
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Sifa.
"Belum," jawab Abash yang masih ingin menghirup aroma rambut milik Sifa.
"Kenapa mereka lama sekali?" ujarnya dengan kesal.
"Apa kita bisa pergi secara diam-diam?" tanya Sifa dan mendongakkan kepalanya.
Sifa membelalakkan matanya saat melihat wajah sang bos yang sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan saat ini hidung sang bos sudah mengenai pipinya.
"P-pak," cicit Sifa dengan gugup.
"Kamu menarik jas saya terlalu kuat," ujar Abash yang mana membuat Sifa dapat merasakan hembusan napas sang bos yang menerpa kulit wajahnya.
"Ma-maaf," lirih Sifa dan melepaskan genggaman tangannya pada jas milik Abash.
Abash pun perlahan menjauhkan tubuhnya dari Sifa, hingga dapat terlihat dengan jelas di mata pria itu, jika Sifa menghembuskan napasnya dengan lega, seolah-olah wanita itu baru saja menahan napasnya.
'Sebau itukah aku?' batinnya bertanya pada diri sendiri.
Abash pun dengan gerakan perlahan menaikkan lengannya ke hidung, mencoba mencium aroma tubuhnya sendiri.
"Bapak kenapa?" tanya Sifa yang melihat kelakuan aneh sang bos.
__ADS_1
"Hah? Oh, gak papa," jawab Abash dengan sedikit kesal.
"Bapak masih berpikir jika aroma tubuh Bapak itu bau?" tanya Sifa.
"Siapa bilang?"
"Bapak marah sama saya saat di dalam apartemen karena perihal ucapan saya kan?" tanya Sifa lagi.
"Baiklah, saya akui jika saya tersinggung dengan ucapan kamu perihal tentang aroma tubuh saya," ujar Abash.
"Tapi saya kan gak bilang kalau aroma tubuh Bapak bau? Saya kan___"
"Kamu memang gak bilang, tapi gerak gerik kamu yang mengatakan seperti itu," kesal Abash.
"Tapi kan memang aroma tubuh Bapak sangat wangi, sehingga membuat saya terlena dengan aroma Bapak," ujar Sifa tanpa sadar.
"Bi-bilang apa?" tanya Sifa dengan gugup, saat dia menyadari jika dirinya baru saja mengatakan sudah terkenal dengan aroma tubuh sang bos.
"Kamu terlena dengan aroma tubuh saya?" tanya Abash.
"Buk-bukan gitu. Maksud saya__"
"Jadi kamu menyukai aroma tubuh saya?" tanya Abash.
__ADS_1
"I-itu___ Paak," pekik Sifa dengan terkejut saat Abash tiba-tiba saja mendorong tubuhnya kembali ke dinding.
Abash menutup bibir Sifa dengan jari telunjuknya, mengisyaratkan kepada wanita itu untuk tak bersuara.
Sifa mengerjapkan matanya berkali-kali, bahkan saat ini jantungnya berdetak semakin lebih cepat dari sebelumnya.
"Ngapain Arash ke sini?" gumam Abash yang sangat jelas di dengar oleh Sifa.
"Pak Arash di sini?" tanya Sifa yang sudah menyingkirkan tangan Abash dari bibirnya.
"Iya," jawab Abash.
"Duh, gimana ini Pak? Gimana kalau Pak Arash tahu saya sedang bersama Bapak di sini?" tanya Sifa panik.
Abash mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Sifa barusan. Ada apa memangnya kalau Arash melihat Sifa bersamanya? Atau jangan-jangan? Apa Arash dan Sifa memiliki hubungan?
Perasaan kesal yang tadi sudah menguap entah ke mana karena ucapan Sifa yang mengatakan jika wanita itu terlena dengan aroma tubuhnya, seolah kembali dan saat ini merasa semakin kesal di saat pikirannya mengatakan jika ada sesuatu di antara Sifa dan Arash.
"Kenapa kalau Arash melihat kita?" tanya Abash dengan nada tak suka.
"Ya jangan, Pak. Ntar Pak Arash bisa mikir yang macem-macem. Saya gak mau ah," cicit Sifa.
Abash mengepalkan tangannya di saat Sifa mengatakan tak ingin jika sang kembaran berpikiran macam-macam tentang mereka.
__ADS_1
"Apa kamu menyukai Arash?" tanya Abash
"Hah?"