
"Kamu gak papa?" tanya suara lembut yang sangat ke ibuan.
Mata Sifa kembali terbelalak, dia tak percaya jika orang yang di tolongnya adalah salah satu ratu Moza.
"Sa-saya__" Sifa seolah kehilangan suaranya. Dia tak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat senyum yang sangat indah di wajah ratu Moza itu.
"Kamu Sifa kan?" tanya ratu Moza kepada Sifa sambil mengulurkan tangannya.
"Eh?"
Sifa ragu, haruskah dia menerima uluran tangan itu? Sedangkan tangannya saat ini sudah kotor terkena tanah. Sifa takut mengotori tangan ratu Moza itu.
"Kamu gak terluka kan?" tanyanya lagi.
Merasa tak enak, akhirnya Sifa menerima uluran tangan ratu Moza. Gadis itu membersihkan tangannya dulu sebelum menerima uluran tangan ratu Moza.
"Sa-saya baik, Buk," ujar sifa dengan gugup.
Sifa menahan napasnya saat melihat wajah keibuan yang sangat cantik sekali. Memang, Sifa sebelumnya pernah melihat ratu Moza yang ada di hadapannya ini, akan tetapi, tak sedekat ini juga jarak mereka.
"Kamu kenapa tahan napas begitu? Saya bau?" tanya Mama Kesya dengan kekehan kecil.
"Eh, eng-enggak kok Buk, ibu wangi banget. Sa-saya merasa gugup berada di dekat ibu," ujar Sifa jujur.
"Maaf, Nyonya besar, ini tasnya. Tuan muda Arash akan segera ke sini," ujar seorang pengawal.
"Iya, terima kasih."
Sifa membelakakkan matanya. Apa dia tak salah dengar? Seorang ratu Moza yang terkenal kaya raya, mengucapkan terima kasih kepada pengawalnya?
Wow, ini sungguh luar biasa. Jarang sekali ada orang kaya yang mengucapkan terima kasih kepada bawahannya.
"Ayo," ajak Mama Kesya kepada Sifa.
"Ke-kemana buk? Eh, Nyonya."
Mama Kesya terkekeh mendengar Sifa mengganti panggilannya. "Jangan panggil nyonya, panggil ibu juga boleh, kok."
Lagi, Sifa membelakakkan matanya, sehingga membuat Mama Kesya kembali tertawa.
"Kamu sebentar-sebentar melotot begitu, entar keluar loh matanya," ujar Mama Kesya sambil terkekeh.
"Eh," Sifa benar-benar gugup. Tak menyangka jika ratu Moza bisa seramah ini. Bahkan, sedikitpun tak merasa jijik untuk menyentuhnya.
"Ayo," ajak Mama Kesya lagi.
"Ma-mau kemana, Buk?" tanya Sifa saat melihat pintu mobil sudah di buka.
"Ke rumah sakit, kamu harus di periksa."
"Eh, gak-gak usah, Buk. Saya gak papa kok. Ini juga cuma lecet aja," ujar Sifa sambil menunjukkan telapak tangannya.
"Tetap aja harus di periksa, takutnya ada yang terkilir atau patah."
"Ta-tapi___"
"Saya gak terima penolakan ya," ujar Mama Kesya dengan lembut tapi tegas.
__ADS_1
Sifa serba salah. Dia memberanikan diri untuk melirik ke salah satu pengawal perempuan yang membukakan pintu mobil untuk Mama Kesya.
Pengawal itu memberi kode dengan matanya agar Sifa menuruti perintah sang ratu.
"Ba-baik. Tapi, sepeda saya__"
"Sepeda? Kamu ke sini naik sepeda?" tanya Mama Kesya.
Sifa menganggukkan kepalanya.
"Yang mana?"
"Di-di depan toko buku lama itu," ujar Sifa dengan gugup.
"Oh, ya udah. Itu biar jadi urusan pengawal saya. Ayo masuk," titah Mama Kesya dan masuk ke dalam mobil duluan.
Sifa dengan ragu menuruti perintah sang ratu. Belum lagi tatapan tajam yang di berikan oleh sang pengawal sangatlah menakutkan.
"Bernapaslah, jangan gugup gitu," ujar Mama Kesya masih dengan tertawa pelan.
"Eh, i-iya.."
Sifa menarik napasnya dan menghembuskannya secara perlahan. Sungguh, gadis itu benar-benar terlena dengan aroma parfume Mama Kesya.
