Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 455


__ADS_3

Arash menahan Isak tangis air matanya. Pria itu menatap perih ke arah wanita yang sedang tak berdaya di atas brankar. Tubuh wanita itu terdapat beberapa alat pembantu untuk dirinya bertahan hidup. Ya, saat ini Putri sedang koma, akibat hatinya yang kembali rusak.


Masih ingat kan, beberapa tahun lalu Putri harus menjalani operasi karena mengalami kecelakaan? Dan ternyata, kondisi hati Putri memburuk. Wanita itu berpikir jika rasa sakit yang dia rasa beberapa bulan ini adalah efek dari kehamilannya. Putri pun mengabaikan rasa sakit itu dan tidak memberitahu kepada Arash.


Untuk itulah, Putri mengalami pendarahan hebat di saat kehamilannya yang sudah membesar.


Arash melangkahkan kakinya, semakin dekat ke arah sang istri yang sedang tertidur dengan bantuan alat-alat medis di tubuhnya. Arash mendaratkan bokongnya di kursi yang berada di dekat brankar, pria itu pun meraih tangan Putri dengan tangannya yang bergetar.


"Hiks ... Sayang, bangunlah," pinta Arash dengan air mata yang mengalir deras.


Sekuat apa pun Arash menahan Isak tangis dan air matanya agar tidak keluar, tetap saja dia tidak mampu melakukannya. Arash merasa dadanya saat ini terasa begitu sesak, melihat kondisi sang istri yang kembali tak sadarkan diri.


"Put, bangunlah sayang. Putri kita membutuhkan kamu," mohon Arash untuk dengan suara yang bergetar.


Arash menggenggam tangan Putri, menciumi punggung tangan istri sambil terisak.


"Aku mohon, bangunlah sayang. Bangunlah ..."


Mama Kesya dan Mama Nayna yang melihat Arash dari kaca yang ada di pintu pun, ikut merasa sedih. Mereka tidak menyangka, jika hal ini akan terjadi kepada keluarga mereka.


Mama Nayna menoleh ke arah sang suami yang saat ini menyentuh bahunya.


"Mas, hiks ...."


Papa Satria langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya, hingga tangisan Mama Nayna pun akhirnya pecah.


"Mas, hiks ... Putri ..."


"Yang sabar ya sayang. Apa pun yang terjadi dengan Putri, kita harus ikhlas," bisik Papa Satria yang mana membuat Mama Nayna semakin terisak.


Mama Kesya juga ikut terisak, wanita paruh baya itu ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Mama Nayna. Bahkan, Mama Kesya seolah ikut merasakan rasa sakit yang Putri rasakan.


"Pa, hiks ... Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan Putri?" tanya Mama Kesya kepada Papa Arka yang saat ini sudah memeluknya.


"Lucas dan Leo sedang mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Putri," bisik Papa Arka. "Semoga saja ada keajaiban untuk Putri."


*


Zia menatap wajah keponakannya yang sedang menangis di dalam ruangan bayi. Gadis itu merasa iba karena bayi mungil itu tidak bisa menikmati susu yang paling mahal di dunia. Dan juga, bayi mungil yang berjenis kelamin perempuan itu pun tidak bisa memeluk tubuh sang ibu sejak pertama kali menghirup udara di dunia.


Zia menoleh ke arah perawat yang sedang membuat susu. Bisa gadis itu tebak, jika susu yang sedang di buat oleh perawat adalah untuk keponakannya itu.


Perawat yang baru saja membuat susu tadi, menghampiri bayi Arash dan Putri. Terlihat jika perawat itu mencoba memberikan susu dan mendiamkan bayi mungil yang sedang menangis.

__ADS_1


Hati Zia merasa teriris mendengar suara tangis bayi mungil tersebut, membuat gadis itu menjauh dari kaca yang menampilkan ruangan bayi, menuju ke ruangan perawat.


Zia mengetuk pintu ruangan perawat, hingga seorang perawat pun membuka pintunya.


"Ya, ada yang bisa saya bantu, Buk?" tanya perawat tersebut kepada Zia.


"Em, boleh saya masuk? Izinkan saya yang memberikan susu kepada keponakan saya," pinta Zia kepada perawat.


"Oh, bayinya dari Nyonya Putri?" tanya perawat.


"Iya, saya adiknya."


Melihat kondisi Zia yang duduk di kursi roda, membuat perawat tersebut pun merasa yakin jika Zia tidak akan bisa membawa lari bayi mungil tersebut. Ya, walaupun tidak menutup kemungkinan, akan tetapi setidaknya kondisi Zia saat ini mendukung untuk tidak di curigai.


"Baiklah, silahkan masuk," ujar perawat memberikan izin kepada Zia untuk masuk ke dalam.


Dengan di dampingi perawat, Zia pun masuk ke dalam ruangan di mana terdapat banyak bayi di tempatnya masing-masing.


"Beb, Ibu ini tantenya dari bayi nyonya Putri. Beliau ingin memberikan susu kepada keponakannya," ujar perawat kepada teman seprofesinya.


"Oh, iya boleh. Silahkan."


