
Atmosfir di antara Putri dan Sifa tiba-tiba berubah menjadi dingin. Padahal sebelumnya tidak ada masalah di antara keduanya.
"Sifa, kalau Mami minta tolong buat pijit capek? Kamu bisa?" tanya Mami Vina.
"Bisa, Tante," jawab Sifa dengan tersenyum.
"Oke, Minggu ini Kamu ke rumah ya," pinta Mami Vina.
"Iya, Tante."
"Arash, kamu jemput Sifa, bisa? Hari Minggu? Kan kamu sekalian jemput Elsa buat ke dojo?" ujar Mami Vina kepada sang keponakan.
"Bisa, Mi," jawab Arash dengan semangat dan senyum yang mengembang.
"Oke, nanti kamu di jemput sama Arash, ya."
Abash sudah melirik ek arah Sifa dengan kesal. Kenapa gadis itu terlihat tidak menolak tawaran Mami Vina? Atau benar lagi jika Sifa memiliki hubungan dengan Arash?
Ya, Abash tahu, saat dirinay ke Bandung dengan Putri, pengawal bayangannya memberikan kabar jika Sifa pergi ke taman bersama Arash.
Awalnya Abash tidak merasa curiga dan masalah akan hal itu. Karena dia percaya, jika kembarannya tidak mungkin menusuknya dari belakang. Tapi, melihat betapa bersemangatnya Arash menyetujui permintaan Mami Vina, membuat Abash merasa curiga, jika kembarannya itu juga memiliki hati dengan paccarnya.
Abash pun meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya dan mengirimkan epsan kepada sang kekasih.
"Kenapa kamu tidak menolak tawaran Mami Vina? Apa kamu punya hati dengan Arash?" send.
Sifa yang mendengar dentingan dari ponselnya pun, langsung melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.
"Mas Abash?" batinnya dan menggeser layar untuk membaca isi pesan tersebut
Sifa mengernyitkan keningnya dalam, apakah dia punya kesempatan untuk menolak tawaran Mami Vina? Sedangkan dirinya hanya memikirkan Putri yang saat ini duduk di sebelah Abash.
Sungguh mereka berdua itu terlihat sangat serasi. Hal itu membuat Sifa merasa geram dan menyetujui permintaan Mami Vina.
Sifa pun tidak membalas pesan dari Abash, gadis itu kembali menyimpan ponselnya dan melanjutkan makan.
Putri melirik ke arah Abash dan Sifa yang terlihat saling melemparkan tatapan mata tak suka.
__ADS_1
"Apa saat ini ada masalah di antara mereka? Atau gara-gara Abash menggendong aku tadi, makanya Sifa marah?" batin Putri.
"Hmm, rasanya gak adil jika aku membenci dia. Padahal di antara aku dan Arash memang tidak memiliki hubungan apa pun. Jadi, aku tidak punya hak untuk marah dengan Sifa.Yang punya hak untuk marah adalah Sifa, bukan aku," batinnya menyesali apa yang baru saja gadis itu rasakan beberapa saat lalu.
Makan siang pun selesai, mereka pun berpamitan kepada Mami Vina dan mengucapkan terima kasih karena sudah di traktir oleh wanita paruh baya tersebut.
"Kamu mau ada ke mana lagi?" tanya Arash kepada Putri.
"Hmm? Saya---"
"Putri, apa Anda sibuk saat ini?" tanya Abash yang sudah mendekati Araash dan Putri.
"Tidak, kenapa?" tanya Abash kemudian.
"Bagaimana jika kkit amembahas tentang kontrak kerja itu sekarang?" saran Abash yang langsung di setujui oleh Putri.
"Baiklah."
"Oke, kalau begitu Anda ikut bersama kami saja, bagaimana?" tawar Abash lagi.
"Baiklah." setuju Putri, sepertinya dia harus menjaga jarak dengan Arash, agak tidak semakin terjatuh ke dalam pesona pria itu.
Sudah cukup bosan rasnaya gadis itu bertemu dengan sang adik yang selalu berawajah kaku, sehingga mebuat Putri menginginkan suami yang ceria seperti sang papa.
