Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 22 - trauma


__ADS_3

Sifa masih mengusap kepalanya begitu pun dengan Abash.


"Pak, kata nenek saya, kalau kepala sedang beradu, maka harus di antukkan lagi, biar gak di kejar guguk," ujar sifa yang mana membuat Abash menaikan alisnya sebelah.


"Ada-ada saja kamu, itu hanya tahayul."


"Ih, Bapak. Saya gak mau ya dinkejar guguk gara-gara Bapak," ujar Sifa dengan kesal.


"Loh, kok gara-gara saya?"


"Perkataan orang tua itu harus di dengar, Pak. Udah ayo, di antukkin lagi kepalanya."


Abash menghela napasnya, "Udah sini." Abash berdiri dan memegang kepala Sifa.


"Pelan-pelan aja, Pak. Gak usah kuat-kuat," cicit Sifa.


Abash bergumam dan mendekatkan kepalanya kepada Sifa. Sifa memejamkan matanya sebelah karena takut jika Abash menggantikan kepalanya dengan kuat.


Abash melirik kearah Sifa yang memicingkan sedikit matanya dan juga bibir yang di gigit. Itu membuat Abash menjadi salah tingkah.


Tuk ...


Abash langsung menjauhi kepalanya dari Sifa. Gadis manis itu pun langsung bernapas lega setelah Abash menghantukkan kepala mereka lagi.


Abash kembali fokus kepada baskom yang ada di depannya. Di perasnya handuk kecil itu dan di kompres ke kaki Sifa.


"Biar begitu aja dulu," ujar Abash dan bangkit dari jongkoknya.


Abash menyiapkan dua piring dan membawanya ke living room. Sifa langsung mengalihkan perhatiannya kembali kepada Abash.


"Bapak tinggal di sini?" tanya Sifa penasaran.


Setahu Sifa, Abash memiliki keluarga yang tinggal di kota yang sama dengannya. Lalu, untuk ada Abash harus tinggal d apartemen? Bukankah rumah yang memiliki keluarga yang hangat, adalah tempat berpulang yang tepat di saat lelah?


"Nggak, saya ke sini cuma sekali-kali aja. Kalau lembur, saya akan ke sini," ujar Abash sambil menyodorkan satu mie goreng kepada Sifa. Sedangkan dirinya membuka bungkusan lain yang berisi nasi goreng.


Sifa mengernyit saat melihat Abash juga membeli untuk dirinya sendiri.


"Bapak makan nasi goreng?" tanya Sifa.


"Iya, kenapa? Kamu mau? Bukannya kamu bilang gak suka nasi?"


"Bukan gitu, maksud saya, Bapak mau juga makan dari penjual pinggir jalan?" tanya Sifa hati-hati.


"Kenapa emangnya? Ada yang salah?"

__ADS_1


"Nggak ada sih, cuma__" Sifa menarik napasnya dan menghembuskannya dengan pelan. "Setahu saya, kebanyakan orang kaya kan gak level makan di pinggir jalan."


"Nggak semuanya seperti apa yang kamu pikirkan."


"Tapi, di film-film?"


"Itu hanya di film. Kenyataannya banyak juga anak orang kaya yang suka jajan di pinggir jalan."


"Seperti Bapak gitu contohnya?" tanya Sifa.


"Bisa di bilang gitu juga. Udah, sekarang makan, jangan banyak tanya," titah Abash sambil memberikan air putih kepada Sifa.


Sifa memandang wajah Abash yang tengah menikmati nasi goreng. Bahkan, Abash juga memakan ikan asin dan juga cabai hijau yang terdapat di dalam nasi goreng tersebut, sungguh pemandangan yang berbeda dan luar biasa.


"Mau sampai kapan kamu liatin saya? Keburu mie-nya dingin," tegur Abash tanpa menoleh kearah Sifa.


Sifa mengerjapkan matanya, beberapa detik selanjutnya, manik matanya terkunci oleh tatapan Abash yang memandang kearahnya.


"Makan," titah Abash.


Sifa mengangguk dan langsung menarik piring yang sudah ada mie di atasnya. Sifa pun makan dalam diam, sambil sesekali melirik kearah Abash yang sangat menikmati nasi gorengnya.


*


"Sejak kapan lo bawa cewek ke apartemen?" tegur Lucas.


Sifa merasa jantungnya berdebar dengan kecang saat melihat seorang pria dengan tas dokter di tangannya. Di tambah lagi jas yang tersampir di lengannya. Sifa menelan ludahnya dengan kasar, keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya.


