
Sudah dua bulan berlalu sejak kejadian Neli menghina Sifa. Bara pun menepati janjinya kepada wanita itu untuk berkencan dan makan malam bersama. Terlihat wajah Neli yang begitu bahagai saat bisa merangkul pria idamannya itu.
"Mas, aku benar-benar gak enak perasaan loh kalau kamu terus menuruti semua kemauan Neli," ujar Zia merasa khawatir kepada Bara.
"Kamu tenang aja, ya. Mas agak akan kenapa-napa kok. Percayalah." Bara mengusap kepala sang adik dengan penuh kasih sayang.
"Mas," panggil Zia lagi, sehingga membuat Bara menghentikan langkahnya untuk menjauh dari sang adik. "Mas tidak sedang jatuh cinta dengan wanita itu, kan?" tanya Zia dengan penuh selidik.
Bara terkekeh pelan, pria itu kembali menghampiri sang adik.
"Enggak kok adikku sayang. Kamu tenang aja, ya. Mas-mu ini masih bisa di andalkan," ujar Bara sambil tersenyum. "Lagi pula, Neli bukan tipe wanita yang Mas suka."
"Tapi, Mas, dari rasa benci bisa menjadi suka. Aku takut jika Mas menyukai dia," ujar Zia dengan perasaan penuh khawatir.
"Kamu tenang saja, ya. Mas janji, Mas gak akan terjebak dalam jebakan Mas sendiri. Lagi pula, tidak lama lagi Mas akan mendapatkan apa yang Mas inginkan," ucap Bara meyakinkan sang adik.
"Mas gak bohong sama aku, kan?" tanya Zia menatap dalam ke mata sang abang.
"Percaya sama, Mas."
Zia menghela napasnya pelan, wanita itu pun menganggukkan kepalanya dan mempercayai apa yang di katakan oleh Bara. Zia percaya, jika Bara tidak akan membuatnya kecewa. Ya, setidaknya selama gadis itu mengenal Bara, tidak pernah sekali pun sang abang membuatnya merasa kecewa.
"Ah ya, kamu hari ini ada pertemuan dengan Bang Fatih kan?" tanya Bara memastikan.
"Iya, Mas. Hari ini aku ada meeting dengan Bang Fatih. Aku bersedia untuk bekerja sama dengan perusahaan Moza," jawab Zia dengan tersenyum lebar.
"Syukurlah. Padahal, kalau kamu meminta kepada Mas untuk di buatkan sebuah perusahaan jewelry, pasti Mas akan membuatkannya."
"Tidak, Mas. Aku tidak ingin menjadi pemimpin sebuah perusahaan. Mas tahu, kan, kalau aku tidak pernah betah dengan satu pekerjaan," ujar Zia sambil terkekeh pelan.
"Tapi kamu nyaman dengan pekerjaan desaigner. Dan jika kamu ingin fokus dengan pekerjaan yang membuat kamu merasa nyaman, Mas akan mewujudkan apa pun yang kamu minta."
Zia menggelengkan kepalanya, gadis itu tidak ingin membuat sang abang harus memikirkan masa depannya juga. Sudah cukup masa muda pria itu habis untuk belajar dan belajar, saatnya sang abang menikmati hidupnya. Dan hanya satu doa Zia, yaitu semoga sang abang menemukan gadis yang tepat untuk pria. Gadis yang bisa membuat Bara melepaskan semua beban pekerjaannya dan mampu menikmati hidup.
"Kenapa Mas selalu memikirkan orang lain? Kapan Mas akan memikirkan diri sendiri?" tanya Zia menatap sang abang dengan tatapan matanya yang sendu.
"Kapan Mas memikirkan orang lain?" tanya Bara dengan wajah polosnya.
"Mas, aku sudah lama kenal dengan Mas. Jadi, aku tahu banget bagaimana perasaan Mas dari dulu sampai saat ini. Mas berusaha keras belajar agar bisa lulus sekolah dengan cepat dan mendapatkan nilai terbaik, karena Mas tidak ingin melihat Mbak Putri kehilangan cita-citanya. Mas tidak ingin Mbak Putri menyerah untuk menjadi seorang pengacara hebat seperti papa. Aku tahu itu, Mas. Aku tahu apa yang Mas pikirkan dan rasakan dari dulu," ungkap Zia dengan mata yang berkaca-kaca.
Bara menangkup pipi sang adik dengan penuh kasih sayang, tidak menyangka jika adik kecilnya yang selalu membuatnya merasa khawatir bisa berpikir sedewasa ini. Siapa yang menyangka, Zia yang sangat manja dan selalu membuat masalah, sudah beranjak dewasa dan memikirkan orang yang ada di sekitarnya.
