Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 394


__ADS_3

Sifa baru saja tiba di apartemen, wanita itu terheran ketika membuka pintu dan melihat sang suami yang masih berada di sana.


"Mas gak ke kantor?" tanya Sifa mendekat ke arah suaminya yang masih duduk dengan setumpuk pekerjaan yang ada di hadapannya.


"Enggak, aku kerja di rumah aja hari ini," jawab Abash mengalihkan tatapannya dan tersenyum.


"Oh, iya. Mas mau makan siang apa? Biar aku siapin," tawar Sifa di tengah-tengah waktu yang memburunya. Bagaimana pun juga, dia tidak ingin mengabaikan perut suaminya yang mungkin saja saat ini sedang kelaparan. Dia menyimpan tas di kursi dan segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang sang suami.


"Nggak usah masak. Aku pesan online aja nanti. Lagi pula, kamu kan harus segera berangkat, Sayang."


"Iya, Mas. Tapi bagaimana dengan kamu? Sudah tugas aku sebagai seorang istri untuk menyiapkan makanan, Mas." Sifa tetap keukeuh dan merasa sangat bersalah sekali karena dia akan meninggalkan Abash. Apa lagi dia sudah menjanjikan kepada laki-laki itu waktu spesial malam nanti.


Abash mendekat ke arah Sifa, memeluk wanita itu dari belakang. "Sayang, jangan khawatir begitu. Lagi pula, jika aku ingin makan, aku bisa meminta kepada Mama untuk mengirimkannya ke sini."


"Tapi, Mas---"


"Ayo, aku bantu kamu bersiap," ajak Abash dan menarik tubuh Sifa menuju kamar. Sifa tidak bisa membantah, apa lagi genggaman tangan Abash erat dan laki-laki itu tidak ingin dibantah.


Abash benar-benar membantu Sifa, pria itu memilihkan beberapa pakaian santai untuk sang istri kenakan di Bali nanti.


"Mas, untuk apa memasukkan baju itu? Aku sedang tidak berlibur, Mas, aku datang ke Bali hanya untuk bekerja," tegur Sifa saat melihat sang suami memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper kecil. Laki-laki itu seakan tahu apa yang Sifa butuhkan di sana.


"Gak pa-pa, Sayang. Mana tau setelah selesai kerja, kamu punya waktu untuk bermain ke pantai. Sempatkan diri kamu buat main di sana,” ujar Abash sambil tersenyum dan tidak menghentikan gerakan tangannya memasukkan beberapa baju.


"Aku? Sendirian? Tidak, aku tidak mau. Lebih baik aku menyendiri di dalam kamar. Lagi pula kalau uda kerja kan capek, Mas," ujar Sifa yang mana membuat Abash menoleh ke arah sang istri.


"Kenapa memangnya? Bukannya kamu sangat menyukai pantai?"


"Iya, Mas. Tapi, aku tidak ingin sendirian di pantai. Aku ... aku ingin datang ke pantai bersama kamu, Mas," lirih Sifa dengan sendu. Terbayang saat nanti di sana dia akan sendirian saja tanpa suaminya. Dan Abash bilang dia pergi ke pantai? Dia tidak setega itu bisa bersenang-senang sementara meninggalkan suaminya di rumah sendirian.


"Aku ingin ke pantai bersama kamu." Sifa pun menggeser duduknya ke dekat sang suami, menatap Abash dan berharap jika laki-laki itu akan berkata sesuatu.


"Mas, apa kamu tidak bisa menemani aku ke Bali?" rayu Sifa akhirnya setelah Abash tidak tampak ingin berbicara.


Abash menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah yang menyesal. "Maaf, sayang, aku tidak bisa. Banyak kerjaan dan aku harus menyelesaikan pekerjaan di sini," tolak Abash yang mana membuat Sifa merasa kecewa.


Sifa kembali menggeser duduknya menjauh dari sang suami, menundukkan kepalanya dan berbicara dengan nada yang sedih. "Padahal aku ingin kamu temani, Mas," rengek Sifa dengan manja.


"Lain kali ya, Sayang," bujuk Abash yang diangguki oleh Sifa meski berat hati.

__ADS_1


Setelah semua perlengkapan Sifa sudah masuk ke dalam koper, Sifa pun kembali merengek kepada sang suami untuk mengantarkannya ke bandara.


"Mau kan, Mas? Ya, Mas, kamu antarin aku ke bandara, ya?" bujuk Sifa sambil menggelayut manja di lengan suaminya. Menatap sendu agar Abash mau mengantarnya.


