
PoV Arash
Semenjak kepergian Putri, aku selalu menahan air mataku agar tidak keluar. Walaupun aku selalu gagal melakukannya, akan tetapi aku selalu berusaha agar tidak terisak dan berlarut-larut menangisi kepergian istriku. Bukannya aku tidak cinta, akan tetapi aku hanya tidak ingin membuat Putri tersiksa di saat melihat aku menangis sesenggukan karenanya. Aku tidak ingin membuat Putri merasa sedih di alamnya saat ini.
Tapi, untuk kali ini aku tidak bisa menahan tangisku lagi. Aku tidak bisa menahan kesedihan yang sudah beberapa bulan ini aku pendam. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku pun melepaskan semua beban ini di dalam pelukan Abash. Aku luapkan semua emosiku di dalam pelukan kembaranku itu.
Puas rasanya setelah meluapkan perasaan ini di dalam pelukan kembaranku. Walaupun aku belum sepenuhnya ikhlas dan menerima kepergian Putri, setidaknya aku sudah mengutarakan segala isi hatiku kepada kembaran--Abash. Aku tahu, dia terluka karena sikapku yang terkesan ketus kepada istrinya. Tapi sungguh, aku tidak sengaja melakukan hal itu. Aku hanya terbawa perasaan saja, karena aku benar-benar begitu merindui sosok Putri.
Setiap hari-hari yang aku jalani bersamanya, menjadi kenangan yang paling berarti untukku. aku menyesal, karena tidak meluangkan lebih banyak waktuku lagi untuk dia. Andai saja waktu bisa di ulang kembali!
Aku akan berhenti dari kepolisian agar bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan istriku tercinta.
Jujur saja, aku menjadi seorang polisi bukan karena ini adalah cita-citaku yang sesungguhnya. Aku ingin menjadi seorang polisi, karena ingin membuktikan kepada dunia, jika tidak semua polisi itu seburuk yang mereka pikirkan. Dan juga, aku tertarik dengan seragam yang selalu di pakai oleh Daddy Bara. Seragam coklat yang terlihat begitu gagah saat di pakai oleh beliau.
Mungkin itulah alasanku menjadi seorang polisi, hingga akhirnya dapat meraih berbagai macam pernghargaan yang aku miliki saat ini. Penghargaan yang membuat Mamaku merasa bangga dan menegakkan bahunya. Aku sudah bersumpah, jika aku akan menjadi seorang polisi yang jujur dan adil.
Tapi, entah mengapa semenjak aku kehilangan Putri, Aku merasa jika menjadi seorang polisi bukanlah pilihan yang tepat untukku. Aku terlalu sibuk di kantor dan di perusahaan, sehingga membuat waktuku lebih sedikit bersama kekasih hatiku. Andai saja waktu bisa terulang kembali, maka aku akan memilih menjadi seorang pengusaha, agar aku bisa mengatur waktu kerjaku sendiri dan menghabiskan hari-hariku bersama Putri--istri tercintaku.
Ya Allah, maafkan aku yang begitu mencintai mahkluk ciptaanmu, melebihi cintaku kepada-Mu. Ya Allah, apakah ini bentuk rasa cemburu-Mu kepadaku? Sehingga Engkau memisahkan aku dengan istriku?
Aku tahu, dia milik-Mu seutuhnya. Tapi, tak bisakah Engkau membiarkan aku memiliki waktu lebih banyak lagi dengan istriku?
Ya Allah, maafkan kesalahan dan keegoisanku. Tolong jaga dia di surgamu.
__ADS_1
Aku memandang wajah putraku yang sedang bermain dengan Shaka. Adik bungsuku itu terlihat begitu menyayangi putra sulungku. Tapi, di mana Yumna? Perasaan tadi aku mendengar tangisannya.
Aku mencari keberadaan Yumna di sekitar sanak saudaraku, tak ku temukan putri kecilku itu dalam gendongan Mama dan mertuaku. Bahkan, dalam gendongan saudara-saudaraku pun juga tidak. Di mana Yumna?
Aku pun melangkahkan kaki menuju kamar Yumna, aku berharap putri kecilku berada di sana. Langkahku terhenti, di saat aku baru saja membuka pintu kamar Yumna yang memang tidak tertutup rapat. Darah ini berdesir, di saat aku melihat sosok yang begitu aku rindui. Jantungku berdegup cepat, berharap jika apa yang aku lihat ini bukanlah khayalan. Perlahan, aku langkahkan kakiku untuk mendekat ke arah objek yang saat ini sedang aku pandang. Aku berharap jika ini bukanlah mimpi. Aku berharap jika yang aku lihat benar-benar dia, istriku.
"Putri?"
