
Pesanan makanan Abash dan Sifa pun tiba. Sifa melirik ke arah pelayan yang mengantarkan makanan, hingga gadis itu tersenyum kecil di saat mendapatkan kode dari pelayan tersebut.
"Selamat di nikmati. Jika butuh sesuatu, silahkan panggil kami kembali," ujar pelayan sebelum pergi.
"Ayo, Mas, kita makan," ajak Sifa, kemudian gadis itu menengadahkan tangannya naik ke atas untuk berdoa.
"Amiin .." Sifa pun memotong daging yang ada dihadapannya. Gadis itu terlihat sedikit kesusahan, hingga akhirnya Abash mengambil alih piring Sifa.
"Eh, Mas---"
"Biar aku potongkan untuk kamu, sayang." Sifa pun membiarkan Abash mengambil alih piringnya, kemudian melirik ke arah pelayan yang kembali memberikan kode kepadanya.
"Mas, aku ke toilet sebentar, ya," pamit Sifa.
"Lagi?" tanya Abash dengan kening mengkerut.
"Em, ya .. mungkin karena kepala aku sedikit pusing, Mas. Sebentar aja, ya .." Sifa pun langsung berlalu, tanpa mendengar kembali jawaban Abash.
Abash menatap kepergian Sifa, hingga tubuh gadis itu tidak lagi terlihat di depan matanya. Abash mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana, kemudian mendial nomor Zia.
Tuutt ... tuutt ...
Entah nada dering keberapa kali berbunyi, tapi Zia belum juga menerima panggilannya.
"Ck, Zia kok gak angkat, ya?" gumam Abash. Pria itu kembali mendial nomor Zia, tapi hasilnya tetap nihil. Zia tidak mengangkat panggilannya.
Abash menoleh ke sekeliling, dia tidak tau sama siapa Zia menyuruh menjalankan semua rencananya. Pria itu mencoba mencari keberadaan Zia, tetapi sedikit pun Abash tidak menemukan sosok Zia berada di restoran tersebut.
"Zia mana sih? Aku harus pastiin kapan rencana aku akan dimulai," lirih Abash dengan gelisah.
Tiba-tiba saja pencahayaan dalam restoran tersebut meremang, hingga sebuah alat musik terdengar dengan merdunya. Abash menoleh ke arah sumber suara, di mana terlihat empat orang berdiri di stand musik dengan posisi mereka masing-masing.
__ADS_1
"Lagi ini kami persembahkan untuk pasangan kekasih yang akan segera naik ke pelaminan," ujar penyanyi tersebut.
Sebuah lagu yang berjudul Akad dari group band payung teduh di nyanyikan.
"Apa ini waktunya?" Abash pun memperhatikan sekeliling, mencoba mencari keberadaan Sifa yang belum juga muncul.
"Ck, Sifa ke mana sih? Kenapa juga nih lagu udah main dinyanyiin, padahal targetnya belum ada di sini," kesal Abash dan mencoba kembali menghubungi Zia.
Abash berdecak kesal, karena Zia tidak juga menerima panggilannya.
"Ziaa, kamu di mana sih?" kesal Abash dengan geram.
Lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi dan group bandnya pun berakhir, membuat Abash menghela napasnya dengan kasar.
"Kalau begini caranya gagal deh kejutan aku untuk Sifa," kesal Abash.
Abash melirik ke arah jam tangannya, Sudah hampir lima belas menit Sifa pergi ke toilet, tapi gadis itu belum juga muncul di hadapannya.
"Ini kenapa semua orang susah untuk dihubungi, sih?" kesal Abash.
Jreeeng ...
Sebuah lagu barat pun kembali terdengar di telinga Abash, kali ini sebuah lagu yang berjudul marry you yang dinyanyikan oleh Bruno Mars. Kekesalan Abash pun semakin membuncah, karena merasa jika lagu-lagu yang sedang dinyanyikan saat ini bukanlah waktu yang tepat. Sifa tidak ada di dekatnya saat ini, bagaimana caranya Abash menghentikan para penyanyi itu?
Tiba-tiba lampu yang redup tadi perlahan hidup dan membuat ruangan itu kembali terang. Abash mengernyitkan keningnya, di saat melihat beberapa penari berlari ke arahnya dan menari di hadapannya.
