Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 107 - Parking


__ADS_3

"Kamu beneran gak papa kan, Put?" tanya Luna khawatir.


"Huuf, aku gak papa," ujar Putri dengan nada yang masih kesal.


"Ya udah kalau gitu, kita pulang sekarang aja gimana?" bujuk Luna.


"Haah, yuk lah. Lagian udah gak mood juga aku di sini," ujar Putri dan mencuci tangannya di wastafel.


Kedua wanita itu pun keluar dari toilet dan berjalan menyusuri koridor menuju lift. Luna memperhatikan sang sahabat yang masih terlihat kesal. Sesekali terdengar decakan dari bibir Putri, juga hentakan kakinya ke lantai.


Putri menatap pantulan dirinya di dinding lift, gadis itu pun menatap keseluruhan tubuhnya di sana dan memandang ke arah dadanya.


"Gak kecil-kecil amat kok, masih terlihat menonjol," batin Putri. "Bisa-bisanya dia bilang gak terasa?" sambungnya lagi di dalam hati.


"Cih, dasar buaya. Seharusnya aku patahi aja tangannya," gerutu Putri yang mana membuat pria yang ada di belakangnya langsung menarik kembali tangannya yang ingin meremas bokong wanita itu.


Luna yang juga mendengar gerutuan dari Putri pun, hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Tunggu, sepertinya Luna pernah melihat polisi mesum itu, tapi di mana? Luna pun berusaha mengingat di mana dia pernah melihat polisi yang sudah menyentuh dada sahabatnya itu.


"Ah, mungkin salah satu pasien di rumah sakit, atau polisi yang sedang menyelidiki kasus tabrakan saat di rumah sakit. Ya, pasti salah satu dari itu," batin Luna.


Ting ...


Pintu lift pun terbuka, pria yang ingin menyentuh bokong Putri bergegas keluar karena takut jika tangannya akan di patahkan oleh gadis itu.


"Pe-permisi," ujar pria itu dengan gugup dan terburu-buru keluar.


Pintu lift kembali tertutup, menyisakan beberapa orang di dalam sana yang ingin menuju ke baseman.


"Put, kamu serius tolak mobil dari Bara?" tanya Luna.


"Hmm, aku ingin hidup mandiri. Menggunakan semua uang hasil dari kerja keras aku selama ini. Kamu tau sendiri kan? Kalau Papa, Mama, Opa, Oma, juga Bara, selalu memberikan apa yang aku butuhkan. Bahkan, hingga ke pakaian dalam aku pun juga udah di siapkan oleh mereka," bisik Putri di akhir kalimatnya.


"Iya sih, mereka sudah memenuhi semua kebutuhan kamu," kekeh Luna.


"Hmm, untuk itulah, makanya aq ingin hidup mandiri. Menggunakan semua tabunganku sendiri untuk membeli semua kebutuhan aku," ujar Putri dengan tersenyum lebar.


Ting ...


Pintu lift kembali terbuka, Putri dan Luna pun keluar dari lift dan berjalan menuju di mana Luna memarkirkan mobilnya. Untungnya jaman sudah canggih, jadi Luna cukup menekan satu tombol di dalam aplikasi dan lokasi keberadaan mobil mereka pun langsung di temukan.

__ADS_1


"Salah naik lift kita," kekeh Luna saat mengetahui mobilnya berada jauh dari tempat mereka keluar.


"Hmm, gak papa lah. Dengan berjalan begini bisa membuat kekesalan aku memudar," ujar Putri dengan tersenyum lembut.


Butuh waktu sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di mana lokasi Luna memarkirkan mobilnya.


"Hah, capek juga ya. Gerah dan pengap rasanya," lirih Putri.


"Namanya juga d baseman, Put."


Luna menekan kontak kunci mobilnya untuk membuka kunci pintu mobil, sehingga mereka berdua pun masuk di dalamnya.


"Huuff, hidupin AC-nya, gerah aku," lirih Putri.


Luna hanya terkekeh pelan, sahabatnya ini memang ingin merasakan hidup sederhana, akan tetapi dia tidak bisa tahan kegerahan sedikit pun. Pernah sekali, Luna dan Putri berlibur ke Karawang, di mana tempat tanah lahiran Luna.


Di sana, Putri benar-benar kegerahan karena rumah orang tua Luna tidak memiliki AC, hanya ada kipas angin yang mendinginkan kamar tersebut, sehingga membuat Putri harus berkali-kali membasahi tubuhnya agar tetap terasa segar.


"Haahh, adem ... segeer ...," lirih Putri yang sudah memajukan tubuhnya ke dekat dasboard dan mendekatkan lehernya ke tempat di mana hawa dingin itu keluar.


