
"Ba-bapak bisa lepas tangan saya dulu, Gak?" tanya Sifa dengan perasaan canggung, karena orang yang ada di sekitar mereka telah mencuri pandang ke arah mereka.
"Kenapa? Kamu gak nyaman?" tanya Abash.
"Buk-bukan itu. Tapi, malu di liatin orang," cicit Sifa sambil melirik ke arah kiri dan kanannya.
Abash memahami maksud dari ucapan Sifa, sehingga pria itu pun perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Sifa.
"Sa-saya permisi ke toilet sebentar," ujar Sifa bangkit dari duduknya.
Abash mengernyitkan keningnya, pria itu kembali salah paham dengan apa yang di maksud oleh Sifa.
"Se-tak nyaman itu kah?" lirih Abash.
Di dalam kamar mandi, Sifa memegangi jantungnya, gadis itu merasa jika saat ini jantungnya sudah siap ingin meledak, karena melihat Abash tersenyum dan juga pria itu juga menggenggam tangannya dengan hangat.
"Maksud Pak Abash apa, Sih? Bikin salah paham aja," lirih Sifa dengan perasaan kecewa.
"Huuff, pokoknya aku harus yakini, jika perasaan ini bukan cinta. Atau memang cinta?" lirih Sifa dengan sendu di akhir kalimatnya.
Abash sedang memainkan ponselnya di saat Sifa kembali duduk di hadapannya.
"Bapak sudah selesai makannya?" tanya Sifa di saat melihat piring Abash sudah bersih.
"Hmm, kamu makanlah. Saya akan temani kamu makan," ujar Abash sambil meletakkan ponselnya di sebelah kanannya.
__ADS_1
Sifa menganggukkan kepalanya, gadis itu pun kembali menggenggam sendok Yanga da di atas liringanya. Merasa ada yang memperhatikan, Sifa pun perlahan menengadahkan pandangannya untuk menatap Abash.
"Bapak kenapa senyum-senyum gitu lihat saya?" tanya Sifa.
Ya, Abash saat ini sedang tersenyum tipis sambil memandang wajah Sifa.
"Bukannya kamu tadi bilang, kalau aku tidak pernah tersenyum?"
"Iya, Tap---,"
"Akan aku buktikan, jika aku juga bisa tersenyum," ujar Abash dengan senyuman yang manis.
"Tap---,"
"Makanlah, aku akan menunggu kamu hingga selesai makan," ujar Abash lagi dengan senyum yang semakin lebar.
Tapi, bagaimana Sifa bisa menelan semua makanannya? Jika Abash terus memandang ke arahnya tanpa berkedip, sehingga membuat dirinya grogi.
"Kamu sudah kenyang?" tanya Abash Karena melihat Sifa memasukkan sedikit gado-gadonya ke dalam mulut.
"Hah? Oh, buk-bukan. Sa--,"
Ucapan Sifa terhenti, karena melihat ponsel Abash yang berdering.
"Dari Mama, sebentar ya," ujar Abash dan menggeser tombol hijau, kemudian pria itu berdiri dan mencari tempat yang nyaman untuk berbicara.
__ADS_1
Sifa menghela napasnya dengan lega, gadis itu pun bergegas menghabiskan gado-gadonya, sebelum Abash kembali dan memandang wajahnya dengan senyuman yang sangat menawan.
"Sudah selesai?" tanya Abash yang mana membuat Sifa tersedak gado-gado suapan terakhirnya.
Abash pun dengan cepat menyodorkan segelas air putih kepada Sifa, kemudian gadis itu meneguk air minum tersebut hingga setengah gelas.
"Alhamdulillah," lirih Sifa pelan.
Abash terkekeh pelan di saat melihat bibir Sifa belepotan kuah kacang, pria itu pun menarik selembar tisu yang ada di atas meja dan mengusap sudut bibir Sifa yang kotor.
"Kamu persis kayak anak-anak tau gak, sih?" kekeh Abash, yang mana semakin menambah ketampanan pria itu.
Deg .. Deg ... Deg ...
Sifa benar-benar dapat mendengar suara jantungnya sendiri, hingga gadis itu berdoa agar Abash tak mendengar detak jantungnya. Gadis itu benar-benar membeku di buat oleh si dingin Abash.
"Ayo," ajak Abash saya sudah membersihkan sudut bibir Sifa.
Sifa masih terdiam, gadis itu masih betah memandangi wajah tampan Abash. Rasanya saat ini adalah waktu yang paling berharga, karena Sifa dapat melihat wajah Abash terus tertawa dan tersenyum.
"Sifa," tegur Abash sambil melambaikan tangannya di depan wajah Sifa.
"Hah? Ah ya, Bapak bilang apa?" tanya Sifa ulang, karena gadis itu tak fokus mendengar apa yang Abash katakan. Sifa lebih fokus ke senyuman Abash yang sangat tampan itu.
"Kita berangkat sekarang? Mama sudah menelpon, katanya perlombaannya akan segera di mulai," ujar Abash.
__ADS_1
"Perlombaan? Hah? Ah ya, perlombaan. Yuk, kak. Saya gak mau ketinggalan perlombaannya," ujar Sifa bangkit dari duduknya dan menggandeng tangan Abash untuk meninggalkan warung sarapan pagi tersebut.