"Kamu sudah dewasa. Tugas Mas hanya tinggal satu, yaitu menyerahkan kamu kepada pria yang tepat," ujar Bara menatap lekat wajah sang adik.
"Mas, sekali ajaa! Pikirkanlah diri Mas sendiri, jangan mikirin aku, Mas. Aku masih muda, lagi pula aku belum ingin menikah," ujar Zia sambil mengerucutkan bibirnya.
Bara tertawa pelan. "Dan sampai saat kamu siap untuk menikah dengan pria pilihan kamu, maka saat itulah Mas akan mencari wanita yang tepat. Lagi pula, Mas ini masih muda, sayang," kekeh Bara. "Kalau pun umur Mas sudah mencapai tiga puluh lima tahun pun, Mas akan tetap menjadi pujaan para wanita," ujar Bara dengan penuh percaya diri.
"Iih, dasar sok ganteng," cibir Zia yang mana membuat Bara kembali terkekeh.
"Kalau begitu aku akan membuat Mas-ku yang tampan ini, menjadi perjaka tua," ujar Zia yang mana membuat Bara tertawa lepas.
"Dan Mas tidak akan membuat adik kesayangan Mas ini hidup sendirian dalam waktu yang lama," sahut Bara.
"Hmm, kira-kira bagaimana kabar David, ya?" tanya Bara menatap menggoda kepada sang adik.
"Maass …" tegur Zia yang mana membuat Bara tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
*
"Ada apa, Mas?" tanya Sifa kepada Abash di saat melihat sang suami menatap layar laptopnya dengan serius. "Apa ada masalah serius?"
Sifa mendekati sang suami, untuk memastikan jika tidak ada masalah yang serius terjadi. Abash menoleh ke arah sang istri, merentangkan tangannya dan meminta Sifa untuk duduk di pangkuannya.
"Bara dalam masalah besar, sayang," ujar Abash memberi tahu.
Sifa mengernyitkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh sang suami. "Maksud, Mas?"
"Bara dalam masalah besar. Neli sepertinya sedang membuat jebakan untuk Bara."
"Mas, jika Neli ingin membuat jebakan untuk Bara, kenapa Mas merasa panik? Mas kan bisa menggagalkan rencana Neli!" ujar Sifa dengan tersenyum lebar.
"Tidak, sayang. Sepertinya Neli sudah curiga dengan Bara. Dan juga, wanita licik itu terlihat lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Sepertinya dia juga sudah mulai merasa jika pergerakannya dalam pengawasan," jelas Abash.
Wajah Sifa yang awalnya terlihat santai, perlahan mulai ikut menengang.
"Lalu, Mas, bagaimana dengan nasib Bara? Mas harus memberitahu kepada dia apa yang sedang Neli rencanakan."
"Mas sudah menyuruh orang untuk memberitahu Bara, semoga saja dia bisa menggagalkan rencana Neli dan terlindung dari ide buruk wanita ular itu," ujar Abash dengan lirih. "Tapi, sampai detik ini Mas belum mendapatkan kabar dari orang suruhan Mas, apakah dia sudah menyampaikan pesan Mas kepada Bara atau belum," sambung Abash.
"Aku akan menghubungi Zia untuk memberitahu Bara agar berhati-hati dengan Neli." Sifa pun bangkit dari pangkuan sang suami dan meraih ponselnya.
"Iya, sayang."
Sifa pun menghubungi nomor ponsel Zia, untuk memberitahu jika Neli sedang membuat rencana buruk untuk Bara.
Di tempat lain.
"Sama-sama, Bang. Zia juga senang bisa bekerja sama dengan Abang."
Bang Fatih melirik ke arah Arash juga ikut dalam pertemuan mereka, di mana nantinya Zia dan Arash akan lebih sering bertemu untuk urusan pameran yang akan Bang Fatih gelar di mall Adem. Ya, berhubung Mall Adem di pegang oleh Arash, sudah jelas kan jika mereka akan sering bertemu dan berkomunikasi?
Bukannya Bang Fatih tidak tahu, jika Arash masih memiliki rasa dendam kepada Zia. Tapi, sifat Arash terlalu kekanak-kanakan rasanya, karena harus memendam hal yang tidak perlu. Lagi pula, Arash dan Zia saat ini adalah saudara ipar, kan? Sudah seharusnya mereka memiliki hubungan yang baik. Dan semoga saja, dengan terjalinnya kontrak kerja ini, perlahan hubungan Arash dan Zia yang sudah lama membeku, bisa mencari dan kembali hangat.
Suara ponsel Bang Fatih pun mengambil alih perhatian Zia dan Arash. Pria itu meminta izin kepada Zia dan Arash untuk menerima panggilan teleponnya.
