Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 115 - Bawa Tas


__ADS_3

"Hmm, gak papa. Mau aku tungguin?" tawar Amel.


"Eh?"


"Kebetulan di dekat sini ada cafe enak. Aku belum pernah coba. Aku tungguin kamu di situ sampai selesai ya!" tawar Amel.


"Em, Amel. Maaf ya. Bukannya aku menolak kebaikan kamu. Tapi---," Sifa terlihat ragu mengatakannya. Dia merasa tak enak karena telah menolak kebaikan sahabatnya itu. Akan tetapi, tidak mungkin juga dia membiarkan Amel untuk menungguinya hingga selesai. Sedangkan dirinya sendiri saja tidak tahu, kapan pekerjaannya akan selesai.


"Tapi apa?" tanya Amel.


"Emm, aku gak tau ini selesainya sampai jam berapa. Aku takut kamu kelamaan tunggunya," lirih Sifa.


"Sifa, aku gak masalah kok tungguin kamu berapa lama. Lagi pula, kalau kamu pulangnya malam, kan kasihan kamunya juga. Kalau ada aku, bisa aku antar kamu pulang dengan menggunakan mobil," ujar Amel.


Sifa semakin bingung, dia tidak mungkin memberi tahu di mana tempat tinggalnya saat ini.


"Sifa," panggil Didi yang mana membuat Sifa menoleh ke belakang.


"Eh, ya Pak? Maaf, saya kelamaan telponannya," sesal Sifa.


"Tidak apa-apa, tapi kamu harus membereskan barang-barnag kamu sekarang, karena kamu akan menemani Pak Abash," ujar Didi.


"Ke mana?"


"Ketemu klien. Kamu gantikan saya sebentar. Saya harus menyelesaikan pekerjaan sedikit lagi," ujar Didi memberi tahu.


"Oh, iya. Baiklah."


Sifa kembali menempelkan ponselnya ke telinga. "Amel, aku minta maaf ya. Aku harus temani teman kantor aku bertemu kliennya," bohong Sifa.


"Oh, ya udah kalau begitu," ujar Amel terdengar sedih.


"Maaf ya," sesal Sifa.


"Iya, gak papa. Ya sudah kalau begitu, semangat kerjanya ya," ujar Amel dari seberang panggilan.


"Iya, terima kasih. Kalau begitu aku tutup dulu telponnya."


Sifa pun memutuskan panggilan dan bergegas masuk ke dalam ruangan Abash. Gadis itu pun melihat jika bosnya itu sudah siap untuk pergi.


"Cepat Sifa, kita di buru waktu," ujar Abash.


"Iya, Pak."


Sifa pun bergegas merapikan peralatan kerjanya. Tidak banyak sebenarnya yang gadis itu rapikan, hanya beberapa berkas yang di berikan oleh Didi saja dan juga menyimpan file yang sudah dia kerjakan tadi.


"Tidak usah di matikan laptopnya, nanti biar Didi yang urus semuanya," ujar Abash.

__ADS_1


"Iya, Pak.


Setelah menyimpan semua barang ke dalam tas, Sifa pun bersiap untuk pergi bersama bosnya itu.


"Ayo," ajak Abash.


"Pak, biar saya aja yang bawa berkasnya," pinta Sifa, karena dia selalu melihat jika Didi selalu membawakan barang-barang sang bos.


"Tidak usah," tolak Abash.


Abash memang sengaja tidak ingin memberikan barang bawaannya kepada Sifa, karena pria itu tidak ingin membuat gadis yang sudah memporak-porandakan hati dan pikirannya itu merasa kesusahan dan keberatan untuk memegangi tas miliknya.


Sifa pun berjalan di belakang Abash dengan perasaan tak enak.


"Bapak yakin gak mau saya bantu bawa?" pinta Sifa lagi saat mereka berada di dalam lift.


"Hmm, tidak perlu. Saya bisa membawanya sendiri," tolak Abash lagi.


"Tapi, saya merasa gak enak. Biasanya Pak Didi yang selalu membawakan barang-barang Bapak," ujar Sifa.


Abash pun menoleh ke arah gadis itu dan menatap dalam ke arahg matanya, sehingga memuat Sifa sedikit gugup.


"Apa kamu asisten saya? Atau sekretaris saya?" tanya Abash yang di jawab gelengan oleh Sifa.