Sesampainya di rumah sakit, kedatangan Mama Kesya dan Sifa sudah di smabut oleh Mama Anggun, Papa Leo, dan Lucas.
"Mbak kenapa?" tanya Mama Anggun kepada Mama Kesya.
"Aku gak papa, itu, Sifa yang terluka saat bantu aku menangkap copet."
"Hah? Mbak di copet? Mbak gak papa kan?" tanya Mama Anggun dengan khawatir.
"Yang mana sakit?" tanya Lucas kepada Sifa
"Cu-cuma lecet dikit aja kok, Pak."
"Ayo duduk," Titan Lucas untuk duduk di atas kursi roda.
"Sa-saya bisa jalan kok, Pak, yang sakit cuma telapak tangan saya aja," tolak Sifa gugup.
"Udah, duduk. Mau telapak tangan kamu yang sakit atau kening kamu, tetap aja yang namanya pasien harus diperlakukan dengan baik. Ayo duduk."
Mau tak mau Sifa menuruti ucapan Lucas. Setelah gadis itu duduk di kursi roda, perawat langsung mendorong kursi roda menuju IGD.
"Kamu kayaknya kenal sama Sifa?" bisik Mama Kesya.
"Oh, waktu itu Abash____" Lucas menutup mulutnya dengan segera, jangan sampai dia keceplosan tentang masalah itu. Lucas hanya tak mau di anggap tukang ngadu.
"Abash kenapa?"
Lucas berdehem pelan. "Itu, Abash pernah bawa Sifa ke rumah sakit karena kakinya terkilir."
Setidaknya Lucas tak sepenuhnya berbohong kan?
Mama Kesya pun menganggukkan kepalanya.
Seluruh keluarga yang mendapatkan kabar jika Mama Kesya di copet dan berada di rumah sakit pun, langsung bergegas menuju rumah sakit. Jangan di tanya seberapa hebohnya keluarga saat mendapatkan kabar tersebut.
__ADS_1
"Hanya lecet di siku dan telapak tangan saja," ujar Lucas setelah memberikan perbn kepada lengan dan telapak tangan Sifa.
Sreeet ...
"Sayang."
Seluruh mata langsung tertuju kepada pria yang tak terlihat muda tapi masih terlihat sangat tampan.
"Kamu gak papa?" tanya Papa Arka sambil menangkup wajah Mama Kesya.
"Aku gak papa, Mas. Tapi ini, Sifa terluka karena tolongin aku."
"Sifa?"
Papa Arka langsung menoleh ke arah gadis yang sedang duduk di atas brankar.
"Kamu gak papa?" tanya Papa Arka.
Sifa membeku. Matanya tak berkedip menatap bos besar berada di hadapannya menanyakan keadaannya.
Papa Arka masih menunggu jawaban Sifa, tapi gadis itu malah seolah menahan napasnya.
'Bernapaslah, sifa.' batinnya.
Lucas mengayunkan tangannya di depan wajah Sifa. "Hei, kamu gak papa?"
Baru saja Sifa menoleh, tiba-tiba datang lagi seorang wanita canti bersama pria tampan.
"Mama, Mama gak papa? Kok bisa kecopetan sih?" gerutu wanita itu.
"Mama gak papa, kok. Untung ada Sifa yang bantuin nangkap pencopetnya."
"Sifa?"
Quin menoleh kearah gadis yang duduk dengan tegap di atas brankar, bahkan wajah gadis itu sudah terlihat pucat.
"Kamu gak papa?" tanya Quin menghampiri Sifa.
Sifa semakin sulit bernapas. Dia saat ini serasa berada di antara malaikat-malaikat yang cantik dan tampan.
'Apa saat ini aku sudah di surga?' batin Sifa.
Tak berapa lama, Abash datang berbarengan dengan Veer dan Nafi ,sama halnya seperti yang lain, mereka merasa khawatir dengan keadaan sang mama.
"Mama? Mama baik-baik aja kan" tanya Abash sambil melihat kondisi sang Mama.
"Mama baik-baik aja, siapa sih yang bikin heboh gini?" tanya Mama Kesya sambil terkekeh.
Abash menghembuskan napas lega. Saat dia menoleh ke arah brankar, Abash terkejut saat melihat Sifa berada di sana.
"Loh, kamu kok di sini?"
Sifa yang sedari tadi menahan napas pun, akhirnya kehilangan kesadarannya.
"Eh, Sifa...."
...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....
__ADS_1
...Salam sayang dari Abash n Sifa...
...Follow IG Author : Rira Syaqila...