Perawat yang sedang menggendong bayi mungil dari Arash dan Putri pun, memberikan secara perlahan bayi itu ke dalam gendongan Zia. Bayi mungil itu masih menangis, menolak untuk di berikan susu formula yang ada di dalam dot.


"Minum yang banyak yaa," ucap Zia dengan penuh kelembutan.


Perawat yang tadinya sedikit kewalahan saat memberikan susu kepada bayi mungil itu pun, akhirnya bernapas dengan lega. Ternyata, ikatan darah antara bayi itu dengan Zia cukup kuat. Atau, bayi itu tahu dan dapat merasakan jika orang yang menggendongnya saat ini adalah saudaranya sendiri.


Anggel yang awalnya ingin memberikan susu kepada anaknya Arash saat mendapatkan kabar jika bayi mungil itu tidak mau diam pun, hanya memandang dari luar kaca. Dapat Anggel lihat, jika bayi mungil itu merasa nyaman di dalam gendongan Zia.


*


Abash mengecup punggung tangan Sifa berkali-kali. Sedari tadi pria itu tidak bisa menghentikan air matanya, begitu pun dengan Sifa.


"Terima kasih, sayang," bisik Abash yang di angguki oleh Sifa.


"Iya, Mas. Akhirnya aku bisa mengandung buah cinta kita."


Ya, seperti apa yang readers tebak, jika Sifa akhirnya positif hamil.


Kabar gembira ini sengaja mereka sembunyikan, karena merasa tidak pantas untuk memberikan kabar gembira di atas kabar sedih yang juga sedang menimpa keluarga mereka.


Hanya Mbak Anggel saja yang sudah tahu kabar tentang kehamilan Sifa, sedangkan yang lain sengaja belum di kasih tahu, dan itu pun atas permintaan Sifa dan Abash.

__ADS_1


Mereka akan memberitahu kabar baik ini di saat yang tepat.


"Kenapa kamu tidak ingin memberitahu kabar baik ini kepada seluruh keluarga, sayang?" tanya Abash kepada sang istri.


"Aku hanya merasa tidak ingin di katakan berbahagia di atas kesedihan orang lain, Mas. Apa lagi yang bersedih adalah kembaran kamu sendiri, Mas," jawab Sifa yang mana membuat Abash tersenyum.


"Kamu benar-benar penyabar ya, sayang. Terima kasih atas pengertian kamu."


"Iya, Mas."


Di lain sisi, Mbak Anggel tidak bisa membiarkan kabar baik ini tidak diberitahukan kepada Mama Kesya, sehingga membuat wanita berposfesi sebagai seorang dokter itu pun akhirnya memberitahu kepada Mama Kesya.


"Mama tapi pura-pura gak tahu aja, ya. Karena Sifa memohon untuk tidak mengatakan hal ini dulu. Sifa tidak ingin merasa bahagia di atas kesedihan orang lain," ungkap Mbak Anggel yang mana membuat Mama Kesya meneteskan air matanya.


"Anak itu, hiks .. kenapa dia selalu memendam perasaannya sendiri? Dia patut bahagia dengan kabar ini," lirih Mama Kesya.


"Ma, mungkin Sifa meminta untuk tidak memberitahu tentang kehamilannya, karena kita tidak ingin mengabaikan Putri, Ma. Bisa saja Sifa tidak ingin jika kita memperhatikan dirinya terlalu berlebihan di saat Arash membutuhkan kita," sahut Papa Arka yang juga mendengar berita baik dan bahagia ini.


"Hmm, mungkin apa yang Papa katakan ada benarnya. Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang, Pa?" tanya Mama Kesya kepada sang suami.


"Sebaiknya kita pura-pura tidak tahu dan memberikan perhatian secara diam-diam," saran Papa Arka.


"Iya, Pa, baiklah kalau begitu."


*


Tiga hari berlalu, bayi Arash dan Putri pun yang memberikan minum susu adalah Zia. Setiap siang dan malam, Zia datang khusus untuk memberikan minum sang bayi, tanpa ada yang ketahui. Ya, kecuali Mbak Anggel.


Mbak Anggel selalu mendapatkan kabar dari perawat, jika Zia sering berkunjung ke ruangan bayi, sebelum melihat kondisi sang kakak yang masih belum sadarkan diri.


"Bagaimana? Apakah sudah mendapatkan pendonor hati?" tanya Papa Satria.


"Sampai saat ini belum ada yang cocok, Om. Tapi kami akan tetap terus berusaha," jawab Lucas.


"Kak, jika tidak ada pendonor yang cocok, ambil saja hati Arash, Kak. Ambil sebanyak-banyaknya, agar Putri bisa di selamatkan," ujar Arash memohon.


"Rash, kasusnya saat ini berbeda dengan yang dulu. Ini lebih serius dari yang dulu, Rash, makanya kami pihak tim medis tidak bisa gegabah untuk mengambil keputusan."


"Jika dengan mengambil semua hati Arash bisa menyelamatkan Putri. Maka ambillah Kak, Arash ikhlas."


"Dan membuat kamu kehilangan nyawa?" tanya Lucas dengan menatap tajam ke arah Arash.


"Gak gitu konsepnya, Rash. Kamu cobalah berpikir jernih. Jangan ikuti keegoisan kamu," kesal Lucas.

__ADS_1


__ADS_2