
Abash terus berjalan di belakang Sifa, sesekali menurunkan topinya dan membenarkan kaca mata yang melorot ke bawah.
Sampai di dalam pesawat Sifa duduk di kursi yang telah dipesan, begitu juga Abash yang duduk di kursinya dengan jarak beberapa kursi dari wanita itu.
Tiba-tiba saja seorang pria duduk di sebelah kursi yang Sifa duduki, membuat Abash terkejut dan tidak terima. Setau Abash, Papa Arka telah membeli semua kursi yang ada di dekat Sifa, sehingga membuat wanita itu bisa duduk sendirian tanpa ada seorang pun yang berada di sebelahnya. Papa Arka tahu, jika sang anak sangatlah pencemburu berat. Tidak mungkin rasanya jika dia melewatkan satu kursi yang bisa membuat sang istri duduk dengan orang lain, apa lagi orang itu adalah seorang pria.
Abash yang melihat hal itu menjadi geram. Tangannya terkepal dengan rahang yang mengeras. Rasa tak nyaman muncul di dalam hatinya. Haruskah dia menegur pria itu dan membuka penyamarannya?
‘Tidak. Aku nggak boleh pergi ke sana,’ batin laki-laki itu mengurai kepalan tangannya. Dia menarik napasnya dan mengembuskannya pelan, mencoba agar bisa tenang dan tidak ingin mengacaukan semua yang telah dia dan Papa Arka rencanakan. Jika Abash membuka penyamarannya, maka semua rencananya akan sia-sia saja. Tapi, bagaimana jika pria itu malah mengganggu Sifa?
Melihat pramugari yang sedang berjalan ke arah para penumpang dan memperingati para penumpang untuk memakai sabuk pengaman, Abash pun mendapatkan ide yang cemerlang.
"Permisi, bisa saya meminta tolong?" pinta Abash kepada pramugari dengan suara yang pelan.
"Ya?" pramugari cantik itu mendekat dan sedikit menunduk karena Abash menggerakkan tangannya agar wanita itu mendekat.
"Begini ... sebenarnya saya adalah suami dari wanita yang duduk di kursi E, saya juga sudah memesan kursi yang ada di samping istri saya untuk tidak ada yang mendudukinya, tapi saya melihat tadi ada seorang pria yang duduk di samping istri saya. Bisakah saya minta tolong untuk mengusir pria itu dan menyuruhnya untuk duduk di kursinya sendiri?" ujar Abash panjang lebar sambil menunjuk Sifa yang ada di sana. Pramugari itu melirik ke arah wanita yang dimaksud Abash. Keningnya mengerut mendengar ucapan dari laki-laki itu.
"Jika Nona itu istri Anda, kenapa Anda tidak duduk di sana saja, Tuan?" tanya pramugari tersebut heran.
"Emm, sebenarnya saya sedang menyamar dan ingin memberikan kejutan untuk istri saya saat di Bali nanti. Makanya saya minta tolong sama Nona," pinta Abash.
Wanita itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dia tersenyum dan berkata, "Baiklah, saya akan memeriksa tiket pria yang duduk di samping istri Anda. Tapi, jika benar tiketnya tertulis dengan nomor bangku yang sama dengan istri Anda, saya minta maaf, saya tidak bisa mengusirnya," jelas pramugari tersebut.
"Baiklah, saya mengerti," jawab Abash sambil mengangguk pelan. Namun, dia yakin jika laki-laki itu memang salah kursi.
"Lihat saja, aku akan menuntut pesawat ini jika sampai ada yang berani duduk di samping istriku," batin Abash yakin sambil mengepalkan tangannya di depan mulut yang terdengar gemeretak dari giginya.
Abash terus mengawasi pramugari tersebut, terlihat jika pramugari itu mendatangi pria yang Abash maksud dan mulai berbicara dengan laki-laki itu.
"Maaf mengganggu kenyamanan Anda, boleh saya melihat tiketnya?" ujar pramugari kepada pria yang ada di hadapannya dengan sopan dan senyuman ramah.
"Emm, ada apa, ya?" tanya pria itu mengelak. Bingung tentunya karena pramugari itu meminta tiketnya.
