
Sifa membagikan hadiah oleh-oleh yang dia bawa dari Bali untuk seluruh keluarga.
"Waduh, Sifaaa … ini lucu banget," seru Mama Kesya melihat pernak pernik yang dibeli oleh sang menantu.
"Iya, Ma? Gemes Sifa lihatnya," ujar Sifa sambil tertawa pelan.
"Mama mau, ya," pinta Mama Kesya dan mengambil beberapa gelang, kalung, serta cincin yang menurut wanita paruh baya itu terlihat menggemaskan di matanya.
"Iya, Ma, ambil aja."
"Oh ya, Ma. Mau tau cerita lucu, gak?" ujar Absah yang kali ini mengambil perhatian Mama Kesya.
"Cerita lucu apa?" Mama Kesya pun mencoba satu persatu cincin yang sekiranya cocok di jari manis atau telunjuknya.
"Sifa di sana nangis, Ma, karena udah habisin duit Abash sebanyak dua puluh juta di hari pertama kami saat di Bali," adu Abash yang mana membuat Sifa merasa malu.
"Maas," tegur Sifa dengan bibir yang manyun.
Abash pun menarik tubuh Sifa ke dalam pelukannya, kemudian mengusap kepala sang istri dengan gemas.
"Oh ya? Baru juga dua puluh juta, sayang. Seharusnya kamu jangan nangis," sahut Mama Kesya. "Lagian tuh, ya. Dua puluh juta itu bukan nilai yang besar bagi Abash. Maunya kamu habisin uang dia sampai dua ratus juta aja," usul Mama Kesya.
"Ma, banyak amat?" kejut Sifa.
"Ih, Sifa. Asal kamu tahu, ya. Abash ini pelit banget tahu. Di antara yang lain, cuma dia yang gak suka jajan. Uang jajannya di simpan semua," bisik Mama Kesya yang sebenarnya masih di dengar oleh Abash.
"Gimana gak di simpan, Ma. Kan Abash selalu bawa bekal," sahut Abash yang tidak terima di bilang pelit.
"Ih, emang bener, kan? Pas Arash dan yang lainnya pergi jajan cilok yang lewat di depan rumah. Kamu gak mau beli, alasan ini lah, itu lah," ledek Mama Kesya.
"Itu bukan pelit namanya, Ma. Tapi kan Abash emang suka pilih-pilih makanan dari dulu."
"Iya … iya … terserah kamu aja, deh," potong Mama Kesya dan kembali ke topik utama, di mana mereka kembali membicarakan soal pernah pernik yang di bawa pulang Sifa sang menantu.
Abash hanya menghela napasnya pelan, pria itu tidak akan pernah menang jika berdebat dengan sang mama.
"Oh ya, Ma. Mama ingat kan sama sahabat aku yang namanya Amel?" tanya Sifa.
"Tentu, dong. Dia itu kan sahabat kamu satu-satunya yang paling setia," jawab Mama Kesya yang mana membuat Sifa tersenyum lebar.
Ya, pada kenyataannya Amel adalah sahabatnya yang paling setia. Lupakan kesalahan yang pernah wanita itu buat, karena sebelumnya, ketulusan yang Amel berikan tidak akan pernah bisa ternilai harganya. Bahkan, dengan nyawanya sekalipun, Sifa belum tentu bisa membayar setiap ketulusan yang Amel berikan kepadanya saat dulu.
__ADS_1
"Dia kemarin di lamar sama Mas Bima, Ma," seru Sifa yang mana membuat Mama Kesya dan yang lainnya terkejut.
"Serius kamu, Sifa?" tanya Mama Kesya.
"Iya, Ma. Sifa serius." Sifa pun menunjukkan foto cincin yang melingkar di jari Amel, di mana saat gadis itu mengirimkan pesan bahagia itu kepada Sifa.
"Cincinnya bagus banget, ya," puji Mama Kesya.
"Iya, Ma."
"Eh tapi, Mama pernah sempat dengar kalau papa-nya Amel gak setuju jika anaknya punya hubungan dengan Bima?"
Ya, Mama Kesya sempat pernah mendengar kabar tersebut. Saat itu Sifa dan Amel sedang berbincang dengan di taman belakang rumah, tanpa sengaja Quin pun mendengar apa yang mereka bicarakan, karena wanita itu penasaran dengan suara tangis yang berasal dari taman belakang.
Ya, saat itulah Amel mengatakan jika sang papa tidak akan pernah merestui hubungannya dengan Bima.
"Mama dari mana tau?" tanya Sifa penasaran.
"Emm, ada deh," kekeh Mama Kesya yang sudah keceplosan.
