
Zia memandang ke arah Yumna yang tertidur dengan pulas. Gadis itu pun meneteskan air matanya di saat melihat tangan mungil Yumna terlilit kasa dengan tebal.
"Sayang, hiks ..."
Zia mengambil tangan Yumna dengan pelan, gadis itu pun mencium punggung tangan Yumna secara perlahan dan pelan.
"Maafin, Uti, ya ..." bisik Zia sambil menahan isak tangisnya.
Zia terkejut, di saat Yumna menggerakkan tangannya. Perlahan, tangis bayi mungil itu pun terdengar di telinga Zia.
"Sayang, Uti di sini, Uti di sini," bisik Zia sambil menggendong Yumna.
Yumna pun terlihat merindukan Zia, bayi mungil itu terus menempelkan wajahnya di dada Zia.
"Sstt .... ssttt .... Yumna jangan nangis, ya. Uti sudah ada di sini," bisik Zia sambil menepuk-nepuk pelan punggung Yumna.
Zia pun bersholawat untuk menenangkan bayi mungil itu, hingga dapat tertidur kembali.
Mama Kesya dan Mama Nayna pun menghela napasnya pelan secara bersamaan, mereka merasa pemandangan yang saat ini tersaji di hadapannya terlihat begitu indah.
"Andai saja Zia tadi menerima tawaranku," batin Mama Kesya sambil tersenyum kecil.
"Andai Zia belum menerima lamaran Ibra, mungkin dia bisa menjadi ibu sambung untuk Yumna," batin Mama Nayna.
"Sebaiknya kita biarkan Zia bersama Yumna, ya!" Mama Kesya Kun mengajak Mama Nayna untuk pergi dari kamar inap Yumna.
"Iya."
Mama Nayna dan Mama Kesya pun pergi meninggalkan kamar Yumna, membiarkan Zia dan bayi mungil itu melepas rindunya satu sama lain.
"Maafin Uti, sayang," bisik Zia sambil mencium kening Yumna.
*
Dua jam telah berlalu, malam pun semakin larut. Hujan pun masih turun dengan derasnya menyiram bumi.
Zia sudah menguap, di saat dirinya mulai merasa kelelahan. Tapi, gadis itu menahan rasa kantuknya karena tidak ingin meninggalkan Yumna sendirian dan tertidur.
"Sayang, kalau kamu capek, sebaiknya kamu tidur aja dulu, ya?" titah Mama Nayna.
"Gak papa, Ma. Zia gak papa kok. Zia gak ngantuk," sahut Zia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jangan berbohong, sayang. Mama tahu kok, kau kamu sedang mengantuk dan kelelahan saat ini. Saran Mama, sebaiknya kamu istirahat ya! Yumna biar Mama yang menjaganya," ujar Mama Nayna dan menarik tangan Zia untuk berdiri dari tempat duduknya.
"Tapi, Ma?"
"Udah, jangan bawel. Kamu mau kalau kamu gak bisa bertemu dengan Yumna?" tanya Mama Nayna yang di jawab gelengan oleh Zia.
"Kalau begitu kamu harus menurut apa kata Mama, ya!"
"Tapi, Ma, apa hubungannya menurut kata Mama sama gak bertemu dengan Yumna?" tanya Zia dengan kening mengkerut.
"Sayang, kalau kamu jatuh sakit, kamu tidak bisa bertemu dengan Yumna. Memangnya kamu mau menukarkan sakit kepada Yumna?" tanya Mama Nayna yang di jawab gelengan langsung oleh Zia.
"Gak mau, Ma. Zia gak mau Yumna sakit karena Zia."
"Kalah begitu, sebaiknya kamu istirahat ya! Istirahat di sofa aja, jadi saat Yumna terbangun, kamu langsung tahu," ujar Mana Nayna yang langsung di setujui oleh Zia.
"Iya, Ma."
Mama Kesya pun memberikan minuman herbal yang hangat kepada Zia, agar tubuh gadis itu terasa hangat setelah berhujan-hujanan saat tiba di rumah sakit tadi.
Zia pun menghabiskan minuman herbal yang diberikan oleh Mama Kesya, kemudian dia mengambil selimut yang di ulurkan oleh wanita itu.
