
Mobil yang di kendarai Arash pun akhirnya tiba di rumah sakit. Pria itu pun memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang di sediakan.
“Ayo,” ajak Arash kepada Putri untuk turun.
“Tunggu, ini nyangkut,” cicit Putri saat ingin membuka seat bell-nya.
“Kok bisa?” tanya Arash dengan bingung.
“Gak tau, susah banget ini di bukanya,” lirih Putri sambil berusaha untuk melepas seat bell yang dia gunakan.
“Coba sini aku bantu bukain,” pinta Arash.
Pria itu pun mengulurkan tangannya untuk membuka seat bell yang di gunakan oleh Putri. Benar saja, seat bell itu susah sekali untuk di buka.
“Aku punya cara lebih cepat,” ujar Arash saat pria itu memiliki ide yang brilian.
“Apa?” tanya Putri bingung.
Arash tersenyum dan menarik tali seat bell yang ada di sebelah kiri Putri, hingga seat bell itu pun menjadi longgar di tubuh gadis itu.
“Ayo, keluar,” titah Arash sambil terkekeh.
“Kamu ini ada-ada aja, aku pikir mau kamu potong,” kekeh Putri sambil membuka pintu mobil.
“Rugi kalau di potong,” jawab Arash yang mana membuat Putri semakin tertawa.
Putri pun sudah berhasil keluar dari dalam mobil, kemudian di susul oleh Arash. Gadis itu pun membuka pintu mobil bagian penumpang belakang dan mengambil buket bunga anyelir yang dia beli tadi.
“Ayo,” ajak Putri.
Arash yang menatap bunga itu pun kembali menghela napasnya dengan berat, entah mengapa dia kesal dengan arti dari bunga anyelir itu.
“Memangnya apa yang dia kagumi dari Abash? Wajah sama dengan aku, tinggi juga sama, pinter juga sama,” batinnya menggerutu. “Bahkan aku memiliki dua profesi sekaligus. Seharusnya aku yang mendapatkan bunga itu,” sambungnya lagi dalam hati.
Arash pun tiba-tiba menghentikan langkahnya. “Tunggu, kenapa aku berharap jika Putri mengagumi diriku?” lirihnya pelan. “Apa yang aku pikirkan sebenarnya?”
Putri yang menyadari jika Arash tak lagi berada di sebelahnya pun, menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Rash? Kamu kenapa bengong di situ?” tanya Putri yang mana mengambil atensi Arash lagi.
“Hah?Enggak kok, aku gak bengong,” jawab Arash sambil mengusap tengkuknya.
“Lalu? Kenapa tiba-tiba berhenti?” tanya Putri dengan memicingkan matanya.
“Itu—.”
“Jangan bilang kalau kamu baru saja nemu uang lima ribu di lantai,” ujar Putri sambil mengulum bibirnya.
__ADS_1
“Apa?” Arash yang menyadari jika saat ini Putri sedang menggodanya pun, ikut tertawa.
“Kamu ini ada-ada aja deh, masa gara-gara uang lima ribu aku sampai berhenti tiba-tiba begitu?” kekeh Arash.
“Ya mana tau?” jawab Putri sambil mengendikan bahunya. “Ayo,” ajak Putri lagi yang langsung disusul oleh Arash.
Arash pun sudah menyamakan langkahnya dengan langkah Putri, kemudian pria itu tanpa sengaja menoleh ke arah seorang pengunjung yang tiba-tiba berhenti dan berjalan aneh.
Mata Arash masih mengawasi pengunjung tersebut, hingga Arash membelalakkan matanya di saat melihat pengunjuk itu mengutip uang yang di pijaknya dengan sengaja.
Arash pun melirik ke arah Putri. Ternyata benar apa yang di katakan gadis itu, kalau lagi sedang berjalan dan tiba-tiba berhenti, tenyata sedang menemukan uang yang terjatuh entah milik siapa. Arash pun sepanjang jalan tersenyum di saat mengingat jika dirinya yang melakukan hal tersebut.
“Demi lima ribu,” gumamnya sambil tersenyum.
