
Boom ....
Arash baru saja keluar dari restoran di sata mendengar suara ledakan. Kepingan kaca pun berterbangan akibat ledakan bom tersebut.
"Zia?"
Di saat orang lain berlari keluar, Arash pun berlari masuk ke dalam.
"Keluar, Pak ... Keluaaar .... Bahayaaa ..." pekik satpam yang berjaga.
Seolah tuli, Arash tetap berlari masuk ke dalam restoran. Pria itu melihat kibaran api yang mulai membesar, meja-meja yang sudah berhamburan dan patah. Tidak hanya itu, pisau yang biasa di gunakan untuk memotong daging steak pun bertancapan di meja-meja yang sudah berantakan, begitu pun pada tubuh para korban yang tergeletak di lantai.
"Zia ...." pekik Arash mencari adik iparnya.
Arash memfokuskan matanya dan menajamkan matanya untuk melihat di mana Adik iparnya itu berada.
"Ziii---"
Arash melihat Zia yang tergeletak di lantai, di mana tubuhnya tertindih oleh dua meja. Arash langsung berlari menghampiri gadis itu, berharap jika sang adik ipar masih bernapas.
Napas Arash seolah berhenti sejenak. Pria itu merasa jika saat ini dirinya tidak bisa menghirup oksigen, seolah ada sesuatu yang menutup saluran pernapasannya.
Melihat kondisi Zia yang tak sadarkan diri, di tambah lagi tubuh wanita itu tertimpa oleh meja. Tak hanya sampai situ, kening wanita itu pun berdarah karena benturan keras. Jangan di tanya lagi bagaimana kondisi Zia saat ini. Bersyukurnya gadis itu tidak sampai terkena luka bakar atau pun serpihan boom. Zia hanya terlempar akibat ledakan yang mengeluarkan tekanan tinggi, sehingga tubuh Zia terlempar dari tempatnya berdiri.
Tangan Arash yang bergetar terulur untuk menyentuh kepala Zia yang tergeletak di lantai
"Ziaaa ...." panggil Arash sambil menepuk pelan pipi gadis itu.
Tak ada reaksi apapun yang di berikan oleh Zia, membuat Arash semakin ketakutan.
Arash mengulurkan dua jarinya ke depan lubang hidung Zia, memeriksa apakah gadis itu masih bernapas atau tidak. Di saat merasakan hembusan panas dari lubang hidung Zia, pria itu langsung memeriksa denyut nadi Zia di bagian leher.
Arash bernapas dengan lega, di saat Zia ternyata masih hidup. Tapi, pria itu tidak boleh senang dulu, karena kondisi Zia saat ini bisa dikatakan kritis.
Arash menggeser meja yang menimpa tubuh Zia, berkat meja itu juga, tubuh Zia terlindungi dari pecahan kaca, garpu, dan juga pisau yang berterbangan.
__ADS_1
Braaakk ....
Dengan tenaga penuh, Arash memindahkan dua meja yang menimpa tubuh Zia.
"Astaghfirullah," lirih Arash, di saat melihat kaki gadis itu penuh dengan darah.
Ya, kaki Zia patah. Bahkan luka yang di dapat oleh gadis itu mungkin akan menyebabkan kecacatan dalam hidupnya.
Arash bergegas menggendong Zia dan membawa gadis itu keluar dari restoran.
"Bertahanlah, Zia," ujar Arash dan berusaha mencari jalan keluar yang tidak terdapat kobaran api.
"Tooolongg ...." pekik Arash saat pria itu mulai merasa sesak, di saat terlalu banyak menghirup asap.
Untungnya di dekat Arash ada petugas pemadam kebakaran yang langsung datang, di saat mendapatkan laporan tersebut. Petugas pemadam kebakaran meminta kepada rekannya untuk di bawakan tandu, sedangkan Arash langsung di beri masker oksigen untuk pria itu bernapas.
Saat tim pemadam kebakaran datang bersama tim medis, Zia langsung di bandingkan di atas tandu untuk di bawa keluar restoran. Arash juga ikut di tuntun keluar karena pria itu terlalu banyak menghirup asap dan racun yang keluar dari boom.
"Araashh .... Ziaaa ..." pekik Bang Fatih.
"Bang, Zia , bang," ujar Arash dengan lirih, saat Bang Fatih menghampiri pria itu.