Luna kembali menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh sang sahabat. Gadis itu pun melajukan mobilnya keluar basemane mall.


Sudah lima menit mereka berhenti di sebuah mobil yang ada di hadapan mereka. Akan tetapi, mobil tersebut juga belum jalan dan si pengemudi malah sibuk mengobrol dengan gadis yang berjaga di pintu keluar.


"Gak tau, dari tadi gak maju-maju nih mobil," jawab Luna yang juga mulai merasa kesal.


Putri yang tak sabaran pun menghidupkan klakson agar mobil yang ada di hadapannya saat ini berjalan.


"Gila, udah di idupin klakson malah kayak orang tulis, asyik banget ngobrolnya," gerutu Putri dan kembali menghidupkan klakson panjang.


Tiiin tiiiiiiiinnnn ...


Pria yang ada di dalam mobil tersebut pun keluar dan meminta maaf kepada mobil mereka, kemudian pria tersebut menghampiri gadis yang ada di kasir pintu keluar.


"Eh, itu bukannya pria mesum yang tadi ya?" tanya Putri memastikan penglihatannya.


"Iya kayaknya, Ngapain dia ngobrol di sana?" tanya Luna balik.


"Eh buset, pake acara tukeran nomor hp segala," gerutu Putri.


Merasa kesabarannya sudah mencapai ambang batas, gadis itu pun melepaskan seatbelnya dan turun dari mobil.

__ADS_1


"Eh, mau ke mana kamu?" tanya Luna dengan sedikit panik.


Beberapa menit lalu.


Arash menghentikan mobilnya di palang pintu keluar dari mall adem, milik sang papa. Pria itu harus segera menuju ke hotel, di mana tempat pertemuan dirinya dan klien akan membahas tentang kontrak kerja sama.


"Mbak, karcis masuk saya sepertinya hilang," ujar Arash.


"Kalau begitu Bapak bisa menunjukkan surat-surat dari mobil ini," ujar Kasir tersebut.


"Baiklah, tunggu sebentar." Arash pun merogoh jasnya, akan tetapi dia tak menemukan keberadaan dompetnya.


Arash pun teringat, saat dia sedang mengganti pakaian di ruangan kerja petinggi mall, alias ruang kerja sang papa, pria itu sepertinya menjatuhkan dompetnya di sana.


"Mbak, dengar. Dompet saya sepertinya terjatuh. Jadi, bisakah Mbak memberikan akses untuk saya lewat?" mohon Arash.


"Maaf, Pak. Tidak bisa. Sudah menjadi prosedur mall ini, jika siapapun yang keluar dan masuk harus baseman harus menunjukkan karcis masuknya. Jika karcis tersebut hilang, maka harus menunjukkan surat-surat berkendaraan ya dan membayar denda sebesar 250 ribu rupiah."


"Iya, saya tau. Karena mall ini milik orang tua saya," ujar Arash dengan terpaksa. Pria itu sebenarnya tidak ingin membongkar identitasnya kepada para pekerja, jika dirinya adalah anak dari si pemilik mall tersebut.


"Maaf, lelucon Bapak tidak lucu. Jika Bapak anak dari pemilik mall ini, pasti Bapak akan memarkirkan mobil di parking VVIP, bukan di parking umum," Ujar gadis itu.


Arash menghela napasnya dengan sedikit kasar. Pria biasanya tidak pernah melakukan ketedoran seperti ini. Sepertinya hari ini adalah hari kesialaannya. Eh tapi, sebenarnya semenjak bertemu dengan gadis pengaca itu, hari-hari yang di lalui Arash pun terasa sedikit tidak menyenangkan.


Terdengar suara klakson dari mobil yang ada di belakang mobilnya, sehingga membuat Arash semakin terasa di buru.


"Mbak, saya ini Arash Arkana Moza, Masa Mbak gak tau sih?" geram Arash.


"Maaf, Pak. Nama Bos besar kami memang Arash Arkana Moza, tapi Bapak tidak bisa seenaknya saja menggunakan nama tersebut. Atau, jangan-jangan Bapak pencuri mobil yaa?"


"Apa? Saya?"


"Saya akan memanggil security."


Tiiiiin .... tiiiiiinn ....


Terdengar kembali suara klakson dari mobil yang ada di belakang mobil Arash, sehingga membuat pria itu pun turun dari mobil.


"Mbak, saya bisa buktikan jika saya adalah pemilik mobil ini dan juga anak dari pemilik mall ini," geram Arash dan mengeluarkan ponselnya untuk mengubungi seseorang.


"Bapak bisa buktikan nanti di ruangan security."

__ADS_1


"Maaf, ada apa ini? Kenapa lama sekali ya?" tanya Putri yang sudah menghampiri Arash dan juga gadis parcking tersebut.


__ADS_2