"Duh, Sayang. Maaf ya, aku gak bisa. Aku harus menyelesaikan pekerjaan aku," tolak Abash yang mana lagi-lagi membuat Sifa merasa kecewa dan melepaskan tangannya dari lengan Abash.


"Hmm, ya sudah kalau begitu, Mas. Aku berangkat ya?" Sifa pun mencium punggung tangan sang suami dengan bibir yang mengerucut lucu. Sebal sekali rasanya saat ditolak mentah-mentah oleh seseorang, apa lagi dia itu adalah suaminya sendiri.


"Hati-hati ya, sayang."


Abash melambaikan tangannya, mengantar Sifa hingga ke luar pintu apartemen. Pria itu membiarkan sang istri berjalan sendirian keluar apartemen. Ya, walaupun di lobi sudah ada supir dari kantor perusahaan Farhan, tapi tetap saja Sifa ingin di antar oleh sang suami. Sesekali boleh kan bermanja dengan suami?


Sifa melirik Abash yang hanya mengantarnya hingga ke pintu, sebenarnya dia ingin protes, setidaknya mengantarnya ke lobi atau sampai ke mobil, tapi dia takut jika Abash marah mengingat banyak pekerjaan yang dia bawa ke rumah.


Sifa menghela napasnya kecewa. Mau tak mau dia pergi sendirian ke lantai bawah dengan menaiki lift.


Abash sekali lagi melambaikan tangannya saat Sifa masuk dan menunggu lift tertutup.


“Keterlaluan Mas Abash,” gumam Sifa sedih.


Setelah memastikan Sifa masuk ke dalam lift, Abash pun bergegas membereskan semua peralatan perkerjaannya, kemudian pria itu menghubungi supir untuk mengantarkan dirinya ke bandara. Abash harus memastikan jika sang istri tetap aman dan tidak ada yang mengganggu.


Setelah semua beres, Abash memastikan kembali apa saja yang dia bawa. Jangan sampai ada hal penting yang dia lupakan. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia pun turun dengan membawa satu koper besar yang berisi pakaian dirinya dan juga Sifa. Dia mengira, mereka tidak membutuhkan pakaian yang banyak, karena bisa Abash pastikan jika dirinya dan sang istri akan menghabiskan sepanjang waktu di dalam kamar saja. Mengingat hal itu Abash tersenyum saat membayangkan apa saja yang akan mereka lakukan di sana.


"Apa Sifa sudah berangkat?" tanya Abash kepada sang supir yang sudah menunggunya di bawah.


"Sudah, Den."


"Ayo, sebaiknya kita harus cepat," titah Abash dan masuk ke dalam mobil. Supir pun memasukkan koper yang Abash bawa ke dalam bagasi.


Di sepanjang perjalanan, Sifa merasa sedih, karena dia merasa jika Abash hari ini terasa dingin dan abai terhadap dirinya. Sang suami tidak terlihat seperti biasa, di mana jika dirinya pergi sendirian, maka Abash akan terlihat sangat khawatir dan seakan tidak rela berpisah. Tapi apa yang terjadi tadi? Membuat Sifa merasa sedih. Bahkan, laki-laki itu tidak memberikan kecupan mesra di bibirnya.


"Apa Mas Abash merasa kecewa kepadaku?" lirih Sifa dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mengusap air mata yang sempat menetes ke pipinya.


"Nona, kita sudah sampai," ujar supir mengambil atensi Sifa. Sifa menoleh ke arah luar, benar saja jika mereka sudah sampai di bandara.


"Hmm? Ah ya, terima kasih banyak, Pak." Sifa pun turun dari mobil, dia menunggu supir menurunkan koper miliknya dengan sedikit melamun memikirkan sikap Abash tadi.


"Mau saya bantu hingga ke dalam, Nona?" tawar supir dengan ramah.

__ADS_1


"Tidak apa, Pak, saya bisa sendiri," tolak Sifa dan menarik kopernya sendiri masuk ke dalam bandara meninggalkan sopir perusahaan itu di sana. Langkah kaki Sifa pelan, dia merasa tidak bersemangat dengan tugasnya kali ini. Mengingat sikap dan bagaimana Abash tadi, bagaimana jika Abash marah dan tidak akan memaafkannya setelah dia kembali nanti?


Banyak hal yang Sifa pikirkan sedari keluar dari apartemen tadi. Membatalkan tugas ini pun rasanya mustahil.


Tak berselang waktu yang lama, mobil yang Abash tumpangi juga tiba di bandara, pria itu mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang istri.


"Den, ini kopernya," supir pun memberikan koper milik Abash. Terpaksa, Abash mengalihkan tatapannya dan mengambil alih koper.


