
"Hmm, Arash, kamu baik-baik ya kalau ketemu sama Putri, kalau bisa kamu tolong lihat-lihatin dia," pesan Mama Kesya.
"Kenapa Arash?"
"Hmm, jadi, tadi pagi pas Mama ketemu sama Tante Nayna. Beliau itu sempat cerita, kalau Putri itu anaknya polos banget sebenarnya, sering di manfaatin sama teman-temannya. Makanya, Mama minta tolong ke kamu, untuk lihat-lihatin dia," ujar Mama Kesya.
"Mama bilang begini bukan karena ada niatan mau Jodohin aku dengan Putri, kan?" tanya Abash.
"Ya gak lah. Lagian Mama gak mau maksa anak-anak Mama untuk di jodohkan," ujar Mama Kesya.
"Bener ya, gak boleh paksa Arash buat berjodoh dengan Putri," ujar Arash.
"Iya, bener. Hmm, kayak kamu punya pacar aja," cibir Mama kesya.
"Pacar sih, enggak punya, tapi ada cewek yang saat ini sedang mengganggu pikiran Arash, Ma," ujar pria itu dengan tersenyum malu.
"Oh ya? Siapa?" tanya Mama Kesya penasaran.
"Nanti kalau saatnya tepat, Arash bakal kenalin ke Mama. Untuk saat ini, identitas gadis itu Arash rahasiain dulu ya," ujar Arash yang mana membuat Mama Kesya semakin penasaran.
"Hmm, kamu ini. Selalu aja bikin Mama penasaran," cibir Mama Kesya dengan kesal.
"Ma, tolong kupasin dong buahnya. Mulut Araash rasanya pahit banget, ini," pinta Arash dengan manja.
"Iya, sebentar ya,"
Mama kesya pun mengambil satu buah apel dan mengupas kulitnya, kemudian wanita paruh baya itu pun memberikan apel tersebut kepada sang putra dengan bagian yang sudah di potong menjadi potongan kecil-kecil.
*
Abash tersenyum lebar di saat pintu apartemen Sifa terbuka, di mana dia langsung di sambut dengan kecantikan sang kekasiih.
"AYo," ajak Abash yang sudah mengulurkan tangannya untuk di gandeng oleh Sifa.
"Maaf, Pak. Bukannya saya tidak kepingin menggandeng tangan Bapak," uajr Sifa.
"Lalu?" tanya Abash penasaran.
"Kalau ada yan melihat kita gandengan tangan gimana?" ujar gadis itu dengan tersenyum tipis.
"Ya juga, sih. Hmm, ya sudah kalau begitu, ayo," ajak Abash tanpa menggandeng tangan sang kekasih.
__ADS_1
Abash dan Sifa pun berjalan menuju lift, merreka saling tersenyum malu sambil membicarakan jam dinding yang kehabisan baterai itu.
Saat sudah di dalam mobil, Abash pun langsung menarik tangan Sifa dan menggenggamnya dengan hangat.
"Kalau di sini gak ada yang lihat kan," ujar Abash sambil mengedipkan matanya.
"Ih, Bapak genit," cibir Sifa dengan tersenyum malu-malu.
Di tempat yang sama, akan tetapi di dalam mobil yang lain, Amel menatap bagaimana wajah tersipu malu yang di tunjukkan oleh Sifa, saat Abash membukakan pintu untuknya.
"Jalan, Pak," titah Amel di saat mobil Abash sudah melaju duluan.
Lagi, Amel melihat jika Abash menghentikan mobilnya tak jauh dari perusahaan pria itu. Terlihat jika Sifa turun dari sana dan langsung masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Mobil Abash pun kembali berjalan, di susul dengan taksi yang saat ini di tumpangi oleh Sifa.
"Bagaimana, Non? APa kita ikuti mereka lagi?" tanya sang supir.
"Tidak, kita ke kantor Papi sekarang," ujar Amel kepada sang supir.
"Baik, Non."
Supir pun melajukan mobilnya menuju perusahaan sang majikan, di mana anak dari majikannnya ini ingin bertemu dengan sang papi.
