Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 234 - Tidak Cemburu


__ADS_3

"Kalau iya gue mau gagalin pernikahan lo, gimana?" tanya Araash denga tersenyum miring.


Pria itu sebenarnya tak sungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan. Arash hanya ingin menggoda calon iparnya itu saja.


"Jangaaan," pekik Sifa yang mana membuat Arash dan Abash terkejut.


Mereka berdua pun saling tatap. Seolah berbicara melalui matanya, Abash pun menyetujui apa yang ingin di katakan oleh Arash.


"Fa, kamu yang salah. Seharusnya kamu tidak memberikan harapan sama aku," ujar Arash yang mana membuat Sifa mengernyitkan keningnya.


"Harapan? Kapan? Saya tidak pernah memberikan harapan kepada Mas Arash," ujar Sifa dengan gugup.


"Tentu saja, malam itu kamu mengatakan kalau kamu juga menyukai aku." Arash pun mulai berakting, yang mana membuat Sifa semakin panik dan takut jika Abash salah paham.


"Gak, Mas Arash jangan bohong. Saya tidak pernah mengatakan hal itu," bantah Sifa.


Gadis itu pun berjalan ke dekat Abash, kemudian menatap pria itu dengan tatapan memohon.


"Mas, percayalah, aku tidak pernah mengatakan hal itu kepada Mas Arash, Mas," ujar Sifa yang berharap jika Abash mempercayai apa yang dia katakan.


"Sifa, kamu jangan berbohong. Kenapa kamu bisa seserakah ini, Sifa? Apa kamu menyukai kami berdua?" tanya Arash yang mana membuat Sifa menatapnya dengan kesal.


"Mas, dari awal saya memang tidak menyukai Mas. Mas Arash memang orang yang baik, tapi saya tidak memiliki sedikit pun perasaan dengan Mas. Jadi tolong, Mas, jangan meperkeruh keadaan. Saya hanya mencintai Mas Abash dan hanya ingin menikah dengannya, bukan dengan Mas Arash," ujar Sifa dengan manhan rasa kesal dan amarahnya kepada Araash.


"Oh ya, lalu kenapa kamu malah mengundur-undurnya sampai selama ini? Kalau kalian saling mencintai dan sudah berkomitmen untuk menikah, seharusnya dari awal kalian menikah. Kenapa baru mau menikah saat sudah kepergok seperti ini?" tanya Arash yang mana membuat Sifa semakin.


"Mas, saya itu dari awal memang ingin menikah dengan Mas Abash. Bukannya ingin mengundur, tetapi saya takut jika di tolak oleh keluarga, Mas Abash." Sifa seolah tersadar dengan apa yang di katakan oleh Arash, sehingga gadis itu pun melirik ke arah sang kekasih yagn sudah mengulum bibirnya.


"Oh, jadi kamu sejak awal sudah ingin menikah sama aku?" tanya Abash dengan nada menggoda.

__ADS_1


"M-Mas!!" cicit Sifa dengan gugup.


"Hmm, ternyata itu masalahnya, ya?" ujar Abash sambil mengangnguk-anggukan kepalanya.


"M-mas, bu-bukan begitu. Ta-tapi aku juga takut jika orang-orang mencemooh kamu, karena menikah dengan orang miskin seperti aku," lirih Sifa dengan menundukkan kepalanya.


Abash pun meraih tangan Sifa, kemudian dia menggenggam tangan itu dengan hangat.


"Aku paham kok," ujar Abash yang mana membuat Sifa mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang kekasih. "Aku paham dengan apa yang kamu takutkan, Sifa. Aku sangat paham sekali," ulangnya lagi.


"Mas!" Air mata Sifa pun kembali tak terbendung.


Walaupun sudah beberapa kali Abash mengatakan hal itu, tetapi tetap saja dia merasa terharu sampai sekarang.


"Yang terpenting sekarang, kamu sudah setuju dan kita akan mengumumkan secara resmi hubungan kita, oke?" bisik Abash sambil mengusap pipii calon istrinya itu.


Arsh yang melihat adegan romantis itu pun ikut tersenyum, sedikit pun di dalam hatinya dia tidak merasakan sakit atau pun cemburu. Perasaan apa ini? Kenapa dia bisa merasakan hal itu? Padahal saat ini hatinya merasa kosong dan hampa di saat melihat dan mengetahui jika Abash dan Sifa memiliki hubungan yang spesial tanpa sepengetahuannya selama ini.


