
"Uti … uti … Uti …"
Rayyan terus saja memanggil-manggil nama Zia, di saat Arash membawanya menjauh dari wanita itu. Zia hanya bisa mengepalkan tangannya erat, menahan dirinya agar tidak mengejar balita yang terus memanggil namanya.
"Yan au Uti … Yan au Utii …" rengeknya sambil mengulurkan tangan ke arah Zia.
"Uti-nya mua bobok. Sekarang kita pulang, ya?" bujuk Arash.
"Ndak au … Yan au ma Uti … Yan au ma Uti …" jawab Rayyan sambil sesenggukan.
Zia meneteskan air matanya, sedih melihat Rayyan menangis sesenggukan seperti itu. Sedangkan Yumna! Bayi mungil itu sudah terlelap di dalam pelukan Mama Kesya, jadi tidak ada drama dari tangisan Yumna yang harus berpisah dengan Zia.
Merasa tak tega melihat Rayyan harus menangis hingga sesenggukan pun, akhirnya Zia berjalan dengan menggunakan tongkat mendekat ke arah Arash. Lagi pula, sedari tadi Arash mencoba membujuk Rayyan, balita menggemaskan itu masih saja terus menangis memanggil nama Zia.
"Besok Uti ke rumah Rayyan, ya? Sekarang Rayyan ikut papa pulang dulu, ya?" bujuk Zia yang sudah berada di dekat Arash.
Zia mengangkat tangannya untuk menyentuh kepala Rayyan, membelainya dengan lembut. Akan tetapi yang terjadi adalah Rayyan malah mendorong tubuhnya kuat ke arah Zia, sehingga membuat gadis itu bergerak sigap untuk menangkap tubuh Rayyan. Karena hal itu, Zia kehilangan keseimbangannya dan hampir saja terjatuh jika Arash tidak cepat menangkap pinggang Zia.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arash dengan jantung yang berdebar.
Sudah sekali Arash membuat salah kepada Zia. Pria itu tidak mau lagi membuat kesalahan yang sama dengan mencelakai gadis itu.
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Zia dengan suara yang pelan.
"Zia …" Mama Nayna pun langsung menghampiri Zia dan Arash, membantu sang putri untuk kembali berdiri dengan tegak.
"Terima kasih, Arash," ucap Mama Nayna kepada menantunya itu.
"Sama-sama, Ma."
Arash pun langsung menasehati Rayyan agar tidak melakukan hal tersebut kembali, karena itu bisa membahayakan orang lain. Merasa jika Arash memarahinya, Rayyan pun menangis semakin kencang, sehingga membuat Yumna yang sudah berada di dalam mobil bersama dengan Mama Kesya pun terbangun.
__ADS_1
"Arasssh, seharusnya kamu tidak perlu memarahi Rayyan. Lagi pula, Rayyan kan tidak sengaja, dia juga masih kecil, Rash," tegur Mama Nayna dan mengambil alih Rayyan dari gendongan pria itu.
"Maaf, Ma, Arash tidak bermaksud memarahi Rayyan," sesalnya.
Suara Arash saat menegur Rayyan memang terbilang cukup tegas, wajar saja jika putranya itu merasa terkejut dan ketakutan.
"Ssstt … Rayyan jangan nangis lagi, ya?? Papa gak marah kok, ya?" bujuk Mama Nayna.
"Uti … hiks .. hiks … utii …" Rayyan pun mengulurkan tangannya ke arah Zia, akan tetapi karena gadis itu tidak menggunakan kursi roda, maka Zia tidak berani untuk menggendong Rayyan. Menopang tubuhnya sendiri saja, Zia masih kesulitan.
"Maafin Uti ya, sayang. Uti gak bisa gendong Rayyan sekarang. Kaki Uti masih sakit!" ujar Zia dengan wajah yang sedih.
"Uti … uti …" Rayyan masih terus saja menangis, bersautan dengan tangisan suara Yumna.
Merasa tidak tega mendengar suara tangisan dari dua balita tersebut, Zia pun memohon kepada Arash agar memberikan Yumna dan Rayyan izin untuk menginap semalam lagi di rumahnya.
"Hanya untuk malam ini aja, Mas. Boleh?" mohon Zia.
"Tidak, Zi. Jika mereka di biarkan terus dekat dengan kamu, maka mereka akan menjauh dariku. Tidak, aku tidak ingin anak-anakku menjauh dariku, Zi. Tidak bisa, aku tidak bisa memberikan mereka izin untuk tinggal," tolak Arash.
