
"Sebelum kamu menghukum putri saya, alangkah baiknya kamu menjalani hukuman kamu sekarang."
Arash menelan ludahnya dengan kasar, kira-kira hukuman apa yang akan di dapatkan oleh pria itu. Putri sudah tersenyum penuh arti, gadis itu pun memundurkan langkahnya agar menjauh dari Arash.
"Put," panggil Arash saat merasakan sang tunangan menjauh darinya.
"Selamat menerima hukuman," ujar Putri sambil mengedipkan matanya sebelah.
Arash tak berdaya, pria itu pun terpaksa tetap berdiri di sana.
"Hu-hukuman apa yang harus saya terima, Om?" tanya Arash dengan harap-harap cemas.
Papa Satria tersenyum miring, kemudian pria paruh baya itu pun memberikan mic kepada Arash.
"Sumbangkan suara emas kamu untuk ulang tahun Mama," ujar Papa Satria dengan tersenyum lembar.
Suara emas? Itu artinya Arash harus bernyanyi kan?
Pria itu pun tersenyum lebar, ternyata hukuman yang di berikan oleh Papa Satria sangat mudah dan tidak menyulitkan.
"Siap, Om," jawab Arash sambil memberi hormat.
"Sepertinya kamu sangat siap," ujar Papa Satria sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Tapi, lagu yang harus kamu nyanyikan adalah lagu kesukaannya Mama, bisa?" tanya Papa Satria.
"Insya Allah, bisa Om. Lagu apapun insya Allah akan Arash nyanyikan," ujarnya dengan penuh kebanggaan.
__ADS_1
"Baiklah, lagu yang ingin di dengar oleh Mama ada di dalam kertas ini," ujar Papa Satria sambil mengulurkan sebuah kertas yang ada di tangannya kepada Arash.
"Di dalam kertas itu juga terdapat sebuah permintaan dari Mama. Papa harap, kamu bisa mewujudkan keinginan Mama," pinta Papa Satria.
"Baik, Om, eh, Pa," jawab Arash dengan gugup, karena sedari tadi Papa Satria terus saja menyebut namanya dengan panggilan papa dan mama.
"Panggil Papa dan Mama aja, karena kami kan sebentar lagi akan menjadi mertua kamu," ujar Papa Satria dengan tersenyum lebar.
"Iya, Pa," jawab Arash dengan wajah yang merona.
Papa Satria pun menepuk bahu Arash dua kali, kemudian pria paruh baya itu pun berjalan menuju ke arah sang istri.
"Ayo, Rash, tunjukkan bakat terpendam kamu," pekik Abash dengan tersenyum lebar.
Putri sempat tercengang mendengar suara Abash yang melengking, dia tidak menyangka jika pria pendiam dan dingin sedingin kulkas itu pun bisa menggoda kembarannya di depan umum seperti saat ini.
"Untuk calon mertua, Mama Nayna, selamat ulang tahun. Semoga Mama di berikan umur panjang dan kesehatan."
"Tentu saja Mama mau sehat, Rash. Mama mau lihat cucu Mama lahir," ujar Mama Nayna yang mana membuat wajah Arash dan Putri langsung merona.
"Kalau masalah cucu, Arash siap membuatnya dengan segera," jawab Arash dengan malu-malu.
"Nikah dulu kali, Rash, biar halal," tegur Mama Kesya.
"Iya, Ma. Maksud Arash, Arash siap membawa Putri besok ke KUA."
__ADS_1
"Wahh, calon mantu mama gentleman sekali," puji Mama Nayna. "Mirip seseorang," sambungnya sambil berbisik kepada Papa Satria.
"Makasih, Ma. Kalau di setujui, Arash akan benar-benar membawa Putri besok ke KUA," ujar Arash dengan percaya diri.
"Jangan terburu-buru, semua butuh proses. Sekarang, menyanyilah," titah Papa Arka.
Arash pun menganggukkan kepalanya, dengan rasa percaya diri yang penuh, pria itu membuka lembaran kertas yang di berikan oleh Papa Satria tadi.
Arash terdiam, pria itu merasa dalam masalah saat ini.
"Ada apa, Rash? Kok malah bengong?" tanya Papa Satria dengan ekspresi wajah datarnya.
"Mama serius mau dengar lagu ini?" tanya Arash memastikan.
"Huum, iya. Mama ngefans banget sama dia. Jadi, karena Mama dengar kamu jago nyanyi lagu India, Mama ingin mendengar kamu menyanyikan lagu yang tertulis di sana," ujar Mama Nayna sambil tersenyum kecil.
"Iya, Ma. Arash memang bisa menyanyikan beberapa lagu India, tapi ini bukan lagu India," ujar Arash dengan jantung yang berdetak cepat.
"Mirip-mirip dikitlah cengkoknya," jawab Mama Nayna.
"Katanya tadi siap buat nyanyi," ledek Papa Satria.
"I-iya, tapi ini?"
"Emangnya lagu apa sih, Rash? Sampai muka kamu pucat gitu?" tanya Abash merasa penasaran.
__ADS_1
Arash menelan ludahnya dengan kasar.
"King Nassar, judul lagunya seperti mati lampu," jawab Arash yang mana membuat Abash tertawa terbahak-bahak.