
"Pak, apa yang Bapak lakukan ini salah," ujar Putri saat dirinya sudah berada di dalam mobil.
"Tidak ada yang salah, karena keselamatan Anda sedang terancam saat ini. Kalau saya tidak mencegah Anda naik ke mobil tadi, saya tidak menjamin jika Anda bisa selamat sampai rumah atau rumah sakit," tekan Abash
"Pak, Saya itu tadi mau minta maaf ke supirnya, kalau saya mau cancel pesanannya. Yang saya maksud, kenapa Bapak malah narik tangan saya seperti tadi? Apa Bapak gak takut kalau ada yang mengambil foto kita dan menyebar luaskannya? Apa kata pacar Bapak nanti?" sembur Putri.
Abash mengerjapkan matanya, apa yang Putri katakan tadi ada benarnya juga.
"Saya gak mau ya, di tuduh jadi pelakor," ketus Putri.
"Kenapa saya gak kepikiran ke sana, ya?" gumam Abash.
"Makanya, lain kali jangan gegabah, Pak," tegur Putri. "Ya udah, sekarang mau diem di sini aja atau jalan?" tanya Putri yang mana mengambil atensi Abash.
Pria itu pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan kantor firma hukum di mana Putri mengais rezeki.
Tak ada obrolan di antara mereka, karena Putri dan Abash sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Putri mengernyitkan keningnya di saat melihat arah yang di tuju oleh Abash, bukanlah arah jalan pulang ke apartemennya.
"Kita mau ke mana?" tanya Putri dengan kening mengkerut.
"Ke suatu tempat," jawab Abash tanpa menoleh.
Tak berapa lama, mereka pun tiba di Dojo--tempat untuk berlatih bela diri.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Putri.
"Ayo turun," ajak Abash tanpa menjawab pertanyaan Putri.
Putri pun mengangguk dan turun dari mobil, mata gadis itu menatap binar ke arah pemuda-pemuda yang sedang berlatih bela diri.
"Woow, keren," lirih Putri pelan yang masih di dengar oleh Abash.
"Ayo, masuk," ajak Abash saat sudah membukakan pintu untuk Putri.
"Terima kasih."
Putri kembali menatap dengan binar, orang-orang yang ada di dalam sana. Tak hanya pria, tetapi juga ada wanita yang sedang berlatih bela diri, dan mereka semua, terlihat keren di mata Putri.
"Om," sapa Abash kepada Om Jodi.
"Ya," jawab Om Jodi dengan tersenyum, kemudian dia menoleh ke arah murid-muridnya yang sedang berlatih bela diri. "Lanjutkan," titahnya dan mengajak Abash untuk ke tempat yang lebih nyaman untuk berbicara.
"Apa gadis ini yang ingin di lindungi?" tanya Om Jodi.
__ADS_1
"Iya, Om. Ah ya, Putri, kenalin ini Om Jodi. Pengawal Papa aku sekaligus pelatih di Dojo ini," ujar Abash memperkenalkan.
"Putri, Om" ujar Putri sambil mengulurkan tangannya.
"Kalian sudah sampai?" Suara bariton yang Putri kenali pun membuat gadis itu menoleh ke belakang.
"Loh, Bapak kan polisi yang tadi?" ujar Putri.
Daddy Bara pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, Dojo ini milik saya dan istri," ujar Daddy Bara.
"Ah gitu," lirih Putri.
"Jadi ini yang namanya Putri?" tanya Bunda Sasa dengan tersenyum lembut.
"Iya, Tante. Saya Putri," ujar Putri dengan sopan.
"Katanya kamu bisa bela diri?" tanya Bunda Sasa.
Abash mengernyitkan keningnya, begitu pun dengan Daddy Bara.
"Dikit, Tante," jawab Putri dengan malu-malu.
"Bunda dari mana tau kalau Putri bisa bela diri?" tanya Daddy Bara.
Daddy Bara pun ber-o ria mendengar jawaban sang istri.
"Sore, Sensei," ujar seorang pria yang yang tidak Putri kenali.
"Nona Putri, perkenalkan, ini Awal, dia yang akan menjadi pengawal bayangan kamu selama," ujar Abash memberi tahu.
"Pengawal bayangan? Maksudnya?" tanya Putri tak mengerti.
