
Abash tersenyum melihat wajah Sifa yang terlihat tenang. Walaupun dia masih merasakan sesenggukan dari napas gadis itu, tetapi hal itu tidak membuat Sifa merasa terganggu sama kali.
"Apa selelah itu menangis?" lirih Abash. "Quin juga suka tertidur kalau sudah menangis," kekeh Abash pelan.
Tiba-tiba saja rasa kantuk pun juga menghampiri Abash. Pria itu pun menutup mulutnya dengan punggung tangannya saat menguap. Abash menyandarkan punggungnya ke sandaran Sofa, masih dengan posisi di mana Sifa tertidur dalam pelukannya.
Entah mengapa, aroma tubuh Sifa membuat pikiran pria itu terasa nyaman dan tenang.
Di gedung Moza_group, Papa Arka memicit keningnya di saat mendapatkan laporan dari Daddy Bara, jika Abash kembali berulah dengan memukul seseorang.
"Abash ... Abash ... kamu pikir kamu ini masih anak sekolahan, apa? Main pukul-pukulan," geram Papa Arka dan langsung menghubungi Arash.
"Ya, Pa?" ujar Arash dari seberang panggilan saat sambungan telpon pun sudah tersambung.
"Apa yang terjadi kepada Abash?" tanya Papa Arka.
"Papa tau dari mana?" tanya Arash balik.
"Kamu gak perlu tau dari mana Papa tau. Sekarang coba kamu katakan, apa yang terjadi kepada Abash? Kenapa dia sampai terlibat kembali dengan kepolisian?" tanya Papa Arka.
__ADS_1
"Ooh, jadi begini, Pa, ceritanya." Arash pun menceritakan kronologi kejadian menurut para saksi dan korban.
"Apa? Jadi Abash memukul orang lain karena membela Sifa?" tanya Papa Arka dengan terkejut, tanpa pria paruh baya itu sadari, jika Mama Kesya sebagian kalimat yang di lontarkan oleh Papa Arka.
"Ada apa dengan Sifa dan Abash, Pa?" tanya Mama Kesya.
"Sayang, kamu kapan sampai?" tanya Papa Arka dengan terkejut.
"Baru aja, itu siapa yang telpon? Arash? Apa katanya?" cecar Mama Kesya dan berjalan mendekati Papa Arka.
"Nanti Papa hubungi kamu lagi, pokoknya Papa cuma mau ingatkan jangan lupa menghadiri rapat pemegang saham. Oke," ujar Papa Arka dan memutuskan panggilannya.
"Kenapa di tutup? tanya Mama Kesya.
Mama Kesya pun manggut-manggut, mempercayai perkataan sang suami.
"Oh ya, ada apa dengan Abash dan Sifa?" tanya Mama Kesya lagi.
"Hah? Oh, gak ada apa-apa. Papa Hanya teringat jika ingin mengundang Sifa makan malam, bisa melalui Abash," bohong Papa Arka.
__ADS_1
"Ooh, emangnya Papa mau ngundang Sifa makan di rumah?" tanya Mama Kesya dengan mata berbinar.
"Rencana sih gitu. Karena Mama kan pernah bilang, kalau Sifa perlu kita rangkul," ujar Papa Arka.
"Hmm, baiklah. Katakan saja kapan Papa mau mengundang Sifa. Nanti biar Mama yang menghubungi Abash."
"Baiklah, bagaimana jika malam Sabtu ini?" usul Papa Arka.
"Ide Bagus."
Di apartemen Abash, sudah tiga jam Sifa dan Abash tertidur dengan posisi saling berpelukan, hingga akhirnya Sifa pun terbangun dari tidurnya.
Sifa mengerjapkan matanya, kemudian dia menyadari jika saat ini dia sedang memeluk seseorang.
"Ini? Gak mungkin kan?" Sifa perlahan menengadahkan wajahnya ke atas, melihat wajah pria yang saat ini dia pinjam dadanya untuk bersandar.
"Pak Abash?" lirihnya pelan.
Dengan perlahan, Sifa pun menjauhi tubuhnya dari tubuh Abash. Gerakan itu sangat pelan sekali, karena Sifa tak ingin Abash terganggu dengan pergerakannya.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" tanya suara berat Abash yang mana membuat Sifa terkejut.
"Hah? Oh, ya.. " cicit Sifa dengan wajah merona