“Hmm? Kenapa?” tanya Putri yang merasa jika Arash baru saja berbicara.
“Tidak, tidak kenapa-napa,” jawab Arash sambil terseyum.
“Lalu, kenapa kamuy tersenyum seperti itu?” tanya Putri penasaran.
“Aku hanya memikirkan apa yang kamu katakan tadi,” jawab Arash yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.
“Memikirkan apa yang aku katakan? Yang mana?” tanya Putri merasa penasaran.
“Itu, yang aku tiba-tiba menghentikan langkah karena sedang mengutip uang lima ribu,” kekeh Arash.
“Ya ampun, kamu ini. Masa sampai memikirkan hal itu sih? Aku cuma bercanda tau,” ujar Putri sambil terkekeh.
“Ya ampun, sampai segitunya kamu merhatiin dia?” tanya Putri penasaran.
“Iya. Awalnya aku gak sengaja gitu, tapi di lihat-lihat pergerakannya jadi aneh gitu, makanya aku perhatiin dia terus,” kekeh Arash yang tidak bisa berhenti tertawa.
“Ada-ada aja kamu ini. Lagian nih, ya. Banyak kok orang yang begitu, Apa lagi kalau nemu uang lima puluh ribu di jalan saat bawa motor,” kekeh Putri.
“Lalu? Apa si pengedara motor itu kembali untuk mengambil uangnya?” tanya Arash penasaran.
“Ya apa lagi? Dia kembali dan mengambil uang itu,” ujar Putri yang mana membuat Arash tak percaya dan kembali tertawa.
“Ya ampun, sampai segitunya?” tanya Arash sambil terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
“Kamu percaya, gak? Kalau aku pernah melakukannya?” ujar Putri yang mana membuat Arash membelalakkan matanya.
“Maksud kamu? Kamu pernah nemu uang di jalan saat bawa motor? Terus kamu putar balik gitu?” tanya Arash merasa tak percaya.
“Iya. Saat itu aku sedang pulang sekolah dengan sepupu aku, terus kami lihat uang dua puluh ribu di jalan,” ujar Putri sambil tersenyum di saat mengingat kejadian masa-masa sekolah menengah awalnya.
“Kan sepupu aku tuh yang bawa motor, trus dia bilang gini, ‘Nces, duit, Nces,” ujar Putri menirukan cara bicara sepupunya yang bernama Abil.
__ADS_1
“Lalu?” tanya Arash semakin merasa penasaran.
“Terus aku suruh dia putar balik dan aku ambil duitnya. Lumayan kan buat makan bakso pinggir jalan,” kekeh Putri yang mana membuat Arash tertawa terbahak-bahak.
“Padahal nih, ya. Di kantong aku itu ada duit tujuh puluh tiga ribu. Jajan aku di sekolah kan seratus ribu ya di kasih sama papa, tapi kalau nemu duit di jalan itu beda aja rasanya,” ujar Putri sambil tersenyum mengenang masa lalunya yang indah.
“Waah, luar biasa sekali masa remaja kamu ya,” kekeh Arash.
“Huum, bahkan aku pernah berkelahi dengan orang tua temanku,” ujar Putri dengan raut wajah yang membuat Arash semakin merasa penasaran ingin mendengar ceritanya.
“Kok bisa?”
“Saat itu, temen aku tuh kan cewek ya. Dia anak polisi gitu, jadi agak songong dan sombong gitu deh, nyebelin orangnya. Suka ngebully orang juga. Jadi, saat itu ada adik kelas aku yang memakai baju lusuh ke sekolah. Aku sih memaklumi karena dia memang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Dia bisa masuk ke sekolah elit juga karena sebuah prestasi dan juga beasiswa dari walikota. Makanya dia bisa masuk sekolah elit di tempat aku sekolah dulu,” ujar Putri menceritakan awal kisah bagaimana dirinya bisa berkelahi dengan orang tua temannya itu.
“Terus, aku bela nih adik kelas aku yang di bully, eh dia nyolot dan malah mau mukulin aku. Salah orang dong, secara aku sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar sudah memegang sabuk hitam,” kekeh Putri yang mana membuat Arash tak percaya tetapi merasa takjub secara bersamaan.
