Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 410


__ADS_3

Abash benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran Nola. Wanita itu begitu terang-terang mencari perhatian dari dirinya. Tapi, dia juga seolah ingin menjalin hubungan yang akrab dengan Sifa. Lihat saja cara wanita itu mengajak Sifa bercanda. Tapi, mata Nola selalu terus melirik dan mencuri pandang ke arah Abash.


Ini adalah hari terakhir dirinya dan Sifa berada di Bali. Padahal Abash berharap jika di hari terakhir mereka di sini, mereka bisa mendapatkan pengalaman yang baru. Misalnya seperti jalan-jalan keliling-keliling Bali yang bisa mereka datangi.


"Gimana, Mbak Sifa? Makanannya enak, kan?" seru Nola yang terlihat akrab dengan Sifa.


Yang awalnya tadi dengan panggilan Nyonya, sekarang sudah berganti dengan panggilan Mbak. Entah bagaimana ceritanya, sehingga membuat Nola memanggil Sifa dengan panggilan 'Mbak'.


"Iya, makanannya enak," jawab Sifa dengan tersenyum.


Ya, jujur saja, memang makanannya benar-benar enak. Sifa tidak berbohong akan hal itu.


"Mbak sudah jalan-jalan ke mana aja?" tanya Nola kepo.


"Hanya sekitar sini aja, Mbak," jawab Sifa sopan.


"Duh, kenapa hanya di sekitar sini aja, siih? Bali itu indah loh. Gimana kalau habis makan kita pergi jalan-jalan? Saya akan membawa kalian ke tempat-tempat wisata yang sering di kunjungi oleh para turis, gimana?" tawar Nola.


"Tidak apa, kami bisa pergi berdua saja," tolak Abash sopan.


"Oh, ayolah. Pak Abash dan Mbak Sifa ini tamu penting dan juga kolega dari papa saya, gak mungkin kan saya mengabaikan kedatangan Pak Abash dan Mbak Sifa?" ujar Nola yang sepertinya tidak ingin mendengar kata penolakan.


"Pokoknya kalian harus ikut dengan saya. Ayo," ajak Nola yang sudah menarik tangan Sifa untuk ikut bersamanya.


Abash hanya bisa menghela napasnya pelan, kemudian pria itu pun ikut berdiri dan mengikuti Nola dan Sifa. Sebelumnya dia membayar dahulu makanan yang telah mereka santap dengan sangat lahapnya.


"Mbak Sifa ini unik, ya. Gak suka makan nasi," kekeh Nola yang sudah merangkul lengan Sifa.


"Iya, begitulah."


"Sudah sejak kapan, Mbak?" tanya Nola kepo.


"Em, sejak kecil."


"Tapi syukurnya Mbak Sifa sehat ya, karena tidak makan nasi," kekeh Nola yang terdengar garing di telinga Abash.


"Iya, begitulah," jawab Sifa sambi menganggukkan kepalanya.


Nola pun berbalik untuk berhadapan dengan Abash. "Pak Abash suka makanan apa saja?" tanya Nola yang terdengar sok akrab di telinga Abash.

__ADS_1


"Apa saja, yang penting halal dan bersih," jawab Abash cepat.


"Oh, begitu. Saya juga suka makanan apa saja. Bisa sama gitu, ya?" kekeh Nola lagi.


"Banyak kok yang sama seperti saya, bukan Anda saja," jawab Abash dengan malas.


"Hhaahaha, Pak Abash lucu, ya," tawa Nola dan sengaja tersenyum menggoda ke arah Abash.


"Oh ya, ayo ke sana, Mbak." Nola pun menarik kembali tangan Sifa untu mengikutinya.


Dengan terpaksa, Sifa jadi mengikuti wanita itu. Abash kembali menggerutu kesal, padahal dia sudah berencana untuk lepas dari Nola.


"Pak Abash, cantikkan," tanya Nola sambil mengnakan sebuah topi.


Abash hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. Nola pun membayar topi yang dia pakai. Wanita itu ingin terlihat sama dengan Sifa yang saat ini memang memakai topi bundar pantai.


Abash, Sifa, dan Nola pun berjalan menuju di mana mobil Abash berada. Nola langsung membuka pintu penumpang bagian belakang dan masuk ke dalamnya.


"Seharusnya aku memakai mobil sport yang gak ada bangku penumpangnya," batin Abash yang merasa benar-benar kesal dan tidak nyaman atas keberadaan Nola.


"Maaf," lirih Sifa yang di lihat oleh Abash.