"Hanya malam ini, Mas, aku mohon. Kasihan Rayyan dan Yumna jika harus menangis malam-malam begini," mohon Zia lagi.
"Iya, Rash, biarkan saja Yumna dan Rayyan tidur semalam lagi di sini," sahut Mama Kesya.
"Tidak, Ma. Jika di biarkan, maka besok-besoknya mereka akan melakukan hal yang sama. Arash tidak mau, Ma. Membiarkan Rayyan dan Yumna tinggal di sini, sama saja membuat Arash menjauh dari anak-anak yang seharusnya dekat dengan Arash," ujar Arash dengan tegas.
"Bagaimana jika mereka kembali demam, Rash? Karena merindukan Zia?? Bagaimana?" tanya Mama Kesya. "Apa kamu bisa tanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan cucu Mama?"
"Ma, kenapa Mama berkata seperti itu? Apa Mama berharap anak-anak Arash sakit?" kesal Arash.
"Bukan begitu, Rash. Tapi---"
__ADS_1
"Ma, Jika Yumna dan Rayyan di sini, Arash tidak bisa menghabiskan waktu bersama mereka, Ma. Arash hanya memiliki waktu di malam hari, sedangkan mereka jam delapan malam sudah tidur bersama Zia, Ma. Lalu, kapan waktu Arash bisa menghabiskan waktu untuk anak-anak Arash, Ma? Kapan??" tanya Arash.
"Yang ada, jika Arash biarkan Yumna dan Rayyan tetap berada di sini. Arash takut jika mereka terbiasa tanpa Arash, Ma. Tidak, Arash tidak mau hal itu terjadi," tolak Arash.
"Iya, Rash, tapi kasihan Yumna dan Rayyan menangis malam-malam begini. Gak baik jika anak-anak menangis malam-malam, Rash. Lagi pula,, besok kan mereka bisa kembali pulang," ujar Mama Kesya.
Arash terdiam, berpikir sejenak apa yang di katakan oleh Mama Kesya.
"Mas, izinkan mereka tidur semalam lagi di sini, aku mohon?" pinta Zia dengan wajah yang memelas.
Arash menghela napasnya panjang dan berat. Tangis Rayyan dan Yumna semakin lama terdengar semakin kuat dan memekakkan telinga. Hati kecil Arash pun akhirnya tidak tega dan memberikan jika Rayyan dan Yumna boleh tidur semalam lagi bersama Zia.
"Baiklah. Untuk malam ini saja lagi," ujar Arash yang langsung di angguki oleh Zia.
"Iya, Mas," jawab Zia dengan tersenyum lebar. "Terima kasih banyak"
Mama Kesya pun terpaksa kembali keluar dari dalam mobil.
"Kita masuk ke dalam, yukk?" ajak Mama Kesya yang diangguki oleh Zia.
"Udah ya, Rayyan jangan nangis lagi. Rayyan malam ini tidur sama Uti lagi," ujar Zia sambil membelai kepada Rayyan dengan lembut.
Perlahan, tangis Rayyan pun mereda, seolah dia mengerti apa yang di katakan oleh Zia, begitu pun dengan Yumna.
"Kita masuk ke kamar, yuuk??" ajak Zia yang di angguki oleh Rayyan.
Arash hanya bisa menghela napasnya panjang dan berat, di saat melihat putra putrinya semakin menjauh darinya. Dia tidak bisa membiarkan hal seperti ini berlarut-larut. Bisa saja kan jika Rayyan dan Yumna akan memiliki jarak dengannya karena waktu temu yang jarang untuk mereka.
Dulu, jika Arash bekerja dan pulang malam, setidaknya pria itu masih bisa bermain dengan Rayyan di saat subuh dan tidur di tempat yang sama dengan putranya. Tapi kali ini, Arash tidak mempunyai waktu untuk bermain di saat subuh dan tidur bersama anak-anaknya, karena Yumna dan Rayyan tidur bersama Zia. Tidak mungkin kan Arash masuk ke dalam kamar Zia hanya untuk tidur bersama anak-anaknya? Arash tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Di hatinya hanya ada satu wanita, yaitu Putri.
Arash, Mama Kesya dan yang lainnya pun akhirnya pulang ke rumah mereka, di saat Rayyan dan Yumna sudah terlelap di dalam pelukan Zia.
__ADS_1
"Semoga saja besok mereka mau pulang," ujar Arash dengan lirih.