Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 232 - Ketahuan Mama


__ADS_3

Abash terus membujuk Sifa untuk berhenti menangis. Pria itu juga meminta maaf kepada sang kekasih, karena tidak memberitahukannya tentang cctv tersebut.


Bukannya Abash tak ingin memberitahu kepada Sifa, akan tetapi saat itu mereka belum memiliki hubungan spesial seperti sekarang. Lagi pula, dia memang benar-benar tak melihat semua video yang terekam. Kecuali, video di mana Sifa berlari hanya dengan menggunakan kutang saja. eh??


Sama aja yaa? Lihat juga berarti si Abash ...


Iisshh ... untung gak bintilan tuh mata. ha .. ha .. ha ...


"Udah yaa nangis nya? Lagi pula aku kan calon suami kamu. Jadi, anggap saja aku dapat uang muka sebelu---"


Abash langsung menutup mulutnya di saat melihat tatapan tajam dari sang kekasih. Saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh sang kekasih, Sifa merasa geram dan langsung mengangkat kepalanya untuk menatap Abash.


"Uang muka? Kamu pikir aku barang, apa?" kesal Sifa sambil memukul dada bidang Abash.


"Awww ... sakit, Fa," lirih Abash dengan manja.


"Biarin, siapa suruh kamu bi--hmmpp ..." Sifa pun terdiam, di saat Abash membungkam bibirnya dengan ciuman.


"Maaf, aku hanya cuma mau menggoda kamu saja," bisik Abash sambil mengusap bibir sang kekasih.


Tangan pria itu pun mengusap pipi sang kekasih dengan penuh sayang untuk menghapus air mata Sifa yang masih mengalir.


"Maafin aku, ya?" bisik Abash lagi.


"Mas nyebelin, aku benci sama Mas," cicit Sifa sambil sesenggukan.


"Aku berani bersumpah, kalau aku sudah menghapus semua video kamu," ujar Abash sambil mengusap lembut pipi sang kekasih.


"Kecuali video kamu yang lucu," sambungnya dalam hati.


"Mas beneran udah hapus semua rekaman video aku yang di kamar?" tanya Sifa memastikan.


"Iya, sayang. Aku sudah menghapusnya."


Sifa menarik napasnya, mencoba mempercayai apa yang di katakan oleh sang kekasih.


"Kalau Mas bohong, aku sumpahi mata Mas bintilan," ujar Sifa yang mana membuat Abash membulatkan matanya.


"Iih, jangan dong, sayang. Kalau mata aku bintilan, entar kegantengan aku berkurang lagi," rayu Abash agar sang kekasih tidak menyumpahi dirinya.


"Biarin aja, biar Mas kapok," kesal Sifa.

__ADS_1


Abash mengusap pipi sang kekasih dengan penuh sayang dan kelembutan.


"Aku gak masalah kamu sumpahi begitu, lagi pula, jika aku bintilan kan kamu juga yang lihatnya," kekeh Abash yang mana membuat Sifa semakin merasa kesal.


"Iih, Mas Abash nyebelin. Berarti bener kan kalau Mas bohongi Sifa?" kesal Sifa.


Abash hanya mengendikkan bahu dengan bibir yang di kulum.


"Mas Abash jahat, ih .. dasar mesum," ujar Sifa sambil mencebikkan bibirnya.


"Huum, aku memang mesum. Tapi mesumnya cuma sama kamu," bisik Abash dan langsung menarik tengkuk Sifa, sehingga membuat bibir mereka pun saling menempel.


Sifa pun perlahan memejamkan matanya, di saat merasakan cecapan lembut yang di berikan oleh sang kekasih. Di saat merasakan jika Sifa membutuhkan oksigen, Abash pun melepaskan ciumannya.


"Dasar mesum," cibir Sifa saat ciuman mereka terlepas.


"Yes, I'am," jawab Abash dan kembali menempelkan bibirnya kembali.


Ceklek ...


"Astaghfirullah ...."


*


"Rash, ponsel kamu dari tadi dering terus. Kamu gak mau angkat?" tanya Mama Kesya. "Siapa tau penting, Rash," ujar Mama Kesya lagi.


"Iya, Ma. Gak papa, biarin aja," jawab Arash yang memang sengaja tak ingin menjawab panggilan yang masuk.


