
"Ayam kakek? Apaan itu?" tanya Abash.
"Ayam kakek itu adalah ayam goreng yang sangat terkenal itu loh. Restoran ayam yang menjamur di dunia," terang Arash.
Abash masih belum mengerti, hingga sang kembaran pun meraih ponselnya dan menunjukkan apa itu ayam kakek.
"Oh, ini toh," desis Abash dengan menggelengkan kepalanya.
"Ada-ada aja kamu, Sifa," kekeh Abash yang mana untuk pertama kalinya Sifa melihat Abash tertawa, walaupun hanya sebuah kekehan pelan.
"Ganteng juga Pak Abash ketawa begitu. Gantengnya ngalahi keramahan Pak Arash," batin Sifa sambil menatap wajah Abash.
"Kenapa kamu liatin saya gitu? Mau ketawain saya karena saya gak tau apa itu ayam kakek?" tanya Abash yang mana membuat Sifa menggelengkan kepala dan menundukkan kepalanya.
"Baru juga di puji dikit dalam hati, udah keluar lago judesnya," sambung Sifa dalam hati.
"Jangan menggerutui saya dalam hati, Sifa," tegur Abash yang mana membuat Sifa menatap sang bos dengan tatapan tak percaya.
"Iih, Bapak kegeeran banget sih? Siapa yang sedang menggerutui Bapak," cibir Sifa.
"Kelihatan jelas di wajah kamu," desis Abash yang mana mebuat Sifa mencibir pelan.
__ADS_1
"Udah, jangan berantam lagi. Ayo lanjut makan," ujar Arash menengahi kedua orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Tunggu, jika kalian tidak memiliki hubungan apa-apa, kenapa kamu harus sembunyi di lemari, Sifa?" tanya Arash yang mana membuat Sifa kembali menyemburkan sesuatu yang ada di dalam mulutnya saat ini.
Kali ini bukan air, melainkan spageti.Dan juga, kali ini bukan Arash yang terkena semburan dari Sifa, melainkan Abash.
"Pak, maaf," lirih Sifa dan mengambil sapu tangan yang ada di atas meja dengan tergesa-gesa, akan tetapi sialnya dia malah menyengenggol gelas sehingga membuat gelas itu terjatuh dan membasahi baju Abash.
"Akh .." lirih Abash dengan kesal.
"Pak, Maaf," lirih Sifa merasa bersalah.
Abash menarik napasnya dan membuangnya secara perlahan. Pria itu pun menoleh ke arah Sifa.
Sifa yang merasa bersalah pun bingung harus melakukan apa. Haruskah dia mengikuti Abash hingga ke toilet?
"Sifa, sebaiknya kamu duduk, ya," titah Arash yang langsung di angguki oleh Sifa.
"Udah, kamu tenang aja, Abash bukan orang yang pendendam dan mudah marah kok," ujar Arash.
"Iya, Pak. Tapi ...."
__ADS_1
"Udah, lanjut aja lagi makannya. Nanti saat Abash kembali, kamu bisa minta maaf lagi ke dia," ujar Arash yang di angguki oleh Sifa.
Sifa pun mulai mengaduk kembali spageti yang ada di hadapannya saat ini, tetapi perasaannya masih merasa tak enak dengan Abash yang terlihat kesal. Dia pun berdiri dan pamit kepada Arash untuk menyusul Abash.
"Pak, saya permisi sebentar ya, saya harus lihat keadaan Pak Abash," ujar Sifa dan berlari menuju ke arah mana Abash pergi tadi.
Arash hanya menatap punggung Sifa dan menggelengkan kepalanya.
"Hmm, gadis yang unik. Apa Abash menyukainya juga?" tanya Arash entah kepada siapa. Tak menutup kemungkinan jika Arash juga telah tertarik dengan pesona Sifa.
Di depan toilet restoran. Sifa berdiri tepat di depan toilet laki-laki, wanita itu berdiri sambil meremas-rem*s jari jemarinya menunggu sang bos keluar dari sana.
"Hai cantik, tungguin siapa?" tegur seorang pria yang terlihat berkelas namun wajahnya sangat mesum sekali.
Sifa pun mengabaikan pria itu dan bergeser sedikit menjauh darinya.
"Kenapa menjauh? Jika kamu penasaran dengan yang besar, maka milikku lah yang besar. Kamu mau lihat, cantik?" ujar pria itu sambil mencuil dagu SIfa.
"Jangan kurang ajar ya," desis Sifa.
"Wow, gadis yang galak. Aku suka. Ayo, aku tunjukkan milikku yang besar," ujar pria itu dan menarik lengan Sifa.
__ADS_1
"Lepass, menjauh brengsek," ujar Sifa dan menggigit lengan pria itu hingga membuat pria itu melepaskan tangannya.