"Saya hanya ingin memastikan, apa benar Anda duduk di sini, Tuan?"
"Ya, ini kursi saya. Kenapa memangnya?"
"Maaf, bisa saya memeriksanya?" pinta pramugari itu sekali lagi dengan sopan.
"Apa-apaan ini? Asal Anda tahu, ya, ini bukan untuk pertama kalinya saya naik pesawat, jadi mana mungkin saya salah memilih kursi," kesal pria itu sambil berdiri dan menunjuk pramugari tersebut dengan lantang. Wajahnya merah karena marah ditegur seperti itu. Beberapa orang yang ada di sana menatap laki-laki tersebut dengan pandangan aneh. Sifa pun sama, menatap laki-laki itu yang telah mengganggu karena teriakannya.
Tiba-tiba saja seorang pramugari senior datang dan bertanya dengan apa yang sedang terjadi. Pramugari muda itu pun berbisik kepada seniornya, sehingga membuat wanita yang usianya dia atasnya itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Maafkan kami, Pak. Bisa mohon kerja samanya untuk menunjukkan tiket Anda? Jika Anda benar duduk di kursi ini, maka tolong tunjukkan tiket Anda, Tuan," pinta pramugari yang lebih senior dengan sopan.
Merasa jika dirinya akan dipermalukan, maka pria itu pun mengatakan yang sebenarnya dengan lantang.
"Baiklah, jujur saja, ini bukan kursi saya. Tapi, tidak ada salahnya kan jika saya duduk di sini? Toh, Nona ini tidak melarang dan malah memberikan izin. Iya kan?" ujar pria itu kepada Sifa.
Sifa menatap pria itu dan mengernyitkan keningnya dalam, karena dia merasa tidak pernah mendengar jika pria yang ada di sebelahnya saat ini meminta izin kepadanya untuk duduk di sebelahnya.
"Iya kan, Nona?" ulang pria itu dengan tatapan mata yang mengintimidasi. Dia berharap jika wanita yang ada di sampingnya ini mengiyakan.
Abash mendengar itu dari tempatnya duduk. Dia sudah mengepalkan tangannya melihat interaksi berani dari laki-laki itu kepada istrinya. Pria itu pun sudah siap berdiri untuk menghampiri si brengsek itu.
__ADS_1
"Maaf, saya rasa kita tidak pernah saling berbicara sebelumnya," jawab Sifa dengan tegas.
Laki-laki itu membulatkan matanya, kesal dengan jawaban yang diberikan Sifa.
"Baiklah kalau begitu, bisa saya lihat tiket anda, Tuan?" ujar pramugari tersebut kni dengan nada yang tegas meminta.
Pria tersebut pun terpaksa mengeluarkan tiketnya dari dalam dompet dan menunjukkan pada pramugari.
"Silahkan Anda duduk di kursi Anda sendiri, Tuan," titah pramugari senior setelah melihat tiket tersebut.
"Tidak bisakah saya duduk di sini? Saya merasa mual jika duduk di belakang," ujar pria itu dengan membuat wajah sedih, alasan yang jelas tidak bisa diterima oleh Abash sehingga dia ingin sekali menghambur dan meninju laki-laki laknat itu.
"Maaf, Tuan. Tidak bisa, silakan Anda kembali ke tempat Anda," tolak pramugari senior tersebut dan menunjukkan jalan untuk laki-laki itu.
Sebenarnya, identitas Sifa sudah diketahui oleh pramugari senior tersebut, karena Papa Arka meminta kepada pihak maskapai untuk memastikan jika menantu kesayangannya itu benar-benar duduk sendirian. Dan jika sampai terbukti ada orang lain yang duduk di samping Sifa, maka maskapai penerbangan yang sedang di naiki oleh Sifa saat ini, harus siap-siap menerima sedikit goncangan yang diberikan oleh Papa Arka. Konsekwensi yang akan mereka terima tidak main-main akan dilayangkan oleh pria paruh baya itu.
Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan karena ancaman daro Papa Arka, maka dari itu maskapai penerbangan benar-benar memastikan jika Sifa duduk sendirian dengan kursi yang tetap kosong di sebelah wanita itu. Ada beberapa orang khusus yang ditunjuk untuk mengawasi Sifa hingga dia sampai di tempat tujuan.
