hiks ..."


"Apa maksud Anda?" tanya Putri.


"Saya tidak bisa mengungkapkan keinginan saya kepada Sifa," lirih Abash.


"Saya yang akan mengatakannya. Sekarang, di mana cincin itu, apa masih di dalam jas Anda?" tanya Putri yang sudah ingin berjalan mendekat ke arah barang-barang Abash yang ada di atas meja, tetapi pria itu malah menahan tangan Putri, sehingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Abash.


"Ada apa?" tanya Putri dengan kening mengkerut menatap Abash.


"Cincin itu hilang. Saat saya berada di dalam mobil ambulance, seorang perawat yang menggunakan masker mengambil cincin tersebut dan memberikan peringatan kepada saya," ujar Abash yang mana membuat Putri menutup mulutnya.


"Dia sangat dekat dengan kita, Put. Sangat dekat sekali. Saya tidak ingin membahayakan dia," lirih Abash dengan air mata yang terus mengalir deras.


Putri yang merasa tak tega pun, mengikis jaras di antara mereka dan meengusap punggung Abash, sehingga membuat pria itu menarik pinggang Putri dan memeluknya.


"Ini belum berakhir. Setelah semuanya berakhir, saya akan pastikan jika Anda akan menikah dengan Sifa. Saya janji," ujar Putri yang juga sudah menangis sambil memeluk Abash.


"Apa saya tidak boleh bahagia, Put?" tanya Abash dengan terisak-isak.


"Tidak, Anda tidak boleh berkata begitu. Anda berhak bahagia. Anda berhak menikah dengan Sifa."


Tanpa Putri dan Abash sadari, jika Sifa, Didi, dan Arash sudah berada di luar pintu kamar inap Abash. Mereka tidak mendengar apa yang Putri dan Abash bicarakan, tetapi mereka melihat apa yang sedang dua orang itu lakukan.


Ya, Arash dan Sifa pun melihat dengan jelas jika Abash dan Putri sedang berpelukan.


"Sebaiknya kita biarkan mereka berdua," ujar Arash dan mengajak Didi dan Sifa untuk duduk di kursi tunggu.


*


Putri keluar dari ruang inap Abash, gadis itu terkejut saat melihat keberadaan Sifa di sana sendirian.


"Sifa," lirih Putri yang mana mengambil atensi gadis itu.


"Mbak?" jawab Sifa dan berdiri dari duduknya.


"Ke-kenapa kamu di sini?" tanya Putri gugup.


"Apa aku tidak boleh menjenguk pacar aku, Mbak?" tanya Sifa balik dengan nada suara yang pelan, tetapi terdengar sangat dingin.


"Bukan begitu maksud aku, tetapi kenapa kamu tidak masuk ke dalam?" tanya Putri membenarkan pertanyaannya.


"Untuk apa? Untuk mengganggu kemesraan Mbak dan Mas Abash?" tanya Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sifa, kamu salah paham. Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan dan kamu lihat. Aku dan Abash---,"


"Kalian diam-diam memiliki hubungan di belakang aku kan, Mbak?" potong Sifa dengan cepat.


"Sifa, apa maksud kamu?" tanya Putri bingung.


"Aku tau kok, Mbak. Apa yang terjadi sama kamu dan Mas Abash saat di Bandung. Kalian berciuman kan di dalam mobil?" ungkap Sifa yang sudah mengepalkan tangannya dengan erat dan menatap Putri penuh kebencian.


"Apa?" kejut Putri. "Sifa, apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah---."


"Cukup, Mbak. Aku tau Mbak ini orang baik. Tetapi, kenapa harus Mas Abash, Mbak? Padahal Mbak tahu kalau aku memiliki hubungan dengan Mas Abash. Tetapi kenapa Mbak tega?" tanya Sifa yang sudah meneteskan air matanya.


"Sifa, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan barusan. Aku tidak pernah---,"


"Semoga Mbak bahagia dengan Mas Abash.Tolong jaga dia untuk aku," ujar Sifa dan membalikkan tubuhnya menjauh dari Putri.

__ADS_1


"Sifa, tunggu," panggil Putri dan mengejar gadis itu.


"Sifa, Putri, ada apa?" tanya Papa Arka yang melihat kedua gadis itu seolah sedang berseteru.


"Gak ada apa-apa, Om. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Sifa.


"Loh, kamu gak menjenguk Abash dulu?" tanya Papa Arka.


"Lain kali aja, Om. Lagi pula ini sudah malam dan Pak Abash sudah tidur. Kalau begitu, saya permisi dulu, Om. Assalamualaikum," pamit Sifa dan berjalan menjauhi Putri dan papa Arka.


"Walaikumsalam," jawab Papa Arka.


"Sifa--,"


"Putri, biarkan Sifa sendiri dulu," ujar Papa Arka menahan Putri agar tidak mengejar Sifa lagi.


"Tapi, Om?" Putri pun menghela napasnya pelan, gadis itu hanya bisa menatap kepergian Sifa yang semakin menjauh dari pandangannya.


Papa Arka megnambil ponselnya dan menghubungi Didi untuk mengejar Sifa dan mengantarkan gadis itu pulang.


"Putri, sebaiknya kamu juga pulang. Om sudah menyuruh Om Duda untuk mengantarkan kamu pulang," ujar Papa Arka yang mana membuat Putri hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Iya, Om," jawab Putri dengan pasrah.


Tak berapa lama Om Duda pun datang dan memberi hormat kepada Papa Arka.


"Tolong kamu antarkan Putri pulang, ya," titah Papa Arka.


"Baik, bos."


Om Duda pun mempersilahkan Putri untuk jalan duluan di depannya.


"Putri pamit pulang dulu, Om, Assalamualaikum" pamit Putri.


"Walaikumsalam. Hati-hati, ya," ujar Papa Arka.


Dengan perasaan sedih, bersalah, dan bingung, Putri pun melangkahkan kakinya mengikuti Om Duda.


"Ciuman? Kapan aku ciuman dengan Abash?" batin Putri.


"Kenapa jadi serumit ini, sih?"


"Put, Om?" tegur Arash yang bertemu dengan Putri dan Om Duda di lobi.


"Den Arash."


"Put, kenapa? Kok wajah kamu murung gitu?" tanya Arash yang melihat tak ada senyuman di wajah Putri, bahkan mata gadis itu pun terlihat sendu dan basah.


"Hiks, kenapa ini semua terjadi kepada aku, Rash? Kenapa?" tanya Putri yang sudah meneteskan air matanya.


"Hei, ada apa? Apa yang terjadi?" Arash pun menghampiri Putri dan mengusap wajah gadis itu dengan lembut.


"Seharusnya aku gak ke Jakarta, jadi semua ini gak akan pernah terjadi, hiks ..."


"Put, tenanglah. Jangan salahkan diri kamu, oke?" ujar Arash yang sudah menangkup wajah Putri.


"Om, mau antar Putri pulang?" tanya Arash yang di angguki oleh Om Duda.


"Arash ikut."


*


Sepanjang perjalanan pulang, Putri tak berhenti menangis. Gadis itu ingin mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya kepada Arash, tetapi dia teringat akan perkataan Abash saat di dalam kamar inap pria itu.


"Mereka meminta saya menjauhi Sifa, atau mereka akan melukainya. Saya tidak bisa membiarkan Sifa terluka, Put. Saya gak bisa. Dia tidak bersalah dan tidak berhak terluka atas kesalahan yang sudah aku buat."


"Sebenarnya apa yang mereka mau?" batin Putri bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2