"Ya, terima kasih banyak, Pak." Abash pun menarik koper dan masuk ke dalam bandara untuk melakukan chek in. Sambil berjalan, dia terus memperhatikan sekelilingnya masih mencari keberadaan sang istri.


"Eh, itu Sifa," gumam Abash saat melihat Sifa dan segera dia bersembunyi di balik tiang besar. Abash tidak ingin jika Sifa melihat keberadaannya. Ya, walaupun Abash sudah menyamar, tetap saja dia tidak ingin Sifa mengetahui keberadaan dirinya apa lagi dengan keadaannya yang seperti ini. Apa yang akan Sifa pikirkan jika melihatnya dengan penampilannya yang sekarang? Dan lagi, bagaimana jika ketahuan, maka semua rencana Papa Arka dan dirinya di pastikan akan berantakan.


Abash mengintip, melihat Sifa sudah menyelesaikan chek in, dia menunggu sebentar sampai Sifa duduk dan memainkan hp-nya di kursi yang ada di sana. Segera pria itu bergegas melakukan hal yang sama dengan langkah cepat dan pandangan awas, kalau-kalau Sifa menoleh dan mendapatinya seperti ini. Apa yang akan dia katakan nanti?


"Maaf, bisa Anda membuka topi?" tanya petugas saat Abash telah sampai di dekatnya. Dia merasa jika Abash terlihat mencurigakan dari gelagat mau pun penampilannya.


"Ah, ya." Abash membuka topi dan kacamata, sehingga membuat wajahnya terlihat dengan jelas oleh petugas.


"Baiklah, silahkan," ujar petugas setelah yakin jika Abash bukan orang yang patut dicuruigai. Wanita itu memberikan kembali identitas kepada si pemiliknya. Tampan, tapi sayang sekali laki-laki ini aneh menurutnya.


Koper yang Abash bawa pun sudah di timbang dan dimasukkan ke dalam antrian bagasi. Abash pun hanya berlenggang menuju ruang tunggu.


Abash mencari keberadaan Sifa yang untungnya masih ada di tempat yang sama, terlihat jika sang istri sedang duduk sendirian sambil memainkan ponselnya. Akan tetapi, ada hal lain yang membuat Abash merasa bersalah. Dari wajahnya dia dapat menebak, jika saat ini Sifa merasa kesal dan juga sedih.


"Maafin aku ya, Sayang," batin Abash merasa kasihan kepada Sifa.


Abash pun berjalan dengan perlahan dan duduk di belakang kursi Sifa, karena pria itu tidak ingin berjauhan dengan sang istri. Di dalam pikirannya, bisa saja kan jika di saat seperti ini ada laki-laki yang mendekati Sifa dan meminta berkenalan. Atau ....


Masih banyak hal yang Abash pikirkan, maka dari itu dia akan mengawasi dan memperhatikan sang istri sedekat mungkin, tapi tetap harus waspada dan tetap berusaha untuk tidak terlihat.


"Ck, Mas Abash nyebelin," gerutu Sifa kesal sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Dia masih ingat dengan Abash yang tidak mau mengantarkannya, padahal dia akan pergi jauh meskipun hanya ke Bali saja. “Awas aja kamu, Mas!”


Abash membulatkan mata, menarik topinya agar semakin menutupi wajahnya, takut jika sang istri mengetahui keberadaan dirinya.


Abash melirik, pria itu melihat jika sang istri sedang memandangi wajahnya di layar ponsel. Siapa yang menyangka, jika Sifa ternyata sedang menatap potret dirinya.


Abash pun mengulum senyuman di bibirnya, merasa jika dia adalah pria yang paling beruntung di dunia karena telah di cintai oleh wanita hebat seperti Sifa. Bunga-bunga bermekaran di dada Abash. Jika saja tidak ingat dengan kejutan yang akan dia berikan untuk istrinya, sudah pasti sekarang ini dia ingin mendekat, memeluk, dan tidak akan melepaskan Sifa, tidak peduli di mana mereka berada. Sayang, demi melancarkan misinya, dia harus menahan diri hingga waktunya tiba.


Panggilan untuk penumpang pesawat yang akan dinaiki oleh Abash dan Sifa pun mulai terdengar. Abash menundukkan kepalanya di saat Sifa berdiri, pria itu melakukan hal tersebut agar sang istri tidak mengenalinya. Setelah Sifa menjauh, barulah Abash bangkit dari tempat duduknya dan masih menjaga jarak dengan wanita itu.

__ADS_1


"Aku akan selalu berada di dekat kamu, sayang," batin Abash yang terus mengawasi sang istri.


__ADS_2