Abash melihat laki-laki itu dan bernapas lega, karena akhirnya tidak ada lagi orang yang duduk di samping sang istri.
Dia memperhatikan laki-laki itu di kursi belakang. Tampak wajahnya sedikit masam karena kejadian tadi.
“Awas saja jika dia mendekati istriku lagi,” geram laki-laki itu, kemudian menundukkan kepalanya bersembunyi di balik sandaran kursi saat dia melihat Sifa menoleh.
Pesawat mulai lepas landas dan mengudara. Membelah awan putih dan menampilkan pemandangan yang sangat indah saat telah sampai di ketinggian tertentu.
Sifa menoleh ke arah jendela, menatap pemandangan di luaran sana yang indah, tapi terasa sunyi di dalam hatinya. Wanita itu merasa kesepian dan sangat merindukan sang suami.
"Mas, andai kamu di sini, mungkin aku tidak akan merasa kesepian," batin Sifa dengan mata yang berkaca-kaca. Sifa membiarkan air mata mengalir di pipinya, mengabaikan rasa heran yang sempat hinggap karena pesawat yang telah penuh, tapi di sekitar tempat duduknya masih tersisa beberapa bangku kosong.
*
Sifa menghela napasnya pelan, melirik ke kiri dan ke kanan. Koper sudah ada di depannya. Wanita itu pun menunggu seseorang yang akan menjemputnya di bandara. Seperti apa yang dikatakan oleh sang bos, jika dirinya akan di jemput oleh pihak hotel di mana dirinya akan menginap malam ini.
Sifa melirik ke arah jam tangan. Menunggu beberapa menit lamanya, hingga kemudian dia menoleh ke arah seseorang yang baru saja datang dan menegurnya.
"Nona Sifa?"
Sifa menganggukkan kepalanya, dia menatap pria yang ada di hadapannya ini, yang mana dia memakai seragam dengan tulisan yang Sifa kira itu adalah nama sebuah hotel.
"Perkenalkan, saya Arya, saya orang yang diutus untuk menjemput Anda," ujar pria bernama Arya tersebut.
"Ah, ya." Sifa pun menganggukkan kepalanya.
“Mari saya bawakan barang Anda,” ucap Arya. Sifa membiarkan Arya mengambil alih koper yang dia bawa.
"Mari, sebelah sini, Nona."
Sifa mengikuti pria tersebut dan masuk ke dalam mobil yang bertuliskan nama hotel di mana dirinya akan menginap setelah Arya membukakan pintu mobil tersebut.
Abash mengikuti Sifa dan memperhatikan bagaimana dia berinteraksi dengan istrinya. Sedikit cemburu karena Sifa berbicara dengan laki-laki lain, tapi mau bagaimana lagi demi kelancaran misinya.
Akhirnya Abash pun masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu dirinya sedari tadi. Dia harus mengikuti mobil yang membawa Sifa dan memastikan jika sang istri aman meski laki-laki itu adalah orang yang diutus dari hotel.
Perjalanan cukup lama telah ditempuh, Sifa merasa bosan di perjalanan sehingga dia iseng membuka hp-nya. Dia menatap galeri yang terdapat wajah dirinya dan sang suami. Masih berharap jika Abash akan menyusulnya ke Bali.
__ADS_1
Sifa tersenyum kecut. ”Mana mungkin!” gumamnya sambil mematikan ponselnya.
Gumaman tersebut terdengar oleh Arya dari balik kemudinya.
Sesampainya di hotel, Sifa melakukan reservasi. Pihak manager hotel kebetulan sekali ada di meja resepsionis dan menyambut kedatangan Sifa. Laki-laki itu sengaja memperlama proses chek in yang Sifa lakukan. Manager tersebut juga sedang menunggu kabar dari Abash, apakah suami dari tamunya sekarang sudah masuk ke dalam kamar pengantin mereka atau belum.
Sifa mengembungkan pipinya, merasa bosan untuk reservasi padahal tidak seharusnya reservasi ini membutuhkan waktu yang lama.
