
"Apa kamu bahagia, Put?"
Pertanyaan yang di berikan oleh Desi membuat perasaan Putri bagaikan tertimpa batu besar. Apakah dia bahagia saat ini?
Putri memandang cincin yang ada di jari manisnya. Cincin yang berbentuk sangat simple, tetapi terlihat sangat mewah sekali. Bahkan, berlian yang ada di tengah cincin itu bukanlah berlian biasa. Ya, Putri sangat mengetahui hal itu, karena dia memiliki beberapa koleksi berlian yang di belikan oleh Papa Satria dan juga Bara.
Bagaimana Putri bisa bahagia, jika hatinya telah di miliki oleh pria lain. Namun, pria yang melamarnya saat ini bukanlah pria yang dia cintai. satu hal yang harus dia syukuri, yaitu Soni sangat mencintainya. Bukankah cinta akan tumbuh sendirinya dengan seiring berjalannya waktu?
"Put, jangan paksakan hati dan perasaan kamu, jika kamu tidak bahagia bersamanya," lirih Desi yang mana membuat Putri mengangkat pandangan matanya ke arah Desi.
Putri kembali menatap cincin yang ada di jari manisnya. Tangannya yang lain masih memainkan cincin itu di jarinya.
Beberapa jam yang lalu.
"Jadi, apa kamu menerima lamaran aku, Put?" tanya Soni yang mana membuat Putri menarik napas dan menghelanya dengan pelan.
"Aku---"
Hening, hanya terdengar suara angin yang berhembus menyapa bumi.
Soni mengeluarkan cincin yang ada di dalam kotak bludru tersebut, kemudian dia mengambil tangan Putri dan memakaikan cincin tersebut ke jari manis tangan kanan Putri.
"Aku tau kamu tidak mencintai aku. Aku tau kalau kamu akan berkata 'maaf' karena telah menolak aku. AKu tau, jika ada pria lain di hati kamu, Put," ujar Soni yang sudah berhasil memasukkan cincin indah itu ke jari manis Putri.
Soni mengangkat pandangannya, kemudian dia tersenyum dengan begitu lembutnya.
"Aku tidak akan memaksa kamu, Put, untuk menerima aku. Aku juga ingin ada seseorang yang aku cintai juga mencintai aku, Put. Maka dari itu, aku tidak akan memaksa kamu untuk menerima lamaran aku," sambung Soni yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.
"Dan untuk cincin yang aku pasangkan ke jari manis kamu ini. Anggap saja ini hadiah dan oleh-oleh yang aku bawakan untuk kamu dari luar negeri. Lagi pula, sudah lama juga kan kamu tidak mendapatan hadiah dari aku?" Senyuman yang tulus terpancar dari wajah Soni, pria itu terlihat bersungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan barusan.
__ADS_1
"Tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui. Aku akan tetap menunggu kamu, Put. Aku akan menunggu sampai ada seseorang yang tepat bisa menjaga kamu seumur hidupnya. Dan saat itu tiba, maka aku akan mencari pengganti diri kamu."
Satu tetes air mata Putri pun jatuh membasahi punggung tangan Soni yang sedang menggenggam tangannya dengan hangat.
"Hikss ... Soni ... kamu----"
"Jangan katakan apa pun, Put. Jika kamu hanya ingin menegaskan penolakan lamaran ini. Setidaknya, tolong jangan jatuhkan harga diri aku sebagai lelaki karena sudah di tolak oleh kamu," lirih Soni dengan sedih dan tatapan memohon.
"Aku gak minta kamu untuk menerima aku, aku juga tidak meminta kamu untuk mencintai aku, Put. Aku hanya minta kamu menerima cincin ini, walaupun itu bukan sebagai cincin lamaran. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kamu memakai cincin ini, walaupun hanya sehari. Aku mohon?" pinta Soni yang mana membuat Putri perlahan menganggukkan kepalanya.
