Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 436


__ADS_3

Kedatangan Sifa dan Abash langsung di sambut oleh Mama Kesya dan Papa Arka. Wanita paruh baya yang sedari tadi terus menunggu kedatangan Sifa dengan tak sabaran itu pun, langsung menggandeng tangan sang menantu untuk masuk ke dalam rumahnya yang megah.


"Kalian belum makan malam, kan?" tanya Mama Kesya yang di jawab gelengan oleh Sifa.


Sifa masih merasa kenyang, karena acara pesta perpisahan dirinya dan para tim cobra berakhir hingga sore. Akan tetapi, wanita itu tetap akan menikmati hidangan yang di sediakan oleh sang mertua kesayangannya itu.


"Hai, Fa," sapa Putri yang sudah berada di ruang makan. Di samping Putri ada Arash yang juga ikut menyapanya.


"Hai, Put. Apa kabar?" Sifa pun menyampiri iparnya itu. Mereka berciuman pipi kiri dan kanan.


"Gimana kabarnya?" tanya Sifa kepada Putri.


"Alhamdulillah, sudah lumayan enakan. Ya, walaupun terkadang sesekali masih terasa nyeri pada bagian jahitannya," jawab Putri.


"Alhamdulillah."


"Udah dulu ngobrolnya, nanti lanjut lagi," tegur Mama Kesya dan meminta Sifa untuk duduk di kursinya.


"Owwweekk … owweeekk …" Terdengar suara tangis Rayanza, yang mana membuat Mama Kesya langsung berdiri dan meminta Arash untuk tetap duduk di tempatnya.


Mama Kesya pun mengambil Rayanza yang di gendong oleh encus.


"Sepertinya haus, Nya," ujar encus.


"ASI-nya udah di hangetin?" tanya Mama Kesya.


"Belum, Nya. Tadi kan habis nyusu sama Buk Putri."


"Ya sudah kalau begitu, kamu hangetin dulu ASI-nya ya," titah Mama Kesya.


"Baik, Nya."


Setelah encus pergi, Mama Kesya pun berusaha untuk mendiamkan Rayanza. Sifa pun bangkit dari duduknya untuk menggantikan Mama Kesya menjaga Rayanza. Lagi pula, perutnya masih terasa sangat kenyang.


"Ma, biar sama Sifa aja Rayanza, nya," pinta Sifa yang sudah berada di dekat Mama Kesya.


"Eh, kok kamu malah nyusul ke sini? Sudah sana, kamu lanjut makan saja," titah Mama Kesya.


"Gak papa, Ma. Lagi pula Sifa masih kenyang kok."


"Kenyang? Katanya belum makan makan?" tanya Mama Kesya.


"Iya, Ma. Tadi sepulang kantor, Mas Abash ngajakin makan. Sifa kebanyakan makan makanya masih kenyang," kekeh Sifa pelan.


"Oh, begitu …" ujar Mama Kesya dengan lirih.


"Maaf, Nya. Ini susunya," encus pun datang sambil memberikan susu Rayanza.

__ADS_1


"Ah ya." Mama Kesya pun mengambil botol susu tersebut dan memberikannya kepada sang cucu.


Terlihat Rayanza begitu lahap meminum susunya, hingga tak butuh lama bayi mungil itu pun langsung tertidur pulas. Mama Kesya pun meletakkan kembali Rayanza ke box bayi yang ada di ruang keluarga.


"Tolong jagain Rayanza ya, Encus." pinta Mama Kesya.


"Baik, Nya."


"Ayo, Sifa, kita kembali ke ruang makan," ajak Mama Kesya yang langsung di angguki oleh Sifa.


Mama Kesya dan Sifa pun kembali bergabung di meja makan. Mereka pun ikut menikmati hidangan yang tersedia. Walaupun masih sangat merasa kenyang sekali, Sifa tidak ingin membuat sang mertua merasa kecewa kepadanya, dia pun mengambil sedikit salad untuk di makan.


Setelah makan malam selesai, Papa Arka pun mengajak Sifa dan Abash untuk bersantai di ruang keluarga. Putri dan Arash pun ikut bergabung, karena di sana ada bayi mereka. Shaka yang masih sekolah memilih untuk kembali ke kamarnya. Banyak buku yang harus pria tanggung itu baca demi masa depannya yang cerah. Sedangkan Quin dan Abi tidak ada di rumah, karena mereka sedang berkunjung ke rumah keluarga Abi.


