
Sifa memanasi makanan yang ada di dalam lemari es, kemudian gadis itu pun menikmati makanan tersebut di meja makan.
Cling ...
Terdengar suara notif pesan masuk ke dalam ponselnya, Sifa membuka pesan itu dan mengernyitkan keningnya.
"Simpan nomor saya, Abash."
Sifa mengerjapkan matanya, tanpa terasa sudut bibirnya pun tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Tak hanya senyum, bahkan saat ini jantung Sifa juga sudah berdetak dengan cepat. Tangan Sifa pun perlahan turun untuk menyentuh dadanya.
"Kok gini?? Masa sih iya aq suka sama Pak Abash?" lirih Sifa, bingung dengan perasaannya sendiri saat ini.
Di tempat lain, Abash tersenyum saat melihat balasan pesan dari Sifa.
"Baik, Pak. sudah saya simpan."
Tak lupa Sifa mengirimkan bukti screenshot bahwa dirinya telah menyimpan nomor sang bos.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Mama Kesya.
"Hah? Oh, enggak kok. Gak papa," jawab Abash dan kembali merubah wajahnya ke mode serius.
Akan tetapi, perasaan menggelitik di perut tak bisa membuat raut wajah Abash benar-benar serius. Pria itu pun sesekali tersenyum mengingat di saat Sifa tertidur di dalam pelukannya.
__ADS_1
"Hmm, sepertinya ada yang lagi jatuh cinta nih," goda Mama Kesya.
"Hah? Siapa, Ma?" tanya Abash dengan wajah polosnya.
"Nih orangnya," ujar Mama Kesya sambil menunjukkan sebuah kaca kepada Abash.
"Kaca maksdunya?" tanya Abash dengan wajah polosnya.
"Bukan kaca, tapi orang yang ada di dalam kaca," ujar Mama Kesya sambil tersenyum penuh arti.
"Apaan sih, Ma. Abash lagi gak jatuh cinta dengan siapa-siapa kok."
"Oh yaa? Kalau lagi gak jatuh cinta? Kenapa tanya-tanya soal kawin muda?"
"I-itu---"
"Loh, itu bukannya mobil papa yaa?" tanya Abash saat melihat mobil sang Papa terparkir di parkiran kantor polisi.
"Eh iya, ngapain Papa ke kantor polisi?"
Abash pun memarkirkan mobilnya, pria itu dengan cepat turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil buat sang Mama.
"Makasih, sayang," ujar Mama Kesya.
__ADS_1
Mana Kesya pun menggandeng tangan sang putra untuk masuk ke dalam kantor polisi. Tak lupa sambil membawa cemilan kesukaan Arash, kue cubit yang di beli di pinggir jalan.
"Sayang," tegur Papa Arka saat melihat kehadiran sang istri.
"Papa kok di sini?" tanya Mama Kesya.
Papa Arka hanya tersenyum dan melirik ke arah Abash, kemudian melihat ke belakang Abash mencari keberadaan Sifa.
"Sifa mana?" tanya Papa Arka.
"Sifa?" tanya Mama Kesya balik. "Kenapa tanya Sifa ke Abash?"
"Arash bilang, Sifa sedang bersama dengan Abash tadi. Makanya Papa tanya Sifa ke Abash," ujar Papa Arka. "Sifa-nya mana, Bash?" tanya Papa Arka lagi.
"Si-sifa.. Dia?" Abash bingung harus mencari alasan apa kali ini. "Oh, tadi dia bilang ke kampus sebentar sebelum ke sini," ujar Abash kemudian saat melihat beberapa mahasiswa berada di dalam kantor polisi, entah sebab apa mahasiswa tersebut berada di kantor polisi.
"Ma," tegur Arash yang baru saja keluar dari ruangannya. Pria itu pun menciumi punggung tangan sang mama.
"Loh, Sifa mana?" tanya Arash kepada Abash.
"Nanti bentar lagi juga sampai," jawab Abash.
"Hmm, ya udah kalau gitu. Kamu melapor saja dulu, biar aku yang tungguin Sifa," ujar Arash.
__ADS_1
"Buat apa kamu tungguin Sifa?" tanya Abash tak senang.
"Biar dia gak bingung aja saat masuk ke sini. Sudah sana, lebih cepat lebih baik." usir Arash dengan tersenyum manis.