Zia menganggukkan kepalanya, gadis itu memang sudah terasa mengantuk dan letih. Apa lagi kakinya masih terasa sedikit berdenyut. Zia butuh istirahat untuk mengembalikan semua staminanya dan bisa menjaga Yumna dengan kondisi tubuh yang sehat.
Tiga puluh menit berlalu, Zia telah tertidur dengan lelap. Tubuh gadis itu juga sudah di hangatkan dengan selimut yang tebal dan lembut.
"Mbak, aku keluar sebentar ya," pamit Mama Nayna kepada Mama Kesya.
"Iya, Mbak."
Mama Nayna pun keluar dari kamar, meninggalkan Mama Kesya yang sedang menjaga Yumna.
"Duh, sakit perut pula lagi nih." Mama Kesya pun menyentuh perutnya, kemudian dia bergegas pergi ke kamar mandi untuk menunaikan hajatnya.
Saat Mama Kesya masuk ke dalam kamar mandi, saat bersamaan luka Arash masuk ke dalam kamar inap Yumna dengan kondisi rambut yang sedikit basah dan baju yang lembab.
Arash mengentikan langkah kakinya, di saat melihat sosok yang sangat dia rindukan sedang tertidur pulas di sofa panjang yang ada di kamar Yumna.
"Putri?" lirih Arash.
Pria itu pun berjalan mendekat ke arah Zia, merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan gadis yang sedang tertidur pulas itu.
__ADS_1
"Putri, kamu di sini sayang?" ucap Arash dengan lirih.
Arash pun mengulurkan tangannya, memastikan jika apa yang dia lihat saat ini adalah nyata.
Arash tertegun, di saat tangannya menyentuh kulit halus Zia, di mana kukut wajah itu terasa hangat di tangannya yang dingin dan basah.
"Sayang, kamu nyata!" gumamnya dengan air mata yang menggenang.
Zia menggeliat, di saat merasakan dingin yang menyentuh pipinya. Perlahan, mata gadis itu pun terbuka. Betapa terkejutnya Zia di saat melihat wajah Arash yang jaraknya sangat dekat dengan wajahnya.
"M-Maas Arash?" gugup Zia.
"Sayang, aku senang kamu kembali. Aku sungguh senang, sayang."
Arash pun langsung mencium bibir Zia dengan brutal, melepaskan rasa rindunya selamanya.
"Hmmpp, M-mAahh ... Lephmm ..." Zia berusaha mendorong tubu Arash, akan tetapi tenaga pria itu terlalu kuat untuknya.
"Aku merindukan kamu, sayang. Aku merindukan kamu," bisik Arash dan mencium bibir Zia kembali dengan brutal.
Ciuman Arash pun turun menyentuh dagu, kemudian leher Zia. Dia menghisap kuat leher Zia sehingga membuat bekas kemerahan di sana.
"Lepaass ... Mas, lepaas ... Lepaaass ..." pekik Zia sambil mendorong tubuh Arash.
Mama Kesya yang mendengar seperti suara kegaduhan pun, bergegas mencuci tangannya untuk melihat apanya yang sedang terjadi di dalam kamar saat ini.
"Lepaaass, brengseeek ..." maki Zia dan menjambak rambut Arash dengan kuat, akan tetapi pria itu mengabaikan rasa sakit di kepalanya. Arash masih saja menciumi wajah dan bibir Zia, seolah gadis yang sedang dia cumbui saat ini adalah Putri.
"Araaasshh ... " pekik Mama Kesya.
Di saat yang bersamaan, Papa Arka, Papa Satria, dan Mama Nayna pun masuk ke dalam kamar.
"Araashhh, apa yang kamu lakukan?"
Papa Satria langsung berlari dan menarik baju Arash dengan kuat, melempar tubuh pria itu menjauh dari putri kecilnya.
"Pa, hiks .. Pa ..." Zia langsung memeluk tubuh Papa Satria dengan tubuh yang bergetar.
Plaaakk ...
"Arash, apa yang telah kamu lakukan, hah?" pekik Mama Kesya yang sudah menampar sang putra, agar tersadar dari apa yang telah merasuki pria itu.
__ADS_1