
Mama Nayna langsung jatuh pingsan, saat mendengar kabar dari Arash, jika pria itu telah menemukan Putri di London. Akan tetapi, saat ini keadaan Putri sedang kritis, akibat dari kecelakaan yang menimpanya.
" Putri, bertahanlah... " lirih Arash dengan tubuh yang bergetar.
"Tenang, Mas Arash. Semua insya Allah akan baik-baik saja," ujar Sifa yang sudah menemani Arash saat ini di rumah sakit.
Dokter keluar dari ruangan tindakan, pria berbaju putih itu pun langsung mendatangi Arash untuk berbicara empat mata.
"Ap-apa, Dok? Transplantasi hati?" tanya Arash terkejut.
"Iya, saat ini organ hati yang dimiliki oleh Nona Putri sudah hampir tidak dapat di pakai, karena tusukan yang di akibatkan saat kecelakaan tadi. Jadi, kami membutuhkan transplantasi hati secepatnya."
"Dokter, bagaimana jika mengambil hati saya saja, Dok? Ambil seberapapun yang Dokter butuhkan untuk Putri," lirih Arash dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Baiklah, kami akan melakukan pemeriksaan. Jika hati anda cocok, maka kami akan melangsungkan operasi dengan segera," ujar dokter yang di angguki oleh Arash.
Arash pun mengikuti perawat yang akan memeriksa kondisi tubuhnya, serta hati yang ada di dalam dirinya itu. Apakah hati tersebut cocok dengan Putri atau tidak.
Arash bernapas lega, di saat dokter mengatakan jika hatinya cocok untuk di donorkan kepada Putri.
"Mas Arash, apa yang dokter katakan?" tanya Sifa, saat Arash baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
"Sifa, kamu tetap tunggu di sini, ya. Aku minta bantuan doa kamu, agar operasi yang aku jalani bersama Putri, berjalan dengan lancar," ujar Arash berpamitan kepada Sifa.
"Tunggu, maksud Mas Arash bagaimana? Kenapa Mas juga ikut melakukan operasi?" tanya Sifa bingung, setau dia Arash baik-baik aja. Jadi, kenapa pria itu harus menjalankan operasi?
"Aku akan mendonorkan sebagian hatiku untuk Putri. Karena hanya itu cara satu-satunya saat ini, yang mampu menyelamatkan Putri," ujar Arash yang mana membuat Sifa membulatkan matanya.
__ADS_1
"M-mas, Mas yakin?" tanya Sifa.
"Iya. aku sangat yakin. Maka dari itu, aku mohon doa dari kamu, ya!"
Sifa tidak bisa menahan Arash, karena gadis itu tau, bagaimana pun dirinya menahan Arash agar tidak melakukan tindakan tersebut, pastinya Arash akan tetap melakukan hal tersebut demi menyelamatkan belahan jiwanya.
"Mas, bagaimana dengan Mama? Apa beliau sudah tau?" tanya Sifa yang sudah berlinangan air mata, merasa haru dengan pengorbanan yang Arash lakukan.
"Jangan kasih tau mama dulu. Nanti, saat beliau sudah tiba di sini, biar aku yang kasih tau," ujar Arash.
"Baiklah, Mas. Aku doakan, semoga operasinya berjalan dengan lancar. Amiin.."
Arash ikut mengaminkan, pria itu pun masuk ke dalam ruang operasi, saat perawat memanggil dirinya untuk mengganti pakaian.
Dia jam terlah berlalu. Sifa mengaitkan jari jemarinya, karena merasa takut. Dalam hati, gadis itu berharap agar operasi yang sedang di jalanin oleh Arash dan Putri, berjalan dengan lancar.
Entah berapa puluhan panggilan tidak terjawab yang Sifa abaikan. Ada panggilan dari Abash, Mama Kesya, Papa Arka, Quin, Naya, Mbak Anggel, Mas Veer, dan juga hampir seluruh keluarga Moza, menghubunginya secara bergantian, akan tetapi Sifa tidak berani menerima panggilan tersebut, karena takut kelepasan dan mengatakan hal yang sedang terjadi saat ini.
Sifa berdiri, saat pintu ruang operasi terbuka. Tak berapa lama muncullah Arash yang sedang tidak sadarkan diri di atas brankar.
"Mas Arash," lirih Sifa yang sudah mengikuti brankar pria itu.
Perawat pun mengatakan, jika saat ini Arash sedang dalam masa sadar atau menghilangkan obat bius. Sifa pun menemani pria itu, hingga Arash benar-benar sadar.
*
"Bagaimana keadaan Putri, Dok?" tanya Arash dengan menggunakan bahasa Inggris.
__ADS_1
(emak malas translate, jadi langsung ketik bahasa indo aja, yaa...)
"Nona Putri masih dalam keadaan belum sadar. Tapi, untuk saat ini saya bisa mengatakan jika operasi yang kita jalani, telah berhasil."
Arash mengucap syukur, dia berharap jika Putri segera sadar dan siuman.
"Mari kita berdoa, agar Nona Putri cepat sadar."
Dokter pun berlalu, setelah memeriksa keadaan Arash saat ini.
"Mas butuh sesuatu?" tanya Sifa yang masih setia menemani Arash di rumah sakit.
"Sifa, tolong panggil perawat dan meminta untuk dibawakan kursi roda. Aku ingin melihat keadaan Putri sendiri," titah Arash yang langsung di angguki oleh Sifa.
Tak berapa lama, perawat pun datang dengan membawakan kursi roda. Arash turun dari tempat tidur dan meminta Sifa untuk mengantarkan dirinya ke ruangan Putri.
Arash merasa hatinya terenyuh,m dan di peras dengan kuat, di saat melihat Putri yang masih belum menyadarkan diri.
Arash mendekat ke arah Putri, pria itu pun menggenggam tangan Putri dengan penuh kehangatan.
"Cepatlah sadar, sayang. Aku di sini, menunggu kamu," ujar Arash dan mengecup punggung tangan Putri berkali-kali.
Di negara lain.
Mama Kesya yang tanpa sengaja mendengar percakapan antara Papa Arka dan Abash tentang Arash, di mana pria itu sedang melakukan operasi transplantasi hati, membuat wanita paruh baya itu pun tidak sadarkan diri.
Ya, akhirnya Sifa memberitahu kepada Abash, jika Arash sedang melakukan operasi transplantasi hati. Sifa tidak ingin mengambil resiko, jika terjadi sesuatu kepada Arash. untuk itu, dia memilih memberitahu Abash, untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
Papa Arka yang mendengar kabar tentang Arash pun, langsung menyuruh Papa Fadil untuk menyiapkan pesawat pribadi keluarga Moza, mereka akan segera berangkat ke London. Tapi, sebelum berangkat, Papa Arka harus menyadarkan Mama Kesya dan memeriksakan kesehatan wanita paruh baya tersebut terlebih dahulu.