"Sifa, Papa memanggil kalian ke sini, karena Papa ingin bertanya dan mendengar secara langsung jawabannya dari kamu," ujar Papa Arka dan menggantung kalimatnya.


Sifa menggenggam kain bajunya untuk menghilangkan rasa gugup yang sedang menghinggapi perasaannya saat ini.


"Jadi, apa benar kalau kamu sudah mengundurkan diri dari perusahaan Farhan?" tanya Papa Arka yang sedang menatap wajah sang menatu perempuannya yang cerdas itu.


Sifa menghela napasnya pelan sekali, kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Iya, Pa. Maaf, jika Sifa membuat Papa dan yang lainnya terkejut dengan keputusan Sifa ini," ujar Sifa dengan suara yang bergetar.


"Kalau Mama boleh tau, kenapa kamu mengundurkan diri, sayang? Bukannya pekerjaan itu ada cita-cita dan mimpi kamu?" tanya Mama Kesya yang sudah tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.


"Iya, Ma. Sifa hanya mau fokus dengan mengurus rumah tangga saja, Ma," jawab Sifa yang melirik Mama Kesya dengan takut-takut.


Sifa semakin meremas bajunya, jika tadi Sifa takut kalau Mama Kesya salah paham dan menuduhnya cemburu kepada Putri. Saat ini malah Sifa merasa jika dirinya merasa telah membuat Mama Kesya kecewa.


"Sifa, sayang … kalau kamu ingin berkarir. Berkarirlah. Kamu jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh orang-orang, Nak. Hidup kita yang jalani, bukan mereka. Jadi, kejar mimpimu setinggi langit, sayang," ucap Mama Kesya.


Mata Sifa terasa berembun, hal itu membuat Abash menghela napasnya pelan. Pria itu pun mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan sang istri. Sifa menoleh ke arah Abash, di mana pria itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dari aura wajah pria itu seolah mengatakan jika semuanya baik-baik saja.


"Ma …" Abash langsung memotong kalimat yang ingin di ucapkan sang mama, sehingga membuat Mama Kesya langsung menutup mulutnya.


"Sifa mengundurkan diri dari perusahaan, karena sebenarnya kami telah menjadwalkan progam kehamilan," ungkap Abash yang mana membuat Mama Kesya sedikit terkejut hingga membuka mulutnya.


"Ma-maksudnya? Ka-kalian … Sifa … Kalian memutuskan untuk memiliki anak?" tanya Mama Kesya memastikan.


"Iya, Ma. Keputusan ini kami buat secara bersama," ujar Abash. "Sifa memutuskan untuk berhenti meminum pil KB."


"Em, begitu …" ujar Mama Kesya dengan lirih,


"Lalu, bagaimana dengan semua usaha dan kerja keras kamu, Sifa? Kamu telah berjuang sejauh ini demi mewujudkan mimpi-mimpimu." Papa Arka sengaja mengambil alih pembicaraan, karena tidak ingin sang istri keceplosan berkata jika apa yang di tebak oleh Mama Kesya tentang Sifa yang juga igin hamil seperti Putri terucap.


Ya, saat sedang curhat dengan Papa Arka, Mama Kesya sempat mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Mama Kesya merasa Sifa berubah dan seolah menjaga jarak dengan Putri. Padahal dulu mereka sangat akrab sekali. Mama Kesya juga sempat mendengar apa yang dikatakan oleh ibu-ibu pengajian saat di rumahnya dulu, di mana mereka mengatakan jika wajah Sifa terlihat cemburu saat melihat Putri.


Untuk itulah, Mama Kesya berpikir apakah apa yang di katakan oleh ibu-ibu pengajian itu benar adanya atau tidak. Dan juga, sebenarnya Mama Kesya tidak ingin jika kedua menantunya itu merasa tidak mendapatkan perhatian yang adil, sehingga menimbulkan rasa kecemburuan di dalam hati.