"Aku akan pakai cincin ini, karena sahabatku memberikannya dengan hati yang tulus," jawab Putri yang mana membuat Soni menganggukkan kepalanya.
"Itu lebih baik," jawab Soni dengan tersenyum walaupun hatinya telah hancur berkeping-keping.
"Soni, kamu pria yang baik. Aku yakin jika suatu saat nanti kamu akan menemukan wanita yang tepat," ujar Putri menangkup pipi Soni dengan satu tangannya yang bebas.
"Bagaimana jika wanita itu adalah kamu, Put?" tanya Soni yang berharap jika masih ada setitik harapan untuknya berada di dalam hati Putri.
"Terdengar sangat manis sekali," kekehnya. "Aku harap suatu saat kamu juga mencintai aku. Agar aku bisa di lamar sama kamu." Kata-kata yang di ucapkan oleh Soni pun membuat Putri juga ikut tertawa.
"Heemm, semoga saja. Kita tidak pernah tau bagaimana Tuhan membolak balikkan hati manusia, iya kan?"
"Ya, kamu benar," jawab Soni menyetujui ucapan Putri.
Bolehkah Soni berharap jika Tuhan akan membolak balikkan hati Putri dan menjadikan gadis itu mencintai dirinya? Tak ada yang tak mungkin kan di dunia ini, jika Allah sudah menghendaki.
"Haaah, malam semakin dingin," lirih Soni dan membuka jasnya. "Pakailah," titah Soni sambil membungkus tubuh Putri.
"Terima kasih," cicit Putri dengan tersenyum.
__ADS_1
"Mau aku ayunkan lagi ayunannya?" tawar Soni yang di angguki oleh Putri.
"Tentu."
Waktu saat ini.
Putri masih menatap cincin pemberian Soni. Sudut bibir gadis itu pun terangkat membentuk sebuah lengkungan senyuman. Hal itu pun tak luput dari pandangan mata Desi.
"Apa arti bahagia, Des? Apa jika kita bersama dengan orang yang kita cintai? Maka kita akan benar-benar merasakan bahagia?" tanya Putri yang mana membuat Desi mengernyitkan keningnya.
Bukankah hidup dengan orang yang kita cintai, akan membuat kita bahagia?
"Kamu tau, Des. Tak ada hal yang bisa membuat kamu bahagia, selain di cintai," ujar Putri dan mengangkat pandangan matanya menatap ke arah Desi yang sedang menatapnya dengan kening mengkerut.
"Soni sangat mencintai aku. Hanya butuh waktu bagi aku untuk mencintainya." Ucapan yang keluar dari mulut Putri, membuat Desi tersadar dari pemikirannya.
"Put, kamu mencintai Arash. Aku tau kamu sangat mencintai dia. Tapi, kenapa kamu malah menjauh darinya, Put? Kenapa kamu tidak memperjuangkan cinta kamu?" tanya Desi yang mana membuat Putri tersenyum.
"Untuk apa aku memperjuangkan cinta yang tabu? Sedangkan di depanku saat ini ada seorang pria yang sangat mencintai aku!"
"Bagaimana jika Arash juga mencintai kamu? Apa kamu akan menyerah, Put?" Pertanyaan yang di berikan oleh Desi pun membuat darah Putri berdesir.
Di ulangnya lagi pertanyaan yang di lontarkan oleh Desi kepadanya. "Bagaimana jika Arash juga mencintai kamu?". Ya, 'Jika'. Sebuah kata yang memiliki arti yang tabu.
"Bagaimana jika Arash ternyata tidak mencintai aku? Sedangkan aku telah berjuang untuknya dan mengabaikan orang yang mencintai aku?" tanya Putri balik yang mana membuat Desi menegakkan tubuhnya.
"Gak ada kata 'Jika' Put, karena Arash memang mencintai kamu. Arash mencintai kamu," tegas Desi yang mana membuat Putri sedikit terkejut mendengarnya.
"Apa?" tanya Putri memastikan apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
"Ya, Arash mencintai kamu, Put. Dia mencintai kamu."