Sungguh, Sifa benar-benar merasa takut saat ini.


'Nenek, tolongin Sifa,' batin Sifa dalam hati.


"Kamu punya trauma?" tanya Lucas saat melihat Sifa yang sudah ketakutan saat melihat dirinya mendekati Sifa.


Sifa tak menjawab, gadis itu hanya terdiam sambil merem*s-r*mas jari jemarinya.


"Tenang aja, aku gak akan menyakiti kamu."


Lucas meletakkan tas dan juga jasnya di kursi, tak lupa dia mengambil sarung tangan karetnya dan juga hand sanitizer untuk membersihkan tangannya, kemudian dia berjongkok di hadapan Sifa untuk melihat kaki dari gadis yang ada di hadapannya saat ini. Namun, saat Lucas ingin menyentuh kakinya, gadis itu malah menarik kakinya dan menyembunyikannya di balik kakinya satu lagi.


"Hiks, jangan Pak, saya mohon, hiks ..." lirih Sifa dengan menangis.


Abash menaikkan alisnya sebelah, terlihat jelas jika Sifa ketakutan saat ini.


"Tenang lah, aku hanya ingin melihat kaki kamu," ujar Lucas sambil mengulurkan tangannya perlahan ke arah kaki Sifa.

__ADS_1


"Nggak, gak mau ... hiks ... jangan sentuh kaki Sifa, hiks ..."


Tiba-tiba saja gadis itu sudah memekik dan melempari Lucas dengan bantal. Abash yang melihat Sifa histeris langsung mendekatinya dan mencoba menenangkannya.


"Hei, tenanglah. Kak Lucas hanya ingin melihat kaki kamu," ujar Abash mencoba menenangi Sifa yang tersu menangis sambil menggelengkan kepala.


"Bapak udah janji, hiks ... bapak gak bawa saya ke dokter, hiks ... dokter itu jahat, gak mau, Sifa gak mau, hiks ..."


Abash mengerutkan keningnya, dia melirik kearah Lucas.


"Tenangi dulu dia," lirih Lucas dengan tenang.


Abash meraih bahu Sifa dan memaksa gadis itu untuk menatapnya.


"Tenanglah, Kak Lucas tidak jahat, dia akan melakukannya dengan perlahan," ujar Abash sambil menenangkan Sifa.


"Bohong, hiks ..."


"Saya di sini, tenanglah. Biarkan Kak Lucas melakukan pekerjaannya, jika tidak, kaki kamu akan semakin tambah parah, bisa-bisa kaki kamu di amputasi. Kamu mau?"


Sifa menggelengkan kepalanya, "Jangan Potong, hiks ..."


Abash menarik paksa tubuh Sifa dan memeluknya. Sifa mencekram pinggang Abash dengan kuat.


Abash memberi kode kepada Lucas untuk mulai memeriksa kaki Sifa. Tanpa kata,ucas langsung menggulung celana Sifa keatas. Untungnya Sifa menggunakan celana kain, jadi tak sulit untuk Lucas menggungnya.


Lucas dan Abash saling memandang saat melihat betis Sifa yang tak mulus. Terlihat jelas jika kaki itu pernah mengalami luka yang berat.


Lucas yakini, trauma yang di rasakan saat ini oleh Sifa berasal dari luka pada kakinya saat ini. Lucas pun perlahan memeriksa kaki Sifa yang mulai terlihat membengkak.


"Aaww ..." rintih Sifa saat Lucas memeriksa kakinya. Cengkraman di pinggang Abash pun semakin kuat. Untungnya Sifa mencengkram kemeja Abash, bukan kulit pinggangnya.


"Sudah selesai," ujar Lucas dan membereskan perlengkapan kerjanya.


"Sakit?" tanya Lucas kepada Sifa.


Sifa perlahan melepaskan pelukannya dari Abash, kemudian dia mengangguk, lakundetik selanjutnya menggelengkan. Lucas terkekeh melihat kelakuan gadis yang ada di hadapannya ini.


"Boleh saya tanya sesuatu?" ujar Lucas yang penasaran dengan luka di kaki Sifa.


Sifa menganggukkan kepalanya pelan.


"Kaki kamu kenapa?"


Dan, itu juga menjadi pertanyaan Abash.

__ADS_1


\=\=  Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..


Salam sayang dari ABASH dan ARASH


__ADS_2