__ADS_1


"Sifa bisa melanjutkan semua mimpinya di perusahaan Abash, Pa. Lagi pula, Abash dan Sifa akan membangun perusahaan agar semakin lebih maju dari sekarang secara bersama. Pengunduran diri Sifa juga untuk memperkecil fitnah atau tuduhan yang takutnya suatu saat nanti akan membuat perusahaan Abash mengalami kerugian besar, Pa," jelas Abash yang langsung di pahami oleh Papa Arka.


"Hmm, jadi Sifa akan langsung bekerja di perusahaan kamu?" tanya Papa Arka lagi.


"Tidak, Pa. Untuk saat ini, Sifa akan menjalani progam hamil dahulu. Mungkin, jika waktunya sudah tepat, barulah Sifa dan Abash pikirkan akan rencana yang tadi Abash katakan," jawab Abash.


Papa Arka menganggukkan kepalanya, memahami apa yang di maksud oleh sang putra.


"Maksudnya gimana, Pa? Sifa bakal pindah kerja ke tempat Abash kembali, gitu?" tanya Mama Kesya.


"Untuk saat ini tidak, Ma. Karena mereka ingin fokus program kehamilan dulu," jawab Papa Arka.


"Oh, begitu."


Setelah mengetahui apa alasan Sifa mengundurkan diri dari perusahaan Farhan, membuat hati Papa Arka merasa tenang. Sebenarnya Papa Arka kurang setuju jika Sifa bekerja di perusahaan Farhan, takut jika apa yang di katakan oleh Abash akan terjadi suatu saat nanti. Ternyata, apa yang di pikirkan oleh Papa Arka, juga telah di pikirkan oleh Abash.


Ya, walaupun perusahaan Abash bekerja sama dengan perusahaan Farhan, tetap saja kan yang namanya fitnah tidak akan pernah lepas dari orang yang tidak bertanggung jawab. Apa lagi di dalamnya ada unsur rasa iri yang ingin menghancurkan karir Abash.


Syukurlah, alasan Sifa mengundurkan diri untuk program kehamilan membuat kekhawatiran Papa Arka jauh berkurang.


Papa Arka, Abash, dan Arash pun masuk ke dalam ruang kerja sang papa, di mana mereka akan membicarakan bisnis dari perusahaan Moza. Tinggallah Sifa, Mama Kesya, dan Putri di ruang keluarga.


"Sayang, boleh Mama tanya sesuatu?" ujar Mama Kesya kepada Sifa.


"Ya, Ma?"


"Apa kamu merasa jika Mama memberikan perhatian yang tidak adil kepada kamu, Nak?" Mama Kesya berbicara dengan sangat hati-hati, karena takut menyinggung perasaan Sifa atau Putri.


"Tidak, Ma. Kenapa?"


"Tidak ada, Mama hanya takut jika Mama tidak bisa bersikap adil kepada menantu-menantu Mama," ujar Mama Kesya dengan menyentuh pipi Sifa.


Sifa menangkup tangan Mama Kesya yang ada di pipinya. "Tidak, Ma. Mama tidak pernah bersikap tidak adil kepada kami. Mama selalu memberikan perhatian yang sama kepada Sifa dan Putri, juga kepada Mbak Nafi," ujar Sifa dengan tersenyum lebar.


"Apa itu yang kamu rasakan, sayang?" tanya Mama Kesya memastikan.


"Iya, Ma. Itu yang Sifa rasakan."


"Iya, Ma, Putri juga merasakan hal yang sama dengan Sifa, kalau Mama memberikan perhatian yang sama kepada Sifa, Putri, dan Mbak Nafi," tambah Putri yang mana membuat Mama Kesya tersenyum lega.


"Syukurlah kalau begitu. Mama merasa lega sekali. Mama sangat takut jika tidak bisa bersikap adil kepada para menantu-menantu Mama, padahal Mama sudah sangat berusaha untuk bersikap adil."


"Mama tau, Mama adalah mertua yang terbaik yang pernah Putri miliki," puji Putri dan memeluk Mama Kesya.


"Iya, Ma. Sifa juga merasa begitu. Mama adalah mertua yang terbai di dunia." Sifa pun ikut memeluk tubuh Mama Kesya.


"Mama sayang kalian berdua. Terima kasih sudah menjadi menantu Mama yang terbaik."

__ADS_1


__ADS_2