
"Bapak pikir saya boneka? Atau anak kecil yang bisa di cium sesuka hati?"
Abash yang mendengar kekesalan dari gadis yang ada di hadapannya saat ini pun, mengerjapkan matanya dengagn cepat. Mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Sifa.
"Ma-maksud kamu? Cowok yang udah bikin kamu galau itu saya?" tanya Abash, kemudian perlahan sudut bibir pria itu pun tertarik ke atas.
"Jadi kamu ternyata cinta sama saya?" tanya Abash dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
"Puas Bapak sekarang? Karena udah tau perasaan saya?" kesal Sifa. "Jadi, mulai sekarang Bapak gak bo--hmmpp ..."
Sifa terdiam dan menahan napasnya sesaat, di kala Abash tiba-tiba menarik wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir pria itu.
"Kenapa kamu gak bilang dari awal sih? Kalau kamu cinta sama aku?" kekeh Abash dan menarik tubuh Sifa ke dalam pelukannya.
Sifa mengerjapkan matanya dengan cepat, gadis itu pun langsung memutar otaknya untuk mencerna apa yang terjadi saat ini. Kenapa lagi-lagi bosnya ini sembarangan menciumnya? Apa bosnya ini tidak mengerti peringatan yang di berikan oleh Sifa?
Sifa pun mendorong tubuh Abash dengan kuat, sehingga membuat pelukan yang di berikan oleh Abash pun terlepas.
"Kena---,"
"Mau Bapak apa sih? Kan saya udah bilang, Bapak jangan bikin saya bingung dengan perlakuan Bapak ke saya," pekik Sifa kesal.
"Kamu belum mengerti apa maksud saya?" tanya Abash.
"Apa maksud Bapak?" tanya Sifa dengan wajah cemberut.
"saya ini cinta sama kamu, Sifa. Masa kamu gak ngerti sih?" ujar Abash sambil mencubit hidung Sifa dengan gemas.
"Ba-bapak cinta sama saya?" tanya Sifa dengan terkejut.
"Iya, Sifa. Saya cinta sama kamu. Msa kamu gak paham sih dengan apa yang udah saya lakukan untuk kamu selama ini?" ujar Abash lagi degan mengusap lembut pipi Sifa yang basah.
"Ya mana saya paham dan ngerti, Pak. Bapak gak bilang sama saya," ujar Sifa dengan wajah yang masih cemberut.
"Emangnya setiap orang yang baik sama saya, harus saya artikan dengan kata cinta gitu? Jadi semua orang baik dengan saya itu artinya dia cinta saya, gitu?" ujar Sifa ketus.
"Ya gak gitu juga, Sifa."
"Terus, kalau ada orang gila tiba-tiba datang dan main cium-cium saya, itu artinya dia cinta sama saya gitu?" ujar Sifa kesal akan tetapi ada rasa bahagia di dalam hatinya
"Emangnya kamu mau di cium sama orang gila?" tanya Abash dengan nada menggoda.
"Ya gak sih," lirih Sifa pelan, kemudian gadis itu melihat wajah Abash yang tersenyum menertawakan dirinya, sehingga membuat Sifa memiliki ide untuk menjahili pria yang ternyata juga mencintainya.
"Tapi, kalau ganteng boleh juga sih, apa lagi mirip sama jungkok," cicit Sifa yang mana membuat Abash langsung menangkup wajahnya, sehingga membuat bibirnya sedikit monyong.
"Gak boleh," sambar Abash cepat.
Cup ...
Pria itu pun kembali mendaratkan ciumannya di bibir Sifa.
__ADS_1
"Bibir ini cuma boleh saya yang cium," tegas Abash.
Sifa pun mendorong tubuh Abash untuk menjauh darinya lagi.
"Apaan sih, Bapak pikir saya apaan? Kenapa hanya Bapak yang boleh cium saya? Emangnya Bapak suami saya, Apa?" ketus Sifa dengan wajah yang cemberut.
"Yang berhak buat cium saya itu ya sua---,"
"Ayo kita menikah," ajak Abash yang mana membuat Sifa membelalakkan matanya.
"Bapak bilang apa?" tanya Sifa terkejut.
"Ayo kita menikah," ajak Abash lagi.
Sifa pun mengangkat tangannya dan menyentuh kening Abash.
"Bapak lagi gak demam kan? Kok tiba-tiba ngajakin saya nikah?" tanya Sifa dengan wajah polosnya.