Putri pun menoleh ke arah Arash dan berpamitan kepada pria itu.
"Pulang jam berapa?" tanya Arash yang berniat untuk menjemput Putri.
"Belum tau, lagi pula aku bisa pulang sendiri, kok," ujar Putri memberitahu.
"Katakan saja jika sudah pulang, aku akan menjemput kamu."
Jika orang yang tidak mengenal Arash, maka mereka akan berpikri jika pria itu tertarik dengan Putri. Padahal kenyatannya tidak. Araash memiliki sifat yang ramah seperti Mama Kesya, Quin, dan juga Veer.
Setelah berpamitan kepada Arash,Abash pun mengajak Putri menuju mobilnya.Dari kejauhan, Sifa sudah mengepalkan tangannya di saat melihat {utri berjalan dengan sang ekkasih menuju mobil pria itu.
"Apa dia akan naik ke mobil ini?" batin Sifa bertanya-tanya.
__ADS_1
Saat sudah berada di dekat mobil Abash, Putri merasa bingung harus duduk di mana. Jadi, gadis itu pun berinisiatif untuk duduk di bangku penumpang bagian belakang.
"Eh, Buk Putri duduk di depans aja. Biar kami yang di belakang," titah Bimo sambil membukakan pintu mobil untuk Putri.
Putri pun menoleh ke arah Abash, pria itu pun menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang dikatakan oleh Bimo.
"Tidak, saya duduk di belakang saja. Biar Mbak Sifa yang duduk di depan,' ujar Putri dan mendorong pelan tubuh Sifa untuk duduk di depan.
Putri pun dengan cepat langsung naik ke kursi penumpang bagian belakang, sehingga membuat Sifa melirik ke arah sang kekasih.
"Naiklah," titah Arash yang mana membuat Sifa sedikt kesal, karena suara pria itu terdengar dingin sekali. Tidak seperti biasanya.
"Menyebalkan," batin Sifa dan melriik kesal kepada Abash.
Di dalam mobil, tidak ada satu pun yang membuka suara, sampai mobil Abash pun tiba di perusahaan miliknya endiri.
Abash turun dan langsung di ikuti oleh yang lainnya. Pria itu mengajak Putri untuk menaiki lift khusus petinggi perusahaan dan membiarkan sang kekasih naik lift umum khusus karyawan bersama Didi dan Bimo.
"Kenapa Pak Abash tidak mengajak Sifa naik ke sini?" tanya Putri.
"Ini lift khusus petinggi perusahaan," jawab Abash dengan kesal.
"Seharusnya Pak Abash mengumumkan tentang hubungan kalian berdua. Setidaknya eluarga Pak Abash harus mengetahui tentang hubungan kalian," saran Putri.
"Ap amenuruut kamu itu ide yang bagus untuk keselamtan Sifa?" tanya Abash dengan tatapan dingin dan menusuk.
"Apa keluarga Pak Abash tidak bisa di percaya?" tanya Putri balik dengan tatapan tak kalah tajam.
Abash terdiam, apa yang dikatakan Putri ada benarnya.Keluarganya selama ini selalu bisa di percaya. Lalu, kenapa dia enggan untuk mengumumkan hubungan mereka?
"Saya takut, jika ada yang salah paham dengan hubungan." Suara Putri pun kembali mengambil atensi Abash.
"Maksud kamu?"
"Perlakuan Pak Abash ke saya tadi itu salah. Orang-orang akan berpikir jika kita memiliki hubungan yang spesial. Dan juga, apa Pak Abash tdiak bisa menghargai perasaan Sifa? Saya yakin, dia pasti terluka dengan apa yang Bapak lakukan ke saya tadi. Jadi, saya mohon jangan ulangi hal tadi lagi," ujar Putri penuh keyakinan.
"Sifa cemburu?" tanya Abash dengan perasaan yang bahagia dan juga sakit secara bersamaan.
__ADS_1
"Saya seorang wanita, jadi saya paham betul apa yang Sifa rasakan. Tidak ada di dunia ini seorang wanita pun yang tidak cemburu jika kekasihnya memberikan perhatiannya untuk wanita lain."
Abash tersenyum kecil. "Benarkah Sifa cemburu?"