"Pokoknya aku harus bisa bekerja di perusahaan Abash," geram Sifa.
"Papi harus bisa membujuk Abash untuk menerima aku di perushaannya."
Sesampainya Amel di depan ruangan sang papi, gadis itu langsung masuk ke dalam ruangan di saat sekretaris dari sang papi membukakan pintu untuknya.
"Sayang, tumben kamu ke kantor Papi?" tanya Pak Robert.
"Iya, Pi, Amel mau nagih janji Papi ke amel waktu itu," ujar Amel yang sudah mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Hmm, iya sayang. Papi udah berusaha untuk membujuk Abash, agar bisa menerima kamu di snaa," jawba Pak Robert.
"Pokoknya Amel gak mau tau. Papi harus bisa membujuk Abash untuk menerima Amel," ujar gadis itu dengan tegas.
"Baiklah, Papi akan mencobanya lagi. semoga sjaa kali ini Papi bisa membujuk anak itu," ujar Pak Robert.
*
__ADS_1
Di tempat lain, Abash terus memandang wajah Sifa yang kebetulan saat ini sedang membantu dirinya. Didi pun sedari tadi memperhatikan dua sejoli itu dengan kening mengkerut.
"Hmm, pasti sudah terjadi sesuatu Antara Pak Abash dan Sifa," batin Didi.
"Baiklah, siang ini kita akan makan siang bersama, bagaimana?" ujar Abash tiba-tiba.
"Waah, serius ini, Pak?" tanya Bimo.
"Iya, saya serius. Kita akan makan siang bersama. Anggap saja ini hadiah dari saya pribadi, karena kalian telah bekerja keras selama ini," ujar Abash dengan tersenyum lebar dan sekali-kali melirik ke arah Sifa.
"Horee, baiklah, Pak. Kami dengan senang hati menerimanya," Ujar Bimo dan yang lainnya.
Siang pun tiba, Abash mengajak tim yang bekerja dengannya itu untuk makan siang bersama, di mana mereka akan makan siang di cafe yang ada di dekat perusahaan pria itu.
"Cafenya lumayan juga," batin Abash sambil memperhatikan keseluruhan bangunan cafe tersebut.
"Ayo, duduk sini, Sifa." ujar Bimo sambil menarik kursi untuk Sifa.
"Ah ya," ujar Sifa dengan gugup dan melirik ke arah Abash yang sudah menatap ke arahnya.
Didi pun kembali memperhatikan interaksi kedua anak manusia tersebut, sehingga dia harus menutupi sesuatu yang terjadi di antara Abash dan Sifa.
"Pak Abash, mari duduk sini," ajak Didi yang mana mereka akan duduk tepat berhadapan dengan Sifa dan Bimo.
Abash pun mengangguk dan mendudukkan bokongnya di kursi yang sudah di tarik oleh Didi untuknya.
Abash pun mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. Dia pun langsung mengirim pesan singkat itu untuk sang kekasih.
cling ...
Sifa meraih ponselnya, gadis itu pun melihat sebuah pesan yang masuk dari Abash. dia dengan bersembunyi-sembunyi membuka pesan tersebut untuk membaca apa yang tertulis di dalam sana.
"Apa Bimo menyukai kamu?"
Ya, satu kalimat itu membuat Sifa mengernyitkan keningnya. Gadis itu pun perlahan menaikkan pandangannya hingga beradu tatap dengan milik sang kekasih.
Sifa menggelengkan kepalanya pelan, kemudian gadis itu mengetik sesuatu pada ponselnya dan mengirimkan pesan singkat itu untuk sang kekasih.
"Saya tidak tahu, Pak," balas Sifa.
Abash kembali mengetik sesuatu pada ponselnya, kemudian dia kembali mengirimkan pesan tersebut. Saat ponsel Sifa kembali berbunyi, gadis itu pun terburu-buru membuka pesan masuk dan membaca isinya.
__ADS_1
"Jauhi dia. Jika tidak saya akan umumin ke semuanya kalau kita pacaran."