
"Huuff, akhirnya selesai juga," lirih Putri sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Hai, Put. Gimana hari ini? Mantap?" tanya Sonia, teman sekantor Putri.
"Lumayan, Kak," jawab Putri sambil tersenyum.
"Oh ya, malam ini kamu ada ke mana?" tanya Sonia sambil mendudukkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Putri.
"Gak ke mana-mana sih, di rumah aja. Kenapa, Kak?" tanya Putri balik.
"Dugem yuk, rayain gabungnya kamu di firma hukum kita," ajak Sonia dengan tersenyum.
"Duh, gak deh Kak kalau yang itu. Dosa," kekeh Putri.
"Yaah, kamu ini," rengek Sonia. "Sekali-sekali Put. Nikmati hidup, hilangin penat di kepala," bujuk Sonia.
"Duh, Kak. kalau dugem, aku mundur deh. Karena memang aku gak suka dugem-dugeman, apa lagi minum-minum," tolak Putri. "Sekali lagi maaf ya, kak."
"Ayo lah, Put. Kita pergi ke dugem yang ada minuman jusnya. Mau ya, yukk... yukk, mau yaa," bujuk Sonia.
"Kak, Putri benar-benar minta maaf, ya. Putri gak bisa. Maaf ya, gak bisa gabung kalau ke sana," tolak Putri lagi dengan nada yang halus.
"Gak usah di paksa kalau gak mau, Son. Orang alim kok Lo paksa sih," ejek Yani.
__ADS_1
Putri hanya tersenyum kecut mendengar ucapan teman sekantornya itu. Baru beberapa hari dia di sini, tetapi wanita yang bernama Yani itu pun langsung menunjukkan sifat jika dirinya tak menyukai Putri.
Menurut kabar yang Putri dengar, kasus perceraian artis terkenal itu seharusnya dia yang menangani, akan tetapi karena nama Putri lebih terkenal dari namanya, makanya kasus tersebut langsung di alihkan ke Putri. Hal itulah yang membuat Yani tidak menyukai Putri.
"Hmm, bukannya maksa, tapi gue bujuk dia biar mau ikut gabung sama kita. Secara kan Putri ini baru di tim kita, jadi boleh dong kita rayakan hari bergabungnya Putri di tim kita," bela Sonia.
"Serah Lo, deh. Kalau gue ogah maksa-maksa gitu. Sok penting banget jadi orang," cibir Yani dan meninggalkan ruangan tersebut.
Putri hanya menghela napasnya pelan, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan teman seprofesinya itu.
"Put, gak usah di ambil pusing ya ucapan Yani. Dia mah emang suka gitu, judes gak menentu. Sebenarnya dia orangnya baik loh," ujar Sonia.
"Iya, Kak," jawab Putri seadanya saja.
"Iya, boleh. Kalau itu aku gak masalah, Kak," jawab Putri.
"Oke deh kalau gitu, besok yaaa ..," ujar Sonia mengingatkan kembali.
"Iya, insya Allah."
Sonia pun bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada Putri, karena memang saat ini sudah di jam waktunya pulang kerja.
Sekali lagi, Putri menghela napasnya pelan dan berat, gadis itu benar-benar berharap dan berdoa agar dirinya tak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Hal itu jugalah yang membuat Papa Satria dan Bara merasa khawatir, jika Putri merantau jauh dari mereka. Yaa, walaupun Jakarta - Bandung sebenarnya tidak jauh, akan tetapi bagi keluarga Putri, itu tetaplah jauh.
__ADS_1
Kekhawatiran Papa Satria dan Bara bukannya tidak beralasan, tetapi mereka tahu bagaimana polosnya Putri dalam berteman,. Walaupun Putri bisa menjaga dirinya sendiri dengan bela diri yang dia kuasai, tetap saja kepolosan gadis itu selalu di manfaatkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
Putri pun membereskan mejanya, kemudian dia pun mengambil tas dan juga beberapa berkas yang harus dia pelajari nanti malam, serta laptop sebagai penunjang kinerja kerjanya.
"Hmm, andai saja punya mobil, pasti gak kesusahan gini," lirih Putri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.
"Kira-kira Luna bisa gak ya temani aku cari mobil?" batin Putri.
"Coba aku telpon aja deh." Putri pun mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, kemudian dia mencoba menghubungi sang sahabat.
Terdengar beberapa kali nada sambung, akan tetapi si pemilik nomor tidak juga mengangkat panggilannya.
"Hmm, ya udah deh. Mungkin dia lagi sibuk," batin Putri dan menyimpan kembali ponselnya.
Ting ...
Pintu lift pun terbuka, Putri kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lift. Gadis itu pun teringat dengan perkataan Mama Kesya, yang mengatakan jika di dekat apartemen Putri, terdapat toko kue milik wanita paruh baya itu.
"Hmm, makan cake enak kali ya," batin Putri.
Gadis itu pun kembali mengeluarkan ponselnya, kemudian dia membuka aplikasi taksi online. Seketika bayangan wajah Arash yang menjadi tukang ojek pun, terlintas di dalam benaknya.
"Hehee, ada-ada saja Pak Arash. Bisa-bisanya jadi tukang ojek online dia," lirih Putri sambil terkekeh.
__ADS_1