"Bagaimana kabar Mbak Putri?" tanya Zia kepada Arash. Ya, setidaknya Zia ingin masalah perselisihan paham antara dirinya dan Arash cepat terselesaikan. Rasanya akan canggung sekali jika mereka masih berperang dingin seperti ini.
"Baik," jawab Arash singkat.
Zia menghela napasnya pelan, setidaknya pria itu sudah mau menjawab pertanyaannya saja sudah syukur.
"Rayanza bagaimana? Sudah pintar apa?" tanya Zia kembali hanya untuk sekedar berbasa basi saja.
"Bukankah kamu sudah melihatnya dua hari lalu? Dan aku rasa kamu sudah tahu jika Rayanza sudah bisa apa," ketus Arash dan menatap malas ke arah Zia.
Zia mengepalkan tangannya, gadis itu benar-benar kesal dengan abang iparnya saat ini. Andai saja Arash bukan suami Mbak Putri, mungkin saat ini Zia sudah melempar pria itu keluar dari restoran ini.
"Emm, Zia, Arash," tegur Bang Fatih yang mana mengambil alih perhatian keduanya.
"Maaf, sepertinya Abang harus kembali duluan," ujar Bang Fatih. "Dan Abang minta tolong kepada kamu, Rash, untuk mengantar Zia pulang. Oke?" titah Bang Fatih dengan senyumannya yang lebar.
"Zia bisa pulang sendiri kok, Bang," tolak Zia.
"Tidak, tadi Bara sudah menitipkan kamu kepada Abang. Abang merasa bersalah jika harus membiarkan kamu pulang sendirian, Zia. Maka dari itu, Abang minta Arash untu mengantarkan kamu pulang. Oke, Rash? Abang anggap kamu setuju," putus Bang Fatih dan langsung mengambil tasnya.
__ADS_1
"Bang---" Zia tidak bisa melanjutkan penolakannya, karena Bang Fatih berlalu begitu saja tanpa ingin mendengar kembali penolakan darinya.
"Mas tidak usah repot-repot mengantar saya, karena saya bisa pulang sendiri," ujar Zia kepada Arash.
"Ya, baguslah kalau begitu. Jadi saya tidak perlu membuang-buang waktu untuk mengatarkan kamu pulang," ketus Arash dan meninggalkan Zia sendiri.
"Dasar menyebalkan," geram Zia menatap kepergian Arash.
Drrrttt … drrttt ….
Zia menoleh ke arah ponselnya yang berdering, wanita itu pun melihat jika ada sebuah panggilan masuk dari Sifa.
"Mbak SIfa? Tumben telepon aku? Apa dia ingin bertemu?" gumam Zia dan menggeser tombol hijau untuk menerima panggilannya.
"***---"
Booooomm …
Sebuah ledakan pun terdengar dengan begitu kerasnya. Tubuh Zia terlempar dari tempatnya berdiri, membuat wanita itu tidak sadarkan diri.
"Halo … Zia … Ziaa .." panggil Sifa dari seberang panggilan.
"Zia? Apa yang terjadi? Suara apa itu?" tanya Sifa dengan tubuh bergetar.
"Ziaaa …" pekik Sifa yang mana membuat Abash langsung berlari ke arah sang istri.
"Ada apa, sayang?" tanya Abash dengan kening mengkerut saat melihat mata sang istri tergenang dengan air mata.
"M-Mas, hiks … A-aku mendengar sebuah ledakan. Hikss .. Zia … Zia …"
Cling …
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Abash.
"Bagaimana kejutannya? Menyenangkan bukan?"
Cling …
"Aku peringatkan kamu untuk tidak ikut campur dengan urusanku dan Bara. Ini hanya peringatan kecil dariku, karena nantinya akan ada peringatan yang lebih menyenangkan dari ini, jika kamu masih ikut campur dengan urusanku dengan Bara."
Tidak perlu Abash mencari tahu siapa si pengirim pesan tersebut, karena dia sudah bisa menebak jika si pengirimnya adalah Neli.
Cling …
Masih dengan nomor yang sama, Neli mengirimkan foto Sifa dengan tulisan target selanjutnya.
"Mas, siapa yang mengirimkan pesan?" tanya Sifa merasa khawatir.
Abash hanya terdiam, dia tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana kepada Sifa.
"Maassss …" pekik Sifa untuk membuat sang suami berbicara.
"Sayang …," lirih Abash dan menarik Sifa ke dalam pelukannya. Abash sungguh takut kehilangan istri tercintanya itu.
"Apa yang terjadi, Mas? Siapa yang mengiriman pesan?" tanya Sifa di dalam pelukan sang suami.
Abash hanya bisa menahan air matanya, dia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan istrinya yang tercinta.
__ADS_1