"Kamu bilang, yang boleh cium kamu hanya suami kamu aja kan?" tanya Abash yang di angguki oleh Sifa.
"Saya tidak hanya ingin mencium kamu, tapi saya ingin memiliki kamu seutuhnya. Untuk itu, saya mau ngajakin kamu nikah," ujar Abash penuh keyakinan.
"Bapak yakin?"
*
Di rumah sakit, Putri yang sedang tertidur dengan lelap, tiba-tiba saja merasakan ingin buang air kecil, sehingga membuat gadis itu pun terbangun dari tidurnya.
"Mama ke mana sihi?" lirih Putri pelan dan mencoba bangkit dari tidurnya.
"Ma," panggil Putri lagi sehingga membuat gadis itu menoleh ke arah tirai yang terbuka.
Sreeet ...
"Kamu cari Tante Nayna?" tanya Arash.
Putri menghela napasnya pelan dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Tante Nayna sedang pergi dengan mama saya, mungkin mereka sedang mencari makan malam," ujar Abash.
"Duh, Mama kok tinggalin aku sih," lirih Putri.
"Mama kamu tidak tinggalin kamu sendirian. Tadi ada adaik kamu di sini, tapi say agak tau dia pergi ke mana, sepertinya sedang berbicara di telepon dengan seseorang," uajr Arash memberi tahu apa yang dia lihat tadi.
"Hmm, terima kasih infonya," ujar Putri pelan.
Putri pun berusaha turun dari tempat tidur, gadis itu masih sedikit pusing sehingga membuat dirinya hampir kehilangan keseimbangannya.
Huupp ...
Sebuah tangan pun melingkar di pinggang gadis itu.
__ADS_1
"Hati-hati," ujar Arash yang ternyata menangkap tubuhnya.
"Kapan dia berjalan ke samping aku? Kenapa cepat sekali dia turun dari tempat tidur? Apa dia superman?" batin Putri.
"Hmm, makasih, saya bisa sendiri," ujarnya sambil melepaskan tangan Araash dari pinggangnya.
Arash pun terus mengawasi Putri yang terlihat kesusahan dengan tangannya yang sedang di infus.
"Infusnya di matikan dulu kalau kamu mau berjalan. Jangan nanti darahnya naiak dan kamu yang kesusahan," ujar Arash mengingatkan dan mematikan air infus yang sedang menetes.
"Terima kasih," cicit Putri lagi dan berusaha untuk melepaskan sangkutan botol infus dari tempatnya.
Aras pun terkekeh dan mengulurkan tangannya untuk melepaskan pengait gagang infus yang di kaitkan di samping tempat tidur.
"Bawa saja gagangnya," kekeh Arash sambil tersenyum.
Putri pun menggerutu kesal, gadis itu saat ini terlihat sangat bodoh di hadapan pria yang sok baik itu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Arash yang masih mengikuti Putri dari belakang.
"Bukan urusan kamu," ketus Putri.
"Akkh .." Putri meringis pelan di saat merasakan pusing pada kepalanya.
"Ayo, aku bantu kamu berpegangan," tawar Araash sambil mengulurkan lengannya.
"Gak perlu, saya bisa sendiri," jawab Putri dan mencoba melangkahkan lagi kakinya.
Putri pun kembali meringis di saat merasakan kepalanya pusing, sehingga Araash pun menarik tangan Putri dan meletakkannya pada lengan pria itu.
"Ayo, berpegengan saja. Jadi kamu tidak akan terjatuh," ujar Araash.
Lagi, Putri menghela napasnya pelan dan menerima bantuan Arash. Setelah sampai di depan pintu kamar mandi, Arash pun membiarkan Putri untuk masuk sendiri ke dalam, karena gadis itu menyuruhnya menunggu di luar.
"Jika butuh bantuan bilang saja," ujar Arash degan tersenyum.
"Dasar mesum," cicir Putri yang mana masih di dengar oleh Arash.
Pria itu pun berdiri di depan pintu kamar mandi, menunggu Putri hingga selesaia membuang hajatnya.
"Sudah?" tanya Arash saat Putri keluar dari dalam kamar mandi.
"Hmm, sudah," jawabnya dan kembali berpegangan pada lengan Arash.
Mereka pun berjalan pelan menuju ruang perawatan.
"Terima kasih," ujar Putri dengan pelan.
"Untuk?" tanya Arash.
"Karena sudah menyelamatkan saya."
__ADS_1