Malam ini sebenarnya dia harus bertugas, akan tetapi karena perasaannya yang tak karuan, membuat pria itu merasa malas untuk pergi dinas. Biarkan saja besok dia mendapatkan hukuman dari atasannya, yang terpenting malam ini dia bisa menenangkan pikiran dan perasaannya.


"Rash, jenguk Abash yuk," ajak Mama Kesya di saat melihat sang Putra kembali terlihat termenung.


"Hmmm? Ya, Ma?" tanya Arash yang merasa jika ada yang memanggilnya.


"Jenguk Abash, yuk," ulang Mama Kesya lagi.


"Oh, iya, Ma." Abash pun berdiri dan berjalan mendekati sang mama.


Mama Kesya pun langsung memeluk lengan sang putra. Mereka pun berjalan menuju ruangan Abash sambil bergandengan.


"Rash, Mama boleh tanya sesuatu sama kamu?" tanya Mama Kesya sambil membelai lembut lengan sang putra.

__ADS_1


"Ya, Ma? Mama mau tanya apa?" tanya Arash sambil menggenggam tangan Mama Kesya yang ada di lengannya.


"Emmm, gadis yang kamu taksir itu siapa?" tanya Mama Kesya hati-hati.


Arash tersenyum kecil, pria itu pun menatap lurus ke arah depan.


"Kok diem?" tanya Mama Kesya lagi yang mana membuat Arash menoleh ke arah sang mama.


"Eem, Arash bingung, Ma," lirihnya pelan dengan tersenyum sendu.


"Bingung kenapa?" tanya Mama Kesya penasaran.


"Hmm, Arash gak tau, apa Arash beneran suka sama dia atau tidak," jawabnya dengan tersenyum miring.


"Loh, kenapa begitu? Masa kamu gak tau sama perasaan kamu sendiri?" tanya Mama Kesya bingung.


"Hmm, Arash juga gak tau, Ma. Lagi pula, ini kan pengalaman pertama Arash, ya, dalam jatuh cinta. Jadi, Arash gak tau sebenarnya cinta itu seperti apa," ujar Arash yang mana membuat Mama Kesya menghela napasnya pelan.


"Hmm, jatuh cinta memang rumit, Rash. Karena dia, kamu jadi gak enak tidur, gak enak makan, gak mood untuk melakukan hal ini dan itu," ujar Mama Kesya memberitahu.


"Gak hanya itu, tapi kamu juga bakal merasakan jika kamu akan merindui dirinya. Selalu ingin bertemu, selalu ingin mengobrol dengan dia, dan bahkan kamu memiliki hasrat untuk memilikinya. Nah, itu tanda-tanda yang namanya cinta," sambung Mama Kesya lagi.


Arash pun mengangguk-anggukan kepalanya, pria itu berpikir jika apa yang di katakan oleh Mama Kesya, dia rasakan untuk Sifa. Tapi, kenapa dia malah takut kalau Putri menjauh dari hidupnya?


"Sekarang kamu sudah bisa menentukan belum? Apa yang kamu rasakan ke gadis itu beneran cinta atau tidak?" tanya Mama Kesya. "Ingat, cinta dan kagum itu beda tipis, ya," ujar Mama Kesya memperingati sang anak.


"Iyaa, Ma. Arash mengerti." Arash pun tersenyum manis kepada sang mama.


Mereka pun akhirnya tiba di depan pintu kamar inap Abash, hingga Arash menekan handle pintu kamar inap kembarannya tanpa melihat ke dalam.


Ceklek ...


"Gitu dong, kan kalau senyum gini anak Mama semakin ganteng lihatnya," ujar Mama Kesya sambil tertawa kecil.


Saat mereka berdua menoleh ke arah Abash dan Sifa, keduanya pun di kejutkan dengan pemandangan yang ada di depan matanya.


"Astaghfirullah, Abaaaasshhh ...." pekik Mama Kesya yang mana membuat Sifa dan Abash menghentikan kegiatan ciuman mereka.


"Ma-mama?" lirih Abash dengan wajah yang pucat.


"Ta-Tante?" lirih Sifa tak kalah pucat dari Abash.

__ADS_1


Mama Kesya pun menghela napasnya dengan kuat, wanita paruh baya itu pun melangkahkan kakinya dengan lebar menuju ke arah sang Putra.


"Kamu ini, ya, dasar pria mesum," pekik Mama Kesya sambil memukuli punggung sang putra.


__ADS_2