Satu tetes air mataku terjatuh di saat melihat wanita yang tidur bersama putri kecilku benar-benar nyata. Wanita yang berada di samping Yumna memang benar istriku.
Aku pun semakin mendekatkan langkahku, ingin rasanya segera ku rengkuh tubuh ramping itu. Memeluknya dengan penuh cinta yang aku miliki hanya untuknya.
"Rash, kamu di sini?"
"Mas Arash?"
Tubuhku terasa lemas, darahku seolah tidak mengalir. Bahkan, aku merasa jantungkuk seperti seakan berhenti dalam detik ini juga.
Hampir saja aku memeluk orang yang salah. Untunglah Mama datang dalam waktu yang tepat. Jika tidak, mungkin aku sudah …
Akhh, aku tidak sanggung membayangkannya. Aku akan semakin merasa bersalah terhadap Putri.
"Rina, kamu di sini?" Mama Kesya menghampiri Rina, wanita yang tidur di atas kasur bersama Yumna.
__ADS_1
"Iya, Tante, tadi Rina menemani Zia menidurkan Yumna ke kamar. Eh, gak taunya malah Rina yang yang ketiduran. Maafin Rina, Tante," ucap Rina sambil bangkit dari tempat tidur.
Aku melihat Mama Kesya tersenyum dan berjalan mendekat ke arah kami. Tapi, tunggu. Jika Rina mengatakan dia bersama dengan Zia, di mana adik iparku itu? Kenapa dia tidak terlihat berada di dalam kamar?
"Gak papa kok, Rin. Lagi pula kamu pasti merasa lelah karena sudah membantu banyak," ujar Mama Kesya dengan tersenyum.
"Gak papa kok, Tan, Rina senang bisa membantu. Lagi pula, Rina memang sayang anak-anak," sahutnya dengan tersenyum manis sambil mencuri pandang ke arahku.
Aku tersenyum tipis, entah mengapa aku menangkap arti lain dari perkataannya itu. Di tambah lagi, lirikan mata Rina seolah jika wanita itu tertarik denganku. Tak tahukah dia, jika aku tidak akan pernah lagi membuka hatiku untuk wanita mana pun? Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri dan almarhum istriku, jika tidak akan menggantikan posisinya di hatiku dengan wanita mana pun. Lagi pula, cinta dan kasih yang aku berikan untuk Yumna dan Rayyan, aku rasa cukup untuk mereka berdua. Banyak kok di luar sana yang bertahan tanpa menikah lagi, dan mereka semua berhasil mendidik anaknya dengan penuh cinta, serta kasih sayang yang dapat di berikan oleh seorang ayah, yang juga merangkap sebagai seorang ibu.
Aku yakin, jika aku pasti mampu memberikan yang terbaik untuk anak-anakku, tanpa ibu sambung dari wanita mana pun.
"Oh ya, Zia mana?" tanya Mama Kesya. Pertanyaan itu juga menjadi pertanyaanku tadi kan? Di mana adik iparku itu?
"Oh, Zi-zia … Emm, Rina juga gak tahu, Tante. Mungkin saat Rina tertidur, Zia keluar kamar deh," jawab Rina.
Aku terus memandang ke arah Rina, memperhatikan apakah wanita itu berbohong apa tidak demi mendapatkan perhatian dariku atau mama. Tapi, saat aku menelisik raut wajahnya, aku tidak melihat kebohongan apa pun yang di pancarkan oleh wanita itu. Apa dia memang berkata jujur?
"Oh begitu," ucap Mama Kesya dengan suaranya yang pelan. "Em, berhubung Arash sudah ada di kamar, sebaiknya kita keluar yuk, Rin," ajak Mama Kesya sambil mengulurkan tangannya kepada Rina. "Biar Arash yang menjaga Yumna."
"Iya, Tante."
Rina pun berjalan melewatiku, terlihat wanita itu menundukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum manis. Aku hanya membalas anggukan kepalanya tanpa membalas senyuman gadis itu. Jujur saja, aku tidak ingin memberikan harapan apa pun kepada Rina, maupun wanita mana pun. Seperti yang aku katakan tadi, jika aku benar-benar ingin membiarkan posisi Putri kosong dan tidak akan pernah di gantikan oleh siapa pun. Aku tidak akan pernah membiarkan anak-anakku mendapatkan sosok ibu, selain dari ibunya. Aku tidak akan membuat anak-anakku melupakan ibu kandungnya dan lebih mencintai ibu sambungnya.
__ADS_1
Tidak, aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Aku tidak akan pernah membiarkan sosok Putri tergantikan sampai kapan pun. Tidak akan pernah ada wanita yang akan bisa menggantikan sosok Putri di dalam hati aku. Tidak akan pernah.