Hotel ini tampak besar dan mewah, tapi pelayanannya ternyata tidak sebagus penampilannya. Ingatkan jika setelah keluar dari hotel ini, dia akan memberikan bintang dua untuk nilai tempat ini karena hanya untuk mengurusi kamar saja terlalu lama dia tertahan di meja resepsionis. Sifa sudah merasa lelah dan ingin merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menghubungi sang suami tercinta.
Cling …
“Mohon tunggu sebentar,” pinta manager tersebut membuat Sifa menjadi kesal luar biasa. Andai bukan kakak iparnya yang sudah memesankan hotel ini tentu saja dia akan pergi membawa kopernya dan pindah ke hotel yang lain.
Sebuah pesan masuk ke ponsel manager, di mana pesan dari Abash yang mengatakan jika dirinya sudah berada di dalam kamar.
Manager hotel itu pun tersenyum dan kembali berbicara dengan Sifa yang terlihat sedang malas dan memperhatikan interior bangunan hotel ini.
"Nona Sifa, maaf menunggu lama. Ini kunci kamarnya. Mari, biar saya yang mengantarkan Nona," ujar manager hotel tersebut dan menyuruh bawahannya untuk membawakan koper milik Sifa.
"Ya, baiklah."
Sifa pun membiarkan pelayan hotel membawa kopernya, kemudian dia mengikuti manager hotel masuk ke dalam lift dan menuju kamarnya berada.
Sifa mengernyitkan kening, melihat ke arah mana manager hotel tersebut membawa dirinya. Rasanya tidak mungkin sekali, jika pegawai biasa sepertinya harus menginap di kamar presidential suite room. Kamar yang biasa di tempati oleh pejabat-pejabat tinggi atau para sultan.
"Anda yakin ini kamar saya?" tanya Sifa kepada manager hotel tersebut setelah berhenti di sebuah pintu yang sangat bagus, tidak seperti kamar hotel lain yang pernah dia tempati dulu. Tangannya menunjuk ke arah pintu kamar yang ada di hadapannya saat ini.
"Iya, Nona."
"Gak salah? Saya cuma pegawai biasa loh, mana mungkin menginap di kamar semewah ini?" tolak Sifa. "Sepertinya Anda salah memasukkan pesanan kamar saya, deh."
"Maaf, Nona, pesanan kamar atas nama Nona Sifa Agustina memanglah di kamar ini," ujar manager tersebut sambil menunduk dan memberikan senyum kepada Sifa.
"Masa sih?" Sifa merasa bingung, yang benar saja dia menginap di kamar mewah ini. Apa yang akan dikatakan oleh Farhan, jika dirinya menghabiskan uang perusahaan dengan memesan kamar semewah ini.
“Eh, sebentar. Saya nggak pesan ini. Saya mau kamar yang biasa saja,” tolak Sifa sambil melambaikan tangannya dengan cepat di depan dadanya. Jangan sampai Farhan protes dan membuatnya tidak bisa berkutik nantinya.
Manager hotel tersebut pun membukakan pintu kamar yang memang ditujukan untuk Sifa.
"Tidak ada yang salah, Nona. Silahkan masuk," titah manager hotel meyakinkan Sifa.
"Tapi---"
"Maaf, Nona, saya masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan."
Sifa pun menghela napasnya pelan melihat manager hotel yang kini semakin menjauh darinya dan menghilang di balik pintu lift, dia akhirnya terpaksa masuk ke dalam kamar presidential suite room itu.
Wanita itu menggeret kopernya sendiri dan semakin dalam memasuki kamar hotel itu dengan perasaan gundah dan bimbang dengan memikirkan Farhan yang mungkin akan berdecak kesal jika melihat tagihan biaya hotel selama di Bali.
“Kayaknya aku harus pindah besok. Berapa harga yang harus dibayar semalam untuk kamar ini?” gumamnya kesal.
"Selamat datang, Sayang."
Tiba-tiba saja terdengar suara pria yang sangat dia kenali, sehingga membuat Sifa berhenti melangkah dan menatap pria itu dengan mata yang membulat.
__ADS_1
"Mas Abash?"