"Hiks, Mas ...." lirih Sifa denga terharu.


"Aku mencintai kamu dengan tulus dan tak ingin membuat kamu terbebani dengan hubungan kita. Kamu juga punya hak untuk mewujudkan mimpi kamu, Sifa. Untuk itu, aku tidak mau menghalangi kamu untuk meraih mimpi yang sudah kamu bangun sejauh ini, hanya karena mengikuti keinginan aku yang ingin mempersunting kamu. Jadi, kamu bantu aku dengan doa, ya. Agar Mama bisa memahami apa yang aku katakan nanti kepada beliau," ujar Abash yang mana membuat Sifa semakin sesenggukan.


"Hikks .. Mas. Ka-kamu kenapa bisa semanis ini, sih? Hiks .... aku makin cinta sama kamu," ujar Sifa yang sudah tak menyadari lagi akan keberadaan Sifa.


"Aku juga cinta sama kamu," balas Abash dan mendekatkan wajahnya.


"Woo .. wooo ... woo ... ingat-ingat dong kalau di ruangan ini ada orang lain," tegur Arash yang mana membuat Sifa dan Abash terkejut.


Sifa pun langsung memundurkan dirinya menjauh dari sang kekasih dengan wajah yang bersemu merah. Berbeda dengan Abash yang sudah menggerutu kesal kepada sang kembaran.

__ADS_1


"Ganggu aja, lo," ketus Abash yang mana membuat Arash tertawa puas.


"Fa, soal yagn tadi, aku minta maaf ya," ujar Arash setelah meredakan tawanya.


"Ma-maf kenapa, Mas?" tanya Sifa yang masih sesenggukan pelan.


"Aku cuma bercanda aja kok, mau menggagalkan pernikahan kalian," ujar Arash dengan tersenyum lebar.


"Aku hanya ingin menggoda kamu saja," sambungnya lagi.


"Mas Arash, iih, nyebelin," kesal Sifa sambil memanyunkan bibirnya.


"Jangan lakukan itu, Sifa," tegur Abash dengan menggeram kesal.


Sifa menoleh ke arah sang kekasih, gadis itu pun tidak mengerti dan memahami apa yang di maksud oleh sang kekasih. Dia pun mengernyitkan keningnya seolah bertanya melalu mata.


"Jangan manyunkan bibir kamu, atau aku akan turun dari tempat tidur dan mencium kamu," ujar Abash yang mana membuat Sifa semakin memundurkan langkahnya dan menutup mulutnya.


"Emangnya lo bisa jalan?" ejek Arash yang mana mana membuat Abash meliriknya dengan kesal.


"Kalau mau, dari tadi gue udah lakukan," jawab Abash yang mana membuat Arash tertawa terbahak-bahak.


"Hmm, tapi Sifa, ada hal yang mau aku katakan kepada kamu dengan jujur," lanjut Arash setelah meredakan tawanya kembali.


"Ap-apa?" tanya Sifa dengan gugup.


"Sebenarnya apa yang aku katakan soal aku menyukai kamu, itu adalah hal yang benar. Aku memang benar-benar menyukai kamu," ujar Arash yang mana membuat Sifa melirik ke arah Abash.


"Aku memang menyukai kamu, awalnya aku pikir perasaan it adalah perasaan cinta," sambungnya lagi. "Tapi, setelah aku melihat kalian berciuman dan bersama, aku akui jika perasaan aku langsung terasa hampa." Arash pun menjeda ucapannya. "Aku pikir aku menyukai kamu karena cinta, tetapi ternyata tidak. Aku menyukai kamu karena aku kagum dengan perjuangan kamu," ungkap Arash yang mana membuat Sifa sedikit bingung.

__ADS_1


"Jadi begini, saat melihat kamu dan Abash bersama. Aku merasa tidak cemburu sedikit pun. Jadi, jika aku tidak cemburu, itu artinya aku tidak mencintai kamu, kan? Aku bahkan turut bahagia dengan hubungan kalian," ungkap Arash yang mana membuat Sifa bernapas dengan lega.


"Syukurlah kalau Mas Arash ternyata tidak menyukai saya, karena hal itu pasti akan membuat hubungan kita menjadi merasa tak nyaman," ujar Sifa yang di angguki oleh Arash.


__ADS_2