Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 102 - kucing


__ADS_3

"Kenapa memangnya kalau tiket honeymoon?" tanya Papa Arka. "Kamu mau honeymoon juga?"


"Hah? ya gak lah. Arash kan cuma bilang aja. Lagian, Oma bilang kalau lomba gendong pasti akan di mainkan oleh yang udah punya pasangan aja, alias udah nikah," jawab Arash.


"Hmm, dulu sih iya gitu. Tapi sekarang gak lagi kayaknya," jawab Mama Kesya.


"Iya, Oma mikirnya gitu. Makanya Oma minta Arash pesanin tiket honeymoon ke Bali. Tapi, untungnya Abash dan Sifa menolah hadiah itu," ujar Oma Laura.


"Oh ya? Kenapa?" Dengan pelan Arash menghembuskan napas lega, saat mendengar jika Abash dan Sifa menolak hadiah tersebut.


"Sifa akan mengikuti ujian minggu depan, jadi dia harus fokus belajar," jawab Papa Arka.


"Ooh, gitu ya. Trus, pengganti hadiahnya apa?" tanya Arash penasaran.


"Sepeda," jawab Mama Kesya dengan tersenyum.


"Hah?" Sifa yang mendengarkannya pun ikut terkejut.


"Karena hadiah tiket itu akan di ambil alih oleh Papa dan Mama, jadi sebagai hadiah pengganti untuk Sifa dan Abash adalah sepeda," ujar Mama Kesya.


"Abash juga dapat sepeda?" tanya pria itu.


"Iya dong, harus sama. Namanya juga lomba pasangan."


"Lomba pasangan?" lirih Arash. "Kalilan pacaran?" tanya pria itu kepada sang kembaran dan Sifa.


"Enggak, aku cuma bantuin Sifa ikut perlombaan aja," jawab Abash.


Sifa hanya melirik ke arah Abash yang mengatakan jika bosnya itu hanya membantunya mengikuti perlombaan.


"Kamu mau berharap apa, Sifa? Berharap Pak Bos mengatakan jika kamu pacarnya? Duh, jangan mimpi deh. Sampai kapan pun kamu itu gak bakal jadi pacar Pak Abash, karena kamu bukan tipenya," batin Sifa dalam hati.


"Udah mateng nih, siapa yang mau cumi?" pekik Lana.


"Aku mau," ujar Anggel.


"Aku juga," sambung Quin. "Yuk, Sifa." ajak Quin dan menarik tangan gadis itu.


Malam ini, akan menjadi malam yang sangat spesial bagi Sifa, karena malam-malam sebelumnya dia tak pernah merasakan kebersamaan sehangat ini.

__ADS_1


*


Putri baru saja selesai mandi, gadis itu pun menatap lengannya yang terlihat sudah membiru.


"Huuf, harus cepat-cepat di olesi salep, biar memarnya gak semakin parah."


Putri pun mengambil jaket hoodienya dan keluar dari apartemen. Gadis itu mencari apotek terdekat di sana, untuk membeli salep penghilang memar.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Putri pun kembali ke apartemennya untuk beristirahat, karena besok dia harus bertemu dengan kliennya.


Saat ingin masuk ke dalam apartemen, Putri melihat seekor kucing cantik yang sedang duduk di dekat bunga yang ada di dekat pilar lobi.


"Kucing siapa ini? Cantik banget?" lirih Putri dan menekati kucing tersebut.


"Jinak," serunya sambil membelai bulu kucing tersebut.


"Itu kucing peliharaan salah satu penghuni apartemen ini, Mbak," ujar satpam yang sedang berjaga di sana.


"Oh ya? Terus, kenapa kucingnya di luar?" tanya Putri.


"Iya, karena pemilik kucing ini jarang pulang ke apartemen ini. Kalau ada tugas malam aja, baru pulang ke sini. Maka dari itu, kucingnya gak di bawa masuk ke dalam apartemen. Biar kami bisa memberikannya makan," ujar satpam.


"Oh, begitu ya. Hmm, sayang banget. Padahal gemoy gini kucingnya," ujar Putri sambil menggendong kuicng tersebut.


"Iya, emang jinak dan manja kucingnya. Tapi, penghuni apartemen yang baru pertama kali memegang kucing ini, selain pemilknya ya, Mbak," ujar satpam memberitahu.


"Masa sih? Dari sekian banyak penghuni apartemen gak ada yang mau belai kucing gemoy ini?" tanya Putri.