“Serius kelas lima sekolah dasar sudah pakai sabuk hitam?” tanya Arash dengan takjub.
“Huum, Opa aku kan pelatih taekwondo, terus Oom aku pelatih karate, jadi aku ikut kedua bela diri itu sejak umur lima tahun,” ujar Putri yang mana membuat Arash semakin merasa takjub dan kagum kepada gadis yang ada di sebelahnya saat ini.
Tunggu, haruskah Arash membelikan bunga anyelir untuk Putri? Menandakan jika dirinya merasa kagum dengan gadis itu?
Tidak, bagaimana jika Putri salah dan berpikir jika dia menyukai gadis itu. Sedangkan gadis yang di sukai oleh Arash adalah Sifa, kan?
Ya, sepatutnya Arash memberikan bunga anyelir kepada Sifa, karena merasa kagum kepada ketangguhan gadis itu.
“Lalu, apa yang terjadi dengan teman kamu itu?” tanya Arashg ingin mengetahui cerita selanjutnya.
“Dia dan temannya ingin mengeroyokku, tapi aku mengalahkan mereka dengan mudah. Bahkan, sedikit pun mereka tak dapat menyentuh aku. Nah, tu anak pulang deh ke rumahnya dan mengadu ke bapaknya yang polisi. Bilang aku aku udah pukulin dia sampai babak belur. Terus bapaknya gak terima dan besoknya datang ke sekolah saat kami sudah pulang sekolah. Dia hadang tuh jalan aku dan sepupu aku, trus suruh aku turun dari motor. Bapaknya maki-maki aku dan ingin membalas apa yang sudah aku lakukan kepada anaknya,” ujar Putri yang tanpa sadar saat ini mereka sudah duduk di kursi tunggu yang ada di luar kamar.
“Aku benci banget lihat kesombongan bapaknya itu, ya udah aku terima aja tantangannya. Dan hasilnya, bibir aku pecah dan tangan bapak itu patah aku buat,” ujar Putri yang mana membuat Arash kembali merasa terkejut dengan mulut terbuka.
“Luar biasa kamu. Pantes aja tangan aku langsung terkilir saat kamu banting aku waktu itu,” ujar Arash sambil menggelengkan kepalanya.
“Hmm, sejak saat itu Papa larang aku pulang naik motor lagi. Dan sejak saat itu aku gak lagi menemukan uang di jalan untuk makan bakso,” kekeh Putri yang mana membuat Arash ikut tertawa.
“Ya ampun, Put, Jajan seratus ribu masih ngutipin uang di jalan,” kekeh Arash.
“Namanya juga masa-masa remaja yang indah,” kekeh Putri yang mana membuat Arash merasa unik dengan sifat gadis yang duduk di sebelahnya ini.
Siapa yang menyangka, Putri yang terlihat anggun, ternyata pernah ikut balap liar dan juga tawurana. Dan lagi, mengutip uang yang ketemu di jalan untuk di belikan bakso. Unik sekali bukan?
“Sejak saat itu, aku benci banget sama polisi,” lirih Putri yang kembali teringat bagaimana dirinya pertama kali mendapatkan kemarahan sang papa.
Senyuman di bibir Arash pun perlahan mengendur, pria itu mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Putri. Bahwa gadis itu sangat membenci polisi. Pantas saja, saat dirinya ingin mengenalkan dengan atasannya yang masih jomblo dan muda, Putri langsung menolaknya dengan tegas.
Lalu, bagaimana dengan dirinya yang juga seorang perwira polisi? Jika di ingat-ingat, pertemuan mereka juga berawal dari kebencian. Hingga Putri semakin menunjukkan rasa tak sukanya di saat mengetahui jika dirinya adalah seorang perwira polisi.
__ADS_1
“Apa itu alasan Putri sehingga tak bisa merasa kagum dengan aku?” batin Arash merasa kecewa.
Loh, kok harus kecewa, Rash? Bukannya kamu gak suka sama Putri? Atau jangan-jangan kamu?