"Tidak, Pak."


Ting ...


Pintu lift pun terbuka, Abash keluar duluan dari dalam lift dan di susul oleh Sifa.


"Pak Abash kenapa sih?" lirih Sifa dengan pelan.


"Kenapa dia bisa semanis itu? Padahal rambutnya sudah kucel karena berkeringat," batin Abash yang mana jantungnya berdetak dengan sangat cepat di saat dia menatap mata Sifa tadi.


Mobil Abash sudah berada di depan lobi, karena saat Didi menyuruh Sifa bersiap, pria itu pun langsung turun untuk menyiapkan mobil sang bos.


Sifa sedikit terkejut di saat Abash membuka pintu mobil untuknya dan langsung berjalan tanpa kata menuju pintu mobil yang lain. Gadis itu sempat melirik ke arah Didi yang sudah tersenyum penuh arti kepadanya, sehingga membuat Sifa tersenyum kikuk.


Didi pun menundukkan sedikit kepalanya di saat Abash membunyikan klakson tanpa pamit.


"Seperti dugaan gue," lirih Didi dan kembali masuk ke dalam kantor.


Dari kejauhan, Amel pun menatap penuh kebencian ke arah mobil Abash. Gadis itu merasa jika saat ini telah di bohongi oleh Sifa.


"Ikuti mobil itu, Pak," titah Amel.


Didi yang lagi menyapa satpam pun, mengerutkan keningnya di saat melihat sebuah mobil melewati lobi. Mobil itu terasa asing dan bisa dia pastikan, jika bukan karyawan kantor ini yang menaiki mobil tersebut.

__ADS_1


"Siapa, ya?" lirih Didi dan mengendikkan bahunya cuek.


Di perjalanan, tidak ada satu percakapan di antara Sifa dan Abash, mereka hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kita singgah ke mesjid dulu," ujar Abash karena waktu sudah menunjukkan waktunya sholat magrib.


"Iya, Pak."


Setelah mobil Abash terparkir rapi di parkiran, pria itu pun menoleh ke arah Sifa.


"Kamu gak turun?" tanya Abash di saat melihat Sifa tidak melepas seat bell-nya.


"Saya lagi datang bulan, Pak," cicit Sifa dengan wajah merona.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Kamu di mobil saja," ujar Abash dan turun dari mobil.


Dari kejauhan, Amel terus memperhatikan Abash dan sedikit mengernyitkan keningnya di saat Sifa tidak turun dari mobil.


"Apa lagi datang bulan?" lirih Amel, gadis itu sangat mengenal sang sahabat, karena Sifa terbilang cukup rajin dalam beribadah.


Abash pun melaksanakan sholat magrib berjamaah, kemudian dia kembali ke dalam mobil dan mendapati Sifa yang tertidur lelap.


"Bisa-bisanya dia tertidur magrib-magrib," kekeh Abash dan menatap lurus ke wajah Sifa.


Abash dengan cepat menggelengkan kepalanya, di saat syaitan mulai berbisik dan menyuruhnya untuk mencicipi bibir yang sedikit terbuka itu.


"Astaghfirullah, ini di perkarang mesjid, Abash. Bisa-bisanya kamu berpikiran kotor," lirih Abash dan menghidupkan mobilnya.


"Eungmm, Bapak sudah sudah solat?" ujar Sifa sambil menutup mulutnya karena menguap.


"Hmm, iya. Kamu sepertinya kelelahan. Tidur saja lagi," titah Abash.


"Gak papa, Pak. Saya udah gak ngantuk lagi kok," ujar Sifa dan sudah membenarkan duduknya.


Baru saja Abash memasukkan kopling, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan menampilkan nama Naya di sana.


"Assalamualaikum, Nay?" ujar Abash.


"Walaikumsalam. Bash, kamu sudah tau kalau Arash masuk rumah sakit?" tanya Naya.


"Arash masuk rumah sakit? Kenapa? Kapan?" tanya Abash khawatir.


"Ini lagi di IGD, dia terjebak di lift selama satu jam."


"Apa?" kejut Abash.


"Apa yang terjadi, Pak? Ada apa dengan Pak Arash?" tanya Sifa dengan nada khawatir.

__ADS_1


__ADS_2