"Namanya juga di kira kucing kampung, Mbak. Gengsi kali buat gendongnya," kekeh satpam.


"Emm, pemiliknya biasa kapan pulang?" tanya Putri lagi.


"Tadi sore sih ada pulang, tapi udah pergi lagi pas habis magrib."


"Ooh,"


Mendengar suara ponselnya berbunyi, Putri pun meraih ponselnya yang ada di saku baju hoodie-nya. Tertera sebuah pesan dari sang mama yang menanyakan tentang kabar dirinya.


"Pak, ini kucingnya saya kembalikan, kalau begitu saya permisi dulu ya," pamit Putri dan memberikan kucing gemoy itu kembali kepada satpam.

__ADS_1


"Iya, Mbak," jawab Satpam tersebut sambil mengambil kucing yang di sodorkan oleh Putri.


Putri pun berlari menuju apartemennya, untuk menghubungi sang mama tercinta. Walaupun mamanya itu bukan mama kandungnya, akan tetapi Putri tak pernah merasa seolah dirinya bukanlah anak kandung dari Mama Nayna, karena mamanya itu sungguh sangat menyayangi dirinya seperti anak sendiri.


Setelah sampai di dalam kamar, Putri langsung menghubungi sang mama dan ingin bercerita tentang apa yang terjadi kepada dirinya hari ini, termasuk berkelahi dengan seorang pria yang dia pikir adalah seorang pencuri.


*


"Sifa, kita malam ini tidur bareng di sini aja, ya," ujar Quin, di mana kamar tersebut sudah ada Anggel, Desi, Raysa, dan juga dirinya.


"Iya, Mbak."


"Hmm, kamu bisakan tidur dengan menggunakan AC?" tanya Anggel.


"Bisa, Mbak. Kalau kedinginan tinggal masuk ke dalam selimut aja," ujar Sifa dengan polosnya.


"Ya ampun, Sifa. Lucu banget wajagh kamu saat bilang kalimat itu," kekeh Anggel.


"Ya udah kalau gitu, kita tidur yuk," ajak Quin. "Besok Sifa kan harus bekerja. Kalau kebanyakan bolos, ntar bosnya bisa marah,' kekeh Quin yang mana wanita itu sedang ingin menggibahi adik kembarnya.


"Iya, Abash kalau sudah marah, serem loh. Kamu pernah lihat Abash marah?" tanya Anggel.


Sifa pun kembali teringat pada kejadian di mana dirinya di hina oleh pria bertato, sehingga Abash langsung melayangkan tinjunya dan rela berkelahi demi dirinya.


"Apa itu bisa dikatakan dia marah?" batin Sifa.


"Hei, kok malah bengong sih? Pernah lihat Abash marah, gak?" tanya Quin.


"Emm, kalau marah soal kerjaan, belum pernah sih, Mbak. Tapi, kalau marah soal membela Sifa, pernah," cicit Sifa.


"Hah? Membela kamu? Membela gimana ceritanya?" tanya Quin penasaran, begitu pun dengan Anggel.


"Emm, waktu itu pas ada seorang pria bertato menghina Sifa. Tiba-tiba saja dia Pak Abash memukul pria itu," ujar Sifa. "trus pernah juga kejadian pas di restoran, ada pria yang ingin melecehkan Sifa, kebetulan Pak Abash ada di sana dan langsung memukul pria itu lagi," ujar Sifa menceritakan sepenggal kisah tentang kemarahan Abash yang dia ketahui.


"Abash berkelahi demi membela Sifa?" lirih Quin dan menatap ke arah Anggel.


"Sepertinya ada yang mencurigakan dengan kalian berdua," sambung Anggel dan menatap Sifa dengan tatapan penuh arti.


"Mencurigakan gimana maksudnya, Mbak?" tanya Sifa dengan bingung.

__ADS_1


"Hmm, kamu tau. Abash itu sewaktu duduk di sekolah menengah awal, dia itu anaknya pendiem dan gak banyak teman. Tapi, saat ada seorang cewek masuk ke sekolah itu dan selalu menjadi bahan bully-an dari siswa-siswa yang lain, Abash merasa tak senang dan langsung memukul siapa saja yang berani menghina gadis itu. Sampai Abash sering masuk ke ruang BP dan juga pernah ketangkap tawuran sama polisi. Begitu ceritanya," ujar Quin.


"Pak Abash ikut tawuran karena cewek itu?" tanya Sifa penasaran.


__ADS_2