"Ziaaa ..." Arash pun menunjuk ke arah Zia yang sudah di masukkan ke dalam ambulance.
Bang Fatih langsung mengejar Zia, sebelum gadis itu benar-benar di masukkan ke dalam ambulance.
"Antar ke rumah sakit HH, tim medis sudah menunggu dia di sana," titah Bang Fatih kepada tim medis yang bekerja.
"Tapi, Pak---"
"Gadis ini bukan orang sembarang. Dia harus langsung di tangani oleh ahlinya," geram Bang Fatih. "Saya yang akan bertanggung jawab atas gadis ini."
Tim medis itu pun alhasil menuruti perkataan Bang Fatih untuk membawa Zia ke rumah sakit HH, di mana rumah sakit tersebut adalah milik keluarga Moza.
Arash menyuruh anak buahnya untuk mengawal ambulance yang membawa Zia di dalamnya agar tidak terkena macet. Pria itu juga masuk ke dalam ambulance yang sama, karena dia juga akan di saat di rumah sakit keluarganya.
__ADS_1
Sebenarnya bukan Bang Fatih menolak rumah sakit yang seharusnya Zia tuju. Bukan seolah merendahkan kinerja para tim medis di rumah sakit tersebut. Akan tetapi, melihat kondisi Zia yang terbilang mengalami luka pada kakinya dengan sangat serius, pastinya akan membutuhkan rumah sakit yang besar dan memiliki alat rumah sakit yang lebih lengkap. Sedangkan rumah sakit yang akan di tuju Zia tadi, hanyalah rumah sakit kecil yang tidak memiliki alat medis yang lengkap. Nantinya pasti Zia akan di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk menjalani operasi.
Untuk itu, Bang Fatih langsung menyuruh membawa Zia ke rumah sakit HH, karena gadis itu akan langsung di tangani dengan dokter yang berpengalaman. Bang Fatih juga langsung menghubungi Lucas agar menyiapkan dokter tulang, saraf, dan bedah.
Kak Lucas yang mendengar permintaan Bang Fatih untuk menyiapkan tiga dokter pun, merasa penasaran dengan kondisi Zia. Kak Lucas meminta Bang Fatih memfoto apa yang terjadi dengan Zia.
Bang Fatih segera mengirimkan foto kaki Zia, di mana mengalami luka yang cukup parah.
"Segera bawa ke sini," titah Kak Lucas.
Gak butuh waktu lama bagi kak Lucas untuk menyiapkan dokter hebat yang di miliki oleh rumah sakit HH, karena pria itu memang memegang penuh kendali di rumah sakit.
Bang Fatih pun juga mengabarkan kondisi Zia kepada Papa Satria, yang mana membuat pria paruh baya itu merasa seakan dunianya runtuh.
Bara yang mendapatkan kabar tentang Zia pun, langsung naik pitam dan menghancurkan semua barang yang ada di hadapannya.
"Berani-beraninya Lo sentuh adik gue," geram Bara menunjuk ke arah Neli.
"Adik Lo resek sih. Dia terlalu kepo sama urusan kita berdua. Aku sengaja melakukan hal ini, agar dia bisa beristirahat di rumah untuk sementara waktu," ujar Neli dengan tersenyum puas.
"Lo inget, gue bakal bikin perhitungan sama Lo," geram Bara sambil menunjuk ke arah Neli.
"Silahkan, gue gak takut. Lagi pula kandidat gue masih banyak kok," kekeh Neli dan mengambil ponselnya.
"Wanita miskin ini akan menjadi target selanjutnya," ujar Neli menunjuk ke arah foto Sifa.
"Bangsaaat ..."
Bara sudah ingin memukul Neli, tapi sayangnya tubuh Pria itu di pegangi oleh anak buah Neli. Bahkan, saat ini Bara lah yang mendapatkan pukulan dari anak buah Neli.
"ini akibat kamu menolak untuk menikah sama aku. Jadi, aku kasih waktu kamu dua Minggu, untuk segera melamar aku dan mempersiapkan pernikahan kita. Kalau tidak, maka gadis miskin ini akan menjadi korban selanjutnya," ancam Neli dan pergi dari hadapan Bara.
"Bangsaaat ..." maki Bara dengan penuh murka.
Ternyata apa yang dikatakan oleh Abash benar, jika Neli benar-benar sangat licik dan membuat dirinya terjebak di dalam kerangkanya sendiri.
__ADS_1