"Yang bener ini pertama kalinya Mbak Sifa ke Bali?" tanya Nola tak percaya.


"Iya, ini pertama kalinya," jawab Sifa sambil tersenyum.


"Masa sih orang kaya gak pernah ke Bali? Mustahil banget. Atau nih cewek gak tinggal di Indonesia?" batin Nola menerka-nerka. "Atau jangan-jangan dari desa lagi," sambungnya lagi dalam hati.


"Kalau Pak Abash sendiri bagaimana? Apa ini juga pertama kalinya ke sini?" tanya Nola yang sudah memajukkan duduknya dan berada di tengah-tengah antara kursi Sifa dan Abash.


Nola dapat menghirup aroma tubuh Abash yang begitu menyegarkan dan memanjakan hidungnya. Dia benar-benar dimabukkan oleh penampilan dan aroma tubuh Abash.


"Tidak," jawab Abash pelan dan cepat.


"Apa itu artinya Pak Abash sering ke sini?" tanya Nola lagi, tapi kali ini sepertinya Abash enggan untuk menjawab.


Nola pun mencoba bersabar, dia harus perlahan-lahan untuk mendekati pria incarannya sebelum melancarkan aksinya. Nola pun kembali berbincang dengan Sifa, entah apa yang mereka bincangkan, yang jelas ada saja bahan perbincangan yang Nola bangun agar bisa terus berbicara dengan Abash dan Sifa.


Abash pun memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang sering di datangi oleh para turis lokal ataupun manca negara.

__ADS_1


"Ayo, Mbak." ajak Nola dan menarik tangan Sifa, sehingga membuat wanita itu menjauh dari Abash.


"Eughh, sungguh menyebalkan," geram Abash dengan begitu kesalnya.


Abash pun terpaksa mengikuti Sifa dan Nola yang sedang melihat-lihat pemandangan sekitar dan cakrabudaya yang ada di sana.


"Sepertinya di sana sedang ada pertunjukkan, gimana kalau kita menonton?" ajak Nola yang kali ini benar-benar di angguki oleh Sifa.


Sifa ingin melihat tarian khas Bali yang saat ini sedang dipertontonkan ke para turis yang berjalan di area itu. Nola dan Sifa sudah berdiri dan bergabung di kerumunan pengunjung yang lain, terlihat mereka berdua sedang asyik menonton tarian khas Bali tersebut.


"Itu namanya tarian apa?" tanya Sifa kepada Nola.


"Oh, itu namanya tarian legong," jawab Nola.


Sifa terlihat begitu menikmati tarian tersebut, begitu pun dengan Nola. Perlahan, Abash menarik tangan Sifa dan memintanya untuk mundur. Sifa menurut atas perintah sang suami, hingga saat ini jarak antara dirinya dan Nola mulai menjauh.


"Ayo, kita pergi, sebelum dia sadar jika kamu tidak berada di sampingnya, sayang," bisik Abash yang mana membuat Sifa mengernyitkan keningnya.


"Lalu, bagaimana dengannya?" tanya Sifa dengan berbisik pula.


"Dia tahu daerah sini, jadi dia bisa pulang sendiri." Abash pun menarik tangan Sifa, mengajak wanita itu untuk berlari menjauh dari Nola, sebelum wanita itu sadar.


"Ya ampun, Mas, kamu benar-benar jahat, deh," kekeh Sifa dengan apa yang telah diperbuat oleh sang suami.


"Habisnya nyebelin. Gak tau apa kalau aku hanya ingin berdua saja dengan kamu?" rajuk Abash dan menyuruh Sifa untuk masuk ke dalam mobil.


"Mas yakin ini beneran gak kenapa-napa? Ntar kalau Nola mengadu kepada papanya gimana?" tanya Sifa merasa khawatir di saat Abash sudah masuk ke dalam mobil.


"Aku gak takut, lagian ngapain dia mengganggu waktu kita bersama." Abash pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Di sisi lain, Nola merasa jika dirinya tidak lagi mencium aroma parfume Sifa, sehingga membuatnya menoleh ke arah samping, di mana Sifa berada tadi.


"Loh, ke mana mereka?" tanya Nola entah kepada siapa.


Wanita itu pun melihat ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan Abash dan Sifa, tetapi dia tidak juga menemukannya.


"Jangan-jangan mereka?" duga Nola dan langsung berlari menuju di mana Abash memarkirkan mobilnya tadi.


"Sialan, mereka ternyata benar-benar meninggalkan aku," geram Nola. "Gagal deh rencana gue untuk menjebak Abash kalau begini," lirihnya dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2