
Zia menatap lurus ke arah Arash yang sedang membawakan minuman untuk dirinya. Teman-teman Zia yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing, setelah memberikan laporan kepada pihak kepolisian, sedangkan Zia, gadis itu masih bersama Arash, di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor polisi.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Arash setelah meletakkan minuman dingin di hadapan Zia.
"Baik, Mas Arash?"
"Seperti yang kamu lihat," jawab Arash sambil tersenyum.
Zia masih menatap lurus ke arah Arash, apa pria itu benar-benar baik saja selama hampir dua tahun ini? Apa rambut gondrong, kumis dan jenggot yang berantakan, serta pakaian yang tidak rapi, itu bisa di katakan baik-baik saja?
"Kenapa gak bilang kuliah di sini?" tanya Arash mencari pembahasan.
"Karena itu tidak penting," jawab Zia pelan.
"Zia, kalau kamu kuliah di sini. Kan Mas bisa perhatiin kamuu----"
"Itu tidak perlu, Mas." potong Zia cepat.
Arash mengernyitkan keningnya, dia merasa ada yang lain dengan adik dari kekasihnya itu.
__ADS_1
"Ada apa, Zia?" tanya Arash.
"Maaf, Mas, aku harus kembali pulang. Mas Bara pasti sedang menungguku," sahut Zia dan bangkit dari duduknya.
Arash semakin mengernyitkan keningnya, karena merasa ada sesuatu yang berbeda, di mana Zia sedang merahasiakan sesuatu yang besar darinya. Zia bersikap berubah, dia seolah menghindar dari Arash sejak beberapa bulan yang lalu.
"Apa ada yang salah?" lirih Arash menatap lurus ke arah Zia yang sudah menjauh darinya. Bahkan, Zia tidak menyentuh minumannya sama sekali.
Di luar cafe.
Zia menghela napasnya pelan, gadis itu sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak terjatuh. Zia pun mempercepat langkahnya menuju mobilnya.
"Jika aku mengatakannya, maka kasih sayang Mama pasti akan kembali terfokus ke Mbak Putri. Mama pasti akan membenci aku, karena aku telah merahasiakan jika Mbak Putri masih hidup. Hiks ... "
Zia menghapus air matanya dengan kasar.
"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau Mama mengabaikan ku lagi. Aku hanya ingin Mama fokus terhadap diriku saja."
*
__ADS_1
Abash kembali merasa kesal, karena Papa Arka menyuruh Arash untuk menghadiri meeting yang ada di London. Ya tentu saja Papa Arka menyuruh Arash, karena pria itu ikut andil dalam perusahan Moza. Sedangkan Abash? Pria itu hanya fokus kepada perusahaannya sendiri yang sedang berkembang dengan pesat.
"Pa, biarkan Abash yang ke London," rengek Abash dengan memohon.
"Kamu itu tidak mengerti, sedangkan Arash, dia memang sudah bergabung dengan perusahaan keluarga kita," ujar Papa Arka.
"Kalau begitu Abash akan ikut dengan Arash," putus Abash tak ingin di bantah.
Sudah satu tahun lebih dia tidak bertemu dengan Sifa. Rasa rindunya pun semakin membuncah. Mama Kesya benar-benar memantau pergerakan dirinya untuk bertemu dengan pujaan hati.
"Bash, kamu kan harus ke Rusia," tegur Mama Kesya.
"Abash bisa membatalkan pertemuan itu.'
"Bash, kamu harus bisa bersikap profesional. Jika bukan hal yang penting dan mendadak, sebaiknya kamu jangan membatalkan pertemuan penting. Kamu harus ingat, kamu harus bisa bedakan yang mana yang urusan pribadi dan pekerjaan. Mengerti?" ujar Papa Satria mengingatkan.
"Iya, Pa. Abash mengerti."
Dan kali ini, Abash lagi-lagi tidak bisa bertemu dengan Sifa.
__ADS_1