Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 299 -


__ADS_3

"Mau ngapain kamu ke sini?" ketus Putri saat melihat tunangannya sudah berada di depan pintu kamar.


"Mau minta maaf," ujar Arash dengan tersenyum manis.


"Telat." Putri menutup pintu kamar hotelnya, gadis itu pun berlalu melewati Arash.


"Put, mau ke mana?" tanya Arash yang sudah mencekal lengan sang tunangan.


"Mau pulang."


Arash pun tersenyum manis, sehingga membuat Putri semakin kesal di buatnya. Tangan Arash yang bebas mengambil sesuatu yang berada di dalam jaketnya.


"Untuk kamu," ujar Arash sambil mengulurkan setangkai bunga mawar.


Putri mengernyitkan keningnya, apa untuk meminta maaf kepada tunangan, Arash hanya memberikan setangkai bunga mawar saja?


Sungguh tidak romantis.


"Kok di anggurin?" tanya Arash saat Putri malah mengabaikan setangkai bunga mawar yang pria itu berikan.


"Itu mawar, bukan anggur," ketus Putri.


"Oh, kamu mau anggur?" tanya Arash sambil mengulum bibirnya. "Bilang dong kalau mau anggur, ntar aku beliin."


Putri melirik ke arah sang kekasih dengan tatapan matanya yang tajam. Apa pria yang ada di sampingnya ini benar-benar sangat menyebalkan?


Arash menautkan jari jemarinya di tangan Putri, hingga terciptalah sebuah genggaman tangan yang terasa sangat hangat sekali.


"Aku bener-bener minta maaf," lirih Arash sambil menatap dalam ke mata Putri.


Putri menghela napasnya dengan pelan. "Huum, aku maafin," jawabnya masih dengan nada suara yang ketus dan mengambil setangkai bunga mawar yang Arash berikan.


"Gak di cium?" tanya Arash saat Putri hanya membiarkan bunga itu tergenggam di tangan.


"Gak," jawab Putri tanpa menoleh.


"Atau, mau cium yang kasih bunganya?" goda Arash yang mana membuat Putri menoleh ke arah pria itu.


"Dasar mesum," cibir Putri. Arash pun tertawa pelan, rasanya gemas sekali dengan mimik wajah sang tunangan saat ini.


Darah Putri berdesir, di saat Arash menautkan jari-jari mereka. Rona merah di wajah pun tak mampu Putri tutupi, karena rona itu muncul dengan begitu saja dan langsung di lihat oleh Arash.


"Ayo," ajak Arash sambil tersenyum lebar, di saat melihat wajah merona sang tunangan.


Putri menurut, gadis itu mengikuti Arash untuk masuk ke dalam lift.

__ADS_1


"Kamu sudah sarapan?" tanya Arash untuk menemani suasana dingin yang tercipta di antara mereka.


"Udah."


"Makan apa?"


"Canai."


"Minumnya?" tanya Arash lagi sambil menahan senyumnya.


"Air."


"Oh, kirian minum minyak."


Sreeet ....


Putri menoleh ke arah Arash, di mana pria itu sudah merubah eskpresinya dengan wajah yang datar.


"Kamu pikir aku mobil, apa? Minumnya minyak?" ketus Putri.


Arash menoleh ke arah Putri, pria itu tersenyum tipis sambil mencubit hidung mancung sang kekasih.


(Eh, Putri mancung gak yaa? Ah lupa emak. Yang penting Putri cantik, udah, titik)


"Sakit tau," kesal Putri sambil memegangi hidungnya yang di cubit oleh Arash.


"Dasar nyebelin."


"Yang penting udah jadi tunangan kamu," ujar Arash sambil tersenyum miring.


"Masih tunangan, belum nikah. Mana tau aku khilaf dan berubah pikiran."


Braaakk ...


Putri terkejut, di saat tubuhnya di dorong dan sudah bersandar di dinding lift. Saat ini tubuh gadis itu sudah berada di dalam kungkungan sang kekasih.


"Arash, kamu mau apa?" cicit Putri sambil menahan tubuh Arash agar tidak semakin menghimpit tubuhnya.


"Kamu bilang apa tadi? Khilaf? Berubah pikiran?" tanya Arash dengan suara yang dingin.


Putri menelan ludahnya dengan kasar, tapi, dia tidak boleh terlihat lemah saat ini di depan Arash.


"Iya, kenapa memangnya?"


"Aku tidak akan membiarkan kamu berubah pikiran."

__ADS_1


"Oh ya? Berarti kamu gak boleh bikin aku kesal," ketus Putri.


"Kamu mau ancam aku?"


"Tergantung."


"Kamu---"


Ting ...


Arash menghentikan ucapannya, di saat pintu lift telah terbuka. Pria itu pun kembali memberi jarak kepada sang kekasih, kemudian kembali menggenggam tangan Putri dengan hangat seperti tadi.


"Ayo, calon istriku," tegas Arash di akhir kalimatnya.


Putri seberusaha mungkin menahan senyumnya, agar tidak menyembur keluar. Gadis itu pun mengikuti sang kekasih menuju mobil pria itu. Sepanjang perjalanan, semua karyawan pun menundukkan kepala dan memberi hormat kepada Arash dan Putri, sehingga membuat sudut bibir Putri tertarik membentuk sebuah senyuman.


Dia tidak menyangka, jika Arash akan seramah itu dengan semua karyawannya, berbeda sekali dengan Bara yang jika di sapa oleh karyawan, adiknya itu hanya merespon dengan kedipan mata atau pun lirikan mata. Sungguh dingin perilaku Bara, tak sehangat Arash. Hal itu pun membuat Putri sedikit khawatir dengan jodoh yang akan mendampingi pria itu.


"Ayo, masuk," titah Arash yang sudah membukakan pintu mobil untuk Putri.


Tanya mengucapkan terima kasih, Putri pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian depan. Gadi itu terdiam di saat melihat sebuket bunga cantik di hadapannya, lebih tepatnya di atas dasbord.


"Kamu suka?" tanya Arash yang sudah berlutut di luar pintu mobil. Tangan pria itu pun sudah menggenggam satu tangan Putri yang lain.


"Arash, ini?"


Putri mengambil buket bunga indah tersebut. Di mana di dalam satu buket itu terdapat lima macam bunga yang berbeda, yaitu terdiri dari bunga tulip putih, hyachin, Daffodil, mawar, dan angger putih. Bunga-bunga yang tersebut melambangkan sebuah permintaan maaf yang tulis dari seseorang. Untuk itulah, Arash menggabung semua bunga tersebut menjadi satu.


"Kamu mau kan maafin aku?" pinta Arash.


Mata Putri pun berkaca-kaca, gadis itu benar-benar terharu dengan apa yang di lakukan oleh Arash.


"Arash, kalau kamu kamu semanis ini, gimana aku bisa marah?" ujar Putri sambil mengusap punggung tangan Arash dengan jempolnya.


"Aku ada hal yang lebih manis lagi," ujar Arash dengan tersenyum manis.


"Apa? Senyuman kamu yang manis?" tanya Putri yang mana membuat wajah Arash merona.


"Itu juga, tapi ini hal yang lain," ujar Arash dengan wajah yang merona.


"Apa?"


"Coba lihat kebelakang," titah Arash.


Putri pun menoleh ke arah bangku penumpang bagian belakang, gadis itu pun terkejut melihat mobil Arash di penuhi oleh Bunga mawar berwarna merah yang terlihat sangat indah sekali. Mungkin, jika dihitung bisa mencapai seribu batang. Sesuai dengan apa yang di sarankan oleh Quin.

__ADS_1


"Arash, ini?"


__ADS_2