"Apa ini? Apa mereka tidak salah?" batin Abash dengan tangan yang mengepal.
Kekesalan Abash pun semakin membuncah, karena merasa jika para penari itu salah menunjuk targetnya. Hingga saat pertengahan bait lagu, tiba-tiba seorang gadis yang sangat dia kenali muncul bersama beberapa wanita lainnya.
Ya, gadis itu adalah Sifa.
__ADS_1
Sifa menari dancer bersama penari lainnya dan meminta Abash untuk menikah dengannya. Inilah kejutan yang sudah Sifa rencananya bersama Zia. Ya, sebenarnya Zia tidak membuat kejutan untuk Sifa, melainkan untuk Abash sendiri.
Awalnya Zia terkejut dan merasa terharu dengan apa yang Abash dan Sifa rencanakan. Bagaimana bisa mereka berniat untuk melakukan lamaran secara bersamaan. Apakah ini yang dikatakan cinta sejati?
Zia pun berpikir, kepada siapa dia harus berpihak?
Mengingat bagaimana Sifa meminta pertolongannya, akhirnya Zia pun memutuskan untuk membantu Sifa.
Abash benar-benar terkejut, di saat Sifa menari di hadapannya dengan diiringi irama lagu yang sangat menggetarkan hatinya. Bagaimana tidak, lagu yang sedang dinyanyikan saat ini adalah sebuah lagu di mana seorang kekasih meminta kepada kekasihnya untuk menikah. Dan siapa yang akan menyangka, jika Sifa akan melakukan hal tersebut.
Mata Abash pun terlihat berkaca-kaca, hingga dada pria itu terasa bergemuruh menahan tangis haru dan bahagianya.
Musik berhenti, Sifa dengan napasnya yang ngos-ngosan mengulurkan sebuah cincin yang sangat indah sekali kepada Abash. Dan jika kalian bertanya, apakah cincin itu sepasang dengan cincin yang dipesan oleh Abash?
Ya, jawaban kalian benar. Sifa meminta kepada Zia untuk membuatkan cincin lamaran untuk Abash. Hal itu pun membuat Zia merasa iri dengan kisah cinta Sifa dan Abash. Dengan senang hati, Zia membantu Sifa untuk mewujudkan keinginannya. Zia sengaja mengukir desain yang bentuknya hampir sama dengan cincin yang dipesan oleh Abash kepadanya.
Tapi sekali lagi yang harus kalian tahu, jika Sifa dan Abash tidak tahu, jika mereka berdua saling memesan cincin. Hanya Zia-lah saksi bagaimana besarnya cinta kedua insan tersebut. Bahkan, Zia juga sudah tahu bagaimana cerita tentang perjuangan Abash dan Sifa.
Wajar kan jika Zia berharap jika suatu saat nanti dia ingin mendapatkan pria seperti Abash?
"Menikahlah dengan aku, Mas," pinta Sifa.
Abash mengedipkan matanya, hingga satu tetes air mata pria itu menetes membasahi pipinya. Abash berdiri dari duduknya, kemudian menghampiri sang kekasih yang berlutut di hadapannya saat ini. Pria itu menyentuh bahu Sifa dan menuntunnya untuk berdiri.
"Ya, aku mau, sayang. Aku mau menikah denganmu," jawab Abash kemudian langsung membawa Sifa ke dalam pelukannya.
Suara tepuk tangan yang gemuruh pun mengisi ruangan tersebut. Zia yang juga berada di sana pun, ikut meneteskan air matanya dan bertepuk tangan dengan kuat. Gadis itu juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Sifa dan Abash. Akhirnya, cinta mereka pun dapat bersatu setelah perjuangan yang cukup panjang.
Sifa merelai pelukannya, gadis itu mengambil tangan Abash dan memakaikan cincin indah tersebut ke jari manis sang kekasih.
"Terima kasih, Mas, karena sudah mau setia menungguku dengan sabar."
__ADS_1
"Itu karena aku sangat mencintai kamu. Terima kasih juga, karena kamu sudah membuat kejutan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup aku. Dan kejutan ini akan menjadi hari bersejarah bagi aku, sayang."