"Iya sih, Ma, waktu itu papa-nya Amel sempat gak setuju dengan Mas Bima. Tapi, gak tahu deh kalau sekarang, semoga saja hubungan mereka mendapatkan restu ya, Ma," doa Sifa yang diaminin oleh Mama Kesya dan yang lainnya.
"Aamin, semoga aja ya, sayang."
"Iya, Ma."
Sifa dan Abash tengah bersiap untuk bertemu dengan Amel dan Bimo. Di mana malam ini mereka sudah berjanjian untuk double date, sekalian Sifa ingin mendengar tentang hubungan mereka yang terbilang penuh perjuangan.
"Sudah siap, sayang?" tanya Abash kepada Sifa.
"Iya, Mas."
Sifa pun merangkul lengan Abash yang pria itu berikan, kemudian mereka berjalan bersama keluar dari kamar. Berhubung mereka masih menginap di rumah Mama Kesya, pastinya saat mereka pergi harus berpamitan kepada si tuan rumah, kan?
"Ma, kami pergi dulu, ya," pamit Abash dan Sifa kepada sang mama yang tengah menyiapkan makan malam.
"Loh, mau ke mana, sih? Baru juga sampai udah mau pulang," tegur Mama Kesya. "Kan kalian sudah janji buat tidur di sini selama seminggu."
"Iya, Ma. Kami gak pulang kok, cuma mau ketemu teman aja, Ma. Udah terlanjut buat janji," sahut Abash.
"Jadi kalian gak makan malam di rumah, ini?" tanya Mama Kesya menatap anak dan menantunya itu.
__ADS_1
"Iya, Ma. Maaf ya," sesal Sifa.
"Hmm, baiklah. Gak papa, tapi ingat, pulangnya ke sini, ya. Jangan pulang ke apartemen," tekan Mama Kesya.
"Iya, Ma." Sifa pun mencium punggung tangan Mama Kesya, begitu pun dengan Abash. "Kami pergi dulu ya, Ma, Assalamualaikum," pamit Sifa.
"Walaikumsalam."
Sifa dan Abash pun pergi menuju caffe di mana tempat Sifa dan Amel berjanjian.
"Hadiahnya sudah di bawa kan?" tanya Abash mengingatkan sang istri.
"Iya, Mas, sudah."
Abash pun menekan pedal gas, hingga mobil pria itu pun melaju membelah jalanan.
Sesampainya di tempat tujuan.
"Silahkan masuk, Mas, Mb--aak," sapa pramuniaga yang bertugas menjaga di depan pintu masuk caffe, di mana pria itu nantinya akan memberitahu kepada pelayan yang bertugas di dalam, jika ada tamu yang masuk dengan jumlah orangnya.
"Kak Jimi?" tegur Sifa kepada pria pramuniaga tersebut.
Pria yang di sapa Jimi itu pun terlihat malu di saat bertemu dengan Sifa. Dulu, saat di masa kuliah, Jimi selalu membully Sifa, bahkan pria itu sengaja membuang kotoran sembarangan untuk mengerjai Sifa yang terkenal sebagai office girl.
Di setiap ada acara di kampus, Sifa selalu diajak bergabung menjadi pantitia. Tapi, wanita itu selalu ditempatkan di bagian bersih-bersih. Hal yang paling sering Sifa bersihkan adalah kamar mandi.
"Maaf, saya bukan---"
"Kak Jimi?" sapa Amel pula, sehingga membuat pria yang bernama Jimi itu tidak bisa mengelak lagi.
Dulu, Jimi memiliki hati kepada Amel, tetapi karena pria itu selalu membully Sifa, Amel merasa illfill kepada pria itu. Karena sikap jual mahal yang diberikan oleh Amel, menjadikan Jimi juga membenci Amel, sehingga wanita itu terkadang juga di bully olehnya.
"Kamu kenal, sayang?" tanya Abash kepada Sifa.
"Kamu kenal, Dek?" tanya Bimo kepada Amel.
"Iya, Mas. Dia ini kakak kelas aku dan Amel saat di kampus," jawab Sifa.
"Oh, begitu." Abash pun tersenyum tipis kepada Jimi, hanya itu beramah tamah saja, begitu pun dengan Bimo.
"Sebaiknya kita masuk aja yuk, Mas," ajak Amel yang sudah merangkul lengan Bimo. Terlihat gadis itu tidak menyukai Jimi. Tak lupa, Amel juga menarik lengan Sifa untuk menjauh dari Jimi, sehingga membuat Abash mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Kenapa, Dek? Kok kamu terlihat kesal dengan pria tadi?" tanya Bimo kepada Amel.
"Kesal aja, Mas. Dia itu dulu---aakh …" Amel memekik pelan, di saat kakinya di pijak oleh Sifa.