"Bukankah kita sudah sepakat tadi saat di kantor polisi? Jika Nak Putri akan di lindungi oleh pengawal bayangan," jawab Daddy Bara.
"Iya, Pak, tapi saya kan belum sepenuhnya setuju. Setidaknya kasih saya waktu untuk berpikir dulu," ujar Putri.
"Ini untuk keamanan kamu, Put. Kita gak tau apa yang akan di lakukan Yosi. Dia adalah penjahat berdarah dingin," tegar Daddy Bara.
"Iya, tapi---,"
"Boleh Bunda bicara berdua sama kamu?" potong Bunda Sasa dan tersenyum dengan lembut kepada Putri.
"Iya, Tante, silahkan."
__ADS_1
Bunda Sasa pun mengajak Putri ke tempat yang lebih tenang. Di mana mereka bisa berbicara empat mata tanpa ada gangguan.
"Putri, kami di sini tidak bermaksud untuk membuat privasi kamu terganggu. Tapi, kami di sini memikirkan keselamatan kamu, Nak. Kami bukannya bermaksud untuk mengusik privasi kamu, tetapi sekali lagi, ini demi keselamatan kamu, demi kebaikan kamu sendiri," ujar Bunda Sasa dengan lembut.
"Memang, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya. Akan tetapi, tidak ada salahnya kan jika hanya untuk berjaga-jaga?"
Putri mendengarkan semua nasehat dari Bunda SSa, gadis itu pun menyetujui apa yang di katakan oleh wanita paruh baya yang berbadan mungil tersebut. Lagi pula, Putri juga tak ingin membuat keluarganya khawatir, jika terjadi sesuatu dengan dirinya.
Untuk mengadu kepada Bara--sang adik pun, itu tidak mungkin Putri lakukan, karena sudah bksa di pastikan, jika Bara akan menyuruhnya kembali ke Bandung. Sedangkan dirinya ingin membuktikan kepada orang-orang yang memandangnya remeh, karena mengantongi nama besar sang papa di balik kesuksesannya sebagai pengacara hebat.
"Baik, Tante. Saya terima pengawal bayangannya kalau begitu," ujar Putri akhirnya.
"Alhamdulillah. Ah ya, satu lagi. Jangan panggil Tante ke Bunda. Tapi panggil Bunda aja. Bunda Sasa," pinta Bunda Sasa yang di angguki oleh Putri.
"Baik, Bun-da,"
"Terdengar manis sekali. Ayo, kita temui mereka semua."
Putri dan Bunda Sasa pun kembali menemui Daddy Bara dan yang lainnya, mereka ikut senang di saat mendapatkan kabar jika Putri menyetujui usul dari Daddy Bara.
"Ah ya, berapa yang harus Putri bayar?" tanya gadis itu kepada Om Jodi.
"Tidak perlu, karena sudah di bayar oleh Abash," jawab Om Jodi yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.
"Anda yang bayar? Kenapa?" tanya Putri bingung, pasalnya tidak ada hal yang harus membuat Abash sebaik ini kepadanya, kan?
"Karena saya juga ikut andil dalam kesalahan ini," jawab Abash yang di angguki oleh Putri.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Padahal Anda tidak perlu melakukan sejauh ini," ujar Putri dengan tersenyum tipis, kemudian gadis itu menoleh ke arah wanita-wanita yang sedang berlatih bela diri.
"Kalau kamu ingin begabung, boleh banget loh," tawar Bunda Sasa yang langsung membuat Putri menoleh ke arah wanita paruh baya tersebut.
"Serius, Bunda?"
"Iya, tempat ini akan selalu terbuka untuk menyambut kedatangan kamu."
"Oke, Putri mau belajar bela diri di sini," ujar Putri dengan semangat.
Di tempat lain, Sifa menatap layar ponselnya, di mana terdapat foto Abash yang sedang emnarik tangan Putri.
"Ini memang Mas Abash, Aku sangat mengenali waut wajah itu," lirih Sifa dengan perasaan yang terasa perih di dada.
"Mereka memang terlihat sangat serasi."
Tak hanya Putri, Amel yang juga mendapatkan Kiriman gambar tersebut pun, merasa ikut sakit hatinya.
__ADS